Matahari hampir berada tepat di atas kepala.
Masih di pusat kota, Tian Zi melihat ke kejauhan, menemukan sebuah bangunan paling besar dan megah di antara lainnya yang berdiri di atas anak tangga rendah di kejauhan. Seharusnya itu adalah kediaman penguasa kota, kan?
Selanjutnya, pandangan Tian Zi tertarik pada keramaian di halaman Keluarga Jia Lao. Ada sekitar lima puluh orang di sana, tampak antusias seperti sedang menantikan sesuatu. Dan setelah melihat-lihat sebentar, ternyata itu hanyalah pil tingkat satu kelas tinggi yang akan di jual dengan harga lebih rendah dari biasanya. Mereka juga mengatakan bahwa kualitas pil itu sudah di tingkatkan, jadi hampir setara dengan pil tingkat dua.
Jelas karena alasan ini orang-orang jadi sangat antusias, tapi tidak dengan Tian Zi yang merasa ini membosankan. Awalnya dia mengira itu semacam harta karun, karena meskipun tidak menjamin dia akan mendapatkan harta yang bagus di tempat ini, tapi siapa yang tahu akan keberuntungannya?
Setelah setengah hari berjalan dan mengenali Kota Ming, akhirnya Tian Zi tiba di sebuah tempat terlarang yang di hindari oleh banyak orang di Kota Ming, Rawa Kabut.
“Ini tempatnya?” Tanya Tian Zi, ada sedikit keraguan di wajahnya.
Mao Qiao keluar dari persembunyian, duduk di atas bahu Tian Zi sambil mengunyah buah. “Masuk saja. Di dalam sana kita masih membutuhkan waktu untuk sampai.”
Tian Zi tak bertanya lagi, melangkah masuk ke mulut hutan. Ia pernah mendengar dari perkataan Mao Qiao sebelumnya, jika ingin bertemu dengan Sekte Longyun ia harus melewati Rawa Kabut dulu, karena Sekte Longyun berada jauh di pedalaman.
Ini terdengar aneh mengingat sebuah sekte yang seharusnya ada di tengah-tengah keramaian untuk dapat lebih mudah merekrut orang. Tapi Rawa Kabut ini, selain tempat yang menakutkan dan rumahnya bagi para binatang buas, itu juga bukan sesuatu yang bisa di tinggali oleh orang biasa.
Bagaimana Sekte Longyun dapat bertahan di tengah-tengah suasana seperti ini? Padahal menurut yang ia tahu, tingkatan kekuatan Sekte Longyun sama sekali tidak layak jika harus menyebutnya sebagai sekte tingkat dua.
°°°°
Di dalam Rawa Kabut udara begitu tipis dan berat, suasananya sepi dan gelap padahal masih siang hari. Mungkin karena kabut abu-abu pekat yang tampak tebal itu, cahaya matahari jadi tidak bisa menembusnya, membuat tempat ini tetap remang-remang bahkan di siang hari.
Di tengah kesunyian yang mencekam, suara-suara aneh terdengar jauh dari dalam hutan. Tian Zi tak begitu mempedulikannya, dia sudah terbiasa dengan suasana semacam ini mengingat pengalamannya yang pernah tinggal di hutan selama lima belas tahun.
Pandangan Tian Zi terus menyapu, tidak ada keanehan atau tanda-tanda bahaya dari hutan ini. Selang beberapa menit, ketika dirinya masuk lebih dalam lagi, Tian Zi mulai merasakan udara yang semakin tipis. Beberapa pohon tampak sudah mati, rantingnya yang kering mencuat ke langit seperti jari-jari kerangka.
Angin sepoi-sepoi mengibarkan rambut dan jubahnya, membawa kesejukan, tetapi mengandung bau busuk yang menusuk indra penciumannya.
Di tanah banyak tulang-belulang hewan yang tidak teridentifikasi berserakan di mana-mana. Beberapa gagak duduk di atas pohon yang kering seperti pengawas, sebelum mereka terbang menuju bangkai binatang yang sudah membusuk.
Selain itu, rawa di sekitarnya juga tidak kalah mengerikannya. Airnya keruh dan penuh lumpur, dan dari balik kabut, sering kali muncul gelembung-gelembung besar yang menandakan adanya gas beracun. Beberapa pohon memiliki akar yang menjulur dari dalam lumpur, menciptakan jalur yang licin dan tidak stabil.
“Kau yakin Sekte Longyun tinggal di tempat seperti ini? Hutan ini bahkan jauh lebih buruk dari Hutan Qing Shen yang pernah aku tinggali,” tanya Tian Zi, sedikit masih tidak percaya.
“Kenapa? Kau meragukanku?” Mao Qiao langsung menelan habis buahnya. “Aku masih ingat dengan jelas tempat ini. Beberapa tahun yang lalu, aku dan Quan Zi mendarat di sini setelah terluka parah akibat pertarungan panjang dengan ahli Klan Phoenix Agung. Jika bukan karna orang-orang dari Sekte Longyun, kami berdua mungkin sudah mati menjadi santapan binatang buas.”
Tian Zi tak menghentikan langkahnya, kali ini berjalan melewati rawa dengan hati-hati. Perasaannya mulai merasa tidak nyaman, seolah tempat ini menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang terlihat.
Setelah hampir satu jam berjalan, masih tidak ada tanda-tanda bahaya, hanya ada adegan serupa di awal yang Tian Zi lihat. Ini membuatnya bingung sekaligus aneh. Hutan yang tampak mengerikan ini sama sekali tidak sesuai dengan reputasinya.
Mao Qiao juga merasakan hal serupa. Biasanya saat ada manusia yang lewat, binatang buas itu akan langsung menyergap. Bukan berarti Mao Qiao menginginkannya, tapi tentu saja ini sangat aneh.
Kancring!
Tiba-tiba, terdengar suara samar di kejauhan. Tian Zi dan Mao Qiao saling tatap satu sama lain.
“Ada pertarungan?”
“Cepat lihat!” ujar Mao Qiao segera.
Tian Zi tidak menolak, buru-buru melesat menjadi titik cahaya.
°°°°
Di bawah cahaya remang-remang dari kabut abu-abu tebal, empat orang pria berpakaian cokelat sedang bertarung dengan lima makhluk mengerikan. Mereka berbentuk kelalawar, namun dengan postur mirip seperti manusia.
Tubuh tegak dan lurus yang di miliki kelalawar itu setara dengan manusia dewasa. Dia memiliki sayap besar di punggungnya, yang bahkan bisa menutupi bayangan manusia. Wajahnya menyerupai wajah kelalawar, dengan hidung pesek, moncong yang menonjol, dan gigi-gigi kecil yang sangat tajam.
Kulitnya berwarna abu-abu gelap, berurat, dan membungkus erat otot-otot di bawahnya, sementara tangannya memiliki cakar yang runcing.
Mereka bergerak dengan cepat, melayang di udara dengan kepakan sayap yang menghasilkan suara angin yang tidak menyenangkan. Penampilan mereka yang aneh dan brutal sudah cukup untuk menebarkan teror bagi para kultivator di bawah, yang masing-masing dari mereka berada di Pengumpul Qi bintang dua, dan satu orang di Pengumpul Qi bintang 3.
Pertarungan itu berjalan dengan sangat sulit. Empat pria berpakaian coklat berjuang mati-matian, keringat dingin membasahi dahi mereka. Mereka bukanlah tandingan bagi lima kelelawar itu yang lincah dan ganas. Cakar panjang dan tajam yang di milikinya, akan meninggalkan luka dalam setiap serangan.
“Awas, dari belakang!”
Namun, peringatan itu terlambat. Manusia kelalawar itu melesat, dan dengan satu sapuan cakarnya, pria itu jatuh, darah menyembur dari dadanya.
“Lou Fu!” Teriak pemimpin kelompok bernama Hu Ling.
Tak sampai di sana, manusia kelalawar itu mengeluarkan semacam kantung berwarna merah darah yang kadang berdenyut lembut, bentuknya mirip seperti telur naga.
Saat kantung itu di angkat, esensi merah pekat dari darah Lou Fu yang mengandung Qi dan vitalitas di tarik dengan kuat, tersedot langsung ke dalamnya.
Proses itu berlangsung sangat singkat, membuat manusia kelalawar itu menghela napas dan sedikit kecewa. “Esensi darah dari ranah pengumpul Qi memang sangat sedikit. Hanya membuang waktu saja.”
Alih-alih menikmati darah yang hangat, menusia kelalawar itu lebih memilih menyimpannya, menyembunyikan kantung tersebut di balik lapisan kulitnya.
“Lou Fu...” Menyaksikan tubuh Lou Fu yang sudah mengering dan tak mungkin dapat di selamatkan lagi, kesedihan segera menyelimuti wajah mereka.
Hu Ling mengepal tangannya erat-erat. Sebagai pemimpin kelompok, ia telah gagal melindungi rekannya. Kemarahan dan kesedihan seketika bercampur menjadi satu.
“Iblis! Aku akan bertarung denganmu!” Tangis Hu Ling, berlari ke arah kelalawar itu.
“Senior Hu, jangan!”
Dua rekannya mencoba menghentikan tindakan Hu Ling, namun tampaknya Hu Ling sudah di selimuti kemarahan, sama sekali tidak mendengar peringatan mereka.
Hu Ling berteriak, menyerang secara membabi buta. Tebasan pedangnya terus mengenai udara kosong, membuat Iblis Kelalawar itu tertawa, seperti sedang mempermainkan anak kecil.
Hu Ling semakin tersulut, matanya merah pekat bagaikan darah. Sekali lagi dia mengangkat pedangnya, dengan segenap kekuatan, Hu Ling menebas ke arah manusia kelelawar yang saat itu langsung di lindungi oleh kedua sayapnya.
“Mati!”
Peng!
Setelah erangan dan suara logam memenuhi rawa, Hu Ling terkejut serangannya tak dapat menembus pertahanan kelalawar itu, apalagi saat melihat ujung bilahnya yang sudah patah, ekspresi panik segera memenuhi wajahnya.
“Serangan lemah seperti ini ingin membunuhku? Manusia bodoh.” Terdengar suara ejekan dari dalam, sebelum sayap kelalawar itu tiba-tiba keluar dengan kuat.
Hu Ling terpental, dalam sekejap tubuhnya menabrak pohon kering. Seteguk darah segar dimuntahkan dari mulutnya.
“Senior Hu!”
Dua rekannya panik melihat Hu Ling yang terluka. Mereka buru-buru menghampiri, tapi langkahnya harus terhenti saat dua manusia kelalawar muncul tepat di hadapan mereka.
“Manusia, mau pergi ke mana?”
”Kalian tidak akan bisa lolos,” katanya sambil tertawa.
Ekspresi kedua pria itu pucat, diam-diam menelan seteguk air liur. Kekuatan senior mereka saja yang berada di Pengumpul Qi bintang tiga tidak cukup untuk melawan Iblis Kelalawar ini, bagaimana dengan mereka yang berada satu tingkat di bawahnya.
Sebelum sempat mencari solusi, salah satu dari mereka lebih dulu terpental saat Iblis Kelalawar tiba-tiba menyerang.
“Jing Yu!”
Teriak rekannya kaget. Sekarang hanya tersisa dirinya, dia tidak punya pilihan lain selain menyerang dengan segenap kekuatan. Tapi sebuah tangan lebih dulu menangkap lehernya.
Tubuh pria itu di angkat sejajar dengan kepala kelalawar. Dengan gerakan tangan yang ringan, sebuah kantung merah yang sama kembali muncul dan langsung menyerap esensi darah pria itu.
“Gu... Yao...”
Melihat Gu Yao yang menjerit kesakitan, Hu Ling yang masih sadar berusaha untuk bangkit, namun seketika jatuh kembali. Setelah berkali-kali mencoba dan pada akhirnya tetap gagal, Hu Ling hanya bisa menyaksikan tubuh Gu Yao yang secara bertahap mulai mengering.
“Tebas!”
Tiba-tiba, terdengar suara tajam dari langit, diikuti dengan sebilah pedang yang muncul entah dari mana, bersinar dalam cahaya remang-remang. Dalam sekejap mata pedang itu menusuk tubuh kelelawar yang langsung menyemburkan seember darah.
