Benturan pertama mengguncang hutan.
Suara logam beradu menggema seperti petir yang meledak di antara pepohonan. Tanah di bawah kaki Renji retak, serpihan tanah terangkat akibat tekanan energi yang terpancar dari dua pedang yang saling menekan.
Renji hampir terdorong mundur.
Tangannya gemetar saat menggenggam pedang merah itu. Getaran dari benturan terasa sampai ke tulangnya, seolah tubuhnya belum sepenuhnya siap menahan kekuatan yang kini ia miliki.
Namun anehnya—
Ia tidak jatuh.
Makhluk berarmor hitam di depannya sedikit menyipitkan mata.
"Menahan seranganku… dalam kondisi seperti itu?" gumamnya pelan.
Renji tidak menjawab.
Napasnya berat, namun tubuhnya bergerak sendiri. Pedang merah di tangannya terasa ringan, seolah sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lama.
Makhluk itu melangkah mundur satu langkah.
Lalu menghilang.
Dalam sekejap—
Serangan kedua datang dari samping.
Renji tidak sempat berpikir.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Pedangnya berayun.
Benturan kedua terjadi.
Lebih keras.
Gelombang energi merah meledak, menyapu daun-daun di sekitarnya hingga beterbangan. Pohon di belakang Renji terbelah dua, seolah dipotong oleh kekuatan tak terlihat.
Renji terseret beberapa langkah ke belakang.
Namun kali ini—
Ia tetap berdiri.
Matanya yang merah menyala menatap lurus ke depan.
Makhluk itu muncul kembali beberapa meter darinya.
"Menarik…" katanya.
"Pedang itu benar-benar mengubahmu."
Renji menggenggam pedangnya lebih erat.
Sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.
Dalam.
Berbisik.
"Bunuh dia…"
Renji mengernyit.
"Apa… ini…?"
"Bunuh dia… dan kau akan hidup…"
Suara itu bukan miliknya.
Namun terasa begitu dekat.
Seolah berasal dari dalam darahnya sendiri.
Makhluk itu mengamati perubahan ekspresi Renji.
"Jadi kau sudah mulai mendengarnya…" katanya pelan.
"Suara dari dalam pedang itu."
Renji mengangkat kepalanya perlahan.
"Apa… ini…?" ulangnya, suaranya sedikit berubah.
Makhluk itu tersenyum tipis.
"Itu bukan sekadar pedang."
"Itu adalah kutukan."
Hutan di sekitar mereka menjadi sunyi.
Angin berhenti.
Seolah dunia memberikan ruang untuk percakapan itu.
"Pedang itu… telah membunuh lebih banyak manusia daripada yang bisa kau bayangkan," lanjut makhluk itu.
"Dan sekarang… semua itu ada di dalam dirimu."
Renji menggertakkan giginya.
"Diam…"
Namun suara itu kembali.
Lebih keras.
"Bunuh dia!"
"Ambil kekuatannya!"
"Jangan ragu!"
Renji menutup kepalanya dengan satu tangan.
Wajahnya menunjukkan rasa sakit.
Namun di saat yang sama—
Aura merah di tubuhnya semakin kuat.
Tanah di sekitarnya mulai bergetar.
Makhluk itu mengangkat pedangnya perlahan.
"Jika kau tidak bisa mengendalikannya…" katanya dingin,
"Maka kau akan mati di sini."
Dalam sekejap—
Ia menyerang lagi.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Renji hampir tidak melihat pergerakannya.
Namun tubuhnya bergerak sendiri.
Pedangnya terangkat.
Benturan terjadi lagi.
Namun kali ini—
Berbeda.
Renji tidak terdorong.
Sebaliknya—
Makhluk itu yang terpental mundur.
Untuk pertama kalinya—
Ekspresi terkejut muncul jelas di wajahnya.
"Kekuatan itu… meningkat?"
Renji terengah.
Namun matanya semakin tajam.
Dan senyum tipis muncul di wajahnya.
Senyum yang bukan miliknya.
"Akhirnya…" suara itu keluar dari mulut Renji.
Namun nadanya berbeda.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
Makhluk itu menyadari perubahan itu.
"Jadi… kau mulai kehilangan dirimu."
Renji tidak menjawab.
Ia mengangkat pedangnya perlahan.
Energi merah mengalir di sepanjang bilahnya.
Udara di sekitarnya terasa panas.
Tanah mulai retak.
"Bagus…" kata makhluk itu.
"Kalau begitu… mari kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan."
Ia menghilang lagi.
Namun kali ini—
Renji siap.
Ia menutup matanya.
Mendengarkan.
Merasa.
Dan saat serangan datang—
Ia bergerak lebih cepat.
Pedangnya menebas.
Benturan terjadi di udara.
Percikan energi merah dan hitam menyebar ke segala arah.
Keduanya kini bergerak cepat.
Terlalu cepat untuk mata manusia biasa.
Setiap benturan menciptakan gelombang kejut.
Setiap ayunan pedang meninggalkan jejak cahaya.
Hutan di sekitar mereka mulai hancur.
Pohon-pohon tumbang.
Tanah terbelah.
Dan di tengah semua itu—
Renji mulai terbiasa.
Gerakannya semakin halus.
Serangannya semakin tajam.
Makhluk itu menyadarinya.
"Adaptasi yang cepat…" gumamnya.
"Namun…"
Ia mengangkat pedangnya tinggi.
Energi gelap berkumpul di sekelilingnya.
"Ini sudah cukup."
Dalam satu ayunan—
Ia melepaskan serangan besar.
Gelombang energi hitam melesat ke arah Renji, menghancurkan segala yang dilaluinya.
Renji membeku sesaat.
Serangan itu terlalu besar.
Namun suara itu kembali.
"Hadapi."
"Jangan lari."
"Gunakan aku."
Renji menggenggam pedangnya lebih erat.
Napasnya ditarik dalam.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia benar-benar sadar.
Bukan sebagai korban.
Namun sebagai petarung.
Ia mengangkat pedangnya.
Energi merah berkumpul di sekelilingnya.
Dan saat gelombang hitam itu hampir mengenainya—
Ia mengayunkan pedangnya.
Benturan dua energi terjadi.
Merah melawan hitam.
Ledakan besar mengguncang hutan.
Cahaya menyilaukan menelan segalanya.
Dan ketika debu mulai mereda—
Keduanya masih berdiri.
Namun—
Renji terengah hebat.
Tubuhnya mulai mencapai batas.
Makhluk itu berdiri diam.
Menatapnya.
Lalu—
Tersenyum.
"Cukup."
Renji mengangkat kepalanya.
"Apa…?"
Makhluk itu menurunkan pedangnya.
"Aku tidak akan membunuhmu hari ini."
Mata Renji menyipit.
"Kenapa…?"
Makhluk itu berbalik.
"Karena akan lebih menarik… melihat apa yang akan kau jadi nanti."
Ia melangkah menjauh.
Tubuhnya perlahan menghilang dalam bayangan.
Namun sebelum benar-benar hilang—
Ia berhenti.
"Namaku… Kael."
"Dan suatu hari nanti… kita akan bertemu lagi."
Sunyi kembali menyelimuti hutan.
Energi di udara perlahan menghilang.
Pedang merah di tangan Renji bergetar pelan.
Lalu—
Cahayanya meredup.
Renji terjatuh berlutut.
Napasnya kacau.
Tubuhnya terasa berat.
Dan perlahan—
Matanya kembali normal.
Namun di dalam dirinya—
Ia tahu.
Sesuatu telah berubah selamanya.
Ia menatap pedang di tangannya.
Kini terlihat lebih tenang.
Namun tetap mengerikan.
"Apa sebenarnya… kau ini…?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Namun jauh di dalam—
Sebuah suara berbisik pelan.
"Kita… baru saja mulai…"
Renji menutup matanya.
Fajar mulai muncul di balik pepohonan.
Cahaya pertama menyentuh wajahnya.
Namun tidak membawa kehangatan.
Hanya awal dari perjalanan panjang.
Perjalanan penuh darah.
Dan kehancuran.
