Angin sore menyapu jalanan kota beastkin yang suram.
Kael melangkah cepat menuju arah tenggara kota, matanya sesekali menatap sekitar sambil mengingat penjelasan Brom di bar sebelumnya. Kota itu masih terasa salah—terlalu sepi untuk ukuran kota kerajaan, terlalu tegang untuk disebut tempat tinggal yang damai.
Namun baru beberapa saat ia mempercepat langkah—
indra Kael menangkap sesuatu.
Sebuah tekanan energi.
Besar. Cepat. Dan datang lurus ke arahnya.
Dalam sepersekian detik, Kael menghentikan langkah dan memutar tubuhnya ke samping.
WHUSS—!
Sebuah serangan berat menyapu tempat ia berdiri barusan dan menghantam tanah batu, meninggalkan retakan panjang di jalan.
Kael mengernyit.
Wajahnya langsung berubah kesal.
Kael :
"Sial…"
"Kenapa tiba-tiba kau menyerangku?"
Dari arah depan, seorang pria beastkin bertubuh tinggi dan tegap melangkah keluar dari bayangan bangunan. Tubuhnya penuh wibawa, bahunya lebar, rambutnya gelap keperakan, dan dari matanya terpancar tekanan seorang pemimpin yang sudah terbiasa memerintah dan membunuh bila perlu.
Di belakangnya berdiri beberapa sosok lain—jelas bukan pengawal biasa. Gerakan mereka rapi, napas mereka terjaga, dan aura mereka menunjukkan bahwa mereka adalah pasukan terlatih.
Pria beastkin itu tidak langsung menjawab Kael.
Ia justru menoleh sedikit kepada salah satu bawahannya.
Pria Beastkin :
"Apakah dia orangnya?"
Salah satu bawahan yang berdiri paling depan langsung memberi hormat singkat.
Pasukan Elit Beastkin :
"Benar, Yang Mulia."
"Dialah orang asing yang baru-baru ini memasuki kota."
Kael mendengar itu dan menghela napas pendek.
Ia sudah bisa menebak arah pembicaraannya.
Kael :
"Maaf jika aku menerobos masuk."
"Tapi tujuanku bukan untuk membuat masalah."
"Aku sedang menyelidiki sesuatu dan—"
Belum sempat Kael menyelesaikan kalimatnya, pria beastkin itu mendadak mengumpulkan kekuatan di tangannya.
Energi liar terkumpul di telapak tangannya seperti cakar raksasa tak kasatmata.
Lalu—
ia menerjang.
Kael sontak melompat mundur.
Kael :
"Kau serius?!"
Namun ternyata bukan hanya sang pria beastkin yang menyerang.
Begitu serangan pertama gagal, para pasukan elit di belakangnya ikut bergerak serempak.
Dalam sekejap, Kael dikepung.
Satu lawan sepuluh.
Serangan datang dari kiri, kanan, depan, belakang—semuanya terlatih, tidak asal menyerbu. Mereka memotong jalur mundur, memaksa Kael terus bergerak, terus membaca arah, terus menghindar.
Kael yang awalnya masih mencoba menahan diri mulai kehilangan kesabaran.
Sebuah tebasan lewat sangat dekat di depan wajahnya.
Sebuah tendangan nyaris menghantam rusuknya.
Dua tombak menyilang untuk mengunci geraknya.
Kael menepis, memutar tubuh, mundur lagi.
Kael :
"Apa yang kalian lakukan?!"
"Dengarkan penjelasanku dulu!"
Namun pria beastkin itu justru melompat dari atas dan menghantamkan serangan berikutnya.
Pria Beastkin :
"Tak ada yang perlu dibahas dengan penjahat!"
Kael langsung berhenti bergerak sesaat.
Matanya menyipit.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, wajahnya benar-benar menunjukkan emosi.
Bukan panik.
Bukan heran.
Tapi jengkel.
Ia menghela napas pelan.
Kael :
"Kalian terlalu menganggap tinggi diri kalian sendiri…"
"…sampai bahkan tidak melihat siapa lawan kalian."
Suara Kael turun.
Sangat tenang.
Terlalu tenang.
Dan di saat itu, aura lain kembali muncul dari seluruh tubuhnya—lebih tajam, lebih berat, lebih "asing" dibanding sebelumnya.
Sekejap kemudian—
pergerakan Kael berubah total.
Ia menghilang dari titik serangannya.
Bukan hanya cepat.
Tapi terlalu cepat untuk diikuti mata.
Para pasukan elit beastkin kerajaan langsung panik sesaat.
Bahkan pria beastkin tadi ikut terkejut.
Pria Beastkin :
"Jangan takut!"
"Itu hanya ilusi!"
Namun kalimat itu langsung terpatahkan.
Karena saat pria itu selesai bicara—
Kael sudah berada di belakangnya.
Dan bukan hanya di belakang pria itu.
Entah bagaimana, Kael seperti hadir di belakang masing-masing dari mereka secara bersamaan dalam rentang gerak yang nyaris mustahil diikuti.
Di tangan Kael telah terbentuk pisau-pisau energi ramping.
Ujungnya menempel di leher mereka.
Setitik darah menetes.
Satu.
Dua.
Tiga.
Hingga semuanya merasakan hal yang sama.
Tidak dalam.
Tapi cukup untuk membuktikan satu hal—
itu bukan ilusi.
Kael berbicara pelan, nyaris seperti bisikan dingin yang merayap di telinga.
Kael :
"Jangan gegabah."
"Ini bukanlah ilusi."
"Sekarang…"
"…lebih baik kau dengarkan penjelasanku."
Keringat dingin langsung muncul di wajah beberapa pasukan elit. Mereka tidak berani bergerak.
Sang pria beastkin pun terdiam beberapa detik, lalu akhirnya mengangkat satu tangan pelan tanda menyerah.
Pria Beastkin :
"…Baiklah."
"Aku akan mendengarkannya."
Mendengar itu, Kael menurunkan energinya.
Semua sosok dan pisau energi di belakang mereka hilang satu persatu.
Ia melangkah menjauh beberapa langkah, lalu menghembuskan napas panjang.
Kael :
"Fiuh…"
"Bagus. Akhirnya kau memilih mendengar."
Para pasukan elit langsung berkumpul kembali di belakang pemimpin mereka, tetap siaga, tetap tegang, menunggu perintah berikutnya.
Sang pria beastkin menatap Kael lebih serius sekarang.
Tidak lagi seperti menatap penjahat biasa.
Melainkan ancaman yang benar-benar bisa memusnahkan mereka bila mau.
Ia menundukkan kepala sedikit.
Pria Beastkin :
"Maaf atas serangan tadi."
"Siapa sebenarnya dirimu?"
Kael mengangkat bahu ringan, seperti pertanyaan itu tidak terlalu penting.
Kael :
"Aku bukan siapa-siapa."
"Hanya pria ras campuran elf dan demon."
Sang pria beastkin mengernyit. Jelas jawaban itu tidak cukup, tapi ia tidak bisa memaksa.
Akhirnya ia memperkenalkan diri.
Pria Beastkin :
"Aku Rhovan Greyclaw."
"Raja para beastkin."
Beberapa pasukan elit di belakangnya langsung menegakkan tubuh lebih tegap.
Kael yang mendengar itu terdiam sesaat, lalu tertawa pendek dan mengusap tengkuknya.
Kael :
"Begitu rupanya…"
"Kalau begitu aku juga harus meminta maaf."
"Aku menerobos masuk ke kota kerajaanmu tanpa izin."
Rhovan memperhatikan Kael lekat-lekat sebelum akhirnya bertanya langsung ke inti persoalan.
Rhovan :
"Lalu apa tujuanmu datang ke kota beastkin?"
Kali ini Kael tidak bercanda.
Tatapannya menjadi serius.
Kael :
"Aku datang atas permintaan salah satu Guardian Elyndor."
"Aku diminta membantu menyelidiki dan menyelesaikan masalah sebuah organisasi…"
"…yang memiliki kekuatan energi anomali."
Begitu kalimat itu keluar, seluruh pasukan elit di belakang Rhovan langsung saling pandang.
Rhovan sendiri jelas terkejut.
Wajahnya yang tadi keras seketika menunjukkan perubahan. Bukan karena takut pada Kael lagi—tapi karena untuk pertama kalinya ada orang luar yang datang dengan tujuan yang sama dengan yang sedang menghancurkan negerinya.
Rhovan :
"Guardian… mengirim bantuan?"
"…Entah dari mana?"
Kael hanya menatapnya datar.
Kael :
"Aku tidak datang untuk bermain."
"Kalau kau ingin percaya, percaya."
"Kalau tidak, aku tetap akan bergerak."
Rhovan terdiam cukup lama.
Lalu akhirnya ia mengangguk.
Rhovan :
"Baik."
"Kalau begitu aku akan membantumu."
"Aku tidak bisa membiarkan orang asing menyelesaikan masalah kotaku sendirian."
Kael tersenyum tipis.
Kael :
"Silakan."
"Selama kalian tidak menghalangiku…"
"…dan bisa menjaga diri kalian masing-masing."
Kalimat itu langsung membuat beberapa pasukan elit beastkin kerajaan tersulut.
Salah satu dari mereka bahkan maju setengah langkah, tangan sudah menggenggam senjata lebih erat.
Namun Rhovan langsung mengangkat tangan dan menahan mereka.
Rhovan :
"Cukup."
"Apa kalian belum belajar dari kejadian barusan?"
"Kalau dia benar-benar musuh…"
"…yang tersisa dari kita sekarang mungkin hanya mayat."
Ucapan itu pahit.
Sangat pahit.
Para pasukan elit hanya bisa mendecakkan lidah dan menundukkan wajah. Tidak rela, tapi tidak bisa membantah kenyataan.
Kael melihat semua itu dan menghela napas pendek.
Kael (dalam hati):
Maaf saja.
Bukan aku sombong.
Tapi kalian harus melihat kenyataan ini sekarang… agar nanti tidak meremehkan lawan yang salah.
Setelah itu Kael mengambil ancang-ancang dan kembali melanjutkan langkahnya menuju arah tenggara.
Rhovan yang melihat itu langsung ikut bergerak, diikuti seluruh pasukan elit di belakangnya.
Di pertengahan jalan, Rhovan mempercepat langkah sampai sejajar dengan Kael.
Napasnya sedikit lebih berat dibanding Kael, tapi ia tetap bicara tegas.
Rhovan :
"Apa rencanamu untuk menyelesaikan masalah ini?"
Kael menjawab tanpa menoleh.
Kael :
"Pertama, aku akan menuju arah tenggara kota."
"Aku ingin menyelidiki tempat seorang anak menghilang."
Rhovan berpikir sejenak, lalu wajahnya berubah.
Rhovan :
"Anak…?"
"Yang kau maksud… putra Brom?"
Kael baru kali ini menoleh.
Kael :
"Benar."
"Itulah yang kumaksud."
"Bagaimana kau tahu tentang Brom?"
Rhovan menghela napas pendek.
Nada suaranya berubah lebih rendah.
Lebih pribadi.
Rhovan :
"Brom adalah teman masa kecilku."
"Kami dekat seperti saudara."
"Saat aku mendengar anaknya menghilang… aku mengerahkan seluruh pasukan untuk mencarinya."
"Tapi aku gagal."
"Dan sejak saat itu…"
"…aku menjadi takut bertemu dengannya."
"Karena ketidakmampuanku sebagai raja."
Kael mendengar itu sambil terus berjalan.
Lalu akhirnya tersenyum kecil.
Bukan senyum mengejek.
Tapi senyum yang untuk pertama kalinya terlihat sedikit hangat.
Kael :
"Jangan terlalu cepat putus asa, Raja Beastkin."
"Selama masih ada secercah kecil cahaya…"
"…keajaiban selalu punya tempat untuk datang."
Rhovan menatap Kael sebentar.
Entah kenapa, kalimat itu terdengar sederhana—tapi membuat dadanya yang sesak sedikit lebih longgar.
Ia pun tersenyum tipis.
Rhovan :
"Kuharap kau benar."
"Dan kuharap… kau benar-benar bisa membantu kota kami."
"Termasuk menemukan anak dari temanku."
Kael tidak menjawab lagi.
Ia hanya menatap lurus ke depan.
Ke arah tenggara kota.
Ke arah tempat jejak pertama yang harus ia bongkar—
sebelum kota beastkin benar-benar kehilangan seluruh harapannya.
