Cherreads

Chapter 7 - CH 05 - Sekte Phoenix Emas

15 Tahun Kemudian

Di atas hutan, langit tampak cerah, membentang seperti permadani biru tanpa noda. Matahari pagi menyaring sinarnya melalui celah-celah dedaunan, menciptakan bintik-bintik cahaya yang menari-nari di tanah. Udara terasa bersih, dipenuhi aroma lembap dari pepohonan dan suara kicauan burung yang merdu.

Selama lima belas tahun, hutan ini telah menjadi surga yang damai, menyembunyikan dua jiwa yang diliputi trauma di antara keindahan alamnya.

Namun, ketenangan itu tiba-tiba pecah.

“Tian Zi putra Quan Zi. Hari ini adalah hari kematianmu. Kau tidak bisa lagi bersembunyi. Keluarlah! Terima takdirmu!”

Dari kejauhan, dentuman kaki-kaki yang teratur dan suara raungan penuh amarah mulai terdengar, memutus harmoni alam.

Tepatnya di perbatasan hutan terlarang, nyaris seratus ahli melayang bagai makhluk abadi, aura spiritual mereka bagai gelombang pasang yang menghempas, menekan roh setiap makhluk hidup hingga bertekuk lutut.

Di barisan terdepan, seorang tetua berjubah merah cerah, wajahnya dipenuhi guratan luka yang menceritakan kisah pertempuran berdarah, mengangkat suaranya yang serak, menggema bagai raungan naga di antara pepohonan purba.

“Inikah yang disebut putra dari Sang Pahlawan Suci yang pernah mengguncang Tiga Alam? Humph! Pecundang yang bahkan tak berani menampakkan dirinya, sama seperti ayahnya yang diusir dari Istana Suci!”

Teriakan itu terus berulang, sebuah tantangan yang dipenuhi dengan ejekan dan penghinaan yang sengaja dilontarkan untuk memancing. Namun, hutan tetap membisu, seolah menertawakan kesia-siaan upaya mereka.

Para ahli yang hadir semakin meradang oleh kesunyian itu, energi spiritual mereka melonjak, siap untuk menerobos masuk dan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka.

“Cukup dengan omong kosong tak berguna itu!”

Tiba-tiba, dari kedalaman hutan terlarang, terdengar suara misterius yang berat, bagai guntur di musim kemarau, diikuti oleh langkah kaki yang mantap dan teratur, menggema di antara pepohonan.

Sesosok siluet perlahan muncul dari gerbang hutan. Rambut perak panjangnya yang halus menari indah tertiup angin, berkilauan seperti air terjun yang diterangi cahaya bulan. Jubah putihnya berkibar lembut, dihiasi dengan untaian kain biru yang memberikan sentuhan elegan pada penampilannya yang mempesona.

Sosoknya tampak begitu perkasa, memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan, bahkan jejak kakinya pun seolah menggetarkan tanah di bawahnya, terasa sangat berat dan penuh kekuatan.

Dia adalah pemuda yang dulunya hidup dalam kedamaian, terasing dari intrik dunia kultivasi. Hingga takdir membawanya ke dalam pusaran konflik, dilarikan dan disembunyikan di dalam goa terpencil. Anak kecil penakut yang dulunya menangis siang dan malam, kini telah berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Hari ini, ia berdiri dengan berani, tatapannya tajam dan penuh tekad. Wajahnya yang tampan tanpa ekspresi, memberikan kesan seperti dewa yang turun dari surga.

Pemuda itu menghentikan langkahnya tepat di tepi jurang yang curam. Kepalanya terangkat, menatap lurus ke arah ratusan ahli yang menggantung di udara seperti makhluk abadi. Pandangannya kemudian terhenti pada pria tua yang sedari tadi berteriak menghina. Alisnya berkerut tajam, menunjukkan ketidaksenangan yang mendalam.

“Kau…”

Seketika itu juga, para ahli menyadari bahwa pemuda di hadapan mereka adalah orang yang selama ini mereka cari. Anak yang telah menyebabkan hilangnya banyak ahli yang dikirim sebelumnya tanpa jejak, sebuah fakta yang membuat mereka semakin waspada dan berhati-hati.

Saat itu, lima belas tahun yang lalu, di desa terpencil yang terlupakan, dia hanyalah seorang anak biasa yang belum mampu membangkitkan energi spiritual, meskipun terlahir dari ayah yang luar biasa, seorang pahlawan yang pernah ditakuti oleh banyak faksi besar.

Namun, hari ini, ia tampak berbeda. Aura tubuhnya sangat kental dan murni, bagai lautan tak berujung yang menyimpan kekuatan tak terduga. Jelas, ia bukan lagi seorang amatir dalam kultivasi.

“Akhirnya, kau berani menampakkan diri juga. Putra dari Sang PahlawanSuci, ternyata bukanlah seorang pengecut sejati. Tapi… hanya sebatas itu.”

Alis Tian Zi mengerut perlahan saat mulutnya berbicara dengan nada gelap, “Lima belas tahun ini, kalian telah menghancurkan kedamaianku, merenggut kebahagiaanku, dan terus-menerus memburuku. Tak pernah memberiku kesempatan untuk memilih, memaksaku menjalani kehidupan yang penuh kepahitan dan penderitaan. Namun hari ini, yang berburu akan menjadi mangsa, dan yang diburu akan menjadi pahlawan!”

“Hanya dengan mengandalkanmu seorang?” Tetua itu tertawa, suaranya dipenuhi keraguan dan penghinaan. “Kau pikir dengan bersembunyi selama lima belas tahun, kau telah mencapai langkah yang tak seorang pun bisa menandingimu? Kau bahkan belum pernah melihat dunia luar, bagaimana bisa kau menilai dirimu begitu tinggi?”

“Kalau begitu datanglah. Aku sendiri yang akan manghadapi kalian!” Suaranya gelap dan mematikan.

“Bocah yang tidak tahu tingginya langit,” bisik tetua itu pelan, matanya menyipit. “Serang dia! Bawa kepalanya sebagai persembahan pada Pangeran Agung!”

“Baik!”

Mendengar perintah itu, ratusan ahli meraung serempak, energi spiritual mereka bergejolak bagai badai dahsyat, bergegas menyerang Tian Zi dengan niat membunuh.

Melihat ratusan ahli menyerbu ke arahnya, Tian Zi mengangkat tangannya dengan tenang. Dengan satu jentikan jari yang ringan, sebuah api biru cerah bangkit secara eksplosif, memancarkan aura dingin menakutkan bagai amukan dewa yang turun dari langit.

“Lima belas tahun yang lalu, ayahku menggunakan api ini dan berhasil melukai orang yang kalian sebut Pangeran Agung itu. Dan sekarang, aku akan menggunakannya lagi tapi untuk membunuh para anjingnya!”

Melihat nyala api biru yang berkobar dengan gila, para ahli seketika menghentikan tindakan. Wajah tetua itu tak kalah pucatnya, hatinya samar-samar dapat merasakan kekuatan destruktif yang begitu kuat yang terkandung dalam api itu.

“Api apa ini? Kenapa sangat kuat?”

Ia terkejut. Terlebih lagi setelah memperhatikan cukup lama, ia mulai teringat dengan gambaran yang pernah di tunjukan ketua sekte mengenai Api Misterius yang menghilang, di mana itu berwarna biru dan memiliki sifat dingin yang ekstrim.

Meskipun dia bukanlah orang yang pernah berpartisipasi dalam pertempuran lima belas tahun yang lalu, akibat kemampuannya yang belum memenuhi kualifikasi saat itu, tapi ia pernah mendengar identitas api itu yang berhasil melukai Pangeran mereka dengan parah.

Di katakan setelah membunuh Quan Zi, Pangeran Agung mencoba untuk merebut api itu, tapi ia tidak menemukannya. Ternyata itu ada pada putranya.

“Memangnya kenapa jika kau memiliki benda yang menakutkan seperti itu? Dengan kemampuanmu, aku tidak percaya kau dapat mengendalikannya dengan sempurna!” teriak tetua itu.

“Datanglah dan rasakan sendiri!” kata Tian Zi dengan acuh tak acuh.

“Bocah yang sombong,” geramnya, suaranya dipenuhi amarah. “Ketika namaku mulai dikenal oleh dunia, saat itu kau masih belum lahir!”

Dengan raungan yang menggelegar, tetua itu menarik tangannya ke belakang. Udara di sekitarnya bergetar, dan energi spiritual di seluruh area itu berkumpul dengan cepat, memadat di atas telapak tangannya, membentuk sebuah pusaran energi yang gelap.

Dalam sekejap mata, pusaran energi itu berubah menjadi cakar raksasa yang menyala keemasan. Cakar itu begitu besar hingga bayangannya menutupi seluruh tubuh Tian Zi. Setiap kuku dari cakar itu terbuat dari energi yang murni, memancarkan aura pembunuh yang dingin dan mematikan.

Teknik Warisan Sekte Phoenix Emas— Cakar Phoenix yang Merobek. 

____________

★ Ilustrasi Tian Zi melawan Sekte Phoenix Emas (3) 

More Chapters