Pagi di ibu kota terasa lebih dingin dari biasanya.
Bukan karena cuaca.
Tapi karena kabar semalam.
---
Keluarga Shen ditangkap.
Hanya dalam satu malam.
---
Dan tidak ada yang berani berbicara terlalu keras tentang itu.
---
---
Di dalam rumah tahanan kekaisaran, pintu besi tertutup rapat.
Puluhan anggota keluarga Shen duduk diam.
Sebagian masih tidak percaya apa yang terjadi.
---
"Ini pasti kesalahan…"
"Bagaimana mungkin keluarga kita berkhianat?"
---
Namun tidak ada jawaban.
Hanya penjaga bersenjata di luar yang berdiri tanpa ekspresi.
---
---
Sementara itu, di sudut lain ibu kota.
Shen Lanxi berdiri di gang sempit.
Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.
---
"Nu Bai."
---
Suara itu terdengar di dalam pikirannya.
---
"Data awal sudah keluar."
"Perintah penangkapan dikeluarkan dengan stempel istana, tapi ada tiga lapisan tanda tangan berbeda."
---
Shen Lanxi menyipitkan mata.
"Berarti ini bukan satu orang."
---
"Benar," jawab Nu Bai.
"Minimal ada satu orang di dalam istana, dan satu dari pihak militer."
---
Shen Lanxi diam sejenak.
Tidak terkejut.
Justru mengonfirmasi pikirannya.
---
"Jadi keluarga Shen hanya pion."
bisiknya pelan.
---
---
Dia melangkah keluar dari gang.
Masuk ke jalan utama ibu kota.
Orang-orang lalu-lalang seperti biasa.
Seolah tidak ada yang terjadi.
---
Tapi Shen Lanxi tahu.
Semua ini baru permukaan.
---
---
Di sebuah kedai teh kecil.
Dua pejabat rendah sedang berbisik.
"Keluarga Shen sudah selesai."
"Katanya langsung ditangkap tanpa sidang panjang."
---
Seorang di antara mereka tertawa kecil.
"Terlalu cepat. Berarti sudah diputuskan dari atas."
---
Namun suara itu tiba-tiba berhenti.
---
Karena seseorang duduk di meja sebelah mereka.
---
Shen Lanxi.
---
Dia tidak menatap mereka.
Hanya menuangkan teh.
---
"Apa yang kalian bicarakan tadi?"
---
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
---
Kedua pejabat itu saling pandang.
Salah satu mengenali wajahnya.
---
"Putri… Shen?"
---
Shen Lanxi akhirnya mengangkat mata.
---
"Ulangi."
---
Hening.
---
Salah satu pejabat langsung menunduk.
"T-tidak ada apa-apa…"
---
Shen Lanxi berdiri perlahan.
---
"Kalau begitu ingat satu hal."
---
Matanya menatap dingin.
---
"Jangan bicara tentang keluarga Shen di tempat terbuka."
"Kalau tidak… kalian bisa ikut terseret."
---
Dia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.
---
---
Di luar kedai.
Shen Lanxi berhenti sebentar.
---
"Nu Bai."
---
"Ya, Tuan."
---
"Siapa yang paling dulu mengusulkan penangkapan keluarga Shen?"
---
Nu Bai diam sebentar.
---
"Nama masih disamarkan di tingkat atas istana."
"Tapi arah jejaknya… menuju faksi Menteri Militer."
---
Shen Lanxi mengangguk pelan.
"Bagus."
---
Matanya sedikit menyipit.
---
"Berarti kita tidak mulai dari Zhou Ruyuan."
---
"Tapi dari tangan yang mendorong pedangnya."
---
---
Angin pagi bertiup.
Kabut mulai menipis.
---
Dan di balik ketenangan ibu kota…
seseorang mulai menyusun balasan pertama.
