Cherreads

Chapter 14 - ​Bab 13: Karat, Luka, dan Selera Humor

Cahaya lampu gas di kamar kontrakan Arlan berkedip-kedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding beton yang lembap. Di atas meja kayu yang sudah lapuk, katana berkarat itu tergeletak diam. Arlan duduk bersila di depannya, napasnya masih terasa berat.

​Sudah tiga jam ia mencoba mencabut pedang itu. Ia sudah mencoba mengalirkan Aura Flow-Seeker-nya, menggunakan tenaga otot, hingga membujuknya dengan kata-kata. Namun, bilah itu tetap terkunci rapat di dalam sarungnya yang retak-retak.

​"Benar-benar barang rongsokan," gumam Arlan, menyeka keringat di dahinya.

​"Siapa yang kau panggil rongsokan, Nak? Setidaknya aku tidak punya lubang di pinggang seperti kau."

​Arlan tersentak hingga hampir terjatuh dari posisi duduknya. Suara itu tidak datang dari telinganya, melainkan bergema langsung di dalam kepalanya. Suaranya berat, matang, dan terdengar sangat... santai.

​Arlan menatap katana itu dengan mata membelalak. "Kau... bisa bicara?"

​"Tentu saja aku bisa bicara. Tapi melihat cara kau memperlakukanku tadi—mencoba menarikku seperti menarik gigi yang busuk—aku sempat berpikir untuk pura-pura mati saja," suara itu mendengus, sebuah sensasi getaran geli merayap di benak Arlan.

​"Siapa kau? Dan kenapa kau tidak bisa dicabut?" tanya Arlan, mencoba mengendalikan keterkejutannya. Sebagai seorang yang terbiasa hidup di dunia bawah Lorgar, ia tahu hal-hal mistis itu nyata, tapi pedang yang bisa membalas ejekan adalah hal baru.

​"Panggil saja aku Kuro. Kenapa aku tidak bisa dicabut? Sederhana. Kau terlalu lemah. Kau pikir dengan sedikit aliran Aura yang berantakan itu kau bisa menggunakanku? Kau bahkan tidak bisa memotong mentega dengan kondisi tubuh hancur begitu."

​Arlan mengerutkan kening. "Aku sedang terluka karena misi pemusnahan geng. Aku menang, meski senjataku hancur."

​"Menang dengan sisa nyawa di ujung kuku itu bukan menang, itu namanya keberuntungan yang dipaksakan," Kuro membalas dengan pedas. "Dengar, Arlan. Aku tidak tertarik pada pemilik yang hanya tahu cara mengayunkan besi. Aku ingin melihat apakah kau punya 'tulang' yang cukup keras untuk menopangku."

​"Lalu apa yang harus kulakukan?"

​"Latihan. Dan obati dulu lukamu itu. Melihatmu berdarah-darah begini membuatku merasa seperti sedang dipegang oleh tukang jagal amatir. Tapi, hei... bicara soal luka, kau tahu kenapa luka di perut itu tidak pernah bisa diajak bercanda?"

​Arlan terdiam, bingung dengan perubahan nada bicara pedang itu. "Kenapa?"

​"Karena dia terlalu 'perih' untuk tertawa. Hahaha!"

​Hening. Arlan menatap katana itu dengan ekspresi datar. Itu adalah lelucon terburuk yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

​"Ayo, tertawalah sedikit! Itu lucu! Anak muda zaman sekarang benar-benar tidak punya selera humor," Kuro bergumam, suaranya kini terdengar seperti bapak-bapak yang kecewa karena candaannya gagal.

​Keesokan paginya, di atap gedung yang dingin, Arlan memulai pembuktiannya. Ia tidak mempedulikan rasa perih di pinggangnya. Sesuai perintah Kuro—meski dengan cara yang menyebalkan—Arlan harus menunjukkan tekadnya.

​Ia mengambil pedang standar cadangannya dan mulai melakukan latihan ayunan dasar. Satu kali, dua kali, seribu kali.

​"Payah! Sikutmu terlalu rendah! Kau ingin memotong musuh atau ingin menari balet?" suara Kuro menginterupsi di dalam kepalanya setiap beberapa menit.

​"Diamlah, aku sedang fokus," geram Arlan, keringat bercucuran membasahi matanya.

​"Aku diam bukan berarti aku tidak memperhatikan. Dan omong-omong, kau tahu kenapa pedang tidak pernah bisa lulus sekolah?"

​Arlan mengabaikannya dan terus mengayun. Syuut! Syuut!

​"Karena mereka terlalu banyak 'memotong' pelajaran! Hahaha! Aduh, aku memang jenius."

​Arlan berhenti sejenak, mengatur napasnya yang memburu. Meskipun kata-kata Kuro sangat pedas dan candaannya sangat garing, Arlan menyadari sesuatu. Setiap kali Kuro melemparkan lelucon atau ejekan, sensasi dingin yang menyejukkan mengalir dari gagang pedang yang terselip di pinggangnya, membantu menstabilkan detak jantungnya yang terlalu kencang.

​Di balik mulut pedasnya, Kuro sepertinya sedang memantau kondisi fisik Arlan agar tidak melampaui batas yang bisa menghancurkan tubuhnya sendiri.

​"Kau... kau memperhatikanku, bukan?" tanya Arlan sambil bersandar pada pipa uap.

​"Jangan geer, Nak. Aku hanya tidak mau pemilikku mati sebelum dia sempat membelikanku minyak pengasah yang mahal. Karat ini gatal tahu!" Kuro mendengus. "Tapi serius, Arlan. Kau punya tekad yang lumayan. Kau mengingatkanku pada sepotong besi tua yang keras kepala. Teruslah mengayun. Jika kau bisa melakukan sepuluh ribu ayunan tanpa jatuh pingsan, mungkin—hanya mungkin—aku akan membiarkanmu melihat satu inci dari bilahku."

​Arlan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang jarang sekali muncul. Ia merasakan sebuah tantangan yang nyata. Bukan tantangan dari musuh yang ingin membunuhnya, tapi tantangan dari seorang "partner" yang ingin melihatnya tumbuh lebih kuat.

​"Baiklah, Kuro. Sepuluh ribu ayunan. Jangan mengeluh kalau kau bosan melihatnya."

​"Aku tidak akan bosan selama kau masih punya stok lelucon untukku. Oh, tunggu, aku punya satu lagi! Kenapa pengguna Aura tidak pernah bisa bermain petak umpet?"

​Arlan menarik napas panjang, bersiap untuk ayunan berikutnya. "Kenapa?"

​"Karena keberadaan mereka selalu 'terasa'! Hahaha! Ayo, ayun lagi! Jangan malas!"

​Di bawah langit Lorgar yang abu-abu, di tengah deru mesin uap kota, Arlan Vane terus mengayunkan pedangnya. Di pinggangnya, sebuah katana berkarat dengan kepriyadian yang aneh terus mengawasi, mengejek, dan secara diam-diam menjaga nyawa pemuda itu.

​Arlan tahu, perjalanan untuk benar-benar bisa mencabut Kuro akan sangat panjang, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak benar-benar sendirian di kota yang kejam ini.

More Chapters