Cherreads

Chapter 401 - Nama yang Tidak Diambil

Beberapa jam setelah meninggalkan markas X.A.R.A…

Rasar berdiri di depan gedung tinggi milik Aksrega United cabang H2700.

Langkahnya tetap tenang.

Ekspresinya tidak berubah.

Ia sudah menduga Storm akan menolak.

Namun ia tidak bisa membiarkan keluarga Wilson berakhir tanpa keputusan resmi.

Di dalam ruangan pribadi berlapis kaca gelap—

Robert berdiri menghadap jendela, tangan di saku jasnya.

"Kau gagal membujuknya," kata Robert tanpa menoleh.

Rasar tersenyum tipis.

"Seperti yang anda perkirakan."

Robert akhirnya berbalik.

"Storm tidak pernah tertarik pada warisan, jabatan, atau nama keluarga. Jika ia menolak, itu keputusan final."

Rasar mengangguk pelan.

"Karena itu aku datang untuk menawarkan penyelesaian."

Robert mengangkat alis.

"Perdamaian administratif," lanjut Rasar. "Keluarga Wilson tidak bisa dibiarkan tanpa penerus resmi. Hanya Storm yang tersisa secara garis darah langsung."

"Dan dia menolak," jawab Robert datar.

"Ya."

Keheningan singkat.

Rasar kemudian melanjutkan.

"Ada satu nama lain yang masih memiliki keterkaitan jauh dengan garis keluarga Wilson. Bukan pewaris utama… tapi cukup untuk menjaga status hukum tetap hidup."

Robert menyipitkan mata.

"Siapa dia?"

Rasar mengeluarkan data holografik tipis.

Seorang gadis muda muncul di layar.

Rambut gelap, mata jernih, senyum polos namun penuh semangat.

"Seren Wils."

Robert membaca cepat datanya.

"Keturunan cabang jauh."

"Benar," jawab Rasar. "Tidak memiliki klaim kuat. Namun secara administratif bisa ditetapkan sebagai penjaga sementara status keluarga."

Robert menatap hologram itu beberapa detik.

"Dia tahu tentang ini?"

"Sudah kuhubungi."

***

Sore itu, di taman kecil dekat pusat kota—

Seren berdiri dengan sedikit gugup di hadapan Rasar.

Ia masih mengenakan seragam akademi.

"Kau yakin, nona?" tanya Rasar tenang. "Ini bukan tanggung jawab kecil."

Seren menggenggam tasnya sedikit lebih erat.

"Aku tahu."

"Status keluarga Wilson bukan hanya soal nama. Ada aset, pengaruh, dan kemungkinan ancaman."

Seren tersenyum kecil.

"Kalau itu milik Storm… aku tidak keberatan menjaganya."

Rasar memperhatikan ekspresinya.

"Kau bahkan belum pernah berbicara langsung dengannya."

Seren menggeleng pelan.

"Tidak untuk sekarang."

Matanya berbinar tipis saat ia melanjutkan.

"Tapi aku pernah melihatnya."

"Kapan nona melihatnya?"

"Beberapa tahun lalu. Malam hari. Ada monster di distrik timur. Semua orang panik."

Angin sore berhembus pelan.

"Lalu… ada siluet seseorang terbang di langit. Cahaya merahnya membelah awan."

Itu pasti Armor Scarlet Skycrimson.

Rasar mengerti.

"Aku tidak bisa melihat wajahnya," lanjut Seren pelan. "Tapi cara dia berdiri di udara… sendirian menghadapi monster itu…"

Ia tersenyum lebih dalam.

"Sejak saat itu aku tahu, kota ini punya pelindung."

Rasar menatapnya tajam.

"Kekaguman bisa berubah menjadi kekecewaan ketika kau mengetahui sisi lain seseorang."

Seren mengangguk.

"Mungkin iya atau tidak."

"Tapi kalau dia menolak namanya sendiri demi sesuatu yang lebih besar… bukankah itu justru alasan kenapa nama itu harus tetap ada?"

Keheningan mengisi taman itu.

Rasar akhirnya mematikan hologram data di tangannya.

"Robert menyetujui penyelesaian ini. Status keluarga Wilson akan berada di bawah penjagaanmu… sampai Storm memutuskan sebaliknya."

Seren tidak terlihat terbebani.

"Kalau suatu hari dia ingin mengambilnya kembali, aku akan menyerahkannya tanpa syarat."

"Dan jika tidak pernah?"

Seren menatap langit.

Hari mulai berubah jingga.

"Aku akan menjaganya sebagai bentuk terima kasih."

Rasar mengangguk pelan.

Nama Wilson tidak akan menghilang.

Meski pewaris aslinya memilih berjalan tanpa membawa nama itu.

More Chapters