Rasa sakit itu datang tanpa peringatan.
Chen Hui masih ingat dengan jelas — detik terakhir sebelum segalanya berakhir. Layar monitor di depannya penuh dengan grafik strategi militer yang sudah dia susun selama tiga hari tiga malam tanpa tidur. Secangkir kopi dingin di sebelah kanan. Bunyi hujan deras menghantam jendela apartemennya di lantai dua belas. Dan tiba-tiba, dada kirinya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang tidak kasat mata.
Serangan jantung.
Pada usia tiga puluh delapan tahun, Chen Hui — konsultan strategi yang namanya disegani di tiga negara sekaligus — roboh di kursinya sendiri tanpa sempat memanggil siapapun. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang datang. Hanya bunyi hujan, layar monitor yang masih menyala, dan keheningan yang perlahan menelannya bulat-bulat.
Lalu semuanya menjadi gelap.
Mati, pikirnya di ambang kesadaran terakhir. Sungguh cara yang memalukan untuk seorang ahli strategi.
Tapi gelap itu tidak berlangsung selamanya.
Ada sesuatu yang menariknya — bukan dengan kasar, melainkan seperti arus sungai yang tenang namun tidak bisa dilawan. Chen Hui merasakan dirinya bergerak tanpa tubuh, mengalir tanpa arah yang jelas, melewati sesuatu yang terasa seperti lapisan-lapisan realita yang bertumpuk satu di atas yang lain.
Kemudian cahaya.
Bukan cahaya yang lembut dan menenangkan seperti yang sering digambarkan orang tentang kematian. Ini cahaya yang menyilaukan, dingin, dan disertai suara — suara tangisan, suara orang-orang yang berbicara dengan nada panik bercampur lega, dan sesuatu yang terasa seperti tangan-tangan hangat menyentuh kulitnya.
Kulit?
Chen Hui mencoba menggerakkan tangannya. Berhasil — tapi gerakannya lemah, tersentak-sentak, dan sama sekali tidak terkontrol seperti yang dia inginkan. Dia mencoba membuka matanya. Cahaya langsung menghantam retinanya dengan brutal, membuat seluruh penglihatannya kabur dan berair.
Di mana—
"Putra! Dia lahir! Putra Tuan Muda!"
Suara itu keras dan penuh kegembiraan. Tapi bukan itu yang membuat Chen Hui membeku dalam kepanikan total yang tidak terlihat dari luar.
Yang membuatnya membeku adalah ketika dia menyadari bahwa suara itu terdengar sangat jauh ke bawah — seolah-olah dia sedang berbaring di sebuah permukaan tinggi dan semua orang di sekelilingnya jauh lebih besar darinya.
Jauh. Lebih. Besar.
Dengan susah payah, Chen Hui menggerakkan kepalanya — yang terasa berat luar biasa dan tidak proporsional dengan "tubuhnya" yang lain — dan mulai memproses apa yang dilihatnya.
Langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran naga emas. Lentera merah yang tergantung berjajar. Perempuan-perempuan berbaju sutra yang berlutut dengan ekspresi lega bercampur haru. Seorang wanita muda yang berbaring kelelahan di atas ranjang berukir dengan keringat membasahi dahinya, menangis sambil tersenyum ke arah sesuatu yang sedang digendong oleh seorang bidan.
Sesuatu.
Aku.
Chen Hui akhirnya menerima kenyataan itu dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Mungkin karena otaknya sudah terlatih puluhan tahun untuk menerima situasi terburuk dan langsung mencari solusi, bukan menghabiskan waktu untuk panik.
Dia mati. Dia bereinkarnasi. Dia sekarang adalah bayi yang baru lahir.
Baik, pikirnya dengan tenang yang hampir terdengar gila. Situasi baru. Analisis terlebih dahulu.
Analisis pertama: tubuh.
Tubuhnya sekarang sangat kecil, sangat lemah, dan tidak bisa melakukan hampir semua hal yang ingin dilakukannya. Refleks bayi yang baru lahir bekerja secara otomatis — menangis, menggerakkan tangan dan kaki tanpa koordinasi, merespons sentuhan dengan cara yang tidak dia kendalikan sepenuhnya. Otaknya yang dewasa terjebak di dalam sistem saraf yang belum matang, seperti menyalakan superkomputer di dalam casing kalkulator.
Menyebalkan.
Tapi bisa disiasati.
Analisis kedua: lingkungan.
Dari apa yang bisa dia amati dengan penglihatan bayi yang masih kabur, dia berada di sebuah kamar yang sangat mewah. Bukan kemewahan biasa — ini kemewahan yang berbicara tentang kekuasaan dan status yang sangat tinggi. Ukiran di mana-mana. Bahan-bahan mahal. Pelayan yang jumlahnya tidak sedikit. Dan cara semua orang berpakaian... itu bukan era modern.
Dunia lain, simpulnya. Atau masa lalu yang jauh. Tapi ada teknologi kultivasi — aku bisa merasakannya dari cara mereka bergerak.
Analisis ketiga—
[ SISTEM SAINT-LEVEL TELAH AKTIF ]
[ SELAMAT DATANG, JIWA TERPILIH ]
[ INISIALISASI SELESAI — 100% ]
Chen Hui hampir tersedak air liurnya sendiri.
Kalimat-kalimat itu muncul langsung di dalam pikirannya, bukan di layar manapun, bukan di udara — melainkan seperti kata-kata yang terukir langsung di lapisan terdalam kesadarannya. Bersih, jelas, dan tidak bisa diabaikan.
Sistem?
[ Benar. Kau adalah pemilik Sistem Saint-Level — satu-satunya sistem tingkat suci yang pernah ada di dunia ini. Sistem ini tertanam di jiwamu, bukan tubuhmu. Ia mengikutimu melewati kematian dan kelahiran kembali. ]
Mengapa aku?
[ Pertanyaan itu tidak relevan untuk saat ini. Yang relevan adalah: kau berada di dunia Spiritual Awakening, terlahir sebagai pewaris utama Klan Suci — keluarga paling berkuasa di wilayah tengah. Dan nyawamu sudah dalam bahaya sejak lima menit yang lalu. ]
Chen Hui secara refleks mencoba menegakkan tubuhnya. Tentu saja gagal. Dia masih bayi yang baru lahir dan belum bisa mengangkat kepalanya sendiri.
Jelaskan.
[ Di luar kamar ini, ada tiga faksi yang sedang berdebat tentang siapa yang berhak mengumumkan kelahiranmu ke publik. Dua dari tiga faksi itu menginginkanmu mati sebelum matahari terbenam hari ini. ]
Tentu saja, batin Chen Hui. Bahkan belum satu jam hidup, sudah ada yang ingin membunuhku.
Dia menarik napas — atau lebih tepatnya, paru-paru mungilnya mengembang dan mengempis dalam ritme yang belum bisa dia kendalikan sepenuhnya — dan mulai berpikir.
Sementara pikirannya bekerja keras di balik mata bayi yang tampak tidak berdaya, sebuah pria masuk ke dalam kamar.
Dia tinggi. Tegap. Wajahnya tampan dengan guratan ketegasan yang khas dari seseorang yang terbiasa memberi perintah dan tidak terbiasa ditolak. Jubah hitam dengan bordir naga perak di bagian bahunya. Usia sekitar awal empat puluhan, tapi tubuhnya memancarkan energi seperti orang yang masih di puncak kekuatannya.
Ayah, simpul Chen Hui secara naluriah.
Pria itu berjalan mendekati ranjang sang ibu, menatap wanita muda yang kelelahan itu dengan ekspresi yang kompleks — campuran antara lega, bangga, dan sesuatu yang lebih dalam yang sulit didefinisikan. Lalu dia menoleh ke bidan yang menggendong Chen Hui.
"Beri dia padaku."
Suaranya rendah. Tidak keras, tapi mengandung bobot yang membuat semua orang di ruangan itu bergerak sedikit lebih hati-hati.
Bidan menyerahkan Chen Hui dengan tangan gemetar karena gugup.
Dan untuk pertama kalinya, Chen Hui merasakan genggaman tangan ayah kandungnya di dunia ini.
Pria itu menggendongnya dengan cara yang kaku — jelas bukan seseorang yang terbiasa menggendong bayi — tapi tangannya kuat dan hangat. Dia menatap wajah Chen Hui dengan sebuah ekspresi yang bahkan Chen Hui yang sudah punya pengalaman hidup puluhan tahun tidak bisa membacanya dengan tepat.
"Chen Mingzhi," kata pria itu akhirnya, berbicara kepada sang ibu. "Aku ingin memberinya nama Chen Yuhan."
Sang ibu — Chen Mingzhi — tersenyum lemah dari ranjangnya. "Nama yang bagus."
Chen Hui — atau sekarang Chen Yuhan — memproses nama barunya dengan cepat dan menerimanya tanpa keberatan. Nama itu tidak penting. Yang penting adalah informasi yang terus dia kumpulkan setiap detiknya.
Pria ini adalah ayahnya. Kuat, berkuasa, dan tampaknya tulus menyayangi sang ibu. Itu aset pertama yang harus dia jaga.
[ Bakat pertama telah diaktifkan: Pemahaman Tanpa Batas. Kau kini mampu menyerap dan memahami teknik kultivasi apapun yang kau saksikan, tanpa batas jumlah dan tanpa perlu latihan berulang. ]
[ Bakat kedua telah diaktifkan: Kultivasi Pasif Matahari & Bulan. Tubuhmu akan menyerap energi surya selama siang hari dan energi lunar selama malam hari secara otomatis. Tulang, otot, dan meridianmu akan menguat tanpa perlu berlatih secara aktif. ]
[ Peringatan: Sembunyikan keberadaan sistem ini. Jangan tunjukkan kemampuan aslimu kepada siapapun sebelum waktunya. Bertahan hidup adalah prioritas utama. ]
Aku tahu, batin Chen Hui sambil menatap langit-langit kamar dengan mata bayi yang tampak kosong tapi sebenarnya sedang merekam setiap detail di sekelilingnya. Aku sudah tahu sejak lahir.
Di luar kamar, suara perdebatan antar faksi masih terdengar sayup-sayup. Di dalam, para pelayan sibuk membereskan ruangan dengan wajah-wajah yang penuh kegembiraan palsu dan kecemasan asli.
Dan di tengah semua itu, Chen Yuhan — bayi yang baru saja lahir delapan belas menit yang lalu — sudah mulai menyusun strategi bertahan hidup pertamanya.
Dunia ini mungkin baru baginya. Tapi permainan kekuasaan?
Itu sudah dia kuasai bahkan sebelum dia bisa berjalan.
Bersambung ke Bab 2...
