Cherreads

Chapter 8 - Pewaris Yang Tidak Diakui

Raka yang masih berdiri di depan altar. Kalimat yang muncul di catatannya terus terbayang di kepalanya.

“Akulah yang membawamu kembali.”

Kembali?

Bukan datang, Bukan dipanggil,Tetapi kembali.

kemudian Raka menatap keris tua yang kembali diam di atas altar. Cahaya keemasan yang sebelumnya memenuhi ruangan kini telah menghilang. Hanya api biru dari obor yang masih menyala di sepanjang dinding.

“Yang Mulia...”

Raja tidak menjawab. Ia masih berdiri di dekat altar dengan tatapan serius. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang baru saja terjadi dan Raka kemudian mengangkat catatannya.

“Suara itu bilang kalau dia yang membawaku kembali ke dunia ini.”

Laras langsung menoleh.

“Raka...”

“Jadi, apa maksudnya?”

Raja akhirnya menatapnya.

“Suara itu sering berbicara kepadamu?”

“Kadang.”

“Sejak kapan?”

“Sejak aku tiba di dunia ini.”

Raja langsung terdiam dan Raka langsung memperhatikan perubahan wajahnya.

“Kenapa?”

“Tidak ada.”

“Jangan bilang tidak ada. Setiap kali aku menyebut suara itu, semua orang langsung terlihat seperti baru melihat hantu.”

Kemudian Laras menatap Raja.

“Yang Mulia, kita harus segera keluar dari ruangan ini.”

Raja tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati altar dan memperhatikan keris tua tersebut.

“Pusaka itu belum bangkit.”

Raka pun mengerutkan keningnya.

“Bukannya tadi bergerak?”

“Bergerak bukan berarti bangkit.”

“Lalu apa bedanya?”

“Jika benar-benar bangkit, seluruh istana akan mengetahuinya.”

Raka langsung menatap ke arah langit-langit ruangan.

“Dan apa yang akan terjadi kalau seluruh istana mengetahuinya?”

Raja pun menatapnya.

“Perang akan dimulai.”

Ruangan itu langsung terasa lebih sunyi. Raka tidak menyangka jawaban tersebut.

“Perang?”

“Perang yang sudah berhenti selama seribu tahun.”

Laras kemudian melangkah maju.

“Yang Mulia, kita tidak bisa terus berada di sini. Gerbang di atas istana semakin tidak stabil.”

Raja pun mengangguk.

“Kita pergi.”

Namun sebelum mereka meninggalkan ruangan, Raka kembali melihat keris tua itu. Entah kenapa, ia merasa pusaka tersebut sedang menatapnya.

Padahal keris itu tidak memiliki mata. Raka kemudian berjalan mengikuti Raja dan Laras yang menuju pintu batu. Namun ketika ia melewati altar, suara perempuan itu kembali terdengar.

“Raka...”

Langkah Raka langsung berhenti.

“Siapa kamu?”

Tidak ada jawaban. Raka langsung menatap ke belakang. Keris tua itu masih terbaring di atas altar.

“Kalau kau benar-benar membawaku kembali ke sini, kenapa aku tidak mengingat apa pun?”

Laras langsung menoleh.

“Raka, ada apa?”

Raka tidak menjawabnya. Ia masih menatap keris tersebut. Suara perempuan itu kemudian terdengar sangat pelan.

“Karena ingatanmu telah disegel.”

Raka langsung membeku.

“Disegel?”

“Jangan percaya kepada mereka.”

Raka kemudian mengepalkan tangannya.

“Siapa mereka?”

Namun suara itu tiba-tiba menghilang. Raka langsung mengangkat kepalanya.

“Tunggu!”

Laras berjalan mendekatinya.

“Raka?”

“Dia bilang ingatanku disegel.”

Raja yang sudah berada di depan pintu langsung berhenti. Untuk pertama kalinya, ekspresi wajahnya berubah cukup jelas.

“Siapa yang mengatakan itu?”

Raka langsung menatap Raja.

“Jadi memang benar?”

“Ingatanmu disegel?”

Raja akhirnya berbalik.

“Tidak semua hal harus kau ketahui sekarang.”

“Kalimat itu lagi.”

Laras langsung memperingatkannya.

“Raka,”

“Tidak, Laras. Aku sudah cukup mendengar jawaban seperti itu.”

Raka kemudian berjalan mendekati Raja.

“Aku tiba-tiba muncul di dunia asing. Semua orang memanggilku pewaris. Ada suara perempuan yang terus memperingatkanku. Ada suara pria dari catatanku. Sekarang kalian bilang pusaka ini bisa memulai perang.”

Raka kemudian mengangkat catatan kakeknya.

“Dan setiap kali aku bertanya, kalian selalu menyuruhku menunggu.”

Raja pun menatapnya dengan tenang.

“Karena jika kau mengetahui semuanya terlalu cepat, kau mungkin tidak akan mampu menerimanya.”

“Kalau begitu biarkan aku yang memutuskan apakah aku mampu menerimanya atau tidak.”

Laras pun hanya terdiam.

Raja kemudian berjalan mendekati Raka.

“Baiklah.”

Raka langsung mengerutkan keningnya.

“Baiklah?”

“Aku akan memberimu satu jawaban.”

“Cuma satu?”

“Untuk sekarang.”

Raka pun menghela napas.

“Silakan.”

Raja kemudian menatap catatan di tangan Raka.

“Kau bukan pewaris pertama.”

Rakapun langsung terdiam.

“Lalu?”

“Kau juga bukan pewaris yang diakui oleh kerajaan ini.”

“Jadi kenapa kalian memanggilku pewaris?”

“Karena darahmu membawa tanda yang sama.”

Raka kemudian melihat tangannya sendiri.

“Tanda?”

Raja menunjuk bagian belakang tangan Raka.

Raka langsung memperhatikan kulitnya. Di sana, tepat di dekat pergelangan tangan, muncul garis tipis berwarna keemasan. Bentuknya seperti simbol pada catatan kakeknya. Sebelumnya Raka tidak pernah menyadarinya adanya tanda tersebut.

“Sejak kapan ada ini?”

Laras langsung menatap tanda tersebut dengan wajah serius.

“Sejak kau menyentuh gerbang di luar istana.”

Raka langsung menatap Laras.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Karena kami belum yakin.”

“Belum yakin tentang apa?”

Raja menjawab.

“Apakah tanda itu benar-benar milikmu... atau hanya menempel pada tubuhmu.”

Raka langsung mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

Raja tidak menjawab.

Tiba-tiba suara dentuman terdengar dari atas.

DUUUMM!

Seluruh ruangan bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit. Api biru di dalam obor bergoyang kuat. Dari kejauhan terdengar suara lonceng istana yang berbunyi tanpa henti.

Kemudian Laras langsung mencabut pedangnya.

“Gerbangnya semakin terbuka.”

Raja langsung menatap ke arah pintu.

“Tidak mungkin.”

Raka pun langsung menoleh.

“Apa?”

Raja berjalan keluar dari ruangan dengan cepat.

“Pusaka itu belum bangkit. Seharusnya gerbang tidak bisa bereaksi sejauh ini.”

Raka dan Laras langsung segera mengikutinya. Begitu mereka keluar dari lorong bawah tanah, suasana istana sudah berubah total. Para penjaga berlari ke berbagai arah. Beberapa dinding mulai dipenuhi retakan bercahaya ungu. Dari sela-sela lantai, muncul kabut tipis berwarna hitam dan Raka langsung berhenti.

“Ini bukan gangguan biasa.”

Laras pun mengangguk.

“Bukan.”

Dari arah aula utama terdengar suara teriakan.

“Yang Mulia!”

Seorang penjaga berlari mendekat dengan wajah panik.

“Ada masalah di ruang timur!”

“Apa yang terjadi?” tanya Raja.

“Pintu yang tersegel telah terbuka.”

Raja langsung menatapnya.

“Pintu yang mana?”

Penjaga itu menelan ludahnya.

“Ruang makam para pewaris.”

Suasana langsung hening. Kemudian Raka menatap Laras.

“Ruang makam?”

Laras tidak menjawabnya. Raja kemudian memerintahkan para penjaga.

“Jangan biarkan siapa pun mendekati ruang itu.”

“Baik, Yang Mulia.”

Penjaga tersebut langsung berlari kembali. Raka kemudian menatap Raja.

“Kenapa ruang makam bisa terbuka?”

Raja tidak menjawabnya.

“Apakah itu ada hubungannya denganku?”

Raja hanya menatapnya. Dan jawaban itu sudah cukup. Raka langsung menghela napas.

“Jadi memang ada hubungannya.”

Laras kemudian mendekat.

“Raka, kau harus pergi ke tempat aman.”

“Tidak.”

“Raka!!”

“Aku tidak mau terus bersembunyi sementara semua orang menyembunyikan sesuatu dariku.”

Raja Kemudian menatap Raka dengan serius.

“Jika kau pergi ke ruang makam itu, kau mungkin tidak akan bisa kembali.”

Raka langsung mengepalkan tangannya.

“Kalau begitu aku harus tahu kenapa.”

Raka kemudian melihat tanda keemasan di tangannya.

“Kalau semua ini terjadi karena darahku, aku berhak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam tubuhku.”

Laras hanya terdiam dan Raja menatapnya dengan cukup lama. Kemudian Raja berjalan menuju lorong timur.

“Kalau begitu ikutlah.”

Laras pun langsung terkejut.

“Yang Mulia!”

Raja tidak berhenti.

“Sudah waktunya dia melihat kebenaran pertama.”

Raka langsung mengikuti Raja, sementara Laras berjalan di sampingnya.

“Raka,” bisik Laras.

“Apa?”

“Jika sesuatu terjadi, jangan menyentuh apa pun.”

Raka pun menatapnya.

“Termasuk keris?”

“Terutama keris.”

Raka hanya mengangguk pelan.

“Baik.”

Namun di dalam hatinya, Raka tahu satu hal.

Jika mereka menemukan jawaban tentang dirinya di ruang makam itu, ia tidak akan membiarkan siapa pun menghentikannya.

Dan Mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu batu besar di bagian timur istana. Berbeda dari pintu sebelumnya, pintu ini dipenuhi ukiran wajah manusia. Ada puluhan wajah yang terlihat seperti sedang menangis. Di bagian tengah pintu terdapat simbol yang sama dengan catatan Raka. Tetapi kali ini, simbol itu sudah terbuka.

Kemudian Raja berdiri di depan pintu.

“Ruang ini hanya boleh dibuka oleh pewaris yang diakui.”

Raka pun menatapnya.

“Bukannya tadi kau bilang aku bukan pewaris yang diakui?”

“Benar.”

“Lalu kenapa pintunya terbuka?”

Raja tidak menjawab.

Dari dalam ruangan, terdengar suara langkah kaki. Pelan. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya. Laras langsung mengangkat pedangnya.

“Yang Mulia...”

Raja mengangkat tangan.

“Jangan bergerak.”

Pintu batu itu kemudian terbuka sedikit lebih lebar. Dari balik kegelapan, muncul sosok seseorang. Seorang pria. Tubuhnya tinggi dan mengenakan pakaian kuno berwarna putih. Rambutnya panjang, wajahnya pucat, dan di tangannya terdapat sebuah keris yang sama persis dengan pusaka di ruang bawah tanah.

Raka langsung membeku dan Pria itu menatapnya. Kemudian ia tersenyum tipis.

“Pewaris yang tidak diakui...”

Raka Kemudian merasakan tanda di tangannya terbakar. Pria itu melanjutkan.

“Akhirnya kau kembali.”

Laras langsung mengarahkan pedangnya.

“Siapa kau?”

Pria itu tidak menjawab Laras.

Ia hanya menatap Raka.

“Apakah kau masih mengingatku?”

Raka menggeleng pelan.

“Tidak.”

Senyum pria itu menghilang.

“Kalau begitu... mereka benar-benar telah menyegel ingatanmu.”

Raja langsung melangkah maju.

“Cukup.”

Pria itu menoleh kepada Raja.

“Raja Arkapura.”

Nada suaranya terdengar dingin.

“Seribu tahun berlalu, tetapi kerajaan ini masih saja menyembunyikan kebenaran.”

Raka langsung menatap Raja.

“Yang Mulia...”

Raja tidak menjawabnya. Pria itu kemudian mengangkat kerisnya.

“Pewaris pertama telah kembali.”

Tanda keemasan di tangan Raka menyala semakin terang. Dan dari dalam ruang makam, terdengar suara banyak orang berbisik secara bersamaan.

“Pewaris...”

“Pewaris...”

“Pewaris...”

Raka langsung mundur satu langkah dan Pria itu menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan.

“Namun kali ini...”

Ia menggenggam kerisnya lebih erat.

“Jangan biarkan mereka membunuhmu untuk kedua kalinya.”

More Chapters