“Gerbangnya mulai terbuka.”
Raka langsung menatap Laras.
“Gerbang yang sebenarnya?”
Laras tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekati jendela dan melihat ke arah langit. Simbol raksasa itu semakin jelas terlihat di atas istana. Cahaya ungu perlahan menyebar seperti retakan di langit. Raka kemudian melihat ke arah wanita tua tadi.
“Ini maksudnya apa?”
Wanita itu masih berdiri dengan wajah pucat.
“Gerbang Nusantara...”
“Ya, aku sudah dengar namanya. Tapi sebenarnya gerbang itu apa?”
Wanita tua itu membuka mulutnya, tetapi tidak langsung menjawab. Laras kemudian menoleh.
“Raka, kita harus pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Tempat yang lebih aman.”
Raka langsung menunjuk buku yang masih terbuka di lantai.
“Tunggu dulu. Aku baru menemukan sesuatu.”
“Justru karena itu kita harus pergi.”
“Kenapa?”
Laras kemudian berjalan mendekati Raka dan mengambil buku tersebut.
“Karena buku ini seharusnya tidak pernah terbuka.”
“Kenapa?”
Laras tidak menjawab. Ia hanya menutup buku itu dengan cepat. Namun sebelum buku tersebut benar-benar tertutup, Raka sempat melihat satu tulisan kecil di bagian bawah halaman. Pewaris pertama bukanlah orang yang dipilih oleh gerbang. Raka pun langsung mengerutkan kening.
“Laras.”
“Apa lagi?”
“Di buku itu ada tulisan lain.”
Laras hanya terdiam.
“Pewaris pertama bukanlah orang yang dipilih oleh gerbang.”
Wajah Laras langsung berubah.
“Jangan membacanya.”
“Kenapa?”
“Karena kau belum mengerti maksudnya.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Laras langsung menggenggam buku itu lebih erat.
“Tidak sekarang.”
Raka langsung menghela napas.
“Ya ampun...”
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah pintu perpustakaan. Beberapa penjaga masuk dengan tergesa-gesa.
“Laras!”
Laras langsung menoleh.
“Apa yang terjadi?”
“Yang Mulia memerintahkan semua penjaga untuk mengosongkan bagian dalam istana.”
“Kenapa?”
“Simbol di langit semakin besar. Beberapa ruangan mulai mengalami gangguan.”
Raka langsung menatap ke arah jendela.
“Gangguan?”
Penjaga itu menelan ludah.
“Beberapa pintu yang sudah disegel selama ratusan tahun... mulai terbuka.”
Laras langsung terdiam dan Raka memperhatikan ekspresinya.
“Pintu apa?”
Laras kemudian menatap Raka.
“Raka, ikut denganku.”
“Ke mana?”
“Temui Raja.”
“Kenapa?”
“Karena sepertinya dia sudah tahu apa yang sedang terjadi.”
Raka pun menghela napas.
“Bukannya tadi aku baru saja dibawa ke kamar tamu?”
“Sekarang keadaannya berbeda.”
“Kenapa semua orang di sini selalu bilang begitu?”
Laras tidak menjawab. Ia langsung berjalan keluar dari perpustakaan dan Raka pun mengikutinya. Namun sebelum meninggalkan ruangan, ia menoleh sekali lagi kepada wanita tua tersebut.
“Bu.”
Wanita itu pun terkejut.
“Apakah kau tahu siapa pemuda di lukisan itu?”
Wanita tua itu menatap Raka cukup lama. Kemudian ia menjawab dengan suara pelan.
“Dia adalah orang yang membawa warisan itu ke dunia ini.”
Raka langsung berhenti.
“Warisan apa?”
Wanita tua itu langsung menunduk.
“Warisan yang seharusnya tidak pernah kembali.”
Tiba tiba Lorong istana yang sebelumnya tenang kini dipenuhi para penjaga. Beberapa orang berlari melewati Raka dan Laras. Dari kejauhan terdengar suara benda-benda pecah dan teriakan para pelayan dan Raka berjalan semakin cepat.
“Laras.”
“Apa?”
“Kalau gerbang itu terbuka, apa yang akan terjadi?”
“Belum tentu terbuka sepenuhnya.”
“Berarti ada kemungkinan?”
“Ya.”
“Dan kalau benar-benar terbuka?”
Laras hanya terdiam dan Raka langsung menatapnya.
“Laras!!.”
“Dunia ini akan berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Tidak seperti yang kau bayangkan.”
Raka langsung menghela napas.
“Jawabanmu selalu bikin tambah takut.”
Laras tidak menjawab. Namun kali ini, Raka bisa melihat bahwa Laras memang sedang khawatir.
Bukan berpura-pura. Bukan sekadar menyembunyikan sesuatu. Ia benar-benar takut.
Kemudian Mereka akhirnya sampai di depan aula utama. Pintu besar terbuka lebar. Raja saat ini masih berdiri di dekat tangga. Beberapa penjaga mengelilinginya. Begitu melihat Raka, Raja langsung menoleh.
“Kau sudah melihatnya.”
Raka berjalan mendekatinya.
“Gerbang itu?”
Raja hanya mengangguk.
“Ya.”
“Kenapa bisa terbuka?”
Raja kemudian menatap catatan di tangan Raka.
“Karena kau sudah tiba.”
Raka langsung mengerutkan kening.
“Jadi semua ini terjadi karena aku?”
“Bukan sepenuhnya.”
“Bukan sepenuhnya itu maksudnya apa?”
Kemudian Raja berjalan menuju bagian tengah aula.
“Gerbang itu sudah lama menunggu.”
“Menunggu siapa?”
Raja langsung berhenti.
“Pewaris.”
Raka langsung mengepalkan tangannya.
“Jangan panggil aku begitu kalau kalian sendiri belum mau menjelaskan apa-apa.”
Raja kemudian menatapnya dengan tenang.
“Kau ingin jawaban?”
“Ya.”
“Kalau begitu ikut aku.”
Laras langsung menoleh.
“Yang Mulia, apakah itu benar-benar perlu?”
Raja pun mengangguk.
“Sudah waktunya.”
Raka langsung melihat Laras.
“Waktunya untuk apa?”
Laras tidak menjawab. Raja kemudian berjalan menuju sebuah lorong di belakang aula. Lorong itu terlihat jauh lebih gelap dibandingkan bagian istana lainnya. Dua penjaga berdiri di depan pintu batu. Begitu Raja mendekat, mereka langsung berlutut.
“Yang Mulia.”
“Buka pintunya.”
Kedua penjaga saling berpandangan.
“Yang Mulia... pintu itu sudah disegel sejak—”
“Buka!!”
Nada suara Raja membuat keduanya langsung terdiam. Mereka kemudian berdiri di kedua sisi pintu dan menempelkan tangan pada simbol yang terukir di permukaannya. Kemudian Cahaya biru muncul. Namun pintu itu tidak bergerak. Raja kemudian menatap Raka.
“Dekati pintunya.”
Raka langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena pintu itu tidak akan terbuka untuk siapa pun selain darah Nusantara.”
Raka langsung menatap Laras dan Laras hanya mengangguk. Raka pun berjalan mendekati pintu tersebut. Semakin dekat ia melangkah, semakin panas catatan kakeknya terasa di dalam saku.
“Jangan-jangan...”
Raka mengeluarkan catatan itu. Cahaya keemasan langsung muncul dari sela-sela halaman. Simbol pada pintu batu mulai menyala.
Kemudian terdengar suara berat.
KRAAAK!
Pintu tersebut perlahan terbuka. Udara dingin langsung keluar dari dalam ruangan. Raka merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Tempat apa ini?”
Raja tidak menjawabnya. Ia hanya berjalan masuk. Disusul Laras Yang mengikuti dari belakang, sementara Raka berjalan di tengah mereka. Ruangan itu berbentuk seperti ruang bawah tanah yang sangat luas. Dindingnya dipenuhi ukiran kuno. Beberapa obor menyala dengan api biru, meskipun tidak ada seorang pun yang menyalakannya. Di tengah ruangan terdapat sebuah altar batu. Dan di atas altar itu...
terdapat sebuah keris tua. Keris tersebut terlihat sederhana, tetapi seluruh permukaannya dipenuhi ukiran yang mirip dengan simbol pada catatan Raka dan Raka langsung berhenti.
“Ini...”
Raja kemudian menatap keris itu.
“Pusaka yang tertidur.”
Raka perlahan mendekat.
“Sudah berapa lama keris itu ada di sini?”
“Seribu tahun.”
Raka menatapnya dengan napas tertahan.
“Seribu tahun?”
Raja mengangguk.
“Sejak perang terakhir.”
Raka melihat keris tersebut lebih dekat. Entah kenapa, ia merasa pernah melihatnya. Bukan di istana. Bukan di buku. Tetapi dalam mimpi yang samar samar. Mimpinya tentang Seorang pria berdiri di depan candi. Di tangannya terdapat keris yang sama. Dan di belakangnya... terdapat langit merah yang dipenuhi api.
Kemudian Raka langsung memegang kepalanya.
“Ah...”
Laras segera mendekat.
“Raka?”
“Aku... pernah melihat ini.”
Raja langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
“Di mana?”
“Tidak tahu.”
Raka kemudian menutup matanya.
“Aku cuma... seperti pernah berada di tempat ini.”
Tiba-tiba keris di atas altar bergetar.
KREK...
Laras langsung mencabut pedangnya.
“Yang Mulia.”
Raja mengangkat tangannya.
“Jangan menyerang.”
Keris itu kembali bergetar. Cahaya keemasan mulai muncul dari bilahnya. Dan Raka langsung menatapnya.
“Kenapa keris itu bergerak?”
Raja tidak menjawab. Ia justru menatap catatan di tangan Raka.
“Dekati pusaka itu.”
Raka langsung mundur.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena setiap kali kalian menyuruhku mendekati sesuatu, pasti ada masalah.”
Laras yang mendengar itu hampir tersenyum, tetapi segera menahannya. Raja hanya diam beberapa saat. Kemudian ia berkata:
“Kalau kau tidak mendekatinya, pusaka itu akan terus memanggilmu.”
“Memanggilku?”
Raka kemudian menatap keris tersebut. Benar saja. Keris itu kembali bergetar. Kali ini lebih kuat.
Cahaya keemasan menyebar ke seluruh ruangan. Catatan Raka terbuka sendiri. Halaman kosongnya mulai dipenuhi tulisan. Raka membaca kalimat yang muncul.
Pusaka akan bangkit ketika pewaris mengingat siapa dirinya.
Raka langsung membeku.
“Siapa diriku...?”
Tiba-tiba suara perempuan itu kembali terdengar di kepalanya.
“Raka...”
Raka langsung menoleh ke segala arah.
“Siapa kamu?”
Suara itu terdengar lebih dekat dari sebelumnya.
“Jangan sentuh keris itu.”
Raka langsung menatap altar. Namun Raja sudah berjalan mendekati pusaka tersebut.
“Sentuhlah.”
Laras langsung menoleh.
“Yang Mulia!”
Raja tidak memedulikannya.
“Pusaka itu sudah menunggu selama seribu tahun.”
Raka pun menatap keris tersebut. Di satu sisi, suara perempuan itu memperingatkannya. Di sisi lain, seluruh orang di ruangan ini seolah menunggu dirinya melakukan sesuatu.
Dan Raka langsung menggenggam catatan itu.
“Kalau aku menyentuhnya... apa yang akan terjadi?”
Raja menjawab dengan tenang.
“Tidak ada yang tahu.”
“Jawaban yang sangat meyakinkan.”
“Namun hanya kau yang bisa membangunkannya.”
Raka kemudian menghela napas panjang.
“Kalau aku mati, jangan salahkan aku.”
Ia kemudian melangkah mendekati altar. Laras langsung berdiri di sampingnya.
“Raka, jangan lakukan sesuatu yang tidak kau pahami.”
Raka pun menoleh.
“Bukannya kalian semua juga melakukan hal yang sama kepadaku?”
Laras hanya terdiam.Kemudian
Raka mengulurkan tangannya. Jarinya hampir menyentuh gagang keris. Namun sebelum tangannya benar-benar menyentuhnya...
TIBA-TIBA!
Seluruh ruangan dipenuhi cahaya putih. Raka langsung menutup matanya. Dari dalam cahaya itu, terdengar suara seorang pria. Suara yang sama seperti sosok berjubah batik yang pernah muncul dari catatannya.
“Belum waktunya.”
Raka langsung menarik tangannya. Cahaya putih pun menghilang. Keris tersebut kembali diam. Raja langsung menatap Raka dengan wajah serius.
“Dia...”
Laras juga terlihat terkejut.
“Yang Mulia?”
Raja tidak menjawab. Raka kemudian menatap catatan di tangannya. Satu kalimat baru muncul di halaman tersebut.
Jangan percaya kepada raja.
Raka langsung mengangkat wajahnya. Dan Raja sedang menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa Raja bukan hanya mengetahui tentang dirinya, tetapi juga mengetahui sesuatu tentang suara pria itu.
“Yang Mulia...”
Rakapun menggenggam catatan tersebut.
“Siapa sebenarnya yang selama ini berbicara kepadaku?”
Raja tidak menjawab. Namun dari balik ruangan yang gelap... terdengar suara keris tua bergetar kembali.
KREK...
Lalu suara perempuan itu berbisik di kepala Raka.
“Dia bukan orang yang membawamu ke dunia ini.”
Raka hanya terdiam.
“Lalu siapa?”
Suara itu menjawab dengan sangat pelan.
“Akulah yang membawamu kembali.”
