Siang hari di kampus.
Ramai seperti biasa.
Mahasiswa berjalan, bercanda, mengeluh soal tugas—tidak ada yang berbeda.
Namun—
Di satu titik—
Udara terasa… berat.
Kang Tae Hyun melangkah keluar dari gedung kuliah.
Santai.
Seperti biasa.
Namun langkahnya melambat.
Datang juga.
Dia berhenti.
Beberapa meter di depannya—
Seorang pria berdiri.
Tinggi. Tubuh besar. Rambut putih.
Tatapannya tajam seperti binatang buas yang sedang mengamati mangsa.
Baek Yoonho.
Mahasiswa di sekitar mulai merasa tidak nyaman.
Beberapa menjauh tanpa sadar.
Aura itu—
Terlalu kuat.
Tae Hyun memasukkan tangan ke saku.
"…nyari gue?"
Baek Yoonho tersenyum tipis.
"Instingmu bagus."
Dia melangkah mendekat.
Setiap langkahnya membuat tekanan di udara meningkat.
"Nama."
"Udah tahu."
Jawaban santai.
Baek Yoonho berhenti beberapa langkah dari Tae Hyun.
Tatapannya berubah sedikit lebih dalam.
"…kau menarik."
Hening.
Beberapa detik berlalu.
"Masuk guild-ku."
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Tae Hyun mengangkat alis sedikit.
"…nggak tertarik."
Jawaban instan.
Tidak ragu.
Tidak sopan.
Namun—
Jujur.
Udara langsung berubah.
Tekanan meningkat.
Baek Yoonho tidak marah.
Namun auranya—
Berubah.
Lebih berat.
Lebih liar.
"Bukan tawaran."
Nada suaranya lebih rendah.
"Ini kesempatan."
Tae Hyun menatapnya.
"…buat lo."
Hening.
Mahasiswa di sekitar mulai benar-benar menjauh sekarang.
Beberapa bahkan lari kecil.
Situasi ini—
Sudah tidak normal.
Baek Yoonho menyipitkan mata.
Untuk pertama kalinya—
Sedikit ketertarikan nyata muncul.
"…kau berani."
"Biasa aja."
Sunyi.
Lalu—
WHOOSH—
Dalam sekejap—
Baek Yoonho sudah berada tepat di depan Tae Hyun.
Tangannya bergerak cepat.
Tidak penuh kekuatan.
Namun cukup untuk—
TES.
Tae Hyun bergerak.
Satu langkah ke samping.
Serangan itu meleset.
Namun—
CRACK.
Tanah di belakangnya retak.
Mahasiswa yang melihat itu membeku.
"Gila…"
Namun—
Tae Hyun tetap santai.
"…jangan di sini."
Baek Yoonho tersenyum lebar sekarang.
Akhirnya—
Respon yang dia cari.
"Kalau begitu…"
Dia melangkah mundur sedikit.
"…tunjukkan padaku."
Tekanan meningkat drastis.
Namun—
"Cukup."
Suara lain memotong.
Semua mata langsung beralih.
Han Seo Rin berdiri di sana.
Tatapannya dingin.
"Ini wilayah sipil."
Dia melangkah mendekat.
"Kalau kau mau bertarung…"
Tatapannya ke Baek Yoonho.
"…lewati aku dulu."
Hening.
Baek Yoonho menatapnya.
Lalu tertawa kecil.
"Hahaha… Association mulai ikut campur, ya."
Seo Rin tidak tersenyum.
"Ini peringatan."
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Baek Yoonho menghela napas.
"…baik."
Tekanannya perlahan menghilang.
Namun sebelum pergi—
Dia menatap Tae Hyun.
Lebih dalam.
"…kau bukan Rank B."
Pernyataan.
Bukan tebakan.
Tae Hyun tidak menjawab.
Baek Yoonho tersenyum.
"Menarik."
Lalu—
Dia berbalik.
Namun saat berjalan menjauh—
"…lain kali, jangan ditahan."
Langkahnya berhenti sejenak.
"Kalau tidak…"
Dia sedikit menoleh.
"…aku yang akan memaksamu."
Lalu dia pergi.
Sunyi.
Tekanan menghilang.
Mahasiswa mulai berani bergerak lagi.
Namun suasana tidak kembali normal.
Seo Rin menatap Tae Hyun.
"…kau sengaja."
"Apanya?"
"Kau tidak melawan."
Tae Hyun mengangkat bahu.
"Ribet."
Seo Rin menyipitkan mata.
"…kau tahu ini belum selesai."
"Dari awal juga udah tahu."
Hening.
Namun kali ini—
Ada sesuatu yang berbeda.
Seo Rin menghela napas pelan.
"…guild lain juga bergerak."
Tatapannya serius.
"Dan tidak semuanya seperti dia."
Tae Hyun menatapnya.
"Lebih nyebelin?"
"…lebih berbahaya."
Sunyi.
Di kejauhan—
Seseorang berdiri.
Seorang pria dengan aura tenang.
Mengamati dari jauh.
Tidak ikut campur.
Namun—
Matanya tajam.
Choi Jong-In.
Dia tersenyum tipis.
"…menarik."
Sementara itu—
Di rumah keluarga Kang—
Kang Joon Hyuk berdiri di depan jendela.
Wajahnya serius.
"Sudah kontak langsung," katanya pelan.
Kang Dae Shik tertawa kecil.
"Hahaha… cepat juga."
Mi Sun menatap mereka.
"Ini akan semakin berbahaya."
Hening.
Joon Hyuk berbalik.
"…kita tidak bisa diam lagi."
Tatapannya tajam.
"Kalau mereka mulai memaksa…"
Dae Shik menyeringai.
"…kita yang hancurkan mereka dulu."
Udara di ruangan terasa berubah.
Berat.
Berbahaya.
Kembali ke luar—
Tae Hyun berjalan sendirian.
Langkahnya santai.
Namun—
Tangannya sedikit bergerak.
KRZZT—
Petir kecil muncul.
Lebih liar dari sebelumnya.
Dia menatap tangannya.
"…mulai ganggu."
Matanya sedikit menyipit.
Untuk pertama kalinya—
Ada sedikit gangguan dalam ketenangannya.
Langit masih cerah.
Namun—
Badai kali ini—
Tidak akan bisa dihindari.
~~~•
