Cherreads

Chapter 16 - Chapter 16 — Retak

Hari itu sebenarnya biasa saja.

Maya sudah masuk fase "terlalu normal" selama hampir seminggu.

Dia ikut latihan acara. Dia jawab pertanyaan guru. Dia bahkan bercanda lagi.

Sampai sore itu.

Panitia lagi ribut di aula. Maya diminta ambil kabel tambahan di gudang belakang.

Dia jalan sendiri.

Lorong belakang aula selalu lebih sepi. Suara musik terdengar teredam.

Saat dia hampir sampai gudang, dia dengar suara tawa kecil.

Suara yang terlalu familiar.

Refleks.

Dia berhenti.

Bukan karena mau nguping.

Tapi karena tubuhnya bereaksi duluan sebelum pikirannya sempat melarang.

Di tikungan lorong itu, Rafi berdiri bersandar ke tembok. Nadira di depannya.

Nggak ada adegan romantis.

Nggak ada pelukan.

Cuma percakapan kecil.

"Aku masih takut sih," Nadira bilang pelan.

"Takut apa?" Rafi tanya.

"Takut kamu suatu hari sadar kamu cuma capek waktu itu."

Maya nggak bisa lihat ekspresi Rafi. Tapi dia dengar jawabannya.

"Aku nggak milih kamu karena capek. Aku milih kamu karena kamu satu-satunya yang nggak bikin aku ngerasa sendirian."

Kalimat itu.

Kalimat itu yang bikin pertahanan Maya retak.

Bukan karena Rafi bilang sayang.

Bukan karena mereka terlihat bahagia.

Tapi karena dia sadar—

Dia memang pernah bikin Rafi merasa sendirian.

Dan sekarang ada orang lain yang bikin dia merasa cukup.

Nadira ketawa kecil. "Yaudah. Jangan nyesel."

"Kalau nyesel pun, itu tanggung jawabku," jawab Rafi ringan.

Maya mundur pelan.

Kakinya hampir nggak terasa.

Dia nggak nunggu lebih lama.

Nggak mau dengar lebih jauh.

Tapi sudah cukup.

Sudah cukup buat bikin semua "aku biasa aja" yang dia bangun selama ini runtuh.

Dia masuk ke gudang, nutup pintu.

Dan di ruangan sempit penuh debu itu, untuk pertama kalinya sejak hari penolakan…

napasnya benar-benar nggak teratur.

Tangannya gemetar.

Dia sandarin punggung ke pintu.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Bukan karena cemburu.

Bukan karena pengen Rafi balik.

Tapi karena dia akhirnya dengar sendiri…

versi Rafi yang jujur.

Dan itu bukan tentang cinta.

Itu tentang kesepian.

Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Selama ini dia pikir Rafi kuat. Nggak apa-apa. Selalu ada.

Dia nggak pernah sadar, orang yang selalu ada itu juga bisa merasa sendiri.

Dan sekarang, orang itu sudah menemukan tempat yang lebih aman.

Bukan di dia.

Di luar aula, suara latihan tetap ribut.

Dunia tetap berjalan.

Tapi di dalam gudang kecil itu, sesuatu dalam diri Maya akhirnya benar-benar retak.

Bukan topengnya.

Tapi egonya.

Dan itu jauh lebih sakit.

More Chapters