Cahaya fajar di kota ini tidak pernah benar-benar cerah. Matahari hanya tampak sebagai bulatan pucat yang berusaha menembus kabut tebal dan asap industri yang menyelimuti atap-atap gedung. Di sebuah kamar kontrakan sempit yang terletak di atas kedai kopi tua, Arlan Vane sudah terjaga sebelum lonceng gereja berdentang sekali pun.
Udara di dalam kamar itu dingin dan lembap, membawa aroma samar minyak pelumas dari mesin-mesin di jalanan bawah. Arlan berdiri di tengah ruangan yang hanya menyisakan sedikit ruang gerak. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh yang ramping namun keras seperti lilitan kawat baja—hasil dari latihan fisik tanpa henti selama bertahun-tahun.
Tanpa suara, ia mengambil pedang pendeknya. Ia tidak langsung menghunus senjata itu, melainkan menggenggam sarungnya dengan erat, merasakan tekstur kulit yang sudah aus di telapak tangannya.
"Satu..." gumamnya pelan.
Sret!
Ia menghunus pedang dengan gerakan yang begitu cepat hingga hanya menyisakan kilatan perak di udara, lalu menyarungkannya kembali dengan presisi yang sempurna.
"Dua... tiga... empat..."
Arlan mengulangi gerakan itu seratus kali. Kemudian lima ratus kali. Hingga mencapai seribu kali.
Keringat mulai mengucur di pelipisnya, membasahi rambut birunya yang kusam. Otot-otot lengannya mulai terasa panas, namun ia tidak berhenti. Bagi seorang pengguna Jalur Aura dengan bakat yang biasa saja, repetisi adalah satu-satunya cara untuk mengejar ketertinggalan dari mereka yang lahir dengan anugerah jenius. Arlan tidak memiliki energi Aura yang melimpah seperti para ksatria di Sovereign Aegis, jadi ia harus memastikan bahwa setiap tetes energi yang ia miliki digunakan dengan efisiensi yang absolut.
Setelah pemanasan, ia mulai mengalirkan Auranya. Ia memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada teknik manual yang ia pelajari: Teknik Arus Tenang.
Di dalam pembuluh darahnya, ia merasakan kehangatan yang mengalir—sebuah aliran energi yang tipis namun stabil. Aura itu merayap dari pusat dadanya, menuruni bahu, dan akhirnya melapisi bilah pedangnya. Pedang pendek itu tidak bersinar terang; ia hanya mengeluarkan getaran halus yang membuat udara di sekitarnya sedikit distorsi. Itulah ciri khas Rank 2 (Flow-Seeker)—kemampuan untuk mengalirkan Aura ke objek luar, meski dalam skala kecil.
Arlan mulai melakukan rangkaian gerakan pedang cepat. Ia tidak menebas dengan kekuatan besar yang bisa menghancurkan batu; ia menebas dengan kecepatan yang dirancang untuk membelah udara di titik terlemahnya. Setiap gerakan sangat ekonomis, tanpa gaya yang berlebihan. Bagi Arlan, keindahan dalam bertarung adalah ketika musuh jatuh bahkan sebelum mereka menyadari pedang telah keluar dari sarungnya.
"Hah... hah..."
Ia berhenti sejenak setelah dua jam latihan intensif. Napasnya teratur, meski jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil handuk kasar untuk menyeka keringatnya, lalu menatap tangannya yang sedikit gemetar karena kelelahan otot.
"Masih belum cukup cepat," bisiknya pada diri sendiri.
Pekerja keras seperti Arlan selalu menjadi kritikus paling kejam bagi dirinya sendiri. Ia tahu bahwa di dunia luar sana, Rank 2 hanyalah "umpan meriam" jika tidak memiliki keahlian khusus.
Setelah mandi dengan air dingin yang nyaris membeku dan mengenakan pakaian kerjanya—mantel abu-abu yang sama dengan semalam—Arlan merapikan buku catatannya. Ia memastikan simbol misterius yang ia gambar semalam tersimpan dengan aman di saku tersembunyi.
Ia keluar dari kamar, menuruni tangga kayu yang berderit, dan melangkah keluar ke jalanan pagi yang mulai sibuk. Bau roti panggang yang bercampur dengan uap batu bara menyambutnya. Arlan berjalan dengan langkah yang tenang, matanya yang tajam tetap waspada, mengamati setiap orang yang berpapasan dengannya. Kebiasaan ini sudah mendarah daging; baginya, setiap sudut jalan bisa menjadi tempat penyergapan.
Tujuan Arlan adalah markas Silver Compass distrik ini—sebuah bangunan tiga lantai berbahan batu bata hitam yang dulunya adalah bekas pabrik garmen. Di atas pintunya, terdapat lambang kompas perak yang sudah sedikit berkarat, menjadi simbol bagi mereka yang mencari kebebasan (atau sekadar koin) di luar otoritas kerajaan.
Saat Arlan masuk, suasana di dalam sudah ramai. Aroma kopi pahit, tembakau, dan keringat memenuhi aula utama. Para tentara bayaran, petualang, dan pengawal sewaan duduk di meja-meja kayu panjang, mendiskusikan kontrak atau sekadar memamerkan luka baru mereka.
Arlan berjalan melewati kerumunan itu tanpa menarik perhatian. Ia tidak memiliki reputasi besar, dan ia lebih suka seperti itu. Ia menuju meja resepsionis yang dijaga oleh seorang pria tua dengan satu mata yang tertutup kain hitam.
"Laporan misi, Silas," ucap Arlan singkat, meletakkan lencana peraknya di atas meja.
Silas, sang resepsionis, mengambil lencana itu dan memeriksanya sebentar sebelum menatap Arlan dengan mata satunya yang masih tajam. "Vane. Kau kembali lebih cepat dari biasanya. Bagaimana dengan gudang di dermaga?"
"Sudah diinvestigasi. Pola patroli, jumlah personel, dan barang bukti sudah dicatat," Arlan mengeluarkan selembar laporan resmi yang sudah ia tulis tadi pagi, namun ia menahan catatan tentang simbol misterius itu. Instingnya yang berhati-hati melarangnya untuk memberikan informasi itu secara cuma-cuma sebelum ia tahu apa maknanya.
Silas membaca laporan itu dengan cepat. "Penyelundupan barang antik ilegal, ya? Iron Oversight akan membayar lumayan untuk informasi ini. Mereka sedang gencar melakukan pembersihan sebelum festival musim dingin."
"Berapa?" tanya Arlan praktis.
"Tiga puluh koin perak. Standar untuk misi investigasi kategori C," Silas mengeluarkan beberapa koin dari laci dan menghitungnya di depan Arlan.
Arlan mengambil koin-koin itu, merasakan berat logam di tangannya. Itu cukup untuk membayar sewa kamar bulan depan dan membeli beberapa botol minyak pengasah pedang kualitas menengah. Tidak banyak, tapi cukup untuk bertahan hidup.
"Ada sesuatu yang aneh di sana, Silas," Arlan menambahkan dengan nada santai, seolah-olah hanya pengamatan sekilas. "Para penjaganya. Mereka tidak terlihat seperti preman dermaga biasa. Gerakannya terlalu... terlatih."
Silas berhenti sejenak, menatap Arlan lebih dalam. "Banyak kelompok sekarang menggunakan mantan tentara atau pelarian jalur. Selama mereka tidak mengganggu bisnis Silver Compass, kita tidak peduli. Tapi jika kau merasa ada yang tidak beres, sebaiknya kau menjauh. Jangan jadi pahlawan untuk tiga puluh koin perak, Vane."
"Aku tahu," jawab Arlan pendek.
Ia mengambil kembali lencananya dan berbalik. Saat ia hendak keluar, ia berpapasan dengan sekelompok pengguna Aura Rank 3 yang tertawa keras sambil memamerkan senjata baru mereka. Arlan menepi, memberikan jalan dengan sikap yang rendah hati. Ia melihat bagaimana mereka sombong, bagaimana mereka membuang-buang energi Aura hanya untuk memanaskan gelas kopi mereka.
Sombong adalah awal dari kehancuran, batin Arlan.
Ia keluar dari gedung Silver Compass, berdiri sejenak di trotoar sambil menatap langit yang kini dipenuhi kepulan asap dari kereta uap yang melintas di jembatan layang. Tangannya meraba saku di mana catatan simbol itu berada.
Ada sesuatu tentang simbol itu yang terus mengusik pikirannya. Rasa ingin tahu adalah hal yang berbahaya di kota ini, tapi Arlan Vane adalah tipe pria yang percaya bahwa informasi adalah senjata paling tajam selain pedangnya.
Ia memutuskan untuk menuju ke perpustakaan umum di Distrik Tengah—tempat yang jarang dikunjungi oleh tentara bayaran kasar, namun sering menjadi sumber jawaban bagi mereka yang cukup sabar untuk mencarinya di antara tumpukan buku yang berdebu.
Arlan berjalan menembus kerumunan, sosoknya yang biasa saja menghilang di antara ribuan pekerja kota. Pagi ini masih terasa sama seperti pagi lainnya, namun di dalam hati sang petarung berambut biru itu, ada sebuah percikan kecil yang mulai menyala.
Tapi untuk sekarang, bagi Arlan Vane, hidup adalah tentang satu hal: asah pedangmu, selesaikan misimu, dan pastikan kau tetap hidup untuk melihat hari esok.
