Cherreads

Chapter 9 - CHAPTER 9 SUDDEN WEDDING

Arthur Sterling. Paman tertua Richard. Sosok legendaris keluarga Sterling. Dia adalah dalang tak terlihat yang diam-diam mengendalikan lebih dari setengah kursi pemungutan suara di dewan direksi.

Jika Howard adalah anjing penyerang yang berisik dan ganas, Arthur adalah predator puncak yang pendiam dan mematikan yang selalu membunuh dari bayang-bayang tergelap.

Mata Arthur perlahan beralih menatap Clara.

Tatapannya tidak meledak-ledak atau arogan seperti tatapan Howard. Tatapannya sangat dingin, benar-benar kosong, dan setajam pisau bedah yang menakutkan. Mata tua itu seolah dengan mudah menembus gaun sutra Clara yang sempurna, langsung menyadari bahwa wanita cantik di atas panggung itu tidak lebih dari pion yang ketakutan dan putus asa.

Genggaman jari Richard di pinggang Clara tiba-tiba berubah menjadi cengkeraman yang kuat. Pria itu juga telah melihat Arthur.

Urat-urat tebal di leher Richard langsung menonjol di balik kerah bajunya yang rapi. Aura pembunuh dan mematikan yang selama ini ia tekan dengan hati-hati langsung memenuhi ruangan. Clara dapat merasakan secara fisik ketegangan yang mengerikan dan meledak-ledak yang terpancar dari tubuh tegap suaminya.

Richard tidak pernah sekalipun menganggap Howard sebagai ancaman nyata. Tapi lelaki tua ini berbeda. Richard langsung beralih ke posisi defensif yang mutlak dan mematikan begitu tatapannya bertemu dengan Arthur.

Sesi tanya jawab dengan pers berlangsung sangat cepat. Richard dengan piawai menangkis setiap rumor agresif mengenai pernikahan mendadak mereka, dengan sempurna merangkai narasi romantis tentang cinta pada pandangan pertama. Itu adalah kebohongan yang sangat brilian dan menjijikkan yang dengan antusias ditelan mentah-mentah oleh publik.

Ketika konferensi formal akhirnya berakhir, para tamu VIP elit mulai mengerumuni panggung untuk menyampaikan ucapan selamat mereka.

Kerumunan itu tiba-tiba terbelah seperti Laut Merah. Arthur Sterling melangkah maju, gerakannya lambat, terencana, dan penuh wibawa. Dentuman berat dan berirama dari tongkat peraknya yang menghantam lantai marmer bergema sempurna selaras dengan detak jantung Clara yang berdebar kencang.

Howard berjalan tertatih-tatih di belakangnya, menundukkan kepala, tidak berani menatap tajam Richard.

"Selamat atas pernikahanmu yang begitu mendadak, Richard," Arthur berdesis. Suaranya berat dan serak, terdengar seperti dua batu kasar yang bergesekan dalam kegelapan.

"Terima kasih, Paman Arthur," jawab Richard, suaranya merendah menjadi nada dingin dan berbahaya.

Tanpa memutuskan kontak mata dengan pria yang lebih tua itu, Richard secara halus mengubah posisi tubuhnya, secara naluriah menarik Clara sedikit ke belakang punggungnya yang lebar. Itu adalah gerakan yang sangat protektif yang, mengerikannya, terasa sepenuhnya tulus.

"Saya agak terkejut Anda meluangkan waktu untuk melakukan perjalanan jauh dari pantai," tambah Richard dengan lancar.

"Aku tak akan pernah melewatkan hari ketika pewaris utama secara resmi mengamankan takhta." Arthur tersenyum tipis. Senyum itu tak sampai ke matanya yang hitam pekat dan tanpa ekspresi.

The old man's gaze slowly slid past Richard, landing directly on Clara's pale face.

"And this must be the new Mrs. Sterling," Arthur said, slowly extending a wrinkled, liver-spotted hand.

Clara hesitated for a fraction of a second. But she knew she absolutely did not have the luxury of retreating. She extended her silk-gloved hand and accepted his grip.

Arthur's hand felt like a block of solid ice.

Suddenly, the old man took a smooth step forward, completely erasing the polite distance between them. He leaned in slightly, dipping his head toward Clara as if he were about to offer a warm, familial embrace.

But instead of a hug, Arthur leaned in and whispered directly into Clara's ear. His raspy voice was so incredibly low, it was meant exclusively for her.

"That is a truly magnificent gown, Clara Evans," Arthur whispered, his freezing breath ghosting over the sensitive skin of her neck. "But tell me... is the lacing of your corset tight enough to conceal the red note my seamstress slipped you?"

Every single drop of blood instantly drained from Clara's face. Her heart completely stopped beating for a full, terrifying second.

Arthur smoothly released her hand and stepped back. The old man offered a sickeningly satisfied smirk as he watched the sheer, unadulterated horror completely swallow Clara's features.

The note. The terrifying message about Richard orchestrating the hit on her brother. It wasn't a warning from a secret, benevolent ally trying to save her.

It was from Arthur.

The old phantom had just handed her a lethal, paralyzing truth: He was the one controlling the invisible spies. He was the one who had effortlessly infiltrated Richard's highly secure, million-dollar boutique.

And Arthur had intentionally given her that horrific information to turn her into a live, ticking bomb inside Richard's bed.

Clara was completely trapped in a nightmare.

To her right stood Richard—the ruthless devil who had nearly slaughtered her family to buy her obedience.

Standing directly in front of her was Arthur—the ancient, calculating monster who was fully prepared to use her as blood-soaked bait in a corporate war.

Richard instantly sensed the violent shift in his wife's demeanor. He glared at Arthur with a look of pure, unrestrained murder. His hands clenched into massive fists.

"Step away from my wife, Arthur," Richard growled, his voice dropping into a lethal, feral warning.

Arthur merely let out a low, raspy chuckle. The sound echoed in Clara's ears like a tolling death bell.

"Do take excellent care of your beautiful new bride, Richard," Arthur said casually, turning on his heel to leave. Howard silently scurried after him. "After all, tragic, fatal accidents can happen to absolutely anyone. At any time."

Clara stood completely paralyzed on the stage.

Suasana di ruang dansa yang luas itu tiba-tiba terasa sangat beracun. Perang korporasi ini jauh lebih bengkok dan mematikan daripada yang pernah ia bayangkan. Dan ia baru saja terseret, tanpa daya sama sekali, tepat ke tengah-tengah baku tembak.

More Chapters