Aula utama Istana Urco Tastarius perlahan menjadi sunyi. Tidak ada perdebatan. Tidak ada laporan baru. Para petinggi galaksi yang biasanya saling menyela kini memilih diam. Karena satu alasan.
Oreons Galactive sedang berpikir.
Sang Kaisar duduk di singgasananya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya tertuju pada hamparan bintang yang terlihat melalui jendela raksasa istana. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa menegangkan.
Tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya. Bahkan Lord Rylos yang biasanya gemar melontarkan sindiran memilih diam. Leo juga tidak berbicara. Semua orang memahami bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Oreons. Sesuatu yang cukup berat hingga membuatnya tenggelam dalam keheningan.
Di samping singgasana. Yllarxa berdiri sambil memegang beberapa dokumen laporan. Sesekali ia melirik ke arah Oreons. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Ketika Oreons tiba-tiba menoleh ke arahnya — Yllarxa langsung menundukkan kepala. Seolah ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Oreons hanya tersenyum tipis. Senyum kecil yang jarang dilihat orang lain. "Tak perlu terlihat begitu khawatir," ucapnya pelan.
Yllarxa perlahan mengangkat wajahnya. "Yang Mulia..."
Oreons menghela napas. Lalu kembali menatap hamparan galaksi di luar. "Aku hanya sedang berpikir," katanya. "Tentang Tyrannons."
Nama itu membuat Yllarxa terdiam. Sudah lama ia mengetahui bahwa nama tersebut masih membebani pikiran Oreons. Meski sang Kaisar jarang menunjukkannya.
"Tyrannons..." gumam Yllarxa.
Oreons mengangguk pelan. "Sampai sekarang aku masih tidak mengerti. Sebenarnya apa yang membuatnya memilih jalan itu." Suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada biasanya. Justru karena itu Yllarxa bisa merasakan sesuatu di baliknya. Kekecewaan. Kebingungan. Dan kesedihan.
Oreons menatap salah satu bintang yang bersinar di kejauhan. "Aku sudah mempersiapkan banyak hal," lanjutnya. "Termasuk masa depan kekaisaran. Tyrannons seharusnya menjadi pewaris."
Kalimat itu membuat beberapa petinggi yang masih berada di aula sedikit terkejut. Meski sebagian sudah menduganya. Tetap saja. Mendengar langsung dari Oreons adalah hal yang berbeda. Sang Kaisar tidak pernah secara resmi menunjuk penerusnya. Namun kini mereka mengetahui kebenarannya. Oreons memang berniat menyerahkan kekaisaran kepada Tyrannons.
"Tapi dia memilih memberontak," ucap Oreons pelan. "Bukan meminta penjelasan. Bukan berbicara denganku. Melainkan mengangkat pedang."
Keheningan kembali memenuhi aula.
Yllarxa menggenggam dokumen di tangannya lebih erat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan dirinya tidak mengetahui alasan sebenarnya di balik keputusan Tyrannons. Yang ia tahu hanyalah satu. Oreons tidak pernah benar-benar membenci Tyrannons. Meski sekarang mereka berdiri di pihak yang berlawanan.
Yllarxa perlahan melangkah mendekat. "Yang Mulia," ucapnya lembut. "Mungkin suatu hari nanti — Tyrannons akan menjelaskan alasannya."
Oreons tersenyum kecil. Namun tidak memberikan jawaban. Jauh di dalam hatinya. Ia sendiri tidak yakin.
---
Sementara itu —
Yllarxa memperhatikan sosok yang duduk di singgasana tersebut. Berbeda dengan kebanyakan penghuni galaksi. Ia mengenal Oreons lebih dekat daripada siapa pun. Ia mengetahui sisi yang tidak pernah diperlihatkan kepada para jenderal. Tidak pernah diperlihatkan kepada para penguasa konstelasi. Dan tidak pernah diperlihatkan kepada rakyat kekaisaran.
Sisi manusiawi yang tersembunyi di balik gelar Kaisar Galaksi. Sisi yang mampu tertawa santai. Mampu bercanda. Dan mampu memperlihatkan kelembutan yang jarang diketahui orang lain.
Justru karena itulah — Yllarxa juga mengetahui sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Kekuatan Oreons yang sesungguhnya.
Bukan kekuatan politik. Bukan kekuatan armada. Bukan pula kekuatan kekaisaran. Melainkan kekuatan dirinya sendiri. Kekuatan yang hampir tidak pernah digunakan. Kekuatan yang bahkan membuat sebagian makhluk tertua di galaksi memilih diam ketika namanya disebut.
Jika Oreons benar-benar murka... maka tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Bahkan para Sacred Zodiac mungkin akan memandangnya dengan serius.
Yllarxa menundukkan kepala. Ia tidak ingin hari itu datang. Tidak pernah. Jika Oreons sampai memperlihatkan kekuatan yang selama ini disembunyikannya... maka seluruh galaksi akan menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lihat. Sesuatu yang jauh melampaui peperangan. Jauh melampaui kekaisaran. Dan jauh melampaui pemahaman kebanyakan makhluk.
---
Oreons kembali menatap lautan bintang. Sementara di dalam benaknya. Bayangan Tyrannons masih belum menghilang.
Di antara miliaran bintang yang ia kuasai. Di antara ribuan armada yang mematuhi perintahnya. Di antara para jenderal dan penguasa yang menghormatinya. Hanya ada satu pertanyaan yang belum berhasil ia jawab.
Mengapa putra yang telah ia siapkan untuk mewarisi galaksi — justru memilih menjadi musuhnya?
Dan hingga jawaban itu ditemukan — keheningan di dalam hati sang Kaisar akan tetap ada.
