Cherreads

Chapter 230 - Sebuah Kursi penting di Meja Itu

Cahaya biru dari monitor-monitor raksasa membasuh para tokoh berpengaruh yang duduk mengelilingi meja oval dari kayu mahoni. Setelan hitam dan dasi perak mereka berkilau samar di bawah lampu gantung antik yang bergetar lembut mengikuti hembusan udara dari saluran ventilasi tersembunyi. Aroma cerutu Kuba bercampur vodka Rusia menggantung di udara, seperti kabut keras kepala yang tertinggal dari zaman yang telah berlalu.

Di layar, rekaman pelarian Kaivan diputar berulang kali. Gerakannya cepat, presisi, hampir tidak manusiawi. Dalam salah satu adegan, sepasang gunting kecil melesat dari tangannya, memicu longsoran salju yang menelan tiga penjaga bersenjata sekaligus. Raungan mesin, napas yang memburu, dan awan debu putih terekam dengan detail yang membuat bulu kuduk meremang.

"Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu?" gelegar seorang mantan jenderal Rusia. Suaranya menghantam dinding baja ruangan. Kepalannya menghantam meja hingga bergetar. Mata hijaunya menyala oleh kekaguman sekaligus kegelisahan. "Dia membaca medan, memprediksi lintasan, memanfaatkan lingkungan... seperti seekor predator."

Seorang pria Italia, Don Vescari, mengangkat sebatang rokok ramping dengan jari yang dibalut sarung tangan. Ujung merahnya menembus kabut asap.

"Lihat sudut ini," katanya pelan namun tajam. "Waktunya sempurna. Longsoran itu bukan keberuntungan. Semuanya diperhitungkan. Bahkan posisi para penjaga."

"Prediksi spasial?" tanya seorang pria muda dengan aksen Prancis.

"Atau intuisi yang ditempa oleh trauma," jawab pria Inggris di sampingnya dengan suara tenang namun berat.

Di layar, Kaivan kini terlihat berada di dalam truk bersama Elara. Kamera menangkap momen saat kendaraan itu mulai oleng. Hanya dengan sekali pandang, ia melepaskan sabuk pengaman mereka lalu melompat.

Salju berputar di udara. Tubuh Kaivan melindungi Elara dari benturan. Truk itu menghantam bebatuan lalu meledak dalam kobaran api dan salju.

Tak seorang pun mengalihkan pandangan.

"Hanya dengan sekali melihat..." bisik seseorang akhirnya. "Dan dia tahu kapan harus melompat."

Keheningan memenuhi ruangan.

Setiap sponsor menatap layar itu. Wajah-wajah dingin mereka memantulkan jejak keterkejutan yang jarang terlihat. Mereka adalah orang-orang yang dapat menentukan hidup dan mati hanya dengan satu kata. Namun kini, mereka justru terusik oleh seorang anak laki-laki berusia tujuh belas tahun.

Pintu besar di bagian belakang berderit terbuka. Suaranya pelan, namun sarat ancaman.

Levan masuk mengenakan mantel hitam panjang dengan lambang perak di bahunya. Langkahnya mantap, seperti detak waktu yang tak mungkin dihentikan.

Di belakangnya berjalan Kaivan.

Ia melangkah perlahan dengan pakaian sederhana. Kerah tinggi menutupi lehernya. Cahaya dari atas mempertegas garis-garis wajahnya. Tidak ada lagi kebingungan di sana, hanya kewaspadaan tenang yang tersembunyi.

"Pertanyaan kalian bisa dijawab secara langsung," kata Levan santai, namun suaranya dipenuhi wibawa. Ia berdiri di samping meja logam lalu menyingkir untuk memberi ruang kepada Kaivan.

Semua mata tertuju padanya.

Para penguasa bayangan, orang-orang yang memegang kendali atas negara-negara, kini mengamati seorang remaja dengan kehati-hatian.

Seorang pria Georgia berjanggut putih dan bermata abu-abu mencondongkan tubuh ke depan.

"Jadi kau Kaivan?" tanyanya datar. Suaranya berat seperti putusan pengadilan.

Kaivan membalas tatapannya tanpa rasa takut.

"Ya," jawabnya. "Dan aku tidak akan mengulangi pertunjukan yang sama lagi."

Ruang konferensi bawah tanah itu terasa dingin dan modern, terbungkus lapisan baja serta kaca. Dinding logam hitam menyerap setiap gema suara, sementara layar-layar transparan menampilkan data biometrik Kaivan dari berbagai sudut. Panel LED putih pucat memancarkan bayangan samar di atas permukaan baja, menciptakan suasana yang terasa tidak nyata.

Asap rokok tipis melayang malas di udara, berputar di atas meja bundar berbahan titanium tempat para tokoh berpengaruh dari berbagai penjuru dunia duduk dalam diam. Di antara mereka, seorang wanita dengan jas laboratorium putih tampak mencolok. Rambut hitamnya diikat rapi, membingkai ekspresi tenangnya. Sebuah pin kecil berbentuk bunga teratai berkilau lembut di dadanya, lambang divisi biogenetika rahasia Tiongkok.

Ia membuka map hitam di hadapannya.

Suaranya tenang, menembus kesunyian.

"Berdasarkan data kami, aktivitas otakmu meningkat lima puluh persen secara alami. Neuronmu merespons ratusan kali lebih cepat daripada manusia biasa. Kau adalah... kandidat ideal untuk pasukan khusus kami."

Semua mata kembali mengarah kepada Kaivan.

Ia berdiri tegak, menatap layar yang terus memutar rekaman pelariannya yang mustahil. Napasnya berat, namun tetap terkendali.

"Aku sudah merasakan cukup banyak rasa sakit," katanya pelan. "Aku hanya ingin hidup dengan bebas."

Kesunyian menegang di sekitar mereka.

Kata-katanya memecah udara seperti logam yang retak karena tekanan. Beberapa sponsor bergeser di kursinya, terkejut oleh penolakannya.

Seorang pria berwajah tajam dari sisi barat meja menyandarkan tubuhnya dengan santai. Matanya dingin dan penuh perhitungan.

"Apakah kau tahu kenapa penelitian ini ada?" tanyanya lembut.

Kaivan tidak menjawab. Ia hanya menatap.

Pria itu melanjutkan, suaranya turun menjadi bisikan yang memotong ruangan.

"Di balik tembok Yajuj dan Majuj, suara-suara itu semakin keras. Dari Lubang Bor Superdalam, kami mendengar raungan... sesuatu. Sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini."

Ia mengaktifkan sebuah rekaman di tabletnya.

Campuran suara gemuruh dan jeritan yang terdistorsi memenuhi ruangan. Separuh terdengar seperti mesin, separuh lagi seperti makhluk hidup. Beberapa orang menegang. Yang lain menundukkan kepala.

"Tome Omnihorror telah mulai bergerak. Artefak-artefak lain juga mulai terbangun. Dunia akan segera berubah, Kaivan. Ini bukan lagi soal pilihan pribadi. Ini tentang masa depan peradaban. Dan kau adalah bagian dari rencana itu."

Seorang sponsor bertubuh besar dari Rusia, yang posturnya menyerupai beruang, menghantam sandaran kursinya dengan lengan yang kekar.

"Kami akan membayarmu miliaran setiap bulan," geramnya. "Fasilitas penuh. Perlindungan penuh. Kau hanya perlu menjadi subjek utama penelitian kami."

Udara terasa semakin berat, menekan setiap tarikan napas.

Kaivan tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia menoleh ke arah Levan yang berdiri diam di belakangnya dengan jubah hitam.

"Levan," katanya pelan. Suaranya mengalir seperti air dingin. "Bolehkah aku mendapatkan kembali Tome Omnicent milikku?"

Levan, yang sejak tadi diam seperti bayangan, melangkah maju. Sepatunya menggema pelan di lantai logam.

Ia berjalan menuju sebuah silinder kaca tinggi di sudut ruangan. Di dalamnya, sebuah buku kuno terletak di atas pedestal elektromagnetik.

Cahaya lembut berdenyut dari sampul kayunya yang berukir, seolah menyambut Kaivan kembali.

Levan menatapnya sejenak, lalu menyerahkannya sambil memberikan peringatan dingin.

"Jangan buat kami menyesali keputusan ini."

Kaivan meletakkan tangannya di atas permukaan kayu itu.

Cahaya menyebar di kulitnya seperti saraf hidup. Ia menarik napas dalam-dalam lalu memeluk buku itu erat ke dadanya. Sebuah gerakan lembut, namun sarat makna.

Matanya menyapu seluruh ruangan, bertemu dengan tatapan setiap sponsor dengan ketenangan yang justru terasa mengintimidasi.

More Chapters