Pagi itu datang dengan langit kelabu.
Awan menggantung rendah di atas kota Luoyang, seolah menekan seluruh kehidupan di bawahnya.
Di dalam aula utama keluarga Li—
Li Zheng berdiri diam, menatap gulungan laporan di tangannya.
Wajahnya serius.
Namun tidak lagi setegang kemarin.
Di hadapannya, Li Wei berdiri dengan tenang.
Menunggu.
"Laporan awal sudah masuk."
Li Zheng akhirnya berbicara.
"Kita sudah mulai mengirim sebagian suplai."
Li Wei mengangguk.
"Sesuai rencana."
"Kita juga menyebarkan kabar tentang gangguan distribusi."
Li Zheng meliriknya.
"Seperti yang kau sarankan."
Li Wei tidak menunjukkan emosi berlebihan.
Namun di dalam—
Ia tahu ini berhasil.
Langkah pertama mereka… berjalan sesuai rencana.
"Tapi ini belum cukup."
Li Zheng melanjutkan.
"Tekanan tidak akan berhenti hanya karena ini."
"Tentu saja," jawab Li Wei.
"Mereka tidak mencari suplai."
"Mereka mencari kendali."
Li Zheng menatapnya dalam.
Tatapan seorang ayah.
Sekaligus… seorang pejabat.
"Karena itu…"
Ia menarik napas dalam.
"Aku akan memberitahumu sesuatu yang tidak seharusnya kau ketahui."
Li Wei sedikit menyipitkan mata.
Ini penting.
Sangat penting.
"Keluarga kita…"
Li Zheng berkata pelan.
"…tidak berdiri sendiri."
Ia berjalan menuju meja.
Mengambil sebuah peta.
Membentangkannya.
"Suplai yang kita kelola tidak hanya untuk satu unit pasukan."
"Melainkan untuk beberapa jalur distribusi kecil."
Li Wei mendekat.
Matanya bergerak cepat membaca peta.
"Dan salah satu jalur itu…"
Li Zheng menunjuk sebuah titik.
"…berhubungan langsung dengan unit militer."
Li Wei berhenti.
Ia tahu arti ini.
"Unit siapa?"
Li Zheng tidak langsung menjawab.
Namun akhirnya—
"Unit kakakmu."
Sunyi.
Kakak sulung.
Li Wei mengingat.
Dari ingatan tubuh ini—
Ia punya satu kakak laki-laki.
Li Shan.
Seorang prajurit di garis depan.
"Dia sekarang bertugas di luar kota."
Li Zheng melanjutkan.
"Menjaga jalur suplai."
Li Wei perlahan mengangguk.
Potongan puzzle mulai tersusun.
"Jadi… kita tidak hanya berurusan dengan pejabat."
Ia menatap ayahnya.
"Tapi juga dengan militer."
"Benar."
Li Zheng menatapnya tajam.
"Dan itulah alasan aku memanggilmu."
Suasana berubah.
Lebih serius.
Lebih dalam.
"Aku ingin kau pergi menemui kakakmu."
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Berat.
Li Wei tidak langsung menjawab.
Ia berpikir cepat.
Ini bukan sekadar perjalanan.
Ini adalah—
Masuk ke dunia militer.
"Kenapa aku?"
Ia akhirnya bertanya.
Li Zheng menatapnya lama.
"Karena aku tidak bisa mempercayai orang lain."
Satu kalimat.
Namun penuh makna.
"Dan sekarang…"
Ia melanjutkan.
"…aku mulai bisa mempercayaimu."
Li Wei terdiam.
Itu bukan pujian biasa.
Itu adalah—
pengakuan.
"Baik."
Ia menjawab tenang.
"Aku akan pergi."
Li Zheng mengangguk.
"Bawa ini."
Ia menyerahkan sebuah gulungan kecil.
"Ini adalah informasi yang harus sampai ke tangan kakakmu."
Li Wei menerimanya.
Beratnya ringan.
Namun nilainya…
Tidak ternilai.
"Dan dengarkan baik-baik."
Nada suara Li Zheng berubah.
Lebih tajam.
"Jika situasi memburuk…"
Ia menatap langsung ke mata Li Wei.
"…prioritaskan keselamatan jalur suplai."
Li Wei memahami.
Ini bukan sekadar logistik.
Ini adalah—
urat nadi militer.
Jika suplai terputus…
Pasukan akan runtuh.
"Aku mengerti."
Perjalanan dimulai siang itu.
Li Wei menunggang kuda sederhana, ditemani satu pengawal.
Namun sebagian besar waktu—
Ia diam.
Berpikir.
Angin bertiup kencang di luar kota.
Debu beterbangan.
Jalanan mulai sepi.
Berbeda dengan dalam kota Luoyang yang ramai—
Di luar sini…
Hanya ada ketegangan.
Beberapa petani terlihat di ladang.
Namun wajah mereka tidak tenang.
Li Wei memperhatikan.
"Ketakutan sudah menyebar sampai sini…"
Ia mengingat kembali sejarah.
Menjelang Pemberontakan Serban Kuning—
Rakyat mulai kehilangan harapan.
Dan ketika harapan hilang—
Pemberontakan lahir.
Menjelang sore—
Mereka sampai di sebuah pos kecil.
Bendera militer berkibar pelan.
Seorang prajurit menghentikan mereka.
"Identitas?"
Li Wei turun dari kuda.
Menunjukkan tanda keluarga.
"Aku Li Wei. Ingin bertemu Li Shan."
Prajurit itu menatapnya sebentar.
Lalu—
"Masuk."
Di dalam—
Suasana berbeda.
Lebih keras.
Lebih disiplin.
Suara latihan terdengar.
Benturan senjata.
Teriakan komando.
Dan di tengah semua itu—
Seorang pria berdiri.
Tubuh tinggi.
Tatapan tajam.
Aura kuat.
Itulah Li Shan.
"Li Wei?"
Ia mengerutkan kening.
"Kenapa kau di sini?"
Nada suaranya tidak ramah.
Namun juga tidak bermusuhan.
Li Wei melangkah maju.
"Aku membawa pesan dari Ayah."
Ia menyerahkan gulungan.
Li Shan mengambilnya.
Membuka.
Membaca.
Semakin lama—
Ekspresinya semakin serius.
"Jadi… sudah sejauh ini."
Ia menggulung kembali surat itu.
"Kau tahu isinya?"
Li Wei mengangguk.
"Cukup."
Li Shan menatapnya dalam.
"Dan menurutmu?"
Li Wei tidak ragu.
"Jalur suplai akan jadi target."
Sunyi.
Beberapa prajurit di sekitar mulai memperhatikan.
Li Shan menyipitkan mata.
"Kenapa?"
"Karena itu cara tercepat melemahkan militer."
Li Wei menjawab tenang.
"Tanpa suplai… pasukan tidak bisa bertahan."
Li Shan terdiam.
Lalu—
Ia tersenyum tipis.
"Tidak buruk."
Ia berbalik.
"Mulai sekarang, kau ikut denganku."
Li Wei sedikit mengangkat alis.
"Anggap saja… Ayah mempercayaimu."
Ia melirik.
"Dan sekarang… aku juga ingin melihat kemampuanmu."
Malam itu—
Li Wei berdiri di dalam tenda militer.
Peta terbentang di depannya.
Li Shan menunjuk beberapa titik.
"Ini jalur utama."
"Ini cadangan."
"Dan ini…"
Ia mengetuk satu titik.
"…yang paling rentan."
Li Wei fokus.
Ia melihat.
Menganalisis.
Menghubungkan.
Lalu—
"Yang ini akan diserang lebih dulu."
Ia menunjuk jalur samping.
Li Shan mengerutkan kening.
"Kenapa bukan yang utama?"
"Karena terlalu jelas."
Li Wei menatapnya.
"Musuh bukan bodoh."
Sunyi.
Lalu—
Li Shan tertawa pelan.
"Menarik…"
[Ding!]
[Misi: Langkah Pertama di Dunia Politik — Progress meningkat]
Di luar—
Angin malam berhembus dingin.
Dan di tengah dunia yang mulai runtuh—
Dua saudara mulai berdiri bersama.
Bukan sebagai bangsawan.
Tapi sebagai—
pemain dalam perang yang akan datang.
