Saat mereka kembali ke bengkel, Kaivan mengumpulkan semua orang. Di tangan mereka terkumpul uang sebesar 5.600.000 rupiah, hasil dari kerja keras yang terasa seperti langkah pertama menuju sesuatu yang jauh lebih besar.
"Radit, Zinnia, kalian masing-masing dapat satu juta. Sisanya kita simpan untuk perjalanan berikutnya," ujar Kaivan sambil membagikan uang itu, jelas menunjukkan bahwa kontribusi setiap orang sangat berarti.
Radit menyeringai lebar. "Siap, Kaivan. Ini bikin semangatku makin naik." Sementara itu, senyum tipis Zinnia menyimpan kilatan api kecil di matanya.
Kaivan mengangguk pelan. Di dalam keheningan bangunan terbengkalai itu, ia merasakan sesuatu yang jarang ia izinkan tumbuh di hatinya, harapan, kecil namun terus menguat. Baginya, ini baru permulaan dari perjalanan yang akan menguji mereka semua. Namun ia tahu, bersama tim ini, tidak ada yang mustahil.
Sore itu, Kaivan berdiri di depan pintu rumahnya, matanya menyimpan pengalaman yang jauh lebih berat dari usianya. Ia merapikan jaket di tubuhnya yang ramping. Sebelum pergi, ia menoleh ke arah ibunya yang berdiri di ruang tamu dengan senyum hangat, senyum penuh cinta yang terasa seperti perlindungan.
"Bu, aku keluar sebentar," ucapnya lembut. Suaranya tenang, namun ada rasa tanggung jawab tak kasatmata yang menyelip di sana, seolah ia memikul beban yang tak bisa dilihat siapa pun.
Merasakan perubahan sekecil apa pun pada putranya, sang ibu bertanya dengan nada hati-hati, "Iya. Tapi hati-hati di jalan, ya. Kamu pergi sama siapa?" Tatapannya menelusuri wajah Kaivan, seakan mencoba membaca kata-kata yang tak terucap.
Kaivan tersenyum tipis, berusaha menenangkan hatinya. "Sendiri saja, Bu. Kalau pulang malam, mungkin aku menginap di rumah teman." Jawabannya singkat, namun tegas. Keputusan ini bukan sepenuhnya miliknya, ini adalah arah dari Tome Omnicent.
Ibunya mengangguk perlahan, memberikan restu tanpa kata. Dengan gerakan tenang, Kaivan melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya. Di luar, motor, hadiah sederhana dari orang tuanya, menunggu dengan setia.
Ia berkendara dengan tenang, meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju pedesaan yang masih perawan. Jalan berliku dikelilingi pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Pohon-pohon tinggi di pinggir jalan berdiri seperti penjaga sunyi, menyimpan rahasia perjalanannya. Sesekali, angin lembut membawa aroma rumput basah, memenuhi dada Kaivan dengan perasaan damai bercampur antisipasi.
Tak lama kemudian, ia berhenti di depan sebuah SD lama di persimpangan tiga arah. Bangunannya sepi, namun memancarkan nostalgia. Sebuah pohon besar berdiri kokoh di halaman sekolah, daunnya berdesir pelan diterpa angin sore. Kaivan turun dari motor dan melangkah mendekati pohon itu, pandangannya jauh.
Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan Tome Omnicent. Buku itu terbuka dengan sendirinya, menampilkan kata-kata baru dalam aksara asing:
"Beli perban dan antiseptik."
Kaivan mengernyit. "Untuk apa?" gumamnya. Meski ragu, ia tahu setiap petunjuk Tome selalu punya makna. Tanpa membuang waktu, ia berjalan ke minimarket terdekat, membeli perban dan antiseptik, lalu menyimpannya rapi di dalam tas.
Tiga jam di perjalanan membawa Kaivan ke sebuah persimpangan sunyi di desa kecil. Deretan pohon dan rumah sederhana berjajar di sepanjang jalan, membungkus suasana dengan ketenangan. Langit berubah warna, merah tua dan jingga lembut mewarnai cakrawala, menciptakan senja yang memukau. Di dekat persimpangan, seorang penjual kelapa sibuk melayani pembeli terakhirnya.
Tome Omnicent kembali berbisik: "Beristirahatlah di dekat penjual kelapa." Kaivan mengarahkan motornya ke sana, memesan satu kelapa muda, lalu duduk di bawah pohon besar. Saat angin senja menyejukkan udara, ia kembali membuka Tome. Kali ini, kalimat yang muncul terasa sangat spesifik:
"Seorang gadis berambut pendek bermata biru bernama Thivi akan terjatuh dari motornya. Tolong dia saat itu terjadi."
Waktu berlalu dalam sunyi. Kaivan berjalan ke arah sawah dan memarkir motornya. Tak lama, terdengar deru mesin dari kejauhan. Ia menoleh. Seorang gadis dengan ciri yang sama melaju di jalan, namun ada yang salah. Motornya oleng, meluncur liar menuju tikungan.
"Sial!" Kaivan bergerak tanpa berpikir. Tubuhnya bereaksi naluriah, berlari secepat mungkin saat motor itu meluncur ke arah pembatas jalan. Dengan lompatan nekat dan presisi, ia meraih gadis itu, menariknya menjauh dari tabrakan yang tak terelakkan.
Mereka terjatuh berguling di tanah, debu berputar liar di udara. Di belakang mereka, motor itu menghantam pagar pembatas dengan dentuman keras, serpihan logam dan krom berhamburan seperti bintang jatuh. Kaivan melindungi tubuh gadis itu dengan dirinya, menahan benturan terparah.
Saat semuanya berhenti, Kaivan mengangkat kepala, mengatur napas. Ia menatap gadis itu, mata biru cerah yang masih dipenuhi keterkejutan, namun berkilau oleh kelegaan. Cahaya senja memantul di matanya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kaivan lembut.
Gadis itu, Thivi, terdiam sejenak, dadanya naik turun menenangkan diri. "A… aku tidak apa-apa," katanya akhirnya. Suaranya masih bergetar, namun ada keteguhan kecil di baliknya. "Siapa kamu?"
Kaivan tersenyum tipis. Bukan senyum penuh percaya diri, tapi hangat dan menenangkan. Ia segera mengeluarkan perban dari tasnya.
"Aku Kaivan," katanya sambil menggulung lengan baju, gerakannya mantap. Tatapannya jujur dan menenangkan. "Aku bawa perban. Kita bisa hentikan kalau ada luka. Kamu Thivi, kan?"
Thivi mengangguk perlahan, pikirannya masih mencoba mencerna kejadian barusan. Senyum ragu muncul saat ia melirik motornya yang remuk di pinggir jalan, dikelilingi serpihan kaca dan besi.
"Tapi… motorku rusak," gumamnya. "Kakakku pasti marah."
Kaivan menatap bangkai motor itu, lalu kembali padanya, senyumnya melembut. "Tidak apa-apa," ujarnya tenang. "Kita cari bengkel terdekat, atau aku antar kamu pulang. Yang penting sekarang kamu selamat. Itu saja yang benar-benar penting."
Kata-kata Kaivan seakan meredakan beban di hati Thivi. Mata birunya kembali menatap Kaivan, kini dipenuhi rasa terima kasih. Ia tersenyum tipis, duduk lebih rileks sambil membersihkan debu di pakaiannya. "Kamu punya ponsel? Aku harus menelepon orang tuaku."
Sebelum melanjutkan, pandangannya tertuju pada sesuatu di samping Kaivan, Tome Omnicent yang terbuka. Kaivan melirik buku itu. Tulisan di halamannya berubah, membentuk kalimat yang terasa kesal:
"Aku menyuruhmu menunggu. Kalau kamu mati, akulah yang akan kerepotan nanti."
Kaivan tersenyum miring, jarinya menyusuri tepi halaman. "Kerepotan bagaimana?" gumamnya setengah bercanda.
Belum sempat ada jawaban, Thivi, yang kini lebih tenang, mengulurkan sebuah ponsel. "Ponselmu tadi berdering. Tidak ada yang menjawab," katanya dengan nada bingung.
Kaivan mengambil ponsel itu dan tersenyum kecil. "Kalau begitu, biar aku antar kamu pulang," katanya lebih serius namun tetap lembut. "Aku akan jelaskan semuanya ke keluargamu."
Menjelang matahari terbenam, Kaivan dan Thivi melaju di atas motor. Bintang-bintang pertama mulai bermunculan, seolah memberkati perjalanan mereka. Thivi duduk di belakangnya, awalnya menjaga jarak. Perlahan, jarak itu menghilang. Dengan ragu, ia mendekat, menempelkan tubuhnya ke punggung Kaivan.
"Kaivan," bisiknya pelan di tengah dengung mesin. "Kamu bukan orang desa ini, kan? Aku penasaran… sebenarnya siapa kamu? Dan kenapa kamu ada di sini, tepat saat itu?"
Kaivan terdiam sejenak, matanya fokus pada jalan sunyi di depan. Ada kebenaran yang belum bisa ia ungkap. Akhirnya, ia berkata tenang, "Aku hanya lewat," ujarnya. "Sedang rehat dari kota. Menikmati ketenangan desa."
