Di Konstelasi Draco... Dua armada besar saling berhadapan dalam keheningan. Di satu sisi, armada Kekaisaran Galaksi memenuhi ruang angkasa dengan formasi yang sempurna. Di sisi lain, armada Pemberontak Tartanos tetap bersiaga tanpa sedikit pun mundur.
Di atas kapal utama kekaisaran... Maxtis melangkah beberapa langkah ke depan. Tatapannya tertuju lurus kepada Tyrannons. Untuk beberapa saat, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian, suaranya memecah keheningan. "Tyrannons. Pulanglah."
Ucapan itu membuat Rea dan Astralon semakin waspada. Namun Maxtis sama sekali tidak menghunus Demonic Twin Swords miliknya. Ia hanya berdiri dengan tenang. "Ini kesempatanmu. Aku bisa membawamu kembali ke Istana Urco Tastarius." Tatapannya tetap serius. "Yang Mulia Kaisar Oreons... dan Yllarxa. Mereka masih menunggu kepulanganmu. Masih berharap kau menghentikan pemberontakan ini."
Sesaat... Keheningan kembali menyelimuti ruang angkasa. Tyrannons menundukkan kepalanya. Nama ayahnya dan Yllarxa kembali membangkitkan kenangan yang telah lama ia simpan. Tetapi perlahan... Ia mengangkat kepalanya kembali. Tatapannya kini dipenuhi keteguhan. "Aku menghargai niatmu, Paman Maxtis. Tapi... Aku tidak akan kembali." Ia menggenggam pedangnya semakin erat. "Aku memilih jalanku sendiri. Dan jalan itu adalah melawan Kekaisaran Galaksi."
Rea dan Astralon saling berpandangan. Mereka tahu... Mulai saat ini tidak ada lagi jalan untuk berdamai. Jika Maxtis memutuskan menggunakan kekerasan... Pertempuran tidak dapat dihindari.
---
Tyrannons mengambil satu langkah ke depan. Pedangnya perlahan terangkat. "Aku tidak ingin bertarung denganmu. Tapi kalau kau memaksaku kembali... Aku akan melawan."
Suasana menjadi begitu tegang. Seluruh armada menunggu gerakan pertama. Maxtis tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tempatnya. Beberapa detik berlalu. Lalu... Senyum tipis muncul di wajahnya. "Hahaha..." Ia menggeleng pelan. "Kau benar-benar sudah berubah." Tatapannya dipenuhi kekaguman. "Dulu... Kau hanyalah anak yang lemah. Seorang pangeran yang masih harus belajar memegang pedang."
Ia masih mengingat masa-masa ketika Tyrannons berlatih di halaman istana. Berkali-kali terjatuh. Berkali-kali bangkit kembali. Kini... Anak itu telah tumbuh menjadi seorang pemimpin. Seorang pendekar yang berani berdiri di hadapan salah satu jenderal utama Kekaisaran tanpa menunjukkan rasa gentar.
Maxtis mengembuskan napas panjang. "Kekuatanmu telah bertambah. Tekadmu juga jauh lebih kuat." Ia memandang Tyrannons dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. "Sepertinya... Aku tidak akan bisa membujukmu kembali. Seberapa banyak pun kata-kata yang kuucapkan."
Tyrannons tetap menggenggam pedangnya. "Karena pilihanku sudah ditentukan."
Maxtis mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Untuk sesaat... Hanya dua orang yang pernah berada di pihak yang sama, kini berdiri sebagai lawan karena keyakinan mereka yang berbeda.
