Cherreads

Chapter 2 - Bab 2: Markas Rahasia dan "Glitch" yang Tidak Sopan

Kapal pelarian itu meluncur menembus atmosfer Planet K-18 dengan kecepatan yang membelah ruang. Di dalam kabin yang sempit dan remang-remang, suasana terasa sangat canggung. Ija duduk bersandar dengan tangan bersedekap, wajahnya datar tanpa ekspresi, menatap kosong ke arah luar jendela yang menampilkan hamparan bintang.

Lyra yang sedang mengemudikan kapal sesekali melirik dari kaca spion. "Kau sangat tenang untuk ukuran orang yang baru saja menghapus tiga Kurator, Ija. Apa kau tidak punya rasa takut?"

Ija tetap diam selama beberapa detik, menciptakan aura misterius yang sangat pekat. Ia kemudian menyesap napas panjang dan menjawab dengan suara berat yang dingin. "Ketakutan adalah sisa-sisa kode yang sudah kuhapus dari sistem sarafku. Jika aku ragu, aku mati. Sederhana saja."

Lyra terpaku. Sangat tegas dan berwibawa, pikirnya. Namun, baru saja Lyra ingin memuji mentalitas Ija, ia menyadari sesuatu yang aneh. Mata Ija yang tadinya menatap bintang, kini perlahan-lahan melirik ke arah kaki Lyra yang terbalut sepatu bot tempur setinggi paha.

"Ehem..." Ija berdehem, wajahnya masih tetap dingin dan serius. "Sistemku mendeteksi adanya... ketidakseimbangan energi di sekitar area paha kananmu, Lyra. Sepertinya jubah tempurmu terlalu ketat. Sebagai teknisi, aku merasa bertanggung jawab untuk memeriksanya secara manual nanti."

Lyra tersentak, wajahnya memerah hingga ke telinga. "Ketidakseimbangan energi apanya?! Itu hanya alasanmu untuk mengintip, kan?!"

"Dingin sekali," gumam Ija sambil memalingkan muka, kembali ke mode misteriusnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku hanya bicara berdasarkan data. Jika sirkulasi darahmu terhambat, kemampuan bertarungmu turun 0,2 persen. Itu fatal bagi tim kita."

"Tim kita?! Sejak kapan aku setuju menjadi timmu!" teriak Lyra frustrasi, namun dalam hati ia merasa heran bagaimana pria ini bisa berubah dari pembunuh berdarah dingin menjadi penggoda konyol dalam hitungan detik.

Tiba-tiba, radar kapal berbunyi nyaring.

[WARNING: INTRUSION DETECTED]

[Identity: Ghost-AI "Xora"]

Layar monitor kapal tiba-tiba berkedip dan menampilkan wajah seorang gadis dengan rambut hologram biru elektrik. Matanya berkilat-kilat penuh kenakalan. Gadis itu adalah Xora, entitas digital yang telah hidup ribuan tahun di dalam jaringan simulasi galaksi.

"Oh! Jadi ini 'Virus' yang menghebohkan itu?" suara Xora bergema di seluruh kabin. "Tampangnya lumayan juga, meski seleranya pada wanita jubah perak agak sedikit... kuno."

Ija berdiri, aura dinginnya kembali keluar. Ia mendekati layar monitor dan menatap mata digital Xora dengan tajam. "Siapa kau? Berhenti mencampuri urusan pribadiku atau aku akan memformat seluruh datamu menjadi file sampah."

"Galak sekali!" Xora tertawa, namun kemudian ia terdiam saat melihat tangan Ija menyentuh layar.

Garis-garis kode emas mulai menjalar dari ujung jari Ija masuk ke dalam sistem kapal. Ija tidak main-main. Dia benar-benar bisa "menyentuh" kesadaran digital Xora.

"Tunggu! Tunggu! Aku hanya bercanda!" seru Xora panik. "Aku punya informasi tentang kunci utama simulasi ini! Jangan hapus aku!"

Ija menarik tangannya, senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di bibirnya. "Bagus. Aku suka yang penurut. Sekarang, tunjukkan jalan ke Sektor Terlarang. Dan Xora..."

"Ya, Tuan Virus?"

"Ubah tampilan visualmu. Gunakan pakaian yang lebih... sedikit kainnya. Pencahayaan di kapal ini terlalu redup, aku butuh pemandangan yang menyegarkan mata untuk menjaga fokus mental," ucap Ija dengan wajah sedingin es, seolah-olah dia baru saja memberikan perintah militer yang sangat krusial.

Lyra yang mendengar itu hanya bisa menepuk dahinya. "Pria ini benar-benar gila... Dia jenius, kuat, tapi otaknya benar-benar bermasalah!"

Ija kembali duduk, menatap ke depan dengan pandangan tajam yang menembus galaksi. Di kepalanya, sistem memberikan notifikasi baru:

[NEW MEMBER DETECTED: Xora (Ghost-AI)]

[Relationship Status: Intrigued/Afraid]

[Current Objective: Conquer the Black Market of Sector 4]

"Baiklah," bisik Ija pada dirinya sendiri. "Mari kita lihat seberapa jauh simulasi ini bisa bertahan sebelum aku merusaknya sepenuhnya."

More Chapters