Cherreads

Chapter 354 - Langit yang Terlihat Tenang

Kota H2700 kembali hidup seperti biasa.

Transportasi magnetik meluncur di rel udara. Layar-layar hologram menampilkan iklan dan berita ringan. Anak-anak berlarian di taman pusat kota tanpa mengetahui bahwa beberapa hari lalu, sebuah dimensi runtuh di atas kepala mereka.

Di halaman SMA Zirzota School—

Upacara kelulusan berlangsung meriah.

Arabels berdiri di antara para siswa, mengenakan seragam putih dengan selempang kelulusan biru muda. Senyumnya tipis, tapi tulus. Rambutnya tertiup angin siang yang cerah.

Tepuk tangan bergema.

Dari kejauhan, di atas gedung seberang jalan—

Storm berdiri diam.

Tanpa armor. Tanpa aura kosmik.

Hanya jaket hitam sederhana dan tatapan yang tak bisa sepenuhnya tenang.

Ia memandang Arabels dengan jarak yang terasa lebih jauh dari sekadar puluhan meter.

Velora berbicara pelan dalam benaknya.

"Kau bisa mendekat."

Storm menggeleng tipis.

"Tidak sekarang."

Ia bisa merasakan sesuatu.

Bukan satu.

Bukan dua.

Melainkan beberapa kesadaran asing yang samar—mengamati dari celah-celah ruang yang tidak kasat mata. Sejak Tesseract lenyap, keseimbangan kosmik terasa… bergeser.

Entitas-entitas lain mulai menyadari kekosongan itu.

Dan mungkin—

Menyadari dirinya.

Storm mengepalkan tangan perlahan.

"Aku tidak boleh menyeretnya ke dalam ini lagi."

Di bawah sana, Arabels tertawa bersama teman-temannya. Sesekali ia menoleh ke langit, seolah merasakan sesuatu.

Storm menahan diri untuk tidak melangkah turun.

Sebaliknya, ia berbalik dan melompat dari atap.

Markas Psywars terletak di bawah distrik industri lama H2700.

Bangunan luarnya tampak seperti gudang terbengkalai. Namun di bawahnya, jaringan ruangan berlapis baja dan sistem anti-deteksi berdiri kokoh.

Pintu baja terbuka otomatis saat Storm masuk.

Di ruang utama, Jester sedang duduk santai di atas meja hologram, memainkan kartu tarot yang melayang-layang di udara.

Napstylea berdiri di depan layar taktis besar, mengenakan Armor Silver dalam mode setengah aktif.

"Kau datang, Tuan" ucap Napstylea tanpa menoleh.

Storm memasukkan tangannya ke saku jaket.

"APH sudah bergerak?"

Jester tertawa pelan.

"Pertanyaan langsung."

Ia menjentikkan satu kartu tarot ke udara. Kartu itu berputar dan menampilkan simbol menara retak.

"Jawabannya? Ya… dan tidak."

Storm menatapnya datar.

Napstylea akhirnya menoleh.

"Dooms belum turun langsung ke H2700. Tapi pergerakan intelijen APH meningkat. Mereka menyelidiki distorsi energi yang tidak cocok dengan profil ancaman biasa."

"Dan?" tanya Storm.

"Mereka belum punya nama," jawab Napstylea.

"Penghapusan memorimu berhasil."

Jester berdiri, berjalan mendekati Storm.

"Tapi…" katanya ringan, "mereka tahu ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar anomali."

Storm terdiam.

Ia sudah menduga.

Menghapus jejak manusia bukan berarti menipu kosmik.

"Kalau Dooms turun tangan?" tanyanya.

Napstylea menatap layar.

"Kemungkinan bentrokan langsung sangat tinggi."

Jester menyeringai di balik topengnya.

"Dan kali ini, Tuan Rem tak bisa sembunyi di balik dimensi yang runtuh."

Storm menghela napas panjang.

Ia teringat Arabels di halaman sekolah tadi.

Tertawa bebas.

Ia ingin hidup biasa.

Namun semesta tidak pernah memberi jeda panjang.

Velora berbisik samar.

"Mereka mengamatimu."

Storm menatap layar taktis yang menampilkan peta energi global.

Titik-titik kecil berkedip di beberapa lokasi dunia—distorsi minor. Seolah-olah seseorang sedang mencoba meraba batas realitas.

"Aku bisa merasakannya juga," ucap Storm pelan.

"Ada yang lain mulai bergerak."

Napstylea menyilangkan tangan.

"Jika mereka tahu Tesseract hilang, kekosongan itu akan diperebutkan."

Jester mengangkat satu kartu terakhir.

Kartu itu menampilkan simbol mata terbuka di langit gelap.

"Pertanyaannya bukan lagi apakah APH memburumu," katanya lembut.

"Tapi siapa yang datang lebih dulu."

Storm menunduk sejenak.

Lalu ia menegakkan tubuhnya.

"Kalau begitu kita siapkan diri."

Di atas markas Psywars, kota tetap tampak damai.

More Chapters