Kereta itu melaju dengan ritme yang stabil, mengguncang pelan tubuh Kiara yang duduk di dekat jendela dengan satu koper di samping kakinya dan tas yang ia peluk erat di pangkuan, seolah itu satu-satunya hal yang masih benar-benar menjadi miliknya.
Pemandangan di luar bergerak cepat, pepohonan, rumah-rumah, jalanan yang perlahan menjauh, semuanya terasa seperti sesuatu yang sedang ia tinggalkan tanpa benar-benar sempat ia pahami sepenuhnya. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memutuskan pergi dari rumahnya sendiri, matanya kosong menatap ke luar namun pikirannya jauh lebih riuh dari apa yang terlihat.
Karena suara itu masih terngiang jelas di kepalanya, suara ibunya yang dingin dan tegas.
"Untuk apa kuliah? Kamu bisa bantu Mama saja di sini!",
Nada yang tidak memberi ruang untuk dibantah, nada yang selama ini selalu membuatnya diam. Ia masih ingat bagaimana ia berdiri di ruang tamu hari itu, tangannya gemetar namun tetap memaksa dirinya bertahan, menggenggam keberanian yang entah datang dari mana, lalu untuk pertama kalinya menjawab,
"Aku mau kuliah, Ma. Itu hidupku!"
Dan respon yang ia terima hanyalah tatapan dingin disertai tawa kecil tanpa kehangatan
"Hidupmu? Selama kamu masih di rumah ini, kamu ikut aturan Mama."
Percakapan itu seharusnya berakhir seperti biasanya dimana Kiara yang hanya bisa mengalah, Kiara diam, Kiara menelan semuanya sendiri, namun tidak kali itu, karena sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia tekan bertahun-tahun akhirnya retak, membuat suaranya keluar lebih keras dari yang pernah ia bayangkan.
"Aku bukan karyawan Mama, aku anak Mama!"
Dam setelah itu yang datang bukan amarah yang meledak, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin, tatapan tanpa emosi yang diakhiri dengan satu kalimat sederhana.
"Kalau begitu, biayai hidupmu sendiri!"
Kalimat yang singkat namun cukup untuk memutus segalanya dalam sekejap.
Kiara masih bisa merasakan sesak di dadanya saat itu, bagaimana tangannya mengepal tanpa ia sadari, bagaimana ia berdiri di sana tanpa tahu harus mengatakan apa lagi, karena memang tidak ada yang tersisa untuk diperjuangkan di ruangan itu, tidak ada yang menahannya, tidak ada yang mencoba memperbaiki keadaan, bahkan suami baru ibunya hanya berdiri di kejauhan seperti biasa, diam dan tidak pernah benar-benar hadir dalam hidupnya dan di saat itulah Kiara benar-benar memahami satu hal yang selama ini selalu ia rasakan namun tidak pernah ia akui sepenuhnya, bahwa ia sendirian.
Guncangan kereta menariknya kembali ke masa sekarang, membuatnya mengedip pelan dan menarik napas perlahan, mencoba meredakan berat yang kembali mengisi dadanya. Tangannya tanpa sadar mengusap permukaan tas di pangkuannya, memastikan dirinya tetap berada di sini di perjalanan yang ia pilih sendiri, dalam keputusan yang akhirnya ia ambil tanpa campur tangan siapa pun.
Ia tidak menangis, sudah tidak lagi, mungkin karena terlalu sering menahan semuanya hingga air mata bukan lagi cara tubuhnya bereaksi, dan di luar sana langit mulai berubah warna, senja merambat pelan menciptakan bayangan samar wajahnya di kaca jendela, wajah yang terlihat lebih dewasa dari usianya, lebih lelah dari yang seharusnya, namun juga menyimpan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah benar-benar ia miliki sebelumnya, sebuah keputusan untuk melangkah, meski ia sendiri belum tahu ke mana langkah itu akan membawanya.
…
Berbekal uang tabungan yang ia kumpulkan selama ini cukup untuk menopang hidupnya setidaknya satu tahun ke depan, Kiara akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah mendiang ayahnya, rumah yang secara sah kini sudah atas namanya.
Rumah itu tidak pernah benar-benar ditinggalkan begitu saja; setiap minggu ia selalu menerima pesan singkat bahwa tempat itu dibersihkan dan dirawat agar tidak terlihat kosong atau tua meski tidak berpenghuni, dan justru itulah yang membuatnya berani mengambil keputusan ini, karena setidaknya ia tahu masih ada sesuatu yang menunggunya di sana, sesuatu yang bisa ia sebut sebagai "pulang."
Begitu turun dari kereta, Kiara langsung memesan ojek online menuju alamat yang sudah begitu ia hafal di luar kepala—Jalan Anggrek Timur No. 17, sebuah kawasan lama yang tidak terlalu ramai namun menyimpan terlalu banyak kenangan untuk dilupakan. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdebar pelan, antara gugup dan rindu yang bercampur menjadi satu, hingga akhirnya kendaraan itu berhenti tepat di depan rumah yang selama ini hanya ia lihat dalam ingatan.
Langkahnya terhenti sejenak begitu ia turun. Pandangannya langsung tertuju pada halaman rumah itu, pepohonan yang masih berdiri di tempat yang sama, pagar besi yang familiar, dinding yang tidak banyak berubah dan untuk sesaat napasnya terasa tercekat. Matanya berbinar, bukan karena bahagia sepenuhnya, tapi karena rindu yang terlalu lama ia tahan akhirnya menemukan tempatnya. Bibirnya bergerak pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ia dan angin yang bisa dengar. "Kiara pulang, Ayah…"
Namun saat ia melangkah mendekat dan mencoba membuka pagar, tangannya terhenti. Terkunci. Ia terdiam beberapa detik, lalu mengerjap pelan, seolah baru menyadari sesuatu yang sangat jelas. "Bodoh sekali…" gumamnya lirih, menepuk keningnya sendiri. Ia lupa, ia tidak membawa kunci, dan ia juga belum memberi kabar pada Pak Indra, orang yang selama ini bertanggung jawab atas perawatan rumah itu.
Dengan cepat ia merogoh tasnya, mencoba menyalakan ponsel untuk menelepon, namun layar itu tetap gelap. Baterainya habis. "Ya ampun…"
Ia menghela napas, lalu membuka aplikasi chat saat ponselnya sempat menyala sebentar dari sisa daya, mengetik pesan singkat bahwa ia sudah sampai dan lupa memberi kabar sejak di kereta. Namun setelah itu, ia kembali berdiri di depan pagar dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Rindu yang sejak tadi ia tahan justru semakin menekan, membuatnya tidak sabar untuk masuk.
Matanya menatap pagar itu lama. Lalu tanpa pikir panjang atau mungkin karena pikirannya sedang tidak terlalu stabil , ia mengambil keputusan yang… tidak terlalu bijak.
Memanjat pagar.
"Ah, bodoh amat… lagipula tidak ada yang lihat." Ia menggulung lengan sweaternya, menarik napas, lalu mulai memanjat pagar itu dengan sedikit kesulitan. Besinya cukup tinggi, dan tubuhnya yang tidak terlalu kuat membuat gerakannya canggung, namun ia tetap memaksa naik sedikit demi sedikit hingga hampir mencapai setengah bagian.
Dan tepat saat itu—
"Oi! Siapa kamu? Manjat-manjat rumah orang!"
Suara itu datang tiba-tiba dari samping, membuat Kiara refleks menoleh dengan wajah panik. Seorang bapak-bapak berdiri beberapa meter dari sana, menatapnya curiga.
"Eh—bukan, Pak! Saya bukan maling!" Kiara buru-buru menjawab, hampir kehilangan keseimbangan. "Saya… saya yang punya rumah ini!"
"Kalo memang tuan rumah, kenapa manjat pagar?" balas bapak itu dengan nada tidak percaya.
Kiara makin panik. "Anu, Pak… yang pegang kunci belum datang—"
"Ah alasan aja! Turun gak kamu!"
"Saya beneran, sumpah! Saya Kiara, anaknya Pak Mahendra!" suaranya sedikit meninggi, campuran antara gugup dan kesal. Namun bapak itu hanya menggeleng, jelas tidak yakin. Ia memang baru beberapa tahun tinggal di lingkungan itu, yang ia tahu hanya rumah ini milik almarhum Mahendra, bukan siapa anaknya. "Tidak percaya saya. Turun kamu sekarang, sebelum saya panggil warga!"
Kiara terdiam sejenak, wajahnya berubah cemberut dengan napas yang tertahan, lalu dengan enggan mulai turun kembali dari pagar itu. Kakinya menyentuh tanah dengan sedikit hentakan, dan ia berdiri di sana dengan ekspresi kesal yang bercampur malu.
Benar-benar hari pertama yang menyebalkan.
Bapak itu kemudian mendekat beberapa langkah, masih dengan tatapan curiga yang tidak berkurang sedikit pun. "Saya tahu ini rumah kosong, pemiliknya sudah tidak ada," katanya dengan nada yakin, "tapi jangan salah mengira ya, saya tahu rumah ini selalu dibersihkan walau tidak berpenghuni."
Ucapan itu justru membuat dada Kiara makin panas. Ia menatap bapak itu dengan wajah kesal, napasnya sedikit memburu. "Ya saya anaknya! Anak yang punya rumah ini!" balasnya cepat, hampir tidak memberi jeda.
Namun bukannya percaya, bapak itu justru menggeleng pelan, ekspresinya seperti sedang menghadapi anak kecil yang membuat alasan. "Sudah deh, tidak usah alasan kamu," ucapnya santai, bahkan sedikit meremehkan, "cantik-cantik kok maling."
Kalimat itu seperti tamparan kecil yang membuat Kiara terdiam sesaat, antara tidak percaya dan semakin kesal. Ia membuka mulut ingin membantah lagi, tapi bapak itu sudah lebih dulu berbalik dan berjalan pergi, seolah urusan itu sudah selesai baginya. Kiara hanya bisa menatap punggungnya menjauh dengan perasaan yang campur aduk, kesal, malu, lelah semuanya bercampur jadi satu di dadanya.
Beberapa detik ia masih berdiri di sana, lalu akhirnya menghela napas panjang dan menjatuhkan dirinya duduk tepat di depan pagar rumah itu, koper di sampingnya, tas masih ia peluk tanpa sadar. "Sial sekali hari ini…" gumamnya pelan, menunduk dengan rambut yang sedikit menutupi wajahnya.
Beberapa saat ia hanya diam, lalu tiba-tiba kepalanya terangkat dan ia menatap pagar itu lagi dengan ekspresi kesal bercampur sedih. "Ini kan rumah saya!" serunya tidak terlalu keras, tapi cukup penuh emosi, seolah mengadu pada sesuatu yang tidak benar-benar bisa menjawab.
Dan di situlah Kiara duduk, di depan rumahnya sendiri namun belum bisa benar-benar masuk.
…
Di ruang pribadinya yang luas dan sunyi, Kenan berdiri di balik meja kerja besar berbahan kayu gelap yang mengilap, dikelilingi dinding tinggi dengan rak-rak berisi dokumen, buku, dan beberapa penghargaan militer yang tertata rapi tanpa berlebihan. Pencahayaan redup dari lampu gantung dan bias cahaya sore yang masuk dari jendela besar di samping ruangan membentuk bayangan tegas di wajahnya, menonjolkan garis rahang yang keras dan sorot mata yang selalu tampak tenang namun sulit ditebak.
Seragamnya masih melekat sempurna di tubuh tinggi dan tegapnya, setiap lipatan terlihat rapi, seolah mencerminkan kendali yang selalu ia pegang dalam hidupnya. Tidak ada gerakan yang sia-sia dari dirinya, bahkan saat ia hanya berdiri diam, kehadirannya sudah cukup memberi tekanan tersendiri pada ruangan itu, tenang, dingin, namun menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dibaca oleh siapa pun.
Pintu ruangan itu diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka, dan seorang ajudan masuk dengan langkah rapi, berhenti beberapa langkah dari meja Kenan. Ia tidak membawa map seperti biasa, melainkan langsung mengangkat ponselnya, menampilkan laporan yang baru saja ia terima. "Jenderal, ada pembaruan," ucapnya singkat namun jelas.
Kenan tidak langsung bergerak, hanya sedikit mengalihkan pandangannya, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
"Nona Kiara tmeninggalkan kediaman ibunya sejak pagi tadi," lanjut ajudan itu, matanya sesekali turun ke layar ponsel untuk memastikan detailnya. "Ia menuju stasiun dan tercatat membeli tiket kereta menuju Jakarta. Keberangkatan pukul 09.10 dari Stasiun Bandung, 09.50 pagi, Jenderal. Tujuan Stasiun Gambir."
Ruangan kembali hening sejenak setelah laporan itu selesai diucapkan.
Kenan akhirnya bergerak, tangannya terulur mengambil ponsel itu tanpa tergesa, matanya menelusuri informasi yang tertera di layar dengan tenang, namun sorotnya berubah sedikit lebih tajam. "Sendiri?" tanyanya singkat.
"Ya, Jenderal. Tidak ada pendamping. Hanya satu koper dan satu tas."
Satu detik.
Dua detik.
Kenan mengembalikan ponsel itu tanpa komentar panjang, lalu menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata, "Siapkan mobil."
Ajudannya langsung menegakkan tubuh. "Baik, Jenderal. Kita berangkat sekarang?"
Kenan meraih jasnya yang tergantung di sisi kursi, mengenakannya dengan gerakan tenang. "Saya yang berangkat."
Ajudan itu sempat ragu sejenak. "Perlu saya dampingi, Jenderal?"
Kenan menggeleng tipis. "Tidak perlu."
"Pengamanan?"
"Tidak usah berlebihan. Siapkan mobil saja."
"Baik, Jenderal."
Ajudan itu memberi hormat singkat sebelum berbalik keluar, meninggalkan Kenan yang kini berdiri sendiri di tengah ruangannya. Namun kali ini, ketenangan itu tidak lagi sepenuhnya sama karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak akan hanya mengawasi dari jauh.
…
Kereta terakhir sudah lama berhenti ketika Kenan tiba di stasiun, namun suasana masih menyisakan sisa-sisa keramaian, orang-orang yang berlalu lalang, suara pengumuman yang samar, dan langkah kaki yang terus bergerak tanpa benar-benar berhenti. Di tengah itu semua, Kenan melangkah masuk dengan tenang, namun sorot matanya tajam, menyapu setiap sudut peron dengan teliti. Ia tidak terburu-buru, tetapi setiap langkahnya terarah, seolah ia sudah tahu apa yang ia cari, hanya saja belum menemukannya.
Sudah sekitar tiga puluh menit sejak jadwal kedatangan kereta, namun sosok yang ia tunggu tidak juga terlihat. Tidak ada gadis dengan koper kecil, tidak ada wajah yang ia kenali dari laporan yang selama ini hanya ia lihat lewat foto.
Ia berhenti sejenak di tengah peron, pandangannya bergerak perlahan, mengamati setiap orang yang tersisa. Kerumunan mulai menipis, menyisakan ruang yang semakin kosong, dan justru itu membuat kenyataan semakin jelas—Kiara tidak ada di sana. Rahangnya mengeras tipis, napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya ia berbalik, melangkah menuju salah satu petugas yang berdiri tak jauh dari situ.
"Kereta dari Bandung, jadwal kedatangan pukul 09.50," ucapnya singkat, suaranya rendah namun memiliki tekanan yang tidak bisa diabaikan, "sudah tiba?"
Petugas itu tampak sedikit terkejut dengan cara bicaranya, namun segera mengangguk. "Sudah, Pak. Bahkan datang lebih awal, sekitar satu jam yang lalu."
Jawaban itu jatuh begitu saja, sederhana, namun cukup untuk membuat garis wajah Kenan menegang. Rahangnya mengeras lebih jelas kali ini, matanya menyipit tipis seolah menahan sesuatu yang tidak ia keluarkan. Satu jam. Artinya Kiara sudah lama meninggalkan tempat ini, sementara ia baru saja tiba.
"Baik."
Hanya itu yang ia ucapkan sebelum berbalik tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut. Langkahnya kini lebih cepat, tidak lagi sekadar tenang, melainkan tegas dan pasti, meninggalkan peron yang kini terasa semakin kosong di belakangnya.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di dalam mobil. Pintu tertutup rapat, suasana di dalamnya langsung sunyi, teredam dari hiruk-pikuk stasiun di luar. Mesin sudah menyala, namun mobil itu belum bergerak. Kenan duduk diam di kursinya, pandangannya lurus ke depan, tangannya bertumpu ringan di pahanya, namun pikirannya bekerja cepat, menyusun kemungkinan demi kemungkinan dengan presisi yang sama seperti saat ia merancang strategi di medan lain.
Kiara baru tiba di kota ini. Sendirian. Tanpa siapa pun.
Ia tidak mungkin pergi tanpa tujuan.
Namun ke mana?
Kenan memejamkan mata sejenak, menarik napas pelan, mencoba meredam ketegangan yang mulai naik tanpa ia sadari. Dalam hitungan detik, satu per satu kemungkinan muncul; hotel, tempat umum, kenalan lama, namun semuanya terasa tidak cukup kuat. Hingga akhirnya, satu nama muncul begitu saja, tidak perlu dipikirkan terlalu lama.
Rumah Mahendra.
Matanya langsung terbuka. Jawaban itu terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Jika ada satu tempat yang mungkin dituju Kiara, tempat yang masih memiliki arti, tempat yang masih bisa ia sebut "pulang" maka hanya itu.
Kenan tidak menunggu lebih lama, Kenan langsung menginjak pedal, mobil itu melaju keluar dari area stasiun dengan cepat, membelah jalanan kota yang mulai ramai. Sementara itu, Kenan tetap diam, tatapannya lurus ke depan, namun kali ini bukan lagi kosong melainkan terfokus pada satu tujuan yang kini sudah ia pastikan.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak ia datang, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa lebih mendesak. Seolah waktu tidak lagi memberi ruang untuk terlambat.
…
Di seberang kompleks perumahan itu, Kiara duduk di dalam 7-Eleven kecil sambil mengecas ponselnya, satu botol minuman dingin ada di tangannya. Sesekali ia meneguknya, tapi perhatiannya lebih sering tertuju ke layar ponsel. Chat terakhirnya ke Pak Indra masih belum dibaca, dan panggilannya sejak tadi tidak tersambung.
"Ayo dong, Pak… masa harus sewa hotel lagi…" gumamnya kesal sambil kembali mencoba menelepon, namun hasilnya tetap sama. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya melirik ke luar kaca, ke arah kompleks perumahan di seberang jalan, tempat rumah ayahnya berada. Rasanya sudah begitu dekat, tapi tetap belum bisa ia masuki.
Ponselnya kembali ia lihat, namun belum ada balasan. Kiara mendengus pelan, menunduk sambil memutar tutup botol minumannya dengan jari. "Sial banget sih…" gumamnya lirih.
…
Mobil itu berhenti tepat di depan rumah lama milik Mahendra, dan tanpa menunggu lama Kenan langsung turun, langkahnya tenang namun pasti. Pandangannya langsung tertuju pada pagar besi di depannya tertutup rapat, terkunci seperti biasa sementara halaman di dalam terlihat rapi dan terawat, tidak ada tanda-tanda rumah itu benar-benar ditinggalkan, namun juga tidak menunjukkan bahwa seseorang baru saja datang. Tidak ada koper, tidak ada jejak terburu-buru, tidak ada gerakan.
Semua terlihat diam. Terlalu diam. Kenan berdiri beberapa saat, matanya menyapu setiap sudut dengan teliti, mencoba menangkap detail sekecil apa pun yang mungkin terlewat. "Atau mungkin dia masih di perjalanan…" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, namun pikirannya langsung menolak kemungkinan itu.
Tidak masuk akal. Jika kereta sudah tiba lebih dari satu jam yang lalu, Kiara seharusnya sudah sampai di sini jika memang tempat ini tujuannya.
Ia masih tenggelam dalam pikirannya ketika suara langkah kaki terdengar mendekat dari samping. Seorang bapak-bapak yang tampaknya tinggal di sekitar situ berhenti beberapa meter darinya, menatap dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan. "Wah, siapa lagi ini… belakangan banyak sekali yang datang ke rumah kosong ini," katanya setengah bergumam.
Kenan menoleh pelan, sorot matanya langsung tajam meski ekspresinya tetap datar. "Memangnya tadi ada yang datang ke sini?" tanyanya singkat. Bapak itu langsung mengangguk, seolah senang ada yang menanggapi. "Ada, tadi ada cewek. Masih muda, bawa koper sama tas. Dia malah manjat pagar ini," ujarnya sambil menunjuk ke arah pagar dengan nada sedikit heran.
Alis Kenan terangkat tipis, sesuatu dalam dirinya langsung terhubung. "Dia bilang apa?" tanyanya lagi, kali ini lebih fokus. "Ngaku ini rumahnya," jawab bapak itu sambil terkekeh kecil, "katanya dia anaknya Pak Mahendra." Hening sejenak, namun bagi Kenan jawaban itu justru memperjelas segalanya. "Sekarang dia di mana?" lanjutnya tanpa membuang waktu.
Bapak itu mengangkat bahu santai. "Nggak tahu, habis saya tegur saya tinggal saja. Kirain orang aneh." Rahang Kenan mengeras sedikit, tapi ia tetap tenang. "Sudah berapa lama?" "
Mungkin… setengah jam yang lalu," jawab bapak itu sambil berpikir sejenak.
"Dia bawa kendaraan?"
"Tidak, jalan kaki saja."
Kenan mengangguk pelan, matanya kembali beralih ke jalan di depan rumah itu, pikirannya bergerak cepat menghitung kemungkinan. Setengah jam, tanpa kendaraan, hanya membawa koper dan tas—artinya Kiara tidak mungkin pergi jauh. Ia masih berada di sekitar sini. Firasat itu datang begitu saja, kuat dan jelas, membuat tatapannya sedikit menyipit seolah mencoba menangkap keberadaan yang belum terlihat. "Dia belum jauh…" gumamnya pelan, hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat langkah berikutnya terasa semakin pasti.
…
Kiara sudah duduk di sana cukup lama hingga waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Ponselnya masih tersambung ke charger di sisi meja, layar menyala redup dengan satu tampilan yang terus ia buka sejak tadi, chatnya dengan Pak Indra yang belum juga menunjukkan tanda dibaca. Ia menatapnya tanpa berkedip beberapa detik, lalu menghela napas pelan, seolah mencoba menahan rasa kesal yang mulai menumpuk di dadanya.
Jarinya bergerak lagi, membuka dan menutup chat itu berulang kali, sesekali menekan panggilan meski ia sudah tahu hasilnya akan sama saja. Tidak aktif.
Pelan-pelan, rasa lelah mulai menguasai tubuhnya. Ia menurunkan kepalanya, menyandarkan pipinya di atas lengan yang terlipat di meja, tetap menghadap ke arah ponsel itu. Dari sudut pandangnya yang miring, layar itu terlihat sedikit buram, namun tetap jelas menunjukkan satu hal, tidak ada balasan.
"Ayo dong…" gumamnya pelan, hampir seperti bisikan, "masa aku harus nunggu terus begini…"
Suara-suara di sekitarnya—pintu minimarket yang terbuka, langkah kaki orang-orang, bunyi kasir—semuanya terdengar samar, seolah menjauh dari kesadarannya. Ia terlalu lelah untuk benar-benar memperhatikan, terlalu penuh pikiran untuk benar-benar tenang. Hari ini terasa panjang, jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan sejak ia naik kereta pagi tadi. Semua terasa tidak berjalan sesuai harapan, dari awal sampai sekarang, dan untuk pertama kalinya sejak ia sampai, rasa ragu itu sempat muncul di dalam dirinya, kecil tapi cukup mengganggu.
Matanya perlahan terpejam, meski tidak benar-benar tertidur. Tubuhnya hanya diam di sana, beristirahat sebentar dari semuanya, sementara tangannya masih berada dekat ponsel, seolah ia takut melewatkan sesuatu jika benar-benar melepaskannya. Waktu berlalu tanpa ia sadari, mungkin beberapa menit, mungkin lebih, hingga akhirnya suara di dekatnya membuat kesunyian kecil itu pecah.
"Kiara."
Suara itu tidak terlalu keras, namun cukup jelas untuk menembus kesadarannya. Keningnya berkerut pelan, matanya masih tertutup sesaat sebelum akhirnya terbuka perlahan. Ia mengangkat kepalanya sedikit, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, pandangannya masih belum sepenuhnya fokus.
"Di sini rupanya."
Kali ini suaranya terdengar lebih dekat, lebih tegas, dan entah kenapa… terasa tidak asing. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadi menyelimuti dirinya langsung hilang, berganti dengan kesadaran penuh yang datang begitu saja.
