Di luar wilayah Hydra — Mecha Ginga Stars terus melesat cepat menembus konstelasi Scorpio. Lautan bintang terbentang luas di depan mereka. Cahaya nebula terlihat dari kejauhan.
Di ruang kendali — Storm memegang kemudi dengan tenang. Tatapannya lurus ke depan. Sementara Arabels berdiri di samping layar navigasi. Terus memantau jalur perjalanan. Dan di belakang — Proxi 5R sibuk menganalisis wilayah sekitar.
Awalnya semuanya terasa tenang.
Namun — tiba-tiba —
*WARNING!! *
Alarm berbunyi keras. "Deteksi serangan energi!"
Belum sempat mereka bereaksi —
*BOOOOMM!! *
Sebuah tembakan besar melesat melewati sisi Ginga Stars. Ledakan cahaya menerangi ruang hampa.
Arabels membelalak. "…Serangan?"
Storm langsung menarik kemudi. Mecha raksasa itu bergerak tajam menghindar.
Tembakan kedua datang. "Ke kiri!" Arabels langsung menunjuk jalur. Storm mengikuti tanpa ragu.
*WHOOOSSH!! *
Serangan itu nyaris menghantam kaki Ginga Stars. Ledakannya cukup besar hingga ruang di sekitar sedikit bergetar.
Storm tetap tenang. Bukan karena ia takut melawan. Namun — musuh yang belum terlihat jelas — lebih berbahaya daripada lawan yang sudah diketahui.
---
"Rute depan sempit!" Arabels terus memberi arahan. "Naik tiga puluh derajat!"
Storm langsung mengubah arah. Ginga Stars melesat melewati gugusan asteroid. Sementara di belakang mereka — cahaya tembakan terus mengejar.
Proxi berusaha memindai sumber serangan. Tetapi layar analisis terus gagal. "…Mustahil…"
Arabels menoleh cepat. "Ada apa?"
Proxi menampilkan data kacau di layar. "Entitas target tidak dapat dipindai secara penuh. Gelombang energinya berubah-ubah."
Storm sedikit menyipitkan mata. "…Menyembunyikan dirinya."
Proxi mengangguk. "Dan kemungkinan — lebih cerdas dari alien biasa."
Ruangan langsung hening sesaat. Itu berarti — mereka tidak sedang diburu makhluk liar. Namun sesuatu — yang sengaja memburu mereka.
---
Tembakan lain kembali datang. Storm langsung memutar Ginga Stars.
*BOOOOMMM!! *
Ledakan besar menghancurkan asteroid di belakang mereka.
Arabels menggenggam kursinya erat. "…Dia terus mengikuti kita…"
Storm menatap gelapnya ruang angkasa di depan. Tatapannya mulai serius. "…Ya."
