Cherreads

PEDANG MERAH PEMBAWA PETAKA

Aku_Kaya_9503
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
105
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 1 Darah di ujung fajar

Langit masih gelap ketika suara dentingan logam pertama kali memecah keheningan desa Kurogane.

Kabut tipis menggantung rendah di antara rumah-rumah kayu, menyelimuti setiap sudut dengan dingin yang menusuk. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan abu yang belum sepenuhnya padam dari tungku-tungku pandai besi.

Desa itu kecil. Tenang. Terpencil dari dunia luar.

Namun malam itu… semuanya berubah.

"Lari! Mereka datang!"

Teriakan panik menggema, merobek keheningan seperti kilat di langit tanpa suara.

Dalam sekejap, desa yang damai berubah menjadi lautan kekacauan. Suara jeritan bercampur dengan dentingan pedang. Pintu-pintu dibanting terbuka, langkah kaki berlari tanpa arah, dan tangisan anak-anak menggema di antara kobaran api yang mulai menjalar.

Satu rumah terbakar.

Api menjilat dinding kayu, merambat cepat seolah hidup.

Lalu rumah kedua.

Dan dalam hitungan detik, seluruh desa berubah menjadi neraka merah yang mengamuk.

Di tengah semua itu, seorang anak laki-laki berlari.

Napasnya tersengal, dadanya terasa terbakar. Kakinya gemetar, namun ia memaksa dirinya terus bergerak. Lumpur menempel di pakaian dan wajahnya, bercampur dengan darah yang bahkan ia tak tahu milik siapa.

Namanya Renji.

Umurnya lima belas tahun.

Dan malam ini… adalah malam di mana hidupnya hancur.

"Renji! Ke sini!"

Suara itu datang dari belakang.

Renji menoleh sekilas, dan melihat ayahnya berlari menuju arahnya. Pria itu masih menggenggam palu besi, senjata sederhana yang selama ini digunakan untuk menempa baja, bukan untuk bertarung.

Namun kini, palu itu dipenuhi darah.

Wajah ayahnya penuh luka. Nafasnya berat.

Tapi matanya tetap tegas.

"Ke hutan! Cepat!" teriaknya.

Renji ingin mengatakan sesuatu. Ingin bertanya. Ingin menolak.

Namun kata-kata itu tak pernah keluar.

Karena sesuatu muncul dari balik kabut.

Langkah berat.

Lambat.

Namun setiap hentakannya terasa seperti menekan tanah itu sendiri.

Renji membeku.

Dan saat ia menoleh—

Ia melihatnya.

Makhluk itu.

Tingginya hampir dua kali manusia. Tubuhnya dibalut armor hitam yang tampak seperti hidup, bergerak halus seolah bernafas. Dari celah helmnya, sepasang mata merah menyala menatap tanpa emosi.

Di tangannya tergenggam sebuah pedang.

Pedang merah.

Cahayanya redup namun mengerikan, seperti darah yang memantulkan cahaya api di sekitarnya.

"Jangan lihat ke belakang!" teriak ayahnya.

Namun semuanya sudah terlambat.

Tatapan Renji terkunci pada pedang itu.

Dan untuk sesaat… dunia terasa berhenti.

Makhluk itu mengangkat pedangnya perlahan.

Udara di sekitarnya bergetar.

Seolah dunia sendiri menolak kehadirannya.

Ayah Renji melangkah maju, berdiri di antara mereka.

"Pergi…" ucapnya pelan.

"AYAH—!"

"PERGI!!"

Teriakan itu bukan permintaan.

Itu perintah.

Renji menggigit bibirnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Tubuhnya gemetar.

Namun akhirnya—

Ia berbalik.

Dan berlari.

Langkahnya berat. Nafasnya kacau.

Namun ia tidak berhenti.

Ia tidak berani menoleh lagi.

Namun suara itu tetap terdengar.

Benturan keras.

Suara logam bertabrakan.

Dan kemudian—

Sunyi.

Renji terus berlari.

Hutan gelap menyambutnya dengan dingin yang lebih dalam. Cabang-cabang pohon mencakar kulitnya, meninggalkan goresan panjang di lengannya. Akar-akar besar membuatnya tersandung berkali-kali.

Namun ia tidak berhenti.

Tidak bisa.

Karena jika ia berhenti—

Semuanya akan sia-sia.

Nafasnya semakin berat.

Pandangan mulai berputar.

Dan akhirnya—

Kakinya tersangkut akar besar.

Tubuhnya terhempas keras ke tanah.

Rasa sakit menjalar, namun ia terlalu lelah untuk bereaksi.

Ia mencoba bangkit.

Gagal.

Tangannya gemetar.

Tubuhnya tidak merespon.

Nafasnya terputus-putus.

Pandangan matanya mulai kabur.

Dan di tengah keheningan itu—

Ia mendengar sesuatu.

Langkah kaki.

Pelan.

Berat.

Mendekat.

Renji mencoba bergerak.

Namun tubuhnya seperti terkunci.

Bayangan muncul di hadapannya.

Tinggi.

Gelap.

Dan membawa cahaya merah.

Makhluk itu.

"Jadi… kau yang tersisa."

Suaranya dalam. Dingin. Tidak memiliki emosi.

Renji menatapnya dengan sisa kekuatan yang ia miliki.

"Siapa… kau…?" bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Makhluk itu mengangkat pedangnya.

Cahaya merahnya menerangi wajah Renji.

Dan untuk pertama kalinya—

Renji melihat dengan jelas.

Pedang itu tidak hanya bersinar.

Ia berdenyut.

Seperti memiliki jantung.

Seperti hidup.

"Aku tidak peduli…" bisik Renji, suaranya lemah namun penuh kebencian.

"Aku akan membunuhmu…"

Makhluk itu terdiam.

Lalu tertawa pelan.

"Manusia… selalu sama."

Pedangnya bergerak.

Cepat.

Terlalu cepat untuk dilihat.

Renji menutup matanya.

Menunggu rasa sakit.

Menunggu akhir.

Namun—

Tidak ada apa-apa.

Ia membuka matanya perlahan.

Pedang itu berhenti tepat di depan lehernya.

Hanya beberapa inci.

Makhluk itu menatapnya.

Lebih dalam.

Seolah melihat sesuatu yang tak kasat mata.

"Menarik…"

Ia menurunkan pedangnya.

Dan untuk pertama kalinya—

Renji merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan rasa takut.

Bukan amarah.

Namun sesuatu yang lebih dalam.

Sebuah panggilan.

Pedang merah itu bergetar.

Cahayanya semakin kuat.

Seolah memanggilnya.

Tanpa sadar—

Renji mengangkat tangannya.

"Jangan…"

Suara makhluk itu berubah.

Ada ketegangan di dalamnya.

Namun Renji tidak berhenti.

Tangannya terus bergerak.

Hingga akhirnya—

Ia menyentuh pedang itu.

Dan dunia—

Hancur.

Cahaya merah meledak, menelan segalanya.

Renji berteriak, namun suaranya tenggelam dalam ribuan suara lain.

Jeritan.

Tangisan.

Kematian.

Bayangan muncul di sekelilingnya.

Perang tanpa akhir.

Tubuh-tubuh bergelimpangan.

Lautan darah.

Pedang itu telah membunuh terlalu banyak.

Dan semua itu kini—

Ada di dalam dirinya.

"AKHIRNYA…"

Sebuah suara menggema.

Dalam. Tua. Tidak manusiawi.

Tubuh Renji bergetar hebat.

Matanya terbuka.

Dan berubah.

Dari hitam—

Menjadi merah.

Energi aneh menyelimuti tubuhnya.

Hangat.

Namun mengerikan.

Luka-lukanya perlahan menghilang.

Nafasnya kembali stabil.

Dan saat ia berdiri—

Ia bukan lagi anak yang sama.

Makhluk itu mundur selangkah.

Untuk pertama kalinya—

Ia terlihat terkejut.

"Tidak mungkin…"

"Pedang itu… memilihmu?"

Renji tidak menjawab.

Tatapannya kosong.

Namun di dalam dirinya—

Sesuatu telah bangkit.

Sesuatu yang bukan manusia.

"Siapa… aku…?" gumamnya.

Suaranya terdengar berbeda.

Seolah ada dua suara berbicara bersamaan.

Makhluk itu tersenyum.

"Sekarang… ini jadi menarik."

Ia kembali mengangkat pedangnya.

Aura gelap menyebar di sekitarnya.

"Buktikan padaku…"

"Apakah kau layak membawa kutukan itu."

Angin berhenti.

Hutan menjadi sunyi.

Bahkan malam terasa menahan napas.

Renji perlahan mengangkat tangannya.

Dan tanpa ia sadari—

Pedang merah itu kini berada dalam genggamannya.

Dingin.

Namun terasa hidup.

Seolah menyatu dengan nadinya.

Ia menatap pedang itu.

Dan untuk sesaat—

Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

Namun senyum itu bukan miliknya.

Makhluk di depannya bergerak lebih dulu.

Dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan.

Lalu—

Serangan datang.

Cepat.

Mematikan.

Renji mengangkat pedangnya secara refleks.

Benturan keras terjadi.

Ledakan energi merah menyebar ke segala arah.

Tanah retak.

Pohon-pohon berguncang.

Dan untuk pertama kalinya—

Renji bertarung.

Bukan sebagai anak desa.

Namun sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Dan di kejauhan—

Fajar mulai menyingsing.

Namun cahaya pagi itu tidak membawa harapan.

Hanya awal dari kehancuran yang lebih besar.