Situasi di atas Thousand Sunny benar-benar berada di titik nadir antara tragedi dan komedi yang menghancurkan syaraf. Saitama (dalam tubuh Sanji yang lincah namun botak) terus saja mencoba menggunakan kekuatan "Serious Punch" namun malah menghantam tiang kapal, sementara Zoro yang elastis terus terbelit di kakinya sendiri.
"CUKUP!" raung Nami (yang kini memiliki akurasi Usopp). Ia menatap ke arah Saitama dengan tatapan membunuh. "Sejak orang ini datang, kapal kita hancur, gravitasi terbalik, dan sekarang jati diri kita hilang! Dia terlalu berbahaya untuk berada di kapal ini!"
"Dia benar," sahut Zoro (dalam tubuh Luffy). "Kekuatannya tidak memiliki logika. Jika kita terus seperti ini, kita akan mati karena kecerobohannya sebelum monster itu menghapus kita."
Saitama, dengan wajah Sanji yang terlihat melas, mencoba membela diri. "Hei, aku kan sudah bilang maaf. Aku hanya ingin membantu..." Namun, saat ia melambaikan tangan, tekanan anginnya justru menerbangkan piring-piring di dapur.
Melihat keretakan ini, Sistem Biru yang licik melihat peluang emas. Sebuah layar raksasa muncul kembali di tengah dek.
[NOTIFIKASI SISTEM: KRISIS KEPERCAYAAN TERDETEKSI.]
[PENAWARAN BARU UNTUK USER KAI: "THE SAVIOR OF THE STRONGEST".]
[HADIAH: SEBUAH ISTANA ABADI DI DUNIA ASALMU, LENGKAP DENGAN PASUKAN PELAYAN DAN KEKAYAAN YANG TIDAK AKAN PERNAH HABIS HINGGA 100 TURUNAN!]
Kai menelan ludah. Angka di layar itu terus bertambah, menjanjikan kehidupan yang selama ini ia tuliskan hanya untuk karakter lain.
[SYARAT: KAI HARUS MENULISKAN NASKAH YANG MEMBUAT KRU TOPI JERAMI MENERIMA SAITAMA KEMBALI, NAMUN SEBAGAI GANTINYA, KAI HARUS MENGHAPUS 'INGATAN TENTANG RUMAH' DARI SELURUH KRU. MEREKA AKAN MENJADI BUDAK PERANGMU SELAMANYA!]
"Penulis! Jangan dengarkan!" teriak batin kai dan kai berpaling melihat Tianyang (yang masih dipaksa memainkan biola Brook). "Sistem itu ingin kau menjadi tiran!"
Ritual Pembalikan Jiwa
Kai berbalik dan kini melihat ke arah Saitama yang dipojokkan oleh kru, lalu melihat ke arah layar sistem. Ia tahu bahwa pertukaran peran ini adalah kunci untuk menghancurkan mereka dari dalam. Jika mereka tetap dalam tubuh yang salah selama 24 jam, jiwa mereka akan melebur dan mereka akan menjadi monster tanpa identitas.
"Aku tidak butuh istanamu, Sistem!" Kai berteriak, suaranya menggelegar. "Aku akan melakukan cara paksa!"
Kai menyadari bahwa untuk membatalkan sihir sistem, ia harus menciptakan sebuah "Resonansi Trauma". Jiwa akan kembali ke tubuh aslinya jika ia merasakan rasa sakit atau ingatan yang paling mendalam dari tubuh tersebut.
"Semuanya! Serang tubuh asli kalian!" perintah Kai.
"Apa maksudmu?!" tanya Sanji (dalam tubuh Saitama).
"Saitama! Pukul tubuhmu sendiri yang sekarang ditempati Sanji! Sanji, tendang tubuhmu sendiri! Kalian harus memberikan 'Kejutan Eksistensi' agar jiwa kalian tertolak keluar!"
Ini adalah adegan paling gila yang pernah ada.
Zoro (dalam tubuh Luffy) harus menggunakan tinju karetnya untuk menghantam tubuh aslinya yang sedang dipegang oleh sistem.
Luffy (dalam tubuh Zoro) harus menebas tubuh karetnya sendiri.
"Ini terasa sangat salah!" teriak Luffy sambil mengayunkan pedang Zoro ke arah perut karetnya sendiri.
BOOM! CLANG! BASH!
Dek kapal meledak dalam benturan energi. Saitama (dalam tubuh Sanji) terpaksa memberikan satu pukulan "Serious" ke arah tubuh aslinya yang sedang melayang di udara karena kendali sistem.
"Maafkan aku, tubuhku yang berharga!" Saitama memukul.
KRAAAAKKKKK!
Gelombang kejut yang dihasilkan membuat realitas retak. Cahaya biru sistem bergetar hebat. Di tengah ledakan cahaya itu, Kai menuliskan satu kata dengan darahnya di udara: [RESTORE: IDENTITY!]
Cahaya putih membutakan menelan Thousand Sunny. Saat cahaya meredup, suara nafas terengah-engah terdengar.
"Hah... tanganku... kembali keras," bisik Zoro, membelai pedangnya dengan penuh cinta.
"Daging! Aku merasa lapar sebagai Luffy lagi!" teriak Luffy, menarik pipinya dengan gembira.
Saitama kembali ke baju jubah kuningnya, kepalanya kembali mengkilap sempurna. "Syukurlah... rambut pirang melengkung itu benar-benar mengganggu penglihatanku."
Namun, hadiah sistem tadi belum hilang. Layar emas itu masih di sana, menunggu jawaban Kai. Karena Kai menolak syarat sistem untuk menghapus ingatan kru, sistem memberikan Penalti Instan.
[PENALTI DIAKTIFKAN: KARENA USER KAI MENOLAK KEKAYAAN DAN MEMILIH TEMAN, MAKA SAITAMA AKAN DIBUAT 'Lapar Tak Terkendali'.]
Tiba-tiba, perut Saitama berbunyi seperti suara gempa bumi tingkat tinggi. Matanya berubah menjadi merah terang.
"Daging... berikan aku... semua daging di kapal ini..." suara Saitama menjadi sangat berat. Aura di sekelilingnya menjadi begitu hitam hingga air laut di bawah kapal mendidih.
"Oi, Botak! Kendalikan dirimu!" teriak Sanji, namun ia terpental hanya karena Saitama menghembuskan nafas.
Saitama yang lapar adalah ancaman yang lebih besar daripada The Void God. Ia mulai melihat ke arah Chopper dengan pandangan lapar yang menakutkan.
"DARURAT! DIA MAU MEMAKAN CHOPPER!" teriak Usopp.
" karena lapar!
Di tengah keriuhan pesta daging, Kai merogoh saku jubahnya yang sudah robek. Jantungnya berdegup kencang saat jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin, keras, dan bergetar. Ia menarik keluar sebuah koin emas murni dengan ukiran mata satu di tengahnya.
"Layar sistem tadi bilang aku menukar semua untuk makanan... tapi kenapa ini masih ada?" bisik Kai.
Tiba-tiba, koin itu mengeluarkan suara berdenting yang hanya bisa didengar oleh Kai.
[NOTIFIKASI KOIN KEBERUNTUNGAN: "THE AUTHOR'S LAST CHANCE".]
[FUNGSI: KOIN INI BUKAN UNTUK KEKAYAAN FISIK, TAPI UNTUK 'MEMBELI' SATU KEINGINAN DARI REALITAS. KAI, KAU BISA MENGGUNAKAN INI UNTUK MENJADI KAYA DI DUNIAMU, ATAU... UNTUK MEMPERBAIKI TAKDIR SESEORANG DI SINI.]
Kai menatap koin itu, lalu melihat ke arah Qin Tianyang yang masih menatap ufuk timur dengan wajah penuh kerinduan pada ibunya. Kai tahu, koin ini adalah tiketnya untuk menjadi orang terkaya di dunia aslinya, namun ia juga tahu ada harga yang harus dibayar jika ia egois.
Sementara Kai bergelut dengan nuraninya, Saitama mendadak berdiri dengan wajah yang jauh lebih panik daripada saat menghadapi monster tingkat God.
"Oi, Penulis! Botak berbaju koki! Dan kau, anak karet!" Saitama berteriak sambil menepuk-nepuk kepalanya. "Kita harus segera mengakhiri ini! Aku baru ingat sesuatu yang sangat krusial!"
Luffy yang sedang mengunyah tulang naga menoleh bingung. "Eh? Apa ada monster yang lebih kuat lagi, Paman?"
"Bukan!" Saitama memegang pundak Luffy dengan sangat kencang hingga Luffy hampir gepeng. "Besok pagi adalah jadwal membuang sampah plastik di apartemenku! Jika aku melewatkannya, aku harus menunggu satu minggu lagi, dan sampah-sampah itu akan mulai bau! Ibu pemilik apartemen akan mengomeli ku sampai telingaku copot!"
Sanji tersedak asap rokoknya. "Kau... kau ingin pulang dari dimensi ini hanya karena urusan sampah?!"
"Kau tidak mengerti, Koki!" Saitama tampak sangat frustrasi. "Di duniaku, monster bisa kuhancurkan dengan satu pukulan, tapi peraturan lingkungan adalah hukum mutlak yang tidak bisa kulawan!"
Zoro menggelengkan kepala sambil meminum sisa birnya. "Kau adalah orang terkuat yang paling menyedihkan yang pernah kutemui, Botak."
"Hei, Penulis!" Saitama menatap Kai dengan tatapan memohon yang sangat aneh. "Kau yang membawaku ke sini lewat ceritamu, kan? Cepat tuliskan cara aku pulang! Aku tidak mau didenda oleh asosiasi apartemen!"
Kai tersenyum getir, ia mengangkat Koin Keberuntungan itu. "Saitama, koin ini bisa menciptakan portal pulang. Tapi energinya hanya cukup untuk satu orang atau satu kejadian besar. Jika aku mengirimmu pulang, aku tidak bisa menggunakan koin ini untuk mencari ibu Tianyang."
Tianyang yang mendengar itu langsung mendekat. "Kai... jangan gunakan untukku. Kirim saja Saitama pulang. Keberadaannya di sini justru membuat realitas ini semakin tidak stabil. Dia terlalu kuat untuk dunia One Piece."
"Tidak," ucap Kai dengan tegas. "Aku punya rencana lain. Saitama, kau ingin pulang, kan? Dan kau ingin membuang sampah?"
"Tentu saja! Itu prioritas utamaku sekarang!" jawab Saitama mantap.
"Luffy! Tianyang!" Kai memanggil kedua pahlawan itu. "Bantu aku menyalurkan energi kalian ke koin ini. Kita tidak akan 'membeli' portal, tapi kita akan 'memaksa' sistem membuka jalan pulang bagi Saitama sambil menarik koordinat ibu Tianyang ke dimensi ini!"
[SISTEM: PERINGATAN! TINDAKAN INI ADALAH PELANGGARAN HAK CIPTA DIMENSI! USER KAI AKAN KEHILANGAN SELURUH HAK KEKAYAAN DI DUNIA ASALNYA!]
"Ambil saja semua uangnya!" teriak Kai. "Aku lebih suka melihat akhir yang bahagia daripada dompet yang penuh!"
Kai melemparkan koin itu ke udara. Luffy menghantam koin itu dengan tinju Haki-nya, dan Tianyang menebasnya dengan energi Void.
CRAAAAKKKKK!
Sebuah lubang hitam-emas terbuka di atas dek. Di balik lubang itu, terlihat pemandangan apartemen kumuh Saitama di Z-City dan sebuah truk sampah yang baru saja lewat.
"ITU DIA! TRUKNYA!" Saitama bersiap melompat. "Terima kasih atas makanannya, Koki! Dan kau, Anak Karet, jadilah raja apa pun itu! Penulis, carilah pekerjaan yang lebih stabil daripada menulis takdir orang lain!"
Saitama melompat ke dalam portal dengan kecepatan cahaya. Namun, saat ia masuk, ia menendang sebuah "kotak hitam" sistem yang mencoba menutup portal tersebut.
"Jangan tutup dulu! Aku masih punya satu sampah lagi!" teriak Saitama sambil melemparkan sisa tulang daging dari kapal ke arah sistem, yang secara tidak sengaja justru menghancurkan pusat kendali sistem terakhir.
Saat Saitama menghilang ke dunianya, portal itu tidak langsung menutup. Dari dalam sisa energi portal tersebut, sesosok wanita berpakaian putih dengan kecapi di tangannya perlahan melayang turun.
"Ibu...?" Tianyang gemetar.
Kali ini bukan kloning. Tidak ada layar biru. Tidak ada aura jahat. Hanya aroma bunga melati yang sama dengan memori Tianyang. Wanita itu membuka matanya dan tersenyum lembut. "Tianyang... kau sudah tumbuh menjadi pria yang sangat hebat."
Tianyang langsung berlari dan memeluk ibunya, tangisnya pecah setelah ribuan tahun menahan beban sebagai Void God.
Luffy tertawa lebar melihat pemandangan itu. "Wahahahaha! Akhirnya semuanya berkumpul! Paman Penulis, kau hebat!"
Kai terduduk lemas di dek. Ia kini benar-benar miskin. Tidak ada istana, tidak ada koin emas, bahkan pena energinya kini hanya menjadi pena kayu biasa. Namun, saat ia melihat Tianyang memeluk ibunya dan kru Topi Jerami bersulang untuk kemenangan mereka, Kai merasa ia baru saja menulis bab terbaik dalam hidupnya.
Sekarang sistem benar-benar hancur karena "sampah" Saitama. Bagaimana Kai dan Tianyang hidup di dunia One Piece tanpa kekuatan sistem?
Hadiah Tersembunyi Ternyata koin itu meninggalkan satu efek permanen pada Kai: Apa pun yang ia tulis dengan pena kayu itu di dunia One Piece akan menjadi kenyataan.
Musuh Baru Tanpa sistem yang mengawasi, entitas purba Grand Line yang selama ini bersembunyi mulai terbangun karena merasakan hilangnya kekuatan luar.
