Di ruang utama Nexus S-4473 —
Semua berkumpul. Tidak ada yang bercanda. Tidak ada yang santai.
Karena ini — rapat darurat.
---
Aryes berdiri di depan. Tatapannya tertuju pada Lira.
"…Apa yang kau temukan?" Nada suaranya serius. Ia tahu — Lira tidak akan memanggil semua orang tanpa alasan.
---
Lira berdiri di tengah ruangan. Masih memegang buku tua itu. Matanya menyapu semua orang.
"…Ini penting." Suaranya tenang.
Ia membuka buku itu. Halaman yang sama. Tulisan yang tak bisa dibaca orang lain.
"…Aku sudah menerjemahkannya."
Beberapa orang saling pandang.
---
Aryes menyilangkan tangan. "…Langsung ke intinya."
Lira mengangguk. Lalu — "…Galaksi ini — bukan wilayah bebas."
Ruangan menjadi hening.
"…Semua wilayah di sini — berada di bawah satu kekuasaan."
Violys menyipitkan mata. "…Siapa?"
Lira menatapnya. "…Oreons Galactive."
---
Lira melanjutkan. "…Dia adalah penguasa galaksi ini. Pemimpin sebuah kekaisaran besar." Ia menutup buku itu perlahan.
"Dan dia tidak mentolerir perlawanan."
---
Zero berhenti dari aktivitasnya. Jester tidak tersenyum lagi. Napstylea menatap lurus.
"…Ras yang lemah — dihancurkan." Lira melanjutkan. "…Planet yang menentang — dimusnahkan."
Suasana semakin tegang.
---
Aryes menghela napas pelan. "…Jadi kita sekarang —" Ia menatap layar galaksi. "…berada di wilayah kekuasaannya."
Lira mengangguk. "…Ya."
Violys berpikir cepat. "…Dan kita — kapal asing yang tidak dikenal —"
"…Itu berarti…" Arabels melanjutkan pelan. "…kita bisa dianggap ancaman."
Lira menatap semua orang. "…Atau pemberontak."
---
Hening.
Tidak ada yang langsung bicara. Semua mengerti — artinya jelas.
Mereka bukan hanya menjelajah.
Mereka sudah masuk ke dalam — wilayah kekuasaan seseorang.
---
Aryes menatap ke depan. Pikirannya bekerja cepat. "Nexus hampir selesai diperbaiki — tapi ini mengubah segalanya."
Violys menambahkan. "…Kita harus siap. Bukan hanya menghadapi makhluk asing — tapi juga sebuah kekaisaran."
Jester bersandar. "…Kedengarannya menyenangkan." Kali ini — tanpa candaan berlebihan.
Zero berbicara singkat. "…Musuh besar."
Napstylea menutup matanya sejenak. "…Firasatku benar."
Arabels menggenggam tangannya. Menatap Storm sebentar.
---
Storm sendiri — tetap diam. Bersandar. Tatapannya datar.
"Kekaisaran, ya…" Suaranya pelan.
"…Kalau mereka menghalangi —" Sedikit jeda. Matanya menatap ke depan.
"…kita hadapi saja."
---
Semua orang terdiam.
Bukan karena setuju sepenuhnya. Namun karena mereka tahu — itu bukan sekadar kata-kata.
