Cherreads

Chapter 17 - Bab 16: Kabut, Batu, dan Teka-Teki

Keheningan setelah Mr. Fool selesai menjelaskan aturan pertemuan terasa seperti embun yang mengendap di atas permukaan batu—tipis, namun nyata. Di dalam Mist Palace yang dingin dan tak berujung, dua sosok yang tertutup kabut duduk berhadapan di meja marmer kuno, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan oleh entitas di ujung meja.

Mr. Fool kembali bersandar ke kursinya, jari-jarinya mengetuk meja dengan irama yang pelan. Ia tidak menambahkan apa pun. Ia hanya menunggu—seperti seseorang yang telah terbiasa menunggu selama ribuan tahun dan menganggap keheningan sebagai percakapan yang paling jujur.

Evelyn—Miss Justice—yang pertama kali membuka suara.

"Mr. Fool," ucapnya dengan nada yang sopan namun penuh rasa ingin tahu yang hampir tidak bisa ia sembunyikan, "boleh saya bertanya sesuatu kepada Mr. Chariot?"

"Sesi obrolan bebas adalah milik kalian," jawab Mr. Fool singkat. "Aku hanya pendengar yang kebetulan duduk di ujung meja."

Evelyn menoleh ke arah sosok berkabut di sisi lain meja. "Mr. Chariot, dari cara Anda berbicara tadi—sangat praktis dan langsung—saya menduga Anda bukan orang yang asing dengan dunia para pengguna jalur. Boleh saya bertanya, sudah berapa lama Anda aktif di jalur tersebut?"

Arlan—Mr. Chariot—menatap sosok berkabut di hadapannya sejenak. Gadis ini berbicara dengan sopan yang terlatih, namun pertanyaannya tajam dan langsung menuju inti. Ia mencatat itu.

"Cukup lama untuk tahu bahwa pengetahuan tentang jalur lebih berharga dari senjata," jawab Arlan singkat. "Kau baru, bukan? Dari cara kau berbicara, kau tahu tentang jalur secara teori, tapi belum pernah benar-benar masuk ke dalamnya."

Evelyn tidak tersinggung. Justru sebaliknya—matanya yang tersembunyi di balik kabut tampak berbinar. "Tepat sekali, Mr. Chariot. Saya baru menyadari keberadaan dunia ini belum lama. Dan jujur saja, pengetahuan saya masih sangat terbatas. Buku-buku yang saya baca hanya menyebutnya sebagai dongeng."

"Bukan dongeng," kata Arlan datar. "Tapi dunia ini memang sengaja disembunyikan dari orang-orang biasa. Organisasi-organisasi besar punya kepentingan untuk menjaga kebodohan publik."

"Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut?" pinta Evelyn. "Tentang sistem jalur itu sendiri. Saya ingin memahami pondasinya."

Arlan terdiam sejenak. Di dunia luar, ia tidak pernah sembarangan membagikan informasi—setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu dihitung nilainya. Namun di tempat ini, di bawah pengawasan Mr. Fool yang tenang, ia merasakan bahwa berbagi informasi dasar tidak akan merugikannya.

"Ada dua jalur utama," mulai Arlan dengan nada yang datar namun teratur, seperti seseorang yang telah menjelaskan hal yang sama berkali-kali kepada dirinya sendiri. "Jalur Aura dan Jalur Mana. Keduanya berbeda secara fundamental—bukan hanya dalam cara kerjanya, tapi dalam cara pandang penggunanya terhadap dunia."

"Bedanya?" tanya Evelyn, tubuhnya sedikit condong ke depan tanpa ia sadari.

"Jalur Aura adalah tentang memaksakan keberadaan fisik ke dunia nyata," jawab Arlan. "Pengguna Aura tidak mengubah hukum dunia. Mereka menjadi hukum itu sendiri melalui tubuh mereka. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar otoritas mereka untuk mendominasi ruang dan materi di sekitar mereka."

"Dan Jalur Mana?"

"Kebalikannya. Pengguna Mana percaya bahwa dunia nyata hanyalah ilusi—kumpulan variabel tersembunyi yang bisa diubah oleh mereka yang cukup memahami strukturnya." Arlan berhenti sejenak. "Jika ada tembok yang menghalangi, pengguna Aura akan menghancurkan tembok itu. Pengguna Mana akan mengubah konsep tembok itu menjadi pintu."

Evelyn menyerap penjelasan itu dengan tenang, namun di dalam benaknya, ratusan pertanyaan lanjutan sudah berbaris rapi menunggu giliran. "Dan tingkatannya? Apakah ada sistem hierarki di dalamnya?"

"Ada." Arlan mengeluarkan satu jari, menghitung. "Untuk Jalur Aura, dimulai dari Rank 1 yang disebut Aura-Trigger, kemudian Flow-Seeker, Steel-Binder, Vanguard, dan seterusnya hingga Rank 9. Untuk Jalur Mana, dimulai dari Mana-Spark, Circle-Weaver, Arcanist, dan seterusnya dengan pola yang sama."

"Anda sendiri berada di tingkatan mana, Mr. Chariot?" tanya Evelyn langsung.

Sudut bibir Arlan—yang tersembunyi di balik kabut—hampir bergerak. Gadis ini tidak segan bertanya hal yang oleh sebagian orang dianggap tidak sopan untuk ditanyakan langsung. "Flow-Seeker. Rank 2 Jalur Aura."

"Dan saya," Evelyn berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "belum berada di mana pun. Saya bahkan belum melewati kebangkitan."

"Jalur mana yang kau minati?" tanya Arlan. Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan—sebuah hal yang tidak biasa baginya.

"Jalur Mana," jawab Evelyn tanpa ragu. "Saya selalu percaya bahwa kebenaran tersembunyi di balik apa yang terlihat. Dunia yang terlalu rapi selalu menyembunyikan sesuatu di balik kerapiannya."

Hening sejenak. Di ujung meja, Mr. Fool tidak bergerak, namun ada sesuatu dalam cara ia mengetukkan jarinya yang terasa seperti persetujuan diam-diam.

"Untuk kebangkitan Jalur Mana," kata Arlan setelah jeda singkat, "kau butuh Batu Mana. Tanpa itu, ritual resonansi tidak bisa dilakukan."

Evelyn langsung menangkap arah pembicaraan itu. "Apakah Anda memilikinya, Mr. Chariot?"

"Kebetulan, ya." Arlan tidak menjelaskan dari mana ia mendapatkannya—itu adalah informasi yang tidak perlu dibagikan. "Satu Batu Mana kualitas standar. Cukup untuk kebangkitan awal seorang Mana-Spark."

"Berapa harganya?"

"Lima koin emas."

Di dunia luar, lima koin emas adalah jumlah yang cukup untuk membayar sewa kamar kontrakan Arlan selama berbulan-bulan. Namun bagi seorang putri bangsawan Oakhaven yang mendapat uang saku dari seorang Duke—

"Saya setuju," jawab Evelyn tanpa jeda satu detik pun.

Arlan menatap sosok berkabut di hadapannya. Kecepatan persetujuan itu memberitahunya satu hal: gadis ini berasal dari kalangan yang sangat berada. Ia mencatat informasi itu dengan tenang.

"Transaksi akan dilakukan di dunia nyata," kata Arlan. "Kita perlu menentukan metode pengiriman."

"Di sinilah," suara Mr. Fool memecah percakapan mereka dengan tenang, "partner kalian bisa membantu."

Keduanya menoleh ke arah ujung meja.

"Partner yang telah mengikat kontrak dengan kalian memiliki kemampuan untuk mengirimkan pesan dan barang antar anggota dengan kecepatan yang tidak bisa dicapai oleh kurir biasa," lanjut Mr. Fool. "Aku akan menjadi saksi dari setiap transaksi yang terjadi melalui jalur itu. Ini memastikan tidak ada pihak yang ingkar dari kesepakatan yang dibuat di meja ini."

"Berarti Sunny bisa mengirimkan koin ke Mr. Chariot dan menerima Batu Mana darinya?" tanya Evelyn, suaranya terdengar takjub.

"Dengan satu syarat," Mr. Fool menambahkan. "Sebelum meminta bantuan partner kalian untuk transaksi semacam itu, sebutkan nama kehormatanku terlebih dahulu. Itu adalah protokol yang memastikan transaksi berada di bawah pengawasanku."

Evelyn mengangguk pelan, menyimpan informasi itu di dalam memorinya yang tajam. Di sisi lain, Arlan hanya diam—namun ketukan jari telunjuknya yang pelan di atas permukaan meja menunjukkan bahwa ia sedang memproses setiap detail dari sistem ini.

Kemudian, Mr. Fool melakukan sesuatu yang tidak terduga. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, ia yang memulai sebuah topik tanpa menunggu pertanyaan dari mereka.

"Miss Justice," ucapnya dengan nada yang sama tenangnya, namun ada sesuatu yang berbeda di dalamnya—sebuah bobot yang lebih berat. "Untuk kebangkitanmu, kau tidak perlu mencari instruktur dari Obsidian Spire atau organisasi mana pun."

Evelyn terdiam. "Maksud Mr. Fool?"

"Partner yang telah memilihmu," kata Mr. Fool pelan, "telah mengamatimu jauh lebih lama dari yang kau sadari. Ia mengenal struktur jiwamu lebih baik dari buku mana pun. Percayakan proses kebangkitanmu padanya."

Evelyn merasakan sesuatu bergetar di dalam dadanya. Ia teringat pada Sunny—tatapan mata cokelat yang terlalu dalam, kehangatan yang tidak pernah terasa seperti kehangatan hewan biasa. Selama berbulan-bulan, ia mengira dirinya yang menjaga Sunny. Ternyata, sejak awal, Sunny yang menjaganya.

"Saya mengerti," bisik Evelyn.

Mr. Fool mengangguk sangat tipis. Kemudian, tanpa transisi yang dramatis, nada suaranya bergeser—lebih ringan, namun menyimpan sesuatu di baliknya seperti kabut yang menyembunyikan jurang.

"Mr. Chariot," ucapnya.

Arlan langsung fokus. Insting tentara bayarannya menangkap perubahan nada itu sebelum otaknya sempat memprosesnya.

"Di kota tempatmu berdiri," Mr. Fool melanjutkan dengan nada yang santai namun setiap katanya terasa seperti batu yang dilempar ke dalam sumur yang sangat dalam, "ada sesuatu yang sudah lama bersembunyi di bawah asap dan bising mesin. Sesuatu yang menggunakan kebisingan industri sebagai selimut."

Arlan tidak bergerak. "Seberapa berbahaya?"

"Cukup berbahaya untuk membuat organisasi-organisasi resmi pura-pura tidak melihatnya," jawab Mr. Fool. Kemudian ia berhenti—berhenti dengan cara yang terasa disengaja, seolah-olah ia sedang menikmati momen sebelum sebuah kartu terakhir dibalik.

"Simbol yang kau gambar di buku catatanmu," Mr. Fool melanjutkan dengan nada yang hampir seperti obrolan santai tentang cuaca, "bukan milik organisasi yang lahir di era ini."

Keheningan.

Di dalam kepala Arlan, seluruh kepingan yang selama ini terpencar—gudang Sektor 7, para pembunuh tanpa identitas, buku catatan yang ia sembunyikan bahkan dari Silas—mulai bergerak, mencari posisi masing-masing seperti roda gigi yang baru saja mendapat pelumasnya.

"Lalu milik siapa?" tanya Arlan. Suaranya tetap datar, namun ada ketegangan yang sangat halus di baliknya—sebuah ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang tahu cara menyembunyikannya.

Mr. Fool mengetukkan jarinya di atas meja satu kali. Satu ketukan, namun bergema seperti lonceng katedral.

"Cari tahu sendiri, Mr. Chariot. Jawabannya sudah ada di tanganmu sejak malam itu." Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan dengan nada yang sangat ringan, seolah-olah itu hanyalah komentar tambahan yang tidak penting, "Tapi berhati-hatilah dengan kabut yang tidak berasal dari pabrik."

Arlan menyimpan kata-kata itu di dalam kepalanya, merasakannya dari setiap sudut. Kabut yang tidak berasal dari pabrik. Di kota Lorgar yang seluruh kabutnya lahir dari cerobong industri, kabut yang berbeda berarti satu hal—sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana sedang bersembunyi di tempat yang paling mudah untuk diabaikan.

"Apakah ada lagi yang ingin kalian bahas?" tanya Mr. Fool, nada suaranya kembali ke ketenangan santainya yang khas—seperti seseorang yang baru saja menyebutkan hal paling biasa di dunia, bukan teka-teki yang mungkin akan mengubah arah hidup seseorang.

Evelyn dan Arlan saling menatap—dua sosok berkabut yang belum pernah melihat wajah satu sama lain, belum tahu nama asli satu sama lain, dan baru saja duduk di meja yang sama untuk pertama kalinya.

Namun di dalam keheningan singkat itu, ada sesuatu yang terbentuk. Bukan kepercayaan—itu terlalu besar untuk sebuah pertemuan pertama. Bukan persahabatan—itu terlalu hangat untuk dua orang yang masih saling mengukur. Hanya sebuah pengakuan diam-diam bahwa di meja ini, di antara kabut yang tidak berujung, mereka berdiri di sisi yang sama dari sebuah garis yang baru saja ditarik oleh takdir.

"Untuk saat ini, tidak ada," jawab Evelyn akhirnya, suaranya kembali ke nada sopannya yang terlatih namun kini memiliki sedikit kehangatan yang tidak ada sebelumnya. "Terima kasih, Mr. Fool. Dan terima kasih, Mr. Chariot, atas penjelasannya—serta Batu Mananya."

"Jaga dirimu baik-baik, Miss Justice," balas Arlan singkat. Namun kalimat itu, dari seseorang yang setiap katanya selalu dihitung, terasa memiliki bobot yang lebih dari sekadar basa-basi.

Mr. Fool tidak berkata apa pun. Ia hanya mengetukkan jarinya di atas meja satu kali terakhir.

Dan kabut putih yang selama ini bergolak di bawah lantai kristal mulai naik, perlahan menyelimuti seluruh ruangan, memutihkan pilar-pilar obsidian dan meja marmer kuno hingga semuanya lenyap di dalam keheningan yang absolut.

Pertemuan pertama The Tarot Gathering telah berakhir.

More Chapters