Cherreads

Chapter 9 - Bab 9

"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi" selak riger semangat.

"Sudahlah ayo kita kencan sayang, kamu harus bisa beradaptasi selama sebulan" nenek dengan semangat.

"Tidak! Tidak! Tidak! Bisa seperti ini kita harus berbicara dengan kepala matang" gevan panik.

"Bukan matang, tapi dingin bodoh" riger meledek.

"Pokoknya harus bicara sebentar kasih aku waktu 5 menit berbicara dengan riger" gevan menatap nenek tersebut.

"Jangan lama ya waktuku sangat berharga" nenek meninggalkan mereka.

"Apa yang kau lakukan? Kau berniat menjualku?" gevan kesal.

"Tentu saja, kau harus melihat sisi positifnya, bukan?" riger bangga.

"Setidaknya kita bicarakan dulu, ini terlalu sepihak. Masa aku di jual dengan nenek – nenek si?" gevan mengoceh.

"Tapi dia yang paling kaya di desa ini. Ayolah sabar saja selama sebulan, aku sudah membantu menjualmu" riger mengedipkan mata bangga.

"Dasar bajingan ini" dengan amarah meledak gevan menjambak rambut riger.

"Kau itu beruntung ini harga tinggi pikirkanlah setelah itu kita tidak perlu mencari uang lagi" riger tak ingin kalah ia membalas jambakan gevan kembali.

"Tapi jangan sama nenek – nenek juga kali" marahnya yang semakin terpancing gevan terus menjambak.

"Kenapa banyak mau sih?" riger kesal memukul gevan.

"Kau tanya kenapa? Aku harus bertahan 1 bulan. Sedangkan kau hanya menungguku selama sebulan itukan?" gevan membalas pukulan.

*Sial ketauan. Padahal aku berniat makan, tidur, makan, tidur, selama 1 bulan penuh kalau dia sudah menebak. Itu artinya dia sudah memikirkan sejauh itu? Padahalkan aku juga berperan besar, bukan?. Dalam hati riger mikir keras.

"Mana mungkin aku akan mencoba berbagai pekerjaan, jangan merasa paling menderita. Kita sama – sama menderita" ucap riger yang mencoba menenangkan gevan.

*Kenapa jadi kacau balau seperti ini sih? pokoknya aku harus menutup rapat mulutnya itu saat sampai di kekaisaran. Bagaimana kalau orang ini menceritakan aku berkencan dengan nenek – nenek, dan menggoda pelayan penginapan, lalu menyuruhnya mencuri kuda, aku tidak mau sampai terdengar oleh kekasihku ini membuatku malu. Dalam hati gevan mikir cemas.

"Dasar pembohong" gevan melanjutkan menjambak.

"Ini yang terakhir aku tidak akan berbohong lagi" riger balas menjambak.

"Bagaimana aku bisa mempercayai tukang bohong" gevan semakin marah menjambak hingga dimana jambakan itu membuat mereka terguling bersama.

"Baiklah aku janji tidak akan berbohong lagi dan menuruti perkataanmu setelah ini" riger terus mendorong balas gulingan.

"Bagaimana kalau setelah ini, terjadi lagi" gevan menendang kaki riger.

"Yah tinggal janji lagi kalau bohong" riger menahan rasa sakit.

*Duh sakit! Ini sakit banget, kau pikir aku akan kalah? Dalam hati riger yang sambil menahan diri sekuat tenaga agar air matanya tidak terjatuh.

"Bedebah sialan ini" spontan gevan membanting riger hingga pingsan.

K.O

Di saat yang sama.

"Ibu bukan yang di sana sedang berantem?"

"Sepertinya budak dan tuannya sedang ada masalah"

"Jangan di liat nanti kau terkena pukulan"

"Wah liat ada pertunjukkan di sebelah sana"

"Ayo berantem"

"Kita memasang taruhan siapa yang menang"

Ujar beberapa penduduk desa menyaksikan.

Semua yang menonton bertepuk tangan.

*Apa yang tejadi? Setelah mereka bertepuk tangan sebagian dari mereka mendatangiku dan memberiku uang. Apa ini mencari uang yang baru? Jangan – jangan ini seperti taruhan judi? Tidak sepertinya aku akan di jual lagi, ini tidak benar aku akan berlindung di balik punggung nenek itu saja. Dari pada orang tidak jelas. Dalam hati gevan mikir seksama.

"Pokoknya setelah ini selesai kau harus bekerja denganku seumur hidup tanpa gaji" gevan berkata dengan riger masih pingsan lalu pergi.

***

Sudah hampir 2 minggu sejak aku menjadi simpanan seorang nenek. Selama itu dia terus memberiku kamar yang bagus, baju mahal, makanan enak, dengan imbalan selalu hadir ke acara yang telah di tentukan, selalu romantic di depan banyak orang termasuk saat sedang berdua. Menurutku tidak masalah selagi hanya seperti itu.

Di kediaman nenek.

Ruang tamu.

"Bukankah kita sangat ini cocok?" nenek dengan nada menggoda.

"Terlalu cocok bagaikan langit dan bumi" gevan tersenyum.

"Candaanmu bisa saja, aku hanya terlahir lebih dulu siapa yang tau bukan?" nenek tersipu malu sambil meminum teh.

"Anda bisa saja" gevan tersenyum meminum teh.

"Umur hanyalah angka" goda nenek mengedipkan mata.

*Harga diriku ter injak – injak. Tetapi tidak buruk juga menjadi penggoda. Dalam hati gevan khayalan.

"Benar apa adanya" gevan balas balik.

"Bersiap – siaplah sayang, kau harus terbiasa memanggilku nona, ya?" nenek beranjak pergi.

***

Salon count.

"Siapa pria cantik ini"

"Perkenalkan dia adalah simpananku"

"Wah aku tidak tau ada pria setampan dan secantik ini"

"Tentu saja kami berkenalan saat di perdagangan lalu jatuh hati"

"Siapa yang mengutarakan cinta duluan"

"Jangan seperti itu nanti mereka jadi malu"

"Benar kalian seperti menjadi pasangan pengantin baru"

"Sejujurnya simpananku yang menyatakan duluan"

"Kukira mau menempatkan menjadi suami barumu"

"Tenang saja tunggu cinta kami semakin mendalam"

Ujar beberapa bangsawan.

Hokkk... hokkk...

*Aku menjadi nyaman dan menikmati lingkungan ini. Bukankah aku menjadi terkena virus nenek – nenek. Ini sangat langka. Tidak wajar bukan? Aku harus menemui riger secepatnya. Dalam hati gevan gelisah.

Keselek wine "Aku permisi ke toilet sebentar dan akan segera kembali" gevan beranjak pergi.

***

Keluar dari toilet beranjak mengambil minuman.

"Para nenek – nenek itu bukannya inget umur sebentar lagi di panggil tuhan. Malah memikirkan duniawi" bicara sendiri "Kalau bukan karena terpaksa aku tidak akan mau seperti ini" mengambil wine.

*Sial aku takut terbawa arus nenek – nenek. Dalam hati gevan merinding.

Memegang Pundak gevan "Wah kalau ada yang mendengar bisa – bisa kau di penggal menghina bangsawan" sambung pemuda tersebut.

Menepis tangan "Ha? Aku tidak peduli karena aku kuat" gevan menoleh ke arah pemuda.

"Hans kenapa lama sekali?" menghampiri mereka.

"Kau tidak tau? Kerajaan dan bangsawan di sini sangat sensitive terhadap pembicaraan negative" hans menjelaskan.

"Jangan ikut campur hans!!" gevan menatap tajam.

"Bagaimana kau bisa tahu namaku?" hans terkejut.

"Tadikan ada yang berteriak, masa gitu aja harus di jelaskan" gevan beranjak pergi.

Menarik tangan gevan "Kau tunggu dulu" menghalangi jalan "Ada yang masih perlu kita bicarakan. Aku juga ingin mengenal lebih dalam" hans berusaha.

"Kau ya, udahku teriakin apa masih tidak kedengaran?" mengomeli hans.

"Jangan mengganggu kami sedang berbicara penting pergilah" hans ketus.

"Apa? Kau ya? Dasar aku akan memberimu waktu jadi cepatlah!!" Wanita tersebut beranjak pergi.

"Sepertinya tidak bisa aku harus segera kembali" gevan mencari jalan keluar.

*Bagaimana kalau nenek – nenek mencariku karena tidak kunjung kembali dan meminta pengembalian separuh karena tidak bekerja dengan ekstra, memikirkan tidak bisa pulang membuat kepalaku pusing. Dalam hati gevan cemas.

"Tolong dengarlah jika kau tidak ada pekerjaan atau sudah tidak menjadi simpanan lagi datanglah ke kasinoku!!" hans dengan memohon.

*Dia gila, ya?. Dalam hati gevan kesal.

"Tidak bisa kekasihku tidak suka kalau aku masuk kasino" gevan memegang tangan dengan frustasi.

"Maksud anda kekasih? Nenek bangsawan itu?" hans mikir keras.

*Wah orang ini benar – benar membuat naik darah. Dalam hati gevan menahan marah.

"Bukanlah -!! Kau kira karena aku bersama dengannya bukan berarti aku suka!!" gevan marah.

"Aku mengerti kau punya kekasih lain rupanya" hans mencoba menenangkan.

( isi pikiran hans kekasih lainnya nenek – nenek bangsawan lain )

"Aku akan datang setidaknya bukan untuk bekerja" gevan ketus.

"Ya, tidak masalah aku akan menyambutmu. Kau bisa memikirkannya pelan- pelan" hans memberikan kartu "Ini bawalah datang saat kau ke kasino nanti."

***

Setelah itu hariku tidak banyak berubah menemani layaknya pasangan bersama, sudah memasuki minggu ke 3 sebagai simpanan. Tidak lebih tepatnya simpanan nenek – nenek itu. Sepertinya aku mulai paham kenapa kekasihku tidak pernah memanggil nama seseorang dengan benar.

*Aku merindukan mystianiku yang cantik dengan sifat dinginnya, aku penasaran apakah dia akan luluh saat aku benar – benar mendapatkan [jantung naga] seperti yang dia inginkan? Aku sangat ingin melihat ekspresi apa yang dia berikan padaku? Tersenyum, sedih, marah atau dingin seperti biasa yang dia lakukan. Sepertinya aku menjadi sedikit gila. Dalam hati gevan berkhayal.

"Permisi tuan nyonya memanggil anda ke ruang kerja" ujar kepala pelayan.

"Aku sendiri yang akan ke sana" gevan tersenyum.

"Kalau begitu aku pamit undur diri" kepala pelayan meninggalkan kamar gevan.

***

Ruang kerja.

Tok tok tok

"Masuklah sayang" ujar nenek.

"Kapan kau selesai bekerja" gevan beranjak duduk.

"Setidaknya panggil namaku. Jika tidak mau memanggilku dengan sebutan sayang" nenek menaruh dokumen.

"Nama juga tidak buruk. Nora seperti ini?" gevan gugup.

"Iya seperti itu juga tidak masalah panggil namaku seperti itu" nora tersipu malu.

"Aku sudah melakukan semua yang kau minta nora" mengangkat kaki ke meja "Jadi bolehkah aku meminta imbalan sebagai gantinya?" gevan tersenyum ketus.

"Dasar anak muda jaman sekarang memang tidak sopan" nora dengan ketus mengambil rajutan.

"Aku ingin meminta koran selama 7 bulan terakhir ini" gevan tersenyum merajut.

"Sebenarnya itu mudah. Tetapi bukankah permintaan itu terdengar tidak sopan karena aku menyewamu selama 1 bulan dengan harga lumayan mahal permintaan seperti itu harus sepadan bukan?" nora menunjuk kaki gevan.

"Astaga nora dengan umurmu yang sudah tua kau masih perhitungan, ya?" menghampiri nora mencium tangan lalu mengedipkan mata" melempar rangkaian rajutan yang ia buat "Aku akan meminta langsung kepada sekertarismu" gevan beranjak pergi.

"Dasar masih saja tidak tahu malu" nora melempar barang.

***

"Ini tuan koran yang di minta" sekertaris melempar koran.

"Kau masih kaku? Aku ini tuanmu walau tampangku seperti murahan penggoda. Aku ini orang paling penting di negaraku" gevan dengan bangga.

"Sejujurnya aku tidak peduli" sekertaris ketus.

*Dasar orang ini!! Haruskah aku membunuhnya? Tidak mungkin karena dia tidak tahu saja. Benar penyamaran menjadi simpanan memang terlalu sempurna untukku. Dalam hati gevan tersenyum jahat.

*Orang gila ini hanya bisa menggunakan wajahnya saja lihatlah ekspresi yang barusan dia tunjukkin mana mungkin aku percaya begitu saja. Dalam hati sekertaris mikir keras melihat wajah jahat gevan.

"Sebaiknya kau menurut. Aku hanya menyusahkanmu sedikit. Kalau kau tidak mau aku akan mengadukan kepada kekasihku" gevan meledek.

*Kapan menyusahkan sedikit? Sudah 3 minggu ini dia menyusahkan semua orang dengan kehadirannya saja, menyuruh setiap pelayan yang dia lihat di depan matanya. Mengambil makanan saat malam tiba di dapur secara diam – diam. Menjahili para tukang kebun dan masih banyak lagi bahkan sekarang tiba giliranku? Tidak akanku biarkan. Dalam hati sekertaris mikir keras.

"Dasar tidak berguna, pokoknya bawa lagi yang lengkap!!" menendang koran berhamburan "Ini tidak ada koran kekaisaran galespier. Aku butuh koran itu secepatnya" gevan dengan mata menatap rendah meninggalkan ruangan.

"Baik tuan akanku ingat" sekertaris membungkuk menahan tangis.

*Menakutkan matanya itu. Tahanlah tahan aku harus bersabar seminggu lagi orang ini akan meninggalkan kediaman. Sampai saat itu tiba jadi bersabar adalah solusi. Dalam hati sekertaris memungut koran berhamburan menahan nangis.

***

Setelah kabur dari sekertaris yang mengamatiku terus menerus seperti penguntit selama berhari – hari dan aku sedikit terbebas dari nora yang sedang sibuk bekerja, tidak maksudku nenek – nenek itu segera setelah itu aku mencoba pergi menyelinap ke kasino yang hans tawarkan di sela tidak ada yang mengamatiku.

Kasino timur.

"Kali ini aku akan menang"

"Pada taruhan berikutnya pasti aku--,"

"Ayo berikutnya"

"Minggir kau jangan menghalangi jalan"

"Taruhin semua harta yang tersisa"

Ujar beberapa orang di kasino.

*Aku sedikit kaget dengan kasino ini dari luar seperti gedung tua yang tidak terawat, tetapi setelah memasuki tempat ini ternyata tidak ada bedanya seperti tempat pesta yang tersembunyi. Terlebih lagi sekarang aku memakai topeng. Dalam hati gevan mengamati sekitar.

Brukkk "Minggir kau jangan menghalangi jalan" ujar pria tua berjalan sempoyongan.

"Anda tidak apa – apa tuan?" gevan berpindah tempat.

"Maaf tuan aku akan membawa tuan yang sedang mabuk ini, apa ini pertama kalinya tuan ke sini?" sambung pelayan kasino.

"Ah, iya aku sedang mencari seseorang" gevan mengeluarkan kartu.

"Aku tidak tahu ternyata tuan tamu penting, di depan ada pintu silakan kasih kartu tersebut saat tiba" pelayan kasino membawa pergi pria.

***

*Sepertinya aku mendengar di sini ada tempat pelelangan, lebih baik aku mengamati situasi sekarang terlebih dahulu. Dalam hati gevan menuju tempat pelelangan.

"Kau tidak tahu? Aku mendengar tadi ada buruan binatang seperti rusa tertapi warna bulunya sangat indah untuk di lelang"

"Kenapa kau ingin memiliki itu? Aku lebih mendengar rumor katanya budak di pelelangan kali ini memiliki mata putih"

"Pasti itu rumor belaka lagi"

"Benar seperti terakhir kali"

"Kalau memang benar ada budak mata putih. Pasti pahlawan dari kerajaan suci sudah membawa budak itu terlebih dahulu"

"Mungkin karena kekaisaran galespier yang menjadi pusat itu sedang ada masalah dari dalam"

"Iya kau bahkan tidak tahu? Aku mendengarnya dari bosku yang bangsawan"

Ujar beberapa orang menuju pelelangan sebelum di mulai.

*Apa maksudnya itu? Mata putih? Kekaisaran galespier ada masalah? Tidak mungkin itu pasti pasti hanya pertengkaran politik seperti biasa dari dalam yang memperebutkan wilayah penaklukan kali ini, kekasihku pasti bisa mengatasi bangsawan seperti itu, jadi tidak perlu khawatir berlebihan karena kekasihku pintar dalam segala hal. Dalam hati gevan mikir keras.

Pelelangan di mulai.

Selama pelelangan berlangsung aku berbalik arah menuju ruang vip dan menunggu hans tiba, secara samar – samar aku mendengar suara dari tempat tersebut.

"Wah lihat siapa yang datang? Aku tidak menyangka kau akan kemari, kukira bujukan kemarin tidak membuahkan hasil setelah seminggu tidak ada kabar" hans beranjak duduk.

"Sudahlah aku tidak ingin berbasa – basi dengan orang hina" gevan ketus.

"Hei!! Bersikap sopanlah kepada tuan di sini, tuanku pemilik kasino!! Kau tidak tahu?" ujar pengawal kesal.

"Sudahlah tidak masalah di panggil apapun" hans meminum teh.

"Tidak tahu dan tidak peduli" gevan sambil meminum teh "Aku ke sini ingin menanyakan tentang kekaisaran galespier yang terjadi selama 7 bulan terakhir."

"Dia ini penampilannya sangat tidak tahu malu" sambung pengawal dengan marah.

"Tinggalkan kami berdua. Aku ingin berbicara leluasa tunggulah di pintu" hans tersenyum.

"Baik tuan kalau terjadi sesuatu yang buruk tolong segera beritahu" pengawal hans beranjak pergi.

"Tadi kita sampai mana" hans mikir "Ya, sejujurnya aku tidak terlalu mengikuti kabar terbaru kekaisaran galespier tapi aku sedikit memiliki info terbaru akhir – akhir ini."

"Kenapa kau hanya memiliki info sedikit" gevan menatap tajam.

"Kau tidak tahu? Mungkin karena ini kasino bukan asosiasi informasi" hans menjelaskan "Bukankah jelas? Untuk apa aku mencari sesuatu padahal tidak ada pelanggannya dan tidak menguntungkanku."

"Bagaimana informasi yang hanya sedikit itu?" gevan tersenyum.

"Kalau tidak salah 4 bulan yang lalu atau 3 bulan yang lalu? Akhir – akhir ini mereka seharusnya penobatan kekaisaran tetapi ada konflik internal dari dalam sehingga banyak bangsawan yang di gulingkan dari kekuasaan" hans dengan serius.

"Kau yakin dengan berita tersebut?" gevan cemas.

*Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak ada waktu untuk menunda. Aku harus harus memastikannya saat tiba nanti. Dalam hati gevan mikir keras penuh kecemasan.

"Tentu saja karena kasino ini merupakan salah satu cabang" sambung hans tegas.

Brukkk... hnghh... brukkk...

Mendobrak pintu "Maaf tuan mengganggu waktunya di luar ada kesatria kerajaan sedang menggeledah seluruh tempat kasino. Tidak ada waktu lagi" pengawal hans membawa hans pergi dengan tergesa – gesa.

"Segeralah pergi aku akan menghubungimu saat situasi mulai mereda" hans beranjak pergi.

***

"Sebaiknya aku bersembunyi dahulu dan mencari jalan keluar" gevan bersembunyi di bawah meja kasino.

*Banyak sekali kesatria yang menuju ke sini, akukan tidak ikut – ikutan, kenapa hari apesku selalu muncul tepat waktu. Dalam hati gevan cemas membuka topeng.

"Sssttt... jangan berisik kak nanti kita ketahuan" ujar berbisik seorang anak.

*Sejak kapan ada orang di belakangku. Suara anak kecil? Kenapa waktunya bisa pas sekali saat aku sedang di sini ini tidak kebetulan, bukan?. Dalam hati gevan mikir keras.

"Pada hitungan ketiga kita berlari menuju pintu keluar, ya" gevan mengajak anak tersebut.

"Cepatlah hitung badanku sudah mati rasa" ujar anak mengeluh.

1

2

3

"Ayo pergi -!!" gevan berlari bersama anak tersebut.

***

Hosh... hosh... hosh...

"Tunggu sebentar kita sudah berjalan sejauh ini. Beri aku waktu istirahat" ujar anak itu membungkuk lemas.

"Yasudah ayo kita bersembunyi di tempat makan" gevan memimpin jalan.

"Dasar kakak ini setidaknya tunggulah aku. Langkah kaki kakak lebar sekali" beranjak duduk.

*Apa itu mata yang di bicarakan orang di kasino tadi? Mata berwarna putih separuh. Yah walau pakaiannya terlihat lesuh tetapi matanya tidak bisa berbohong. Dalam hati gevan menatap anak tersebut.

"Ada apa kak? Kau menatapku dengan tatapan tajam seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan?" sambung anak tersebut terheran.

"Tidak. Pesan saja makanannya kakak ini yang akan teraktir" gevan ketus.

"Memang kakak punya uang" anak tersebut menatap seksama.

"Tentu saja. Kau tidak tahu siapa aku?" gevan banggain diri.

"Memangnya kakak siapa?" ujar anak dengan penuh semangat.

"Dia adalah kekasihku" nora mengejutkan gevan.

"Kau bagaimana bisa ada di sini?" gevan terkejut.

"Kamu tidak terlihat seharian ini. Aku mencarimu kemana – mana. Untung saja ada yang melihatmu di dalam restoran ini" nora cemas.

"Wah serius nenek ama kakak tampan ini kekasih? Bukankah hubungan kalian harusnya nenek dan cucu, ya?" dengan kaget anak itu meledek.

"Bolehkah aku tahu nama anak kurang ajar ini?" nora dengan kesal.

"Namaku belinda nenek" belinda memeluk gevan "Kakak aku takut ama kekasih kaka bisakah dia pergi?" dengan ketakutan.

"Aku hanya mencari kekasihku, dasar anak durhaka" nora beranjak duduk.

"Huaaa... hiskk... aku takut kakak ada nenek bergigi emas, katanya kalau ketemu bakal di makan" belinda terus menangis membuat suasana restoran menjadi tidak nyaman.

"Nora kita akan mengobrol nanti aku akan menenangkan anak ini dahulu" gevan mengelus kepala belinda.

"Aku akan menunggu di kamarku" nora beranjak pergi.

*Kepalaku pusing mengurus diri sendiri saja tidak benar sampai jatuh ke tangan nenek – nenek. Malah muncul masalah baru. Dalam hati gevan kesal.

"Sudah pergi dia. Kau bisa pindah sekarang" gevan mengangkat tubuh belinda.

"Wah makanannya sudah datang ini enak" belinda memakan dengan lahap.

"Kau bagaimana bisa anak sekecil dirimu berada di dalam kasino?" gevan menatap tajam.

"Itu karena aku di jadikan budak tetapi ada kerusuhan di luar. Seketika aku bisa kabur dan melepaskan diri" belinda lanjut makan.

*Ternyata benar aku tidak salah, melihatnya lebih jelas dia memang budak yang di bicarakan tadi. Dalam hati gevan mengamati.

"Kalau sudah selesai makan pergi sana" gevan meminum teh.

"Kakak jahat banget, aku sudah tidak punya siapa – siapa tahu. Izinkan aku ikut sama kakak, ya? Aku janji tidak akan menyusahkan kakak" dengan nada memelas "Kalau kakak tidak mengizinkan aku ikut, bagaimana kalau nanti aku di jadikan budak lagi."

*Benar kata nora dia ini anak kurang ajar. Dalam hati gevan kesal.

"Pinter sekali menjilat. Mulai dari sekarang aku akan mengganti namamu terlebih dahulu. Namamu bellova" gevan mendekatkan ke wajah bellova.

"K - kenapa harus mengganti nama" bellova tersipu malu.

"Mungkin karena memulai hidup baru? Aku tidak bisa membawamu kembali ke kediaman. Di sana ada nenek – nenek tadi" gevan beranjak pergi.

"Tapi aku takut. Kekasih kakak penyihirkan" bellova gemetar.

"Jangan sampai aku memukulmu!! Dia bukan kekasihku. Dengar ya kau harus menunggu di perbatasan selama 2 hari ini. Aku akan segera menjemputmu" gevan memberikan beberapa koin emas.

"Kau harus menepati janji, ya?" bellova dengan semangat mengulurkan jari kelingking.

"Tentu saja. Aku ini selalu menepati janjiku" gevan balas mengeluarkan jari kelingking.

***

Kediaman nora.

*Masalah baru saja selesai muncul lagi masalah lainnya. Kapan ini segera berakhir. Dalam hati gevan ketus.

"Tuan ini koran yang anda minta" sekertaris menghapiri dari belakang.

"Kau mengagetkanku saja" gevan terkejut.

"Itu wajah muka yang jelek yang pernah kau perlihatkan" sekertaris kesal.

"Jangan seperti itu kau membuat wajah tampanku terlihat seperti tidak berharga" gevan dengan nada goda mengedipkan mata.

"Aku anggap tidak mendengarnya barusan" sekertaris memberikan koran meninggalkan gevan.

"Wah tingkahnya itu masih saja menyebalkan" gevan membawa koran.

( Sekertaris dari kejauhan menahan muntah )

***

"Nora kamu sudah tidur?" gevan mengetuk pintu.

"Masuklah" nora tegas.

*Suaranya selalu menggema setiap hari khas sekali nenek – nenek. Dalam hati gevan meledek.

Membuka pintu "Kukira kau sudah tidur" gevan beranjak duduk di sofa.

"Aku menunggumu. Jadi menunda waktu tidurku" nora membaca laporan.

"Perhatikan waktu tidurmu nora" gevan dengan cemas.

"Ada apa denganmu hari ini? Apa karena anak kecil itu?" nora menatap tajam.

*Mana mungkin itu karena aku akan segera pergi dari sini. Dalam hati gevan tersenyum jahat.

"Tidak. M – maksudku iya, mungkin? Kau tidak menanggapinya dengan seriuskan nora?" sambung gevan menghela napas.

"Tidak aku hanya menyayangkan kita akan berpisah seminggu lagi. Kau sudah mendapatkan koran yang kau inginkan? Sejujurnya aku senang dengan akhir – akhir ini. Selama ini hidupku tidak sepenuhnya kunikmati untuk diriku sendiri" nora menaruh laporan.

"Kenapa kau terlalu serius dengan kehidupan? Lebih baik di usiamu ini nikmatilah sebelum terlambat" gevan memberikan semangat.

"Tidak semudah itu berbicara dan berkata" nora menghela napas.

"Kau tidak apa – apa nora? Jangan mati dulu uang sewaku belum di bayar sepenuhnya" gevan panik.

"Dasar kau kurang ajar. Cepat ambilkan obatku di laci" nora menenangkan diri.

Mengambil obat "Kalau kau tidak bisa keluar dari hal seperti itu. bagaimana kau bisa menikmati sisa usiamu?" memberikan obat ke nora "Mauku bantu kabur."

"Kepalaku jadi semakin pusing mendengar ocehanmu. Kembalilah ke kamar" nora meminum air.

"Lebih baik mati dalam keadaan lega karena senang dari pada mati dengan penuh kegelisahan" gevan beranjak pergi dengan ledekan.

"Dasar kurang ajar!! Mauku kutuk jadi batu hah???" nora melempar bantal.

***

Keesokan harinya aku membaca koran seharian dari sejak saat aku pergi meninggalkan kekaisaran hingga hari ini memasuki bulan ke 8.

"Ini tidak mungkin benar, bukan? Kenapa situasi menjadi separah ini?" melanjutkan membaca koran "Aku baru menyadari sesuatu kenapa pas sekali saat kepergianku? Apa karena aku pendukung faksi terkuat putra mahkota. Tetapi selain diriku masih ada marquis grayson yang mempertahankan posisinya" membaca koran hingga bulan ke 5.

*Apa ini korannya kenapa tidak lengkap? Kenapa hanya sampai bulan ke 5. Seperti ada yang di tutup – tutupin. Adik iparku menikah mendahuluiku rupanya, owen naik takhta pada bulan ke 3, selanjutnya permaisuri di racunin pada bulan ke 4. Tunggu ini bukankah situasi gawat?. Dalam hati gevan panik.

"Sudahlah aku lakukan kegiatan hari ini seperti biasa untuk terakhir kali sebelum pergi" meninggalkan kamar.

***

Penginapan.

Tok tok tok.

Membuka pintu "Wah kirain kau tidak akan datang" riger menutup pintu.

"Mana mungkin ini hari yang sangat kita tunggu" gevan masuk.

"Sudah tiba waktunya, ya? Tetapi seingatku tersisa seminggu lagi" riger mengambil barang.

"Kalau kau lupa aku akan meninggalkanmu dan menjualmu secara terpisah" gevan meledek menunjuk.

"Wah dasar benar – benar jahat. Di sini aku yang paling sibuk" riger merasa tersakiti.

*Karena kegiatanku selama sebulan penuh hanya makan, tidur, makan, tidur berpindah hotel ke tempat mewah sampai tiba di penginapan sederhana. Agar dia tidak mencurigaiku. Dalam hati riger cemas.

"Berani sekali mengatakan jahat. Memangnya siapa yang menjualku dengan nenek – nenek?" sambung gevan memalingkan wajah kesal.

"Kulihat kau nyaman dan seperti terlihat menikmati" riger melempar barang.

"Berisik. Aku bahkan tidak mau mengingat namanya" gevan melempar barang.

"Tetapi keliatannya kau menikmati suasana seperti itu" riger meledek.

"Kau benar sepertinya aku jadi gila" gevan panik.

"Aku hanya bercanda. Tuan muda kita ini terlalu serius bukan?" riger mengambil barang yang terlempar.

"Tetapi hatiku tidak akan berdebar, meskipun mereka mencoba sekeras apapun" gevan memandang rendah.

"Awas kau beneran jatuh cinta pada seorang nenek – nenek" ledek riger memberi barang.

"Mana mungkin. Lagian dada nenek itu rata" gevan menerima barang.

^Mmmhhh,,,

Menutup mulut gevan "Kau!! Siapa yang mengajari bicaramu menjadi seperti itu" riger panik.

"Aku mendengar pria tua berbicara seperti itu" gevan mengigit tangan riger.

*Matilah aku!! Sepertinya umurku jadi di percepat. Bagaimana saat tiba di kekaisaran nanti? Tidak mungkinkan? Kepalaku langsung di penggal. Dalam hati riger mikir keras.

"Kedepannya lebih baik kau seperti biasanya. Bersikaplah seperti dirimu yang biasa" sambung riger.

"Apa cara bicaraku memang seburuk itu?" gevan mikir keras.

"Itu karena bicaramu membuatku merinding sial -!!" riger teriak bentak.

"Ini barang apa?" gevan membuka barang.

"Itu kain sutra. Aku tidak tau jenis apa itu" menjelaskan "Tidak buruk membelikan kain sutra itu untuk menutupi wajahmu saat di perjalanan nanti" riger bangga.

*Bilang saja kau iri kan. Dalam hati gevan tersenyum jahat.

"Sudahlah ayo jujur saja kau iri bukan?" gevan meledek.

*Wah lihatlah gayanya yang angkuh itu. Menyebalkan. Lihat saja nanti. Dalam hati riger kesal.

"Mana mungkin!! Setampan tampannya pria seperti kau dan banyak di luar sana. Tetap aku yang tertampan kalau ibuku bilang tampan" riger tersenyum bangga.

"Memangnya kau punya ibu?" gevan dengan datar.

*Sepertinya ini pembicaraan sensitive aku kelepasan bicara. Dalam hati gevan langsung panik.

"Hahaha kau tau? Desa yang kemarin kita tinggalin ternyata bukanlah desa illegal. Setelah langsung melihat peta kita jadi melakukan perjalanan panjang" gevan mengalihkan topik.

Plakkk...

Memukul kepala gevan "Kau ini tidak perlu berpikir rumit seperti itu. Saat bayi hingga usiaku 5th bibi yang merawatku sebelum meninggal itu bibi yang sudahku anggap ibu sendiri" riger tersenyum.

"Siapa juga yang berpikir seperti itu" gevan memalingkan wajah.

"Aku sudah mengecek penduduk desa di sekitar sini. Ternyata kita berada di kerajaan utara tetapi aku tidak sempat mencari tau lebih lanjut" riger tegas.

"Kau yakin tidak memakai semua uang kan?" gevan curiga.

*Sial apa ketahuan?. Dalam hati riger panik.

"Mana mungkin" riger tegas.

"Yasudah kita berkemas besok harus melakukan perjalanan tanpa henti" gevan menuju kamar.

*Karena aku memakai sebagian uang untuk berjudi. Tetapi hanya sedikit jadi tidak akan ketahuankan? Masih bisa untuk beberapa bulan ke depan. Walau aku berpindah sekali untuk mencoba tidur di hotel mewah, setidaknya cukup karena aku sedikit khilaf. Dalam hati riger mengemasi barang.

***

Kami melewati kerajaan timur setelah sebulan menetap tanpa mencari tahu lebih dalam. Melanjutkan perjalanan panjang tanpa henti sampai tiba di perbatasan benua. Seperti hilang arah karena perjalanan menjadi semakin lama karena bertambah seorang lagi yang bersama untuk sampai.

"Berhentilah sebentar aku sudah lelah" bellova keringat dingin.

"Astaga anak ini kita dari tadi banyak berhenti. Kalau terus menerus seperti ini kita tidak akan pernah sampai" riger kesal berhenti.

"Tidak aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja perjalanan panjang membuatku lelah" bellova mencoba turun dari kuda gevan.

"Kukira kau semangat karena sebentar lagi kita akan bertemu dengan spesisemu" riger mengikatkan kedua kuda.

"Berhenti meledeknya riger" gevan ketus.

"Ini membuatku kesal karena kau selalu menuruti permintaannya untuk berhenti" riger ketus.

"Kita harus sampai di kekaisaraan dalam waktu dekat" gevan dengan semangat membara.

"Ngomong ama kuda sana" riger meledek.

"Jangan memancingku aku saat ini aku sudah menahan dengan baik" gevan ketus.

"Kenapa kita pergi lebih cepat dari yang di perkirakan? Seminggu lebih cepat" riger beranjak duduk.

"Aku tidak ingin berlama – lama bersama wanita tua itu. Lagi pula keadaan di kekaisaran cukup mendesak" gevan menurunkan bellova.

( Kondisi nora saat ini panik serangan jantung dan kesal = seharusnya kemarinku kutuk saja di depan wajahnya. )

"Memangnya ada apa dengan kekaisaran besar seperti itu? Lagian kekaisaran tidak mungkin bisa jalan dan berpindah" riger menghibur.

"Situasinya mendesak saat ini 3 bulan sudah berlalu, pada bulan ke 5 di kekaisaran keluarga kekasihku sedang ada masalah bukan saatnya untuk diriku bersantai" gevan dengan cemas memikirkan.

"Kau dengarkan, nak? Jadi kita harus segera tiba di kekaisaran secepat mungkin" riger mengomeli bellova.

"Iya, aku tahu dasar paman ini berisik. Jangan mengoceh dan aku bukan anakmu jangan memanggilku seperti itu" bellova berteriak dengan kesal.

"Kenapa kau membawa anak aneh ini. Memangnya aku kurang apa? Seharusnya kita bisa bicarakan ini baik – baik" riger dengan sedih.

"Jangan membuatku merinding" gevan menahan muntah.

"Aku tidak suka paman itu. Kita buang saja gimana, ka?" bellova dengan jijik.

"Kau benar kita buang saja dia banyak sekali menyusahkanku. Setidaknya kita bisa menjual kudanya" gevan berbisik dengan bellova.

"Kasian sekali kakak. Sudah menangung beban jelek seperti itu" bellova balas bisikan.

*Berhenti berbisik seperti itu, suara kalian berdua itu tidak ada bedanya dengan berbicara di depanku. Dalam hati riger menahan nangis.

"Sudahlah ayo kita melanjutkan perjalanan. Jangan pedulikan paman jelek ini" gevan menggendong bellova ke kuda.

"Kakak jangan berbicara jelek seperti itu di belakang. Kita harus mengatakan langsung di depan orangnya" bellova menunjuk riger.

"Abaikan saja" gevan memimpin kuda dengan cepat.

"Kalian berdua tunggulah!! Akukan hanya bercanda tadi" menaiki kuda "Kalian serius meninggalkanku" riger menyusul dengan kudanya.

-SUDUT PANDANG MARCHIONESS KAREN DE AGELZYN GRAYSON-

Setelah kepergian duke stefmpier 2 minggu setelahnya.

Kediaman marquess grayson.

"Nyonya gaun yang dirancang langsung oleh lady mystiani telah selesai dan tiba" kepala pelayan melaporkan.

"Aku tahu dia pintar tidakku sangka berani mengirimiku gaun seperti ini" marchioness karen de agelzyn grayson ketus.

"Ini gaun sangat indah nyonya"

"Benar, nyonya pasti bisa mengubah trend ibu kota ini"

"Desain yang nyaman untuk nyonya yang tercantik seperti bunga tidak pernah layu"

Ujar beberapa pelayan memuji.

"Aku suka pujian kalian cepat pakaian kepadaku" marchioness karen de agelzyn grayson senang menatap gaun.

Menatap cermin begitu lama melihat wajah cantiknya "Siapa yang tidak terpesona dengan kecantikkanku? Yang mereka selalu iri dengan melihatku saja dari kejauhan. Wajah menjilat dan mengendus seperti seekor binatang penjilat" berbicara di depan cermin.

***

Pesta kediaman count bakker.

"Aku tidak menyangka marchioness grayson akan hadir di pesta"

"Ku dengar marchioness grayson sembuh dari penyakit nya"

"Sepertinya marchioness grayson membawa tren baru"

"Liatlah gaunnya terlalu terbuka"

"Lihatlah dia seperti semakin mirip dengan adiknya"

Ujar beberapa berbisik bangsawan.

Dengan jalan elegan yang lambat terlihat indah dari kejauhan semua yang hadir di pesta tahu siapa sosok tersebut dengan kecantikkan yang tidak pernah pudar bagai bunga di musim semi rambut perak panjang poni yang menutupi alisnya mata ungu yang begitu indah. Berjalan memasuki ruang pesta.

"Sepertinya matahari akan bersinar lagi pada tempatnya. Salam marchioness grayson aku putri ketiga count violet vi clauv bakker" membungkuk memberi salam.

"Salam lady violet anda semakin cantik, ya" marchioness karen de agelzyn grayson tersenyum.

"Marchioness terlalu merendah" putri ketiga count violet clauv bakker dengan nada rendah.

"Terimakasih sudah mengundang kami, perkenalkan ini anakku cesare de agelzyn grayson. Ayo beri salam nak" marchioness karen de agelzyn grayson bangga.

Cesare de agelz grayson yang membelakangi marchioness grayson perlahan maju dan memperkenalkan diri dengan rambut perak dan mata ungu seperti ibunya marchioness grayson, membungkuk memberi hormat.

"Salam lady violet aku cesare terimakasih telah mengundang kami di pesta ini" sambung putra marquess cesare de agelzy grayson tersenyum ramah.

*Aku tahu keluarga marquess grayson di kenal misterius dan kejam, tapi tidakku sangka mereka menyembunyikan anak setampan ini. Dalam hati violet vi clauv bakker.

"Aku baru pertama kali melihatnya, marchioness grayson" putri ketiga count violet vi clauv bakker tersipu malu.

"Ya, sepertinya ini juga tempat yang jadi pertama kali putraku datangi benarkan nak?" marchioness karen de agelzyn grayson tersenyum menatap wajah putranya.

"Iya, ibu benar kalau begitu aku pergi menyapa yang lain" cesare beranjak pergi menyapa bangsawan seusianya.

"Rencananya aku ingin mencarikan anakku ini tunangan, kaliankan tahu keluarga kami di kenal dengan rumor aneh" marchioness karen de agelzyn grayson menatap sedih.

"Apa tunangan? Jadi masih belum ada tunangan" putri ketiga count violet vi clauv bakker terkejut.

Beberapa bangsawan yang mendengar langsung mengerubungi tempat marchioness grayson.

"Marchioness sepertinya putri kami cocok dengan keluarga grayson kami tidak terlalu peduli dengan rumor"

"Anda masih cantik seperti dulu"

"Putriku belum memiliki tunangan apa boleh mengirim surat lamaran?"

"Gaun yang anda pakai sangat indah"

"Tidak mengembang dan terlihat nyaman di mata"

Ujar beberapa para bangsawan.

Dari kejauhan terdengar suara lemah dan polos dengan membelakangi marchioness grayson, rambut coklat panjang dengan gaun berhiaskan berlian yang sangat membuat ia berbeda sehingga bisa langsung mengenali.

"Aku harus pergi dan akan kembali lagi menyapa dengan benar" marchioness karen de agelzyn grayson segera pergi dan menghampiri sosok gadis tersebut.

"Halo para lady sepertinya aku belum menyapa kalian disini" marchioness karen de agelzyn grayson tersenyum indah.

"Salam hormat marchioness grayson aku bella fi genrhart dari keluarga count tidak menyangka bisa menyapa anda bunga kekaisaran suatu kehormatan" tersenyum memberi hormat.

"Salam juga marchioness grayson anda secantik di rumorkan" putri baron lady farah bruce memberi hormat dengan gerogi.

"Kalian bisa saja terhadap ibu yang sudah berumah tangga" marchioness karen de agelzyn grayson tertawa canda.

"Marchioness grayson masih terlihat sepantaran kami" putri count lady bella fi genrhart membalas candaan.

"Salam kenal marchioness karen" ujar gadis tersebut dengan malu.

"Hah???" marchioness karen de agelzyn grayson menatap sinis memalingkan pandangan.

"Maaf marchioness grayson sepertinya lady feiya masih banyak kekurangan mohon di mengerti" putri count lady bella fi genrhart memegangi feiya.

"T – Tapi kata owen kalau mau akrab harus memanggil dengan nama, bella kita tidak salah" feiya merasa tidak bersalah menatap marchioness grayson.

"Apa yang kau bicarakan itu berbeda. Cepat minta maaf kau tidak tahu dia itu marchioness?" putri count lady bella fi genrhart berbisik memberi tahu.

"Kenapa aku harus meminta maaf? Sudahlah ayo kita pergi" feiya mengandeng temannya.

"Kenapa kalian buru – buru sekali? Aku tidak sempat menyapa calon istri keponakanku sendiri dengan benar" marchioness karen de agelzyn grayson mengambil segelas wine.

"Apa maksudnya? Kalian tahu?" feiya kebingungan bertanya.

"Loh kukira kamu sudah tahu? Marchioness grayson itu kakak dari mendiang selir kaisar, jadi putra mahkota itu keponakan marchioness grayson" putri count lady bella fi genrhart berbisik menjelaskan.

"Berarti marchioness karen bisa aku anggap bibi, ya?" feiya berbalik tersenyum bertanya.

*Aku tahu putra mahkota bermain dengan banyak gadis tidakku sangka yang dia pilih dari sekian banyak gadis, ini adalah pilihan yang terburuk. Dalam hati marchioness karen de agelzyn grayson mengeryitkan kening.

"Gaun yang aku rancang sendiri cukup indah kenapa marchioness karen membuat gaun yang terbuka" feiya tersenyum penasaran.

Byurrr...

Membasahi rambut hingga gaun yang di kenakan terlihat lembap. Semua mata para bangsawan menatap tajam memperhatikan dari kejauhan.

"Mana mungkin calon bibimu ini memakai gaun seindah cinderella lebih pantas untuk calon keponakanku. Ini baru salam perkenalan yang benar" sambung marchioness karen de agelzyn grayson menatap sinis ke feiya dengan rendah.

"Tidak apa – apa bibi. Ini semua salahku yang tidak menyapa dengan benar" feiya menahan tangisan dengan nada lemah.

"Benar ini semua salahmu, selanjutnya sapalah dengan benar" marchioness karen de agelzyn grayson dengan datar.

"Maaf marchioness grayson kami harus pergi untuk mengelap gaun" sambung putri count lady bella fi genrhart beranjak pergi menyeret feiya.

***

"Kalian dengar marchioness grayson menyebutnya cinderella"

"Bagaimana kita bisa lupa cerita rakyat cinderella itu"

"Tidakku sangka rakyat dongeng menjadi nyata"

"Lihatlah calon putri mahkota menangis di pojokan setelah kejadian tadi"

"Itu artinya marchioness grayson mengayunkan pedang pada ponakannya sendiri"

"Sstt... pelankan suaramu bagaimana kalau ada yang dengar"

Berbisik debat beberapa para bangsawan dari kejauhan.

Melihat marchioness grayson yang kembali ke pergaulan sosial dengan sikap seperti dahulu. Menjadi banyak bangsawan ingin mendekat sekaligus menjadi duri.

***

Kediaman marquess grayson.

"Selamat datang kembali marchioness dan tuan muda" kepala pelayan membungkuk hormat menyambut kembalinya.

"Menyebalkan. Memangnya dia pikir siapa?" dengan kasar marchioness karen de agelzyn grayson bergumam dengan diri sendri.

"Aku yang akan mengurus ibu kalian kembali saja" cesare de agelz grayson mengantar ibunya.

"Sepupumu itu kenapa sifatnya terbanding kebalik denganmu" marchioness karen de agelzyn grayson kesal menuju ke kamar.

"Kata pepatah biasanya buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Mungkin seperti itu ibu" melanjutkan obrolan cesare de agelzyn grayson tersenyum membuka pintu kamar.

"Hah?? Sifatnya sangat buruk bahkan tidak mirip seperti mendiang adikku itu" marchioness karen de agelzyn grayson memasuki kamar.

"Sudahlah ibu tidak usah di bahas lagi ini sudah larut malam. Selamat malam ibu" cesare de agelz grayson menuju kamarnya.

*Benar lagi pula putra mahkota tidak akan bisa naik takhta tanpa dukungan keluarga kami. Aku harus membangun kekuatan. Dalam hati karen de agelzyn grayson bersiap tidur.

***

Ruang makan.

"Dimana ibu? Kenapa tidak makan bersama?" cesare de agelzyn grayson menatap sekeliling.

"Bukannya kemarin bersama denganmu nak, tadi kata pelayan ibumu ingin makan di kamar" marquess chaser de agelz grayson melanjutkan obrolan.

"Iya, ayah sepertinya ibu kemarin terlihat sedikit kesal" cesare de agelz grayson melanjutkan makan.

"Sepertinya ibumu sedang dalam kondisi tidak baik. Biarkan ibumu urus sendiri" marquess chaser de agelz grayson ketus.

"Aku mengerti ayah" cesare de agelz grayson melanjutkan makan.

"Kenapa kau mendesain gaun berbanding terbalik? Ayah takut reaksi para bangsawan tentang gaun tersebut. Jika negative bisa lebih baik segera tutup tokonya" marquess chaser de agelz grayson tegas.

"Akanku pastikan ayah tidak mengalami kerugian" sambung mystiani de agelzyn grayson menyelesaikan makan.

"Maaf marquess sepertinya nyonya mengamuk lagi beberapa pelayan mengalami luka bakar" pelayan menyela pembicaraan dengan tergesa – gesa.

"Ayah akan menangani ibumu, datanglah setelah selesai temui ibu kalian" marquess chaser de agelz grayson mengakhiri obrolan beranjak pergi.

***

Kamar tidur marchioness.

Prang... prang... brukkk... bruk... 

"Sebenarnya ada apa ini? Wajahmu kenapa? Obati saja yang terluka dulu" marquess chaser de agelz grayson memasuki kamar istrinya.

"Maaf marquess sepertinya pelayan baru membuat kesalahan hingga nyonya marah. Marquess bisa serahkan sisanya padaku" merasa bersalah kepala pelayan berpamitan meninggalkan keributan.

Melihat istrinya yang terluka dengan ekspresi menyedihkan, berantakan, berlumuran darah, bersamaan dengan beberapa pelayan yang tersisa.

"Sepertinya istriku ini tidak sepenuhnya sembuh, haruskah kita melakukan pengobatan lagi" menghampiri sang istri.

Beberapa saat sebelumnya.

"Nyonya air mandi sudah siap. Setelah sarapan agenda berikutnya menghadiri acara pesta tea party yang di adakan oleh count--," pelayan berhenti menjelaskan.

"Sudahlah batalkan pasti gadis itu akan datang lagi. Membuatku tidak bersemangat" marchioness karen de agelzyn grayson kesal.

Saat melepaskan pakaian tidur beberapa pelayan ada yang menarik perhatian marchioness.

"Hei kau yang disana? Siapa namamu?" marchioness karen de agelzyn grayson menatap.

"Aku nyonya?" Menunjuk diri sendiri. "Namaku mina nyonya, apa ada yang anda butuhkan?" ujar pelayan mina membungkuk hormat.

"Kau sudah berapa lama bekerja di kediaman ini?" marchioness karen de agelzyn grayson menatap sinis.

"Baru 2 bulan nyonya, apa aku membuat kesalahan nyonya" sambung pelayan mina menjawab.

Prang... prang...

Beberapa gelas pecah menghantam dinding melewati pelayan mina dengan pecahan terakhir melukai wajah pelayan tersebut.

"Sudahku bilang pecat pelayan yang berwajah cantik itu membuatku kesal" dengan nada hina marchioness karen de agelyzn grayson menatap sinis. Mengambil lilin yang masih menyala melemparkan ke wajah pelayan mina hingga terbakar, dilanjutkan menjambak rambut pelayan yang berusaha menghentikan marchioness grayson yang masih di bawah emosi melempar semua barang kepada pelayan yang berusaha menghentikannya.

Hingga datang kepala pelayan yang berusaha menghentikan tetapi tidak bisa disusul dengan beberapa kehadiran pelayan dan terakhir marquess grayson.

***

"Sepertinya istriku ini tidak sepenuhnya sembuh, haruskah kita melakukan pengobatan lagi" menghampiri sang istri.

Sang istri yang masih marah seketika menangis saat marquess menghampirinya memeluk dan meredakan amarahnya.

"Sudahlah aku tidak butuh, mereka selalu membuatku kesal hanya kamu yang tidak seperti itukan sayang?" menatap sedih sang suami.

"Sudahlah istriku jangan menangis wajah cantikmu nanti luntur" sang suami berusaha menenangkan istrinya.

"Dasar kau juga tidak mengerti penderitaanku" menampar sang suami dengan menatap sinis. "Pergi jika kau tidak bisa membantuku" memalingkan wajahnya.

"Akukan sudah banyak membantumu apa kau lupa? Terakhir kali aku tidak bisa mencegah itu semua diluar kendaliku" berusaha membujuk sang istri "Kondisi sekarang sama saja menurutku seperti waktu itu jadi pasti kita bisa mengendalikan lagi, istriku kembali karena sudah menemukan [itu] kan" tersenyum beranjak pergi.

Hosh... hosh...

"Ayah kami hampir saja terlambat, tadi setelah berpapasan dengan melihat pelayan terluka kami langsung menuju kesini" dengan tergesa - gesa cesare de agelzyn grayson menuju kamar sang ibu bersama dengan sang kakak.

"Ibumu sudah membaik nak. Akhir pekan nanti ayah ingin memilih calon pertunanganmu jika ada yang menarik kasih tahu ayahmu ini" sambung marqeuss grayson meninggalkan kamar.

"Baik ayah aku mengerti" cesare de agelz grayson tersenyum menghampiri sang ibu "Ibu bagaimana jika kita pergi keluar menjernihkan pikiran."

"Sepertinya itu ide bagus nak, tapi bisakah kau pergi menyiapkan kereta kuda" marchioness karen de agelzyn grayson dengan lemas.

"Aku akan menyiapkannya dan segera kembali lagi" cesare de agelz grayson bergegas meninggalkan kamar.

"Jangan keluar untuk sementara. Kau sudah menjaga panggungku dengan baik" marchioness karen de agelzyn grayson menatap sinis.

"Jika itu keinginan ibu, seperti yang diperintahkan" mystiani de agelzyn grayson ketus.

"Kau beruntung mewariskan wajahku. Jadi jangan membuatku kesal" marchioness karen de agelzyn grayson memalingkan wajahnya.

"Sesuai keinginan ibu. Semuanya telah disiapkan untuk ibu. Segalanya untuk ibu" mystiani de agelzyn grayson melanjutkan obrolan "Tetapi ibu aku akan berusaha mencari kelemahan permaisuri."

"Aku mendapat laporan kau memanggil orang aneh ke kediaman, jika kau berani menusukku dari belakang kehadiranmulah yang pertama kali menghilang" menatap dengan sinis "Jangan melewati batas, setidaknya kau masih berguna" marchioness grayson berjalan meninggalkan kamar.

"Akanku ingat ibu." 

More Chapters