Cherreads

Chapter 2 - BAB 2 — Dunia yang Tidak Sama

Cahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra, jatuh lembut di lantai kayu yang dingin.

Li Wei sudah terbangun sejak lama. Namun kali ini, ia tidak lagi merasa bingung seperti kemarin. Sebaliknya—ia diam.

Mengamati.

Menganalisis.

Duduk di tepi ranjang, ia menatap ruangan di sekitarnya dengan mata tajam. Semua detail ia serap perlahan, seolah takut melewatkan sesuatu yang penting.

"Ini bukan mimpi…"

Suara langkah kaki terdengar dari luar.

Tok… tok…

"Tuan muda, apakah Anda sudah bangun?"

Suara perempuan terdengar lembut, namun ada sedikit keraguan di dalamnya.

Li Wei tidak langsung menjawab.

Ia mengingat. Dalam ingatan tubuh ini, suara itu milik seorang pelayan pribadi—Xiao Yu, gadis yang telah melayaninya sejak kecil.

"…Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Seorang gadis berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun masuk sambil menunduk hormat. Pakaiannya sederhana, namun bersih. Wajahnya cantik alami, tapi sorot matanya tampak… berhati-hati.

"Syukurlah Tuan muda sudah bangun. Tuan kemarin membuat semua orang khawatir…"

Li Wei memperhatikan reaksinya.

Nada suaranya sopan. Tapi tidak hangat.

'Jadi… posisiku di rumah ini tidak terlalu dihormati,' pikirnya. Dia tidak tersinggung.

Justru… ini informasi berharga.

"Aku baik-baik saja," jawab Li Wei singkat.

Xiao Yu terlihat sedikit terkejut.

Biasanya, tuan mudanya akan banyak mengeluh atau bersikap manja. Tapi hari ini… ada sesuatu yang berbeda.

"Kalau begitu… apakah Tuan ingin sarapan sekarang?"

Li Wei berdiri perlahan.

"Ya. Dan siapkan air. Aku ingin membersihkan diri."

"Baik, Tuan muda."

Xiao Yu segera pergi.

Li Wei berjalan menuju cermin perunggu di sudut ruangan. Pantulan wajah seorang pemuda tampan muncul. Namun bukan itu yang ia perhatikan.

Tatapannya. Dingin. Tenang. Penuh perhitungan.

"Dari semua kemungkinan…"

Ia menghela napas pelan.

"Aku justru lahir di keluarga bangsawan kecil."

Dalam dunia seperti ini, status adalah segalanya. Jika ia terlahir sebagai rakyat biasa—ia bisa bebas, tapi lemah.

Jika ia terlahir sebagai bangsawan besar—ia punya kekuatan, tapi juga penuh intrik.

Dan sekarang?

Ia berada di tengah.

Posisi yang… berbahaya.

Tak lama kemudian, Li Wei keluar dari kamarnya. Koridor rumah besar itu tampak sepi. Pelayan berlalu lalang, namun ketika melihatnya, mereka hanya menunduk sekilas—tanpa rasa hormat yang dalam.

Beberapa bahkan berbisik pelan.

"Bukankah dia kemarin hampir mati?"

"Ya… katanya penyakitnya kambuh lagi."

"Kalau tuan muda meninggal, mungkin beban keluarga jadi lebih ringan…"

Li Wei mendengar semuanya.

Namun ekspresinya tidak berubah.

'Menarik…'

Ia justru semakin memahami situasinya.

"Berarti… aku dianggap tidak berguna."

Ia berjalan menuju ruang makan.

Di sana, seorang pria paruh baya sudah duduk dengan wajah serius. Tubuhnya tegap, namun ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.

Begitu Li Wei masuk, pria itu mengangkat pandangan.

Itu adalah ayahnya di kehidupan ini—Li Zheng.

"Kau sudah bangun?"

Nada suaranya datar. Tidak dingin. Tapi juga tidak hangat.

Li Wei sedikit menunduk.

"Ya, Ayah."

Li Zheng menatapnya beberapa saat.

Seolah mencoba memastikan sesuatu.

"Kau… terlihat berbeda hari ini."

Li Wei tidak langsung menjawab.

Ia tahu—ini ujian pertama.

"Putra hanya merasa… sudah terlalu lama hidup tanpa tujuan."

Kalimat itu keluar dengan tenang.

Namun cukup untuk membuat suasana berubah. Li Zheng menyipitkan mata.

"Tanpa tujuan?"

"Ya. Tapi sekarang… putra ingin berubah."

Sunyi. Beberapa detik terasa panjang.

Lalu— "Hmph."

Li Zheng menghela napas.

"Kalau kau benar-benar bisa berubah, itu akan menjadi hal baik."

Nada suaranya masih datar.

Tapi kali ini… ada sedikit harapan tersembunyi.

"Duduk. Makan."

Li Wei menurut.

Makanan di atas meja sederhana untuk ukuran bangsawan. Nasi, sayuran, sedikit daging. Tidak mewah. Ini cukup untuk memastikan satu hal:

Keluarga ini… sedang kesulitan.

Setelah makan, Li Wei tidak kembali ke kamar. Sebaliknya—

"Ayah, putra ingin keluar sebentar."

Li Zheng mengangkat alis.

"Keluar?"

"Ya. Putra ingin melihat keadaan kota."

Li Zheng menatapnya lama. Biasanya, anak ini tidak pernah tertarik dengan hal seperti itu. Namun…

"Baik. Tapi jangan membuat masalah."

"Putra mengerti."

Gerbang rumah terbuka. Untuk pertama kalinya sejak ia bangkit di dunia ini, Li Wei benar-benar menginjakkan kaki di luar.

Dan— Suasana kota langsung menyambutnya.

Ini adalah Luoyang. Pusat kekuasaan Dinasti Han.

Namun yang ia lihat… bukan kemegahan.

Melainkan ketegangan. Jalanan ramai, tapi wajah orang-orang tidak tenang.

Pedagang berteriak menawarkan barang.

Namun pembeli menawar dengan keras.

Beberapa orang berkumpul di sudut jalan, berbisik pelan.

Li Wei berjalan perlahan, menyatu dengan keramaian. Pendengarannya fokus.

"Katanya di daerah selatan sudah mulai kacau…"

"Banyak orang ikut ajaran itu…"

"Zhang Jiao… katanya bisa menyembuhkan penyakit…"

Nama itu muncul.

Dan Li Wei langsung berhenti.

Zhang Jiao. Nama pemimpin Pemberontakan Serban Kuning.

'Jadi… sudah mulai menyebar.'

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia tahu apa arti ini. Waktu hampir habis.

Ia melanjutkan langkah. Di dekat pasar, ia melihat sekelompok tentara. Armor mereka kusam, wajah mereka lelah. Salah satu dari mereka berbicara dengan suara kesal.

"Gaji belum turun lagi."

"Kalau begini terus, siapa yang mau bertarung?"

"Pemerintah pusat sudah terlalu busuk…"

Li Wei menatap mereka dari kejauhan.

Ini bukan tentara elit. Ini adalah prajurit biasa. Dan jika moral mereka sudah seperti ini…

Maka kekaisaran benar-benar berada di ujung kehancuran. Langit mulai sedikit mendung. Angin berhembus membawa debu tipis.

Li Wei berhenti di tengah jalan. Matanya menyapu kota sekali lagi. Semua yang ia lihat hari ini—

Rakyat gelisah. Tentara tidak puas.

Desas-desus pemberontakan. Semua sesuai dengan sejarah. Namun…

"Tidak sepenuhnya sama."

Ia menyipitkan mata. Ada sesuatu yang berbeda. Tapi ia belum bisa menangkapnya.

[Ding!]

Suara familiar kembali terdengar. Li Wei langsung fokus.

[Laporan: Tingkat Pemahaman Dunia meningkat.]

[Hadiah: +1 Kecerdasan]

[Stat diperbarui.]

Ia tersenyum tipis.

"Sistem ini… benar-benar membantu."

Namun belum selesai.

[Ding! Misi Baru Diterima]

[Misi: Memahami Fondasi Kekuatan]

Deskripsi: Di dunia yang kacau, hanya yang kuat yang bisa bertahan.

Tujuan: Temukan satu jalur kekuatan (Bela Diri / Strategi / Politik)

Hadiah: Skill Dasar sesuai jalur

Li Wei menatap layar itu dalam diam.

Lalu perlahan— Ia tertawa kecil.

"Jadi… aku harus memilih jalan."

Di dunia Tiga Kerajaan—

Ada banyak cara untuk menjadi besar.

Menjadi jenderal seperti Guan Yu.

Menjadi ahli strategi seperti Zhuge Liang.

Atau menjadi penguasa licik seperti Cao Cao.

Namun—

"Aku tidak harus memilih hanya satu."

Matanya berkilat.

Ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun. Pengetahuan masa depan. Dan sistem.

Jika ia menggabungkan keduanya…

"Maka batasanku… tidak ada."

Angin bertiup lebih kencang. Di kejauhan, awan gelap mulai berkumpul.

Seolah langit sendiri memberi peringatan.

Li Wei berbalik. Langkahnya mantap saat kembali ke rumah. Namun kali ini—

Ia bukan lagi pemuda lemah yang baru bangun dari kebingungan. Ia sudah melihat dunia ini. Dan memahami satu hal penting.

Bahwa badai besar… akan segera datang.

Di depan gerbang rumah, ia berhenti sejenak. Menatap langit. Lalu— Dengan suara pelan namun penuh tekad, ia berkata:

"Jika dunia ini akan jatuh ke dalam kekacauan…"

Matanya menyipit.

"...maka aku akan berdiri di atasnya."

More Chapters