Kapal menembus lapisan realitas yang bergetar hebat. Di luar jendela, pemandangan bintang-bintang yang biasa terlihat sudah hilang, digantikan oleh ruang hampa berwarna perak cair. Mereka telah tiba di Zero Space—titik koordinat nol di mana sistem simulasi pertama kali dikompilasi oleh Sang Arsitek.
Di sini, hukum fisika hanyalah saran, bukan aturan. Gravitasi bergerak naik turun sesuai emosi pengendaranya, dan waktu bisa berjalan mundur hanya karena seseorang merasa ragu.
"Xora, laporkan status integritas kapal," perintah Ija. Ia berdiri di dek utama, tangannya menggenggam erat gagang pedang plasmanya yang kini mengeluarkan dentuman rendah, beresonansi dengan detak jantungnya.
"Sistem kapal sedang beradaptasi, Tuan. Tapi ada sesuatu yang aneh," suara Xora terdengar tegang. "Setiap data yang kita miliki di sini—termasuk ingatan kalian tentang satu sama lain—sedang disalin dan dianalisis secara real-time oleh entitas pusat."
Tiba-tiba, ruang di depan mereka berlipat ganda. Bukan karena kerusakan layar, tapi karena realitas itu sendiri sedang melakukan duplikasi. Di depan mereka, muncul empat sosok yang mengenakan seragam tempur yang persis sama dengan mereka.
Itu adalah "Mirror Entity"—proyeksi digital yang mengambil data tempur dan kepribadian Ija, Lyra, Scarlett, dan Aria.
"Jadi ini cara Arsitek menghentikan kita?" Ija menyeringai, sebuah seringai dingin yang tidak menyiratkan rasa takut. "Menggunakan bayangan kita sendiri sebagai senjata."
Ija Mirror melangkah maju. Gerakannya identik, bahkan cara ia menyampirkan jubah hitamnya sangat mirip. "Kau adalah kesalahan, Ija. Dan kami adalah versi yang seharusnya ada tanpa gangguan emosi yang tidak perlu."
"Emosi itu yang membuatku tidak bisa diprediksi, Bodoh," sahut Ija.
Tanpa peringatan, Ija Mirror menerjang. Pertempuran antara yang asli dan yang palsu dimulai dengan intensitas tinggi.
Lyra menghadapi Lyra Mirror dalam duel pedang yang sangat presisi. Setiap langkah kaki, setiap putaran pergelangan tangan, semuanya seimbang. Lyra menyadari bahwa untuk menang, ia tidak bisa menggunakan teknik yang sudah dipelajari. Ia harus menggunakan insting. Saat pedang mirror itu menebas, Lyra melakukan gerakan tidak terduga—ia membuang pedangnya, menunduk, dan menghantam dada mirror itu dengan telapak tangan kosong, memanfaatkan celah kecil yang tidak dimiliki oleh versi data yang kaku.
Scarlett menggunakan taktik yang lebih licik. Ia tidak menyerang bayangannya. Ia sengaja membiarkan bayangannya mengunci target, lalu Scarlett memanipulasi cahaya di sekitar mereka agar bayangannya sendiri terkecoh oleh ilusi visual. "Kau hanya data, kau tidak tahu rasanya menjadi nyata!" bisik Scarlett sebelum menancapkan belati ke titik buta sang mirror.
Sementara itu, Aria menghadapi mirror-nya dengan cara yang paling damai namun mematikan. Ia tidak menyerang. Ia mengeluarkan energi penyembuhannya dalam dosis tinggi yang berlebih, membuat mirror-nya mengalami "data overflow". Mirror itu tidak sanggup memproses energi murni tersebut, sistemnya mengalami overheat, dan perlahan terurai menjadi partikel perak.
Ija tetap berhadapan dengan Ija Mirror. Keduanya saling mengunci tatapan. Ija tahu bahwa mirror ini memiliki akses ke seluruh skill yang dia miliki.
"Apa kau benar-benar berpikir bisa mengalahkanku?" tanya Ija Mirror.
"Aku tidak perlu mengalahkanmu," jawab Ija sambil memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh kesadarannya pada satu titik—bukan pada kekuatan, tapi pada ketidakpastian.
Ija melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh sistem mana pun: dia memilih untuk tidak bertindak. Ia menurunkan pedangnya, membiarkan pertahanannya terbuka lebar.
Ija Mirror yang diprogram untuk merespons serangan, mendadak kehilangan logika perhitungannya. Sistemnya berkedip error karena tidak ada tindakan yang harus diantisipasi.
"Sistem tidak punya instruksi untuk lawan yang menyerah," gumam Ija.
Saat sistem mirror itu mengalami hang karena kebingungan, Ija melakukan satu gerakan cepat—ia menyentuh dada mirror itu dan memberikan perintah decompile yang ia pelajari dari chip data tadi.
Ija Mirror memudar, terserap masuk ke dalam pedang Ija. Kini, Ija merasakan kekuatan yang jauh lebih besar mengalir di nadinya.
"Satu langkah lebih dekat ke Arsitek," ucap Ija sambil menoleh ke arah timnya. "Ada yang terluka?"
Lyra tersenyum bangga, Scarlett menyeka keringat di dahinya, dan Aria tampak lega.
"Kita baru saja memenangkan pertarungan melawan diri kita sendiri," kata Aria lirih.
Ija menatap ke depan. Di ujung ruang perak itu, sebuah pintu raksasa yang terbuat dari cahaya murni berdiri tegak. Itu adalah pintu masuk menuju ruang kerja Sang Arsitek.
"Siap untuk melihat siapa yang selama ini menulis nasib kita?" tanya Ija.
