Danau kecil itu kembali tenang.
Angin yang tadi hanya berputar lembut kini membawa aroma bunga liar dari tepian hutan, membuat permukaan air berkilau tipis tertimpa cahaya senja yang mulai memudar.
Setelah perasaannya sedikit lebih stabil, Sylvhia kembali duduk dengan lebih tenang di tepi danau. Bola-bola energi kecil yang tadi mengelilinginya masih melayang di dekat sana, seperti enggan pergi terlalu jauh dari "ibu" mereka.
Di sampingnya, Gaelthra duduk dengan santai, satu kaki ditekuk, matanya menatap permukaan danau yang memantulkan langit.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Lalu Sylvhia menoleh sedikit.
Sylvhia:
"Bibi…"
Gaelthra melirik.
Gaelthra:
"Hmm?"
Sylvhia menggigit bibir pelan, lalu kembali pada pertanyaan yang sedari tadi belum benar-benar terjawab.
Sylvhia:
"Pertanyaanku tadi… masih belum Bibi jawab."
"Kemana Bibi selama ini?"
"Kenapa Bibi muncul tiba-tiba setelah bertahun-tahun menghilang…?"
Mendengar itu, Gaelthra terdiam sesaat.
Tatapannya tetap ke depan, tapi pikirannya jelas bergerak jauh lebih cepat.
Gaelthra (dalam hati):
Apa yang harus kukatakan…?
Tidak mungkin aku mengatakan bahwa selama ini aku diberi tugas untuk mencari sisa-sisa peninggalan ibumu…
Dan tidak mungkin juga aku membuka hal yang ingin Rei sembunyikan…
Sylvhia yang melihat Bibinya malah diam menjadi semakin curiga.
Ia menatap sisi wajah Gaelthra beberapa saat.
Sylvhia (dalam hati):
Kenapa semua orang seperti ini…?
Kenapa Bibi… Aerisyl… bahkan Rei… seperti menyembunyikan sesuatu?
Kenapa semua orang seperti tidak ingin aku terlibat dengan apa pun…?
Karena tidak tahan dengan keheningan itu, Sylvhia menepuk pelan pundak Gaelthra.
Sylvhia:
"Bibi."
"Kenapa diam saja?"
"Jadi… kemana Bibi selama ini tanpa kabar sama sekali?"
Gaelthra tersadar dari pikirannya, lalu menghela napas pelan dan memilih jawaban yang paling aman.
Gaelthra:
"Aku hanya menjaga ketenangan Elyndor dari bayangan."
"Dan… menemukan beberapa anomali."
Sylvhia mendengarnya, tapi raut wajahnya tidak langsung percaya.
Jawaban itu terdengar benar—namun terlalu tipis. Terlalu rapi. Terlalu seperti sesuatu yang dipilih agar tidak membuka lebih banyak.
Namun, Sylvhia tahu ia tidak akan mendapat jawaban lain bila terus memaksa.
Jadi, untuk sementara, ia mengabaikannya.
Gaelthra yang menyadari Sylvhia jelas tidak puas dengan jawabannya, segera mengalihkan pembicaraan.
Ia menoleh dengan senyum ringan.
Gaelthra:
"Nak…"
"Apa kau masih ingat kisah yang dulu pernah kuceritakan?"
Sylvhia seketika menoleh, lalu kembali menatap danau.
Suaranya melembut.
Sylvhia:
"Aku selalu ingat."
"Dan aku tidak pernah bosan mendengarnya."
Gaelthra tersenyum tipis.
Gaelthra:
"Syukurlah."
"Karena dahulu… ibumulah Guardian terkuat di Elyndor."
"Dan ia rela mengorbankan nyawanya… hanya untuk memberimu kehidupan."
Mendengar itu, wajah Sylvhia berubah.
Matanya langsung berkaca-kaca.
Beberapa detik kemudian, air mata jatuh lagi—bukan karena Rei kali ini, melainkan luka yang jauh lebih tua.
Sylvhia:
"Andai saja…"
"Andai saja ibu tidak melihatku yang lemah…"
"Mungkin ibu masih hidup saat ini…"
Gaelthra langsung mengangkat tangan dan mengelus kepala Sylvhia dengan lembut.
Gerakannya tenang, penuh kesabaran seperti seorang kakak yang terlalu sering melihat anak kecil menyalahkan dirinya sendiri.
Gaelthra:
"Jangan berkata seperti itu."
"Ibumu memberikan kehidupannya kepadamu karena ia menyayangimu."
"Dari semua anak-anaknya."
Sylvhia menunduk lebih dalam.
Suaranya nyaris gemetar.
Sylvhia:
"Kalau begitu kenapa harus aku…?"
"Kenapa dari sekian banyak anaknya… ibu memilihku yang paling lemah?"
Gaelthra tersenyum.
Senyum yang kali ini terasa lebih dalam, seolah ia sedang melihat sosok lain melalui Sylvhia.
Gaelthra:
"Apa kau tahu… kenapa ibumu memilihmu?"
Sylvhia menggeleng pelan.
Gaelthra melanjutkan sambil tetap mengelus rambut Sylvhia.
Gaelthra:
"Ibumu pernah berkata kepadaku…"
"Dari semua anak-anaknya…"
"Cuma dirimu yang memiliki cinta dan kasih."
Sylvhia membeku.
Ia mengangkat wajahnya cepat.
Sylvhia:
"Aku…?"
"Tidak mungkin.":
"Kalau begitu… apakah ibu tidak memiliki itu?"
Mendengar itu, Gaelthra malah terkekeh.
Benar-benar terkekeh, seperti baru saja mendengar sesuatu yang sangat lucu.
Gaelthra:
"Kau hanya belum tahu masa muda ibumu."
Sylvhia menatapnya bingung.
Gaelthra tertawa kecil sambil memandang langit yang mulai berubah warna.
Gaelthra:
"Ibumu dulu selalu menghajar Vhaldrake."
"Hingga Vhaldrake menangis dibuatnya."
"Ia juga selalu menjahiliku dan juga ibu Aerisyl."
"Dan juga… membuat para raja lama dari setiap ras pusing bukan main."
Mata Sylvhia melebar.
Sylvhia:
"Tidak mungkin!"
"Ibu… seperti itu?"
Gaelthra mengangguk santai.
Gaelthra:
"Percaya atau tidak, itulah kenyataannya."
"Dia kuat."
"Sangat kuat."
"Bahkan terlalu kuat untuk zamannya."
Lalu nada suaranya berubah lembut lagi.
Gaelthra:
"Tapi ada satu hal yang tidak ia miliki."
"Cinta dan kasih sayang yang tulus."
"Dan ia tidak ingin anaknya tumbuh seperti dirinya."
Sylvhia benar-benar diam sekarang.
Gaelthra menatap Sylvhia, lalu menambahkan:
Gaelthra:
"Itulah kenapa… saat ia memberikan kekuatannya kepadamu…"
"…anaknya yang paling lemah…"
"…ia tersenyum."
Sylvhia menahan napas.
Gaelthra:
"Karena untuk pertama kalinya…"
"Lewat dirimu…"
"…ia merasa bisa memiliki sesuatu yang tidak pernah ia punya."
"Cinta."
"Kasih."
"Dan kelembutan yang bisa menjaga dunia… bukan hanya dengan kekuatan… tapi juga dengan hati."
Sylvhia memejamkan mata.
Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sedih.
Lebih seperti seseorang yang baru saja melihat dirinya dari sudut yang belum pernah ia bayangkan.
Sylvhia (dalam hati):
Jadi… ibu benar-benar seperti itu…?
Guardian terkuat Elyndor… tapi tetap memilihku…?
Apa aku benar-benar bisa menjadi seperti ibu suatu hari nanti…?
Danau kecil itu kembali hening.
Beberapa bola energi mengelilingi Sylvhia dengan riang, seolah ikut senang karena hati sang Ratu Dryad mulai sedikit lebih ringan.
Di rasa ia sudah mengatakan apa yang perlu disampaikan, Gaelthra akhirnya bangkit berdiri.
Ia menepuk ringan gaun panjangnya dari debu dedaunan.
Gaelthra:
"Baiklah."
"Aku ingin menemui Rei dulu."
"Ada sesuatu yang harus kusampaikan padanya."
Sylvhia tersadar.
Ia buru-buru mengusap sisa air matanya, lalu bangkit juga.
Sylvhia:
"Aku ikut."
"Aku juga… ingin mengatakan sesuatu pada Rei."
Gaelthra meliriknya, lalu menghela napas pendek.
Namun pada akhirnya, senyum tipis muncul di bibirnya.
Gaelthra:
"Baiklah."
"Ayo."
"Kita temui manusia keras kepala itu bersama-sama."
Mendengar itu, Sylvhia akhirnya tersenyum lagi—senyum yang jauh lebih hidup dibanding sebelumnya.
Sylvhia:
"Iya."
Dan sore itu, di bawah langit yang perlahan berubah keemasan menuju malam, Sylvhia melangkah bersama Gaelthra meninggalkan danau kecil favoritnya—
menuju satu orang yang telah membuat hatinya kacau, sedih, marah, bingung… namun tetap tidak bisa ia tinggalkan.
Rei.
