Cherreads

Chapter 30 - Perang para raksasa

Angin berhenti berhembus.

Seolah dunia sendiri menahan napasnya.

Di satu sisi berdiri Avatar Penjaga Raka, tubuh raksasa dari cahaya merah yang terbentuk dari energi seluruh menara.

Di sisi lain berdiri Raja Para Pemburu, makhluk dari luar dunia dengan mahkota tulang yang menyala seperti api ungu.

Langit di atas mereka bergetar.

Tanah di bawah mereka retak.

Penjaga pertama menatap dengan wajah tegang.

"Pertarungan ini…"

Ia berbisik pelan.

"...akan menentukan nasib dunia."

Raja pemburu melangkah maju.

Setiap langkahnya membuat bumi berguncang.

Aura hitam dari tubuhnya menyebar seperti kabut racun.

"Menarik sekali," suara itu bergema di pikiran semua orang.

"Kau memanggil para penjaga lama untuk melindungi dunia."

Avatar Raka mengangkat tombak cahayanya.

Energi menara berkumpul seperti badai di sekelilingnya.

"Selama aku berdiri… dunia ini tidak akan jatuh."

Raja pemburu tersenyum.

"Kalau begitu… mari kita lihat."

Tiba-tiba—

ia menghilang.

BOOOOOOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang puncak menara saat raja pemburu muncul tepat di depan Raka.

Tinju raksasanya menghantam dada avatar Raka.

Langit retak oleh benturan itu.

Avatar Raka terpental jauh.

Tubuh energinya retak seperti kaca.

Aldren berteriak dari bawah.

"RAKA!"

Namun sebelum tubuh avatar itu jatuh—

cahaya dari puluhan menara langsung mengalir masuk.

Retakan di tubuhnya menutup kembali.

Raka berdiri lagi.

Ia menatap raja pemburu dengan tenang.

"Kau tidak bertarung melawan satu orang."

Ia menunjuk langit.

Ratusan avatar penjaga di seluruh dunia mengangkat senjata mereka.

"Kau melawan seluruh sejarah dunia ini."

Raja pemburu tertawa keras.

"Kalau begitu… aku akan menghancurkan sejarahmu!"

Ia mengangkat kedua tangannya.

Energi hitam berkumpul di antara telapak tangannya.

Sebuah bola kegelapan raksasa terbentuk.

Ukuran bola itu terus membesar.

Seperti matahari hitam.

Penjaga pertama langsung menyadari sesuatu.

"Itu bukan serangan biasa."

Pria berambut putih berbisik dengan panik.

"Itu… energi pemusnah dunia."

Raja pemburu tersenyum.

"Dengan ini… semua menara akan lenyap."

Ia melempar bola hitam itu ke arah bumi.

Langit menjadi gelap total.

Namun tepat sebelum bola itu menyentuh tanah—

Raka mengangkat kedua tangannya.

Seluruh menara di dunia bersinar bersamaan.

Cahaya merah dari ratusan menara berkumpul menjadi satu.

Di tangan avatar Raka muncul pedang cahaya raksasa.

Lebih besar dari gunung.

Raka menatap bola kehancuran itu.

Lalu berbisik.

"Untuk dunia ini."

Ia mengayunkan pedangnya.

BOOOOOOOOOOOOOM!

Pedang cahaya menembus bola kegelapan itu.

Ledakan cahaya merah memenuhi langit.

Gelombang energi menyapu seluruh awan di bumi.

Bola kehancuran itu pecah menjadi serpihan cahaya hitam.

Langit kembali terlihat.

Raja pemburu menatap dengan mata menyipit.

Untuk pertama kalinya—

ia terlihat serius.

"Kau benar-benar menarik, Penjaga."

Avatar Raka mengangkat pedangnya lagi.

Namun tiba-tiba—

raja pemburu tertawa pelan.

"Sayang sekali…"

Ia menunjuk ke arah bumi.

"Kau terlalu fokus padaku."

Semua orang langsung menoleh.

Dan mereka melihat sesuatu yang membuat darah mereka membeku.

Di cakrawala—

salah satu menara mulai retak.

Makhluk dari jantung menara langsung berteriak.

"Tidak mungkin!"

Penjaga pertama menatap dengan ngeri.

"Menara itu…"

"...tidak diserang."

Retakan itu muncul dari dalam.

Avatar Raka membeku.

"Mustahil…"

Lalu sebuah tangan hitam raksasa muncul dari dalam tanah di dekat menara itu.

Tanah hancur.

Gunung retak.

Sesuatu yang sangat besar mulai bangkit dari bawah bumi.

Raja pemburu tersenyum puas.

"Aku tidak datang untuk menghancurkan dunia."

Ia membuka tangannya lebar-lebar.

"Aku datang untuk membebaskan sesuatu yang dikurung di dalamnya."

Tanah di seluruh dunia mulai bergetar.

Menara-menara berguncang hebat.

Dan dari bawah bumi—

sesuatu yang jauh lebih besar dari raja pemburu mulai bangun.

Penjaga pertama berbisik dengan suara gemetar.

"Tidak…"

"Makhluk itu…"

Pria berambut putih menutup wajahnya dengan putus asa.

"Itulah alasan sebenarnya menara dibangun."

Aldren menatap langit dengan napas tertahan.

"Raka…"

Tanah kembali bergetar lebih keras.

Dan dari kedalaman bumi—

terdengar detak jantung raksasa.

DUM.

DUM.

DUM.

Sesuatu yang telah tidur selama puluhan ribu tahun…

akhirnya membuka matanya.

More Chapters