Cherreads

Chapter 21 - Bab 20: Bayangan Emas dan Tawa yang Tertahan

Pagi di kediaman Valerius berjalan seperti biasanya.

Pelayan-pelayan berseragam rapi menyapu koridor dengan gerakan yang sudah terprogram oleh rutinitas bertahun-tahun. Suara detak jam mekanik raksasa di aula utama bergema teratur, menghitung detik-detik yang berlalu dengan presisi yang tidak pernah meleset. Di dapur, aroma roti panggang dan kopi hitam pekat sudah menguar sejak subuh, menyusup ke setiap sudut rumah melalui celah-celah ventilasi.

Namun di kamar Evelyn von Valerius di lantai dua, suasananya sangat berbeda.

Pintu kamarnya terkunci dari dalam—sesuatu yang sangat tidak biasa untuk seorang putri bangsawan yang jadwalnya selalu terbuka untuk Martha dan para pelayan lainnya. Di bawah celah pintu, tidak ada cahaya lampu yang menyala. Dari luar, kamar itu tampak seolah-olah penghuninya masih tertidur.

Di dalam, Evelyn duduk bersila di atas karpet tebal di tengah kamarnya. Gorden tebal sudah ditarik rapat, memblokir cahaya pagi yang mencoba menerobos masuk. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu minyak kecil di sudut ruangan yang menyala dengan nyala api yang sangat redup.

Di hadapannya, Sunny duduk dengan postur yang sangat tegak dan formal—posisi yang sama persis dengan saat ia menjadi "guru" untuk pertama kalinya dua hari yang lalu.

"Mulai dari awal," suara anak kecil itu bergema di dalam pikiran Evelyn. "Tutup matamu. Rasakan benang-benang di sekitarmu."

Evelyn memejamkan matanya.

Sejak kebangkitannya, ia sudah mencoba melakukan ini berkali-kali secara spontan—di meja makan saat mendengarkan ceramah ayahnya tentang kuota produksi batu bara, di ruang belajar saat Tuan Miller menjelaskan teori nilai tukar yang kesekian kalinya, dan bahkan di kamar mandi saat Martha menyiapkan air hangat untuknya.

Hasilnya selalu sama: benang-benang itu ada. Selalu ada. Namun menangkapnya terasa seperti mencoba memegang asap dengan tangan kosong.

"Jangan tangkap," suara Sunny terdengar, seolah-olah ia bisa membaca pikiran Evelyn. Lalu Evelyn menyadari — tentu saja Sunny bisa membaca pikirannya. "Kau bukan sedang berburu. Kau sedang... mendengarkan."

Evelyn mengubah pendekatannya. Alih-alih mencoba menyentuh benang-benang yang bergetar di udara sekitarnya, ia membiarkan dirinya hanya merasakan keberadaan mereka. Seperti mendengarkan musik dari kejauhan tanpa mencoba menyentuh instrumennya.

Dan perlahan, seperti gambar yang muncul dari dalam kabut yang menipis, benang-benang itu mulai terlihat lebih jelas.

Udara di kamarnya bukan hanya udara. Ia terdiri dari ribuan benang tipis yang bergerak mengikuti aliran napas, mengikuti panas dari lampu minyak, mengikuti getaran halus dari mesin-mesin kota di luar sana. Di dalam karpet tebal di bawahnya, ada benang-benang yang bergerak jauh lebih lambat — berat dan padat. Di dalam nyala api lampu minyak, benang-benang itu berputar dengan kecepatan yang paling tinggi, berwarna hangat seperti tembaga yang baru dilelehkan.

"Bagus," suara Sunny terdengar hangat. "Kau melihatnya."

"Aku melihatnya," bisik Evelyn, bibirnya hampir tidak bergerak.

"Sekarang — pilih satu benang. Hanya satu. Yang paling dekat dengan tanganmu."

Evelyn memfokuskan perhatiannya. Di antara ribuan benang yang bergetar di udara sekitarnya, ia menemukan satu — tipis, hampir tidak terlihat, bergerak sangat lambat tepat di atas punggung tangan kirinya. Benang yang sama yang berdenyut selaras dengan simbol Justice yang terukir di kulitnya.

Dengan sangat hati-hati, seperti seorang ahli bedah yang melakukan sayatan pertamanya, Evelyn menyentuh benang itu dengan kesadarannya.

Benang itu bergetar.

Evelyn membuka matanya dengan cepat. Di atas punggung tangan kirinya, simbol Justice berdenyut sangat halus — satu kali, kemudian berhenti.

"Itu dia," Sunny mengangguk pelan. Ekspresinya masih serius, namun ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti kebanggaan yang sangat ditahan. "Kau punya bakat yang baik, Evelyn. Lebih baik dari yang aku perkirakan."

"Benarkah?" Evelyn tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

"Jangan terlalu bangga dulu. Menyentuh satu benang bukan berarti kau bisa merangkainya menjadi sesuatu yang berguna." Sunny memiringkan kepalanya. "Sekarang, kita coba Mental Projection."

Evelyn menegakkan punggungnya. "Baik."

"Mental Projection bekerja dengan mengambil benang-benang Mana di sekitarmu dan membentuknya menjadi gambaran visual yang tampak nyata bagi mata orang lain," Sunny menjelaskan dengan nada yang sangat serius. "Fondasi dasarnya adalah kejernihan pikiran. Apa yang kau bayangkan harus sangat jelas — setiap detail, setiap warna, setiap bayangan. Semakin jelas gambar di pikiranmu, semakin nyata proyeksinya."

"Dan aku harus memulai dari apa?" tanya Evelyn.

"Sesuatu yang familiar. Sesuatu yang sudah kau lihat ribuan kali sehingga setiap detailnya tertanam di dalam memorimu."

Evelyn berpikir sejenak. Kemudian, dengan sebuah senyuman kecil yang muncul di bibirnya, ia tahu jawabannya.

Ia memejamkan matanya. Di dalam benaknya, ia membangun gambar itu dengan teliti — bulu keemasan yang lembut, mata cokelat yang besar dan penuh ekspresi, hidung basah yang selalu dingin saat menyentuh pergelangan tangannya, dan ekor tebal yang tidak pernah berhenti bergerak.

Sunny.

Evelyn mengulurkan tangannya ke udara, menyentuh benang-benang Mana yang melayang di sekitarnya, dan mendorong.

Pop.

Di udara kosong di depan Evelyn, sebuah bentuk muncul. Awalnya hanya siluet yang kabur dan tidak jelas — seperti bayangan yang terproyeksikan dari arah yang salah. Namun perlahan, detail-detailnya mulai mengisi: bulu yang sedikit terlalu bersinar, telinga yang sedikit terlalu tegak, dan proporsi tubuh yang hampir sempurna kecuali pada bagian ekornya yang entah mengapa tampak dua kali lebih tebal dari aslinya.

Sebuah proyeksi Sunny yang hampir sempurna berdiri di tengah kamar.

Evelyn membuka matanya, menatap hasil karyanya dengan ekspresi yang penuh kepuasan. "Berhasil!"

Sunny asli yang duduk di hadapannya menatap proyeksi dirinya sendiri dengan ekspresi yang sangat datar.

"Ekorku tidak sebesar itu."

Evelyn menatap proyeksi itu lagi. Kemudian menatap Sunny asli. Kemudian kembali ke proyeksi.

Ekornya memang dua kali lebih besar dari aslinya.

Tawa kecil keluar dari bibir Evelyn tanpa peringatan — tawa yang ia coba tahan namun gagal total, hingga ia harus menutupi mulutnya dengan kedua tangannya agar suaranya tidak terdengar sampai ke luar kamar.

Proyeksi Sunny di udara bergoyang tidak stabil karena konsentrasi Evelyn yang hancur oleh tawa, ekornya yang sudah terlalu besar itu mengibas-ngibas dengan cara yang sangat tidak koordinatif sebelum akhirnya seluruh proyeksi itu runtuh menjadi serpihan cahaya biru yang menghilang di udara.

"Konsentrasimu buyar karena kau tertawa," komentar Sunny dengan nada yang sangat datar namun di sudut matanya ada kilatan emas yang sangat singkat — kilatan yang hanya muncul saat ia sedang menahan sesuatu.

"Maafkan aku, Sunny," ucap Evelyn, masih berusaha menahan senyumnya. "Aku akan mencoba lagi."

"Pastikan ekornya benar kali ini."

Evelyn menggigit bibirnya untuk menahan tawa dan memejamkan matanya kembali.

Sesi berikutnya berjalan lebih baik. Proyeksi kedua menghasilkan Sunny yang proporsinya jauh lebih akurat — ekornya kali ini berukuran normal, bulunya tampak lebih realistis, dan bahkan gerakan halus napasnya bisa terlihat. Evelyn mempertahankannya selama hampir dua menit sebelum konsentrasinya mulai goyah.

"Lebih baik," Sunny mengangguk dengan ekspresi yang kini menyiratkan kepuasan yang nyata. "Untuk percobaan kedua, ini sangat baik."

"Sekarang giliranmu," kata Evelyn sambil meregangkan jarinya yang sedikit pegal.

Sunny memiringkan kepalanya. "Giliranku untuk apa?"

"Permainan tebakan." Evelyn tersenyum — senyum yang penuh rasa ingin tahu dan kegembiraan yang sangat jarang terlihat di wajahnya di depan orang lain. "Kau buat proyeksimu sendiri, dan aku harus menebak mana yang asli. Lalu aku yang membuat proyeksi, dan kau yang menebak."

Sunny menatap Evelyn selama tiga detik penuh. Di dalam mata cokelat yang dalam itu, ada pergulatan kecil yang sangat singkat — antara martabat seorang entitas kuno dan sesuatu yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih kuat dari itu.

Kemudian ekornya mengibas. Satu kali. Cepat dan sangat ceria.

"Baik."

Dan dalam sepersekian detik, dua Sunny identik duduk berdampingan di atas karpet kamar Evelyn. Keduanya identik sempurna — bulu yang sama, postur yang sama, mata cokelat yang menatap Evelyn dengan ekspresi yang persis sama.

Evelyn menatap keduanya bergantian dengan sangat serius, bibirnya mengerucut dalam konsentrasi yang hampir menggelikan.

Kaki kiri. Posisi telinga. Cara duduk. Frekuensi kedipan mata.

"Yang kanan," tebak Evelyn akhirnya.

Kedua Sunny memiringkan kepala mereka ke kiri pada saat yang bersamaan — gerakan yang identik sempurna hingga membuat Evelyn bergidik kecil. Kemudian, proyeksi di sebelah kiri menghilang dengan bunyi pop yang sangat halus.

"Salah. Yang kiri."

"Tidak mungkin!" Evelyn mengerutkan keningnya. "Aku melihat dengan sangat teliti—"

"Kau melihat dengan matamu," Sunny memotong dengan nada yang terdengar seperti guru yang menjelaskan sesuatu yang sudah ribuan kali ia jelaskan namun tetap dengan kesabaran yang tidak pernah habis. "Tapi proyeksi Mana tidak bisa dibedakan hanya dengan mata. Kau harus merasakannya dengan benang-benang Mana di sekitarmu. Proyeksi tidak memiliki benang sendiri — ia meminjam benang dari pembuatnya."

Evelyn terdiam. Kemudian matanya berbinar. "Jadi aku harus merasakan di mana benang-benangmu berkonsentrasi — di sana ada Sunny yang asli."

"Sekarang kau mengerti."

Permainan berlanjut. Evelyn mencoba lagi — kali ini dengan memejamkan matanya sejenak untuk merasakan aliran benang-benang Mana di kamarnya. Dan ketika ia membuka matanya, ia langsung tahu. Di sebelah kanan, benang-benang Mana berkonsentrasi dengan kepadatan yang tidak bisa dipalsukan oleh proyeksi mana pun.

"Yang kanan!" ucap Evelyn dengan yakin.

Proyeksi di sebelah kiri menghilang.

"Benar."

Senyum Evelyn melebar. Di dalam kamarnya yang tertutup rapat dari dunia luar, seorang putri bangsawan dan seekor anjing emas bermain tebak-tebakan dengan cara yang tidak akan pernah bisa dijelaskan oleh buku fisika mana pun.

Jam berlalu. Sesi latihan berganti menjadi permainan, dan permainan kembali menjadi sesi latihan, dan keduanya terjalin dengan cara yang membuat Evelyn tidak pernah merasakan kelelahan yang biasanya datang saat belajar sesuatu yang baru.

Di siang hari, saat Martha mengetuk pintu untuk mengumumkan jadwal makan siang, Evelyn sudah kembali duduk rapi di kursi bacanya dengan buku teori ekonomi terbuka di pangkuannya — ekspresi wajahnya sempurna, tenang, dan sangat tidak mencurigakan. Sunny berbaring di karpet di dekat kakinya dengan posisi yang paling santai dan paling tidak bersalah di dunia.

Tidak ada yang mencurigakan. Sama sekali.

Kecuali mungkin jejak-jejak cahaya biru yang sangat samar yang masih melayang di udara kamar itu — serpihan sisa proyeksi yang belum sepenuhnya menghilang, berputar-putar di dekat lampu minyak seperti kunang-kunang kecil yang kebingungan.

Martha membuka pintu, masuk dua langkah, dan berhenti.

Matanya menatap sebuah titik cahaya biru kecil yang melayang di udara tepat di depan hidungnya.

Evelyn melihatnya. Sunny melihatnya.

Titik cahaya itu berputar sekali, lalu pop — menghilang.

"Milady," Martha berkata dengan nada yang sangat datar. "Makan siang sudah siap."

"Terima kasih, Martha. Aku akan segera turun."

Martha menatap udara di depannya sekali lagi, mengerutkan keningnya dengan sangat tipis, kemudian berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah yang sama presisinya seperti biasa.

Pintu tertutup.

Evelyn menatap Sunny. Sunny menatap Evelyn.

"Aku hampir lupa membersihkan sisanya," kata suara anak kecil itu di dalam pikiran Evelyn, nadanya terdengar seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia hampir meninggalkan noda di karpet yang mahal.

Evelyn meletakkan bukunya di atas meja, berdiri, dan merapikan gaunnya. Di dalam dadanya, ada tawa yang sangat ditahan yang terasa jauh lebih hangat dari api di perapian mana pun.

"Mulai besok," bisik Evelyn sambil mengenakan sarung tangan sutra putihnya — menyembunyikan simbol Justice di punggung tangannya — "kita harus lebih berhati-hati."

Sunny mengibas ekornya dua kali.

"Setuju."

Evelyn melangkah menuju pintu, berhenti sejenak, dan menoleh ke arah Sunny yang masih duduk di karpet dengan ekspresi paling polos di dunia.

"Sunny," bisiknya.

"Hmm?"

"Terima kasih. Untuk hari ini."

Di dalam mata cokelat yang dalam itu, ada kehangatan yang mengalir — bukan kehangatan yang dibuat-buat atau kehangatan yang dihitung. Kehangatan yang sederhana, tulus, dan sangat nyata.

"Kau belajar dengan cepat, Evelyn," suara anak kecil itu terdengar pelan, hanya untuk Evelyn seorang. "Aku bangga padamu."

Evelyn tersenyum — senyum yang tidak ada satu pun orang di kediaman Valerius yang pernah melihatnya. Senyum yang tidak dibentuk oleh etiket atau protokol bangsawan, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana dari itu.

Kebahagiaan yang murni.

Ia membuka pintu dan melangkah keluar, kembali menjadi Lady Evelyn von Valerius yang sempurna — punggung tegak, langkah anggun, dan ekspresi yang terkendali sempurna.

Namun di dalam dirinya, di balik seluruh lapisan etiket dan keanggunan itu, Justice yang baru lahir sedang tersenyum dengan cara yang tidak akan pernah bisa disembunyikan sepenuhnya.

More Chapters