Dalam keheningan, ia berbisik di dalam hati.
"Berapa nilai Bitcoin milikku sekarang?"
Halaman-halaman kosong Tome Omnicent mulai bercahaya, lalu menuliskan kalimat demi kalimat dalam bahasa kuno yang hanya dapat ia pahami.
Kau memiliki 1.368.421 koin. Nilai per koin: lima dolar. Total: 68 miliar rupiah.
Kaivan perlahan menutup buku itu.
Ekspresinya tetap tenang, namun rasa lega yang sunyi mengalir di dalam dadanya.
Ia menatap pria Rusia itu dan membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Maaf," katanya pelan. Suaranya rendah namun tidak goyah. "Aku tidak tertarik."
Keheningan langsung jatuh.
Tatapan bingung menyebar di wajah para sponsor. Seorang wanita berambut perak membeku dengan jari yang masih menggantung di atas tabletnya. Seorang pria tua Jepang di ujung meja mengubah posisi duduknya dengan gelisah. Ketegangan memenuhi udara, seolah seluruh ruangan menahan napas sambil menunggu ledakan berikutnya.
Tekanan tak kasatmata memenuhi ruang itu, seakan keputusan Kaivan telah menggeser sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah pertemuan.
Sebelum siapa pun sempat menanggapi, Kaivan kembali berbicara. Kali ini lebih tenang, suaranya seperti bisikan di tengah badai.
"Namun, jika ini benar-benar demi umat manusia," katanya sambil menatap pria Rusia itu, "maka aku bersedia menjadi subjek penelitian kalian. Bagaimanapun juga... aku berutang karena kalian telah membawaku ke sini."
Kata-katanya bergema seperti dentang lonceng di sebuah lembah yang sunyi.
Para sponsor yang sebelumnya meragukannya kini menatap dengan kagum, seolah sulit mempercayai bahwa pemuda ini baru saja membuat mereka terdiam hanya dengan ketenangan sikapnya.
Kaivan tetap berdiri tanpa bergerak.
Ia bukan seorang pahlawan.
Ia hanyalah seseorang yang memahami bahwa memiliki Tome Omnicent berarti memiliki kebebasan. Ia bisa bergerak di dalam sistem tanpa pernah benar-benar menjadi bagian darinya.
Seorang wanita pirang yang mengenakan pin berbentuk burung phoenix memperlihatkan senyum tipis.
"Kau luar biasa, Kaivan. Tidak banyak orang seusiamu yang bisa berpikir sejernih ini."
Kaivan membalas tatapannya tanpa menunjukkan emosi.
"Aku hanya tidak ingin ada orang yang mati karena aku memilih untuk diam."
Pria Rusia itu mengangguk perlahan lalu mematikan rokoknya di dalam asbak kristal.
"Kau telah memberi kami sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Integritas dan keberanian. Kami akan menghormati keputusanmu."
Ia menoleh ke arah Levan.
"Awasi penelitian ini. Jangan lepaskan pandangan darinya."
Levan menjawab dengan anggukan tenang. Cara ia memandang Kaivan kini telah berubah. Bukan lagi seperti peneliti dan subjek penelitian, melainkan dua jiwa yang saling memahami.
Pria Rusia itu kembali berbicara. Suaranya lembut namun sarat makna.
"Dunia membutuhkan lebih banyak orang sepertimu."
Kaivan hanya mengangguk.
Di dalam pikirannya, ia sudah melangkah jauh melampaui ruangan ini.
Tome Omnicent yang berada dalam pelukannya berdenyut lembut, seperti jantung makhluk yang sedang tertidur dan menunggu untuk terbangun.
Setelah pertemuan berakhir, aroma tembakau dan logam masih tertinggal di udara. Cahaya putih kebiruan memantul dari dinding baja, membentuk bayangan panjang para sponsor yang perlahan meninggalkan ruangan. Langkah kaki mereka bergema di atas lantai granit abu-abu keperakan, hingga akhirnya hanya Kaivan dan Levan yang tersisa di tengah ruangan.
Levan mengamatinya cukup lama. Jas laboratoriumnya berkibar pelan saat ia melangkah maju.
"Kau sekarang memiliki akses penuh ke fasilitas ini. Temui Fabrizio. Dia akan menyediakan apa pun yang kau butuhkan."
Kaivan mengusap permukaan Tome Omnicent yang hangat dan berdenyut lembut dengan ujung jarinya.
"Kalau begitu," katanya pelan. Suaranya meluncur di udara dingin seperti aliran listrik yang halus. "Sampaikan kepada teman-temanku... bahwa aku baik-baik saja. Dan suatu hari nanti, izinkan aku bertemu mereka lagi."
Levan terdiam.
Kata-kata Kaivan menembus pikirannya seperti anak panah. Matanya sedikit membesar, bukan karena takut, melainkan karena terkejut.
Kaivan tahu.
Ia bahkan belum menyebut Radit, Thivi, Zinnia, Frans, Felicia, Isabel, Livia, Raphael, ataupun Ethan. Namun ia tahu. Ia tahu ke mana arah pikiran Levan.
Levan menahan napas, menggenggam clipboard di tangannya seolah itu satu-satunya hal yang menjaga dirinya tetap berpijak pada kenyataan.
"Jadi... kau benar-benar bisa melihat segalanya, ya?" gumamnya.
Tatapannya beralih kepada Tome Omnicent di tangan Kaivan. Buku itu berdenyut lembut, seakan bernapas mengikuti irama pemiliknya.
Kaivan tidak menjawab.
Ia hanya membalas dengan ketenangan yang menembus hati. Tatapan seseorang yang mengetahui segalanya, namun memilih untuk tetap diam.
Keheningan bertahan di antara mereka.
Akhirnya, Levan menarik napas panjang lalu menundukkan kepala dengan tulus. Sebuah penghormatan yang belum pernah ia berikan kepada siapa pun di fasilitas ini.
"Akan kulakukan," katanya mantap. "Kau memiliki jiwamu sendiri, Kaivan. Dan aku... beruntung berada di pihak yang sama."
Kaivan memberikan senyum tipis.
Saat pintu baja otomatis terbuka, Levan pergi tanpa menoleh lagi.
Kaivan tetap berdiri di tempatnya, membiarkan keheningan menyelimuti dirinya. Sendirian, namun dikelilingi kemungkinan-kemungkinan baru yang baru saja terbuka.
Jauh di dalam bunker bawah tanah, lampu-lampu neon tua menggantung dari langit-langit baja, memantulkan cahaya redup di sepanjang koridor yang seolah tak berujung. Langkah kaki Kaivan bergema perlahan namun mantap, seperti detak waktu di dunia yang membeku. Udara terasa dingin dan kering, menggigit kulitnya seperti logam.
Mengenakan pakaian hitam yang menyatu dengan bayangan, Kaivan melangkah maju tanpa ragu.
Tome Omnicent yang tergantung di pinggangnya berdenyut lembut. Cahaya samar merayap di permukaannya lalu meresap ke dalam kulitnya, seolah ruang dan waktu itu sendiri tunduk pada kehendaknya.
"Benar... aku harus bertahan hidup di sini sampai semua sumber daya terkumpul... untuk menghadapi Vella," gumamnya pelan, seperti mantra yang dibisikkan kepada dunia.
