Ada satu titik kecil kehidupan yang terasa lebih jelas dari biasanya di sofa panjang, tempat Mahendra duduk bersandar, dan seorang gadis kecil yang tidak beranjak sedikit pun dari dekatnya sejak mereka pulang dari rumah sakit. Kiara duduk di pangkuannya, tubuh kecilnya bersandar tanpa ragu, seolah jarak sekecil apa pun kini terasa terlalu jauh untuknya.
Boneka Barbie di tangannya bergerak pelan, seolah sedang berbicara satu sama lain, meskipun suara yang keluar hanya gumaman kecil yang tidak jelas, sesekali diselingi tawa kecil yang jujur dan ringan.
Dekat.
Terlalu dekat.
Seolah takut kehilangan.
Mahendra memperhatikannya dalam diam, lebih lama dari biasanya, seolah tidak ingin melewatkan satu gerakan pun dari anak itu. Tangannya bergerak pelan, mengusap rambut panjang Kiara yang jatuh di bahunya, berulang tanpa sadar, seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat sesuatu dengan sangat hati-hati. Wajahnya tenang, tapi tidak sepenuhnya ringan. Ada sesuatu yang tertahan, sesuatu yang tidak ia ucapkan, namun tetap terasa di antara napas yang ia tarik perlahan.
"Kiara…" panggilnya pelan.
Gadis kecil itu tidak langsung menoleh.
"Hm?" jawabnya, masih sibuk bermain. Mahendra tersenyum tipis, lalu menatapnya lebih dalam, lebih lama dari yang seharusnya.
"Ayah sayang sekali sama kamu." Kalimat itu jatuh pelan.
Namun menetap.
Kiara berhenti sejenak, hanya sebentar, lalu menoleh dengan wajah polos yang belum sepenuhnya mengerti kenapa kalimat itu terasa berbeda malam ini. Namun ia tidak bertanya. Ia hanya tersenyum kecil, lalu menjawab dengan ringan, seolah itu adalah hal paling pasti di dunia.
"Aku juga sayang Ayah." Sederhana.
Tanpa ragu.
Mahendra mengangguk pelan, tangannya kembali mengusap kepala Kiara, kali ini lebih lama, lebih hati-hati, seolah tidak ingin gerakan itu berhenti terlalu cepat.
"Belajar yang rajin, ya…" lanjutnya pelan. "Dengerin guru di sekolah. Jangan nakal, "Kiara mengerucutkan bibirnya sedikit. "Aku gak nakal…" gumamnya pelan.
Mahendra tertawa kecil, pendek namun hangat, mengalah tanpa benar-benar ingin membantah, "Iya, kamu gak nakal," balasnya. "Tapi tetap harus jadi anak yang kuat." Kiara kembali menatapnya, kali ini lebih lama, matanya sedikit menyempit seolah sedang berpikir, mencoba memahami sesuatu yang tidak biasa ia dengar.
"Kenapa harus kuat?"
Pertanyaan itu ringan.
Namun tidak sederhana.
Mahendra terdiam sejenak, hanya satu atau dua detik, sebelum akhirnya menarik napas pelan dan kembali tersenyum, meskipun kali ini senyum itu terasa lebih dalam, lebih berat, "Supaya bisa jaga diri kamu sendiri nanti," jawabnya pelan. "Supaya kamu gak mudah sedih."
Kiara langsung terdiam.
Wajah kecilnya berubah pelan, hampir tidak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa sesuatu di dalam dirinya mulai menangkap makna yang belum sepenuhnya ia pahami. Ada rasa tidak enak yang muncul, samar, tapi nyata. Tanpa banyak berpikir, ia langsung meraih tubuh ayahnya dan memeluknya erat, jauh lebih erat dari sebelumnya, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk memastikan semuanya tetap sama.
"Kan ada Ayah…" ucapnya pelan, suaranya mulai bergetar. "Ayah yang jaga Kiara… selalu, kan?"
Mahendra membeku.
Sesaat.
Namun cukup.
Tangannya perlahan naik, membalas pelukan itu, menahan tubuh kecil itu lebih dekat, lebih rapat, seolah tidak ingin ada jarak sedikit pun di antara mereka. "Iya…" jawabnya akhirnya, suaranya lebih rendah, lebih dalam. "Ayah di sini."
Pendek.
Namun penuh usaha.
Kiara semakin merapatkan pelukannya, wajahnya tersembunyi di dada ayahnya, seolah itu sudah cukup, seolah dunia akan tetap utuh selama ia masih bisa berada di sana.
Dan untuk malam itu—
Mahendra membiarkannya.
Tanpa mencoba melepaskan.
Tanpa mencoba menjauh.
Karena untuk pertama kalinya… ia tahu, bukan hanya Kiara yang takut kehilangan.
…
Pagi datang lebih cepat dari biasanya di rumah dinas itu, membawa cahaya yang masuk perlahan dari celah jendela, menerangi sudut-sudut ruangan dengan warna yang lembut namun tetap terasa dingin. Tidak ada suara tawa seperti hari-hari sebelumnya, tidak juga langkah kaki kecil yang berlari tanpa arah. Yang terdengar hanya aktivitas yang lebih pelan, lebih teratur seolah semua orang bergerak dengan kehati-hatian yang tidak diucapkan.
Di kamar Kiara, seorang babysitter berdiri di belakangnya, menyisir rambut panjang gadis kecil itu dengan gerakan rapi dan terlatih, membaginya menjadi dua sebelum mengikatnya dengan pita yang sederhana namun manis. Seragam sekolahnya sudah terpasang dengan baik, meskipun tubuh kecil itu tampak tidak seceria biasanya saat mengenakannya.
Kiara duduk diam.
Terlalu diam.
Matanya tidak benar-benar fokus ke cermin di depannya, melainkan kosong, seperti memikirkan sesuatu yang tidak ia mengerti sepenuhnya. Sejak kemarin, sejak perjalanan dari rumah sakit itu, ada sisa perasaan yang belum hilang, tapi mengganjal. Ia tidak menangis. Tidak juga bertanya. Hanya tidak seaktif biasanya.
Babysitter itu memperhatikan dari balik bahu lalu tersenyum kecil. "Hari ini Kiara diantar Ayah, loh," ucapnya ringan, mencoba menghidupkan suasana.
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup.
Kiara langsung mengangkat wajahnya."Beneran?" tanyanya cepat, suaranya berubah dalam sekejap. Matanya yang tadi redup kini berbinar lagi, hidup, seolah satu kalimat itu berhasil menghapus semua rasa tidak enak yang tersisa sejak kemarin. Bibirnya perlahan membentuk senyum, kecil, lalu melebar tanpa ia sadari.
"Iya," jawab babysitter itu sambil merapikan kerah seragamnya. "Ayah bilang mau antar sendiri."
Perubahan itu terlihat jelas.
Dari diam… menjadi terang.
Kiara langsung berdiri dari kursinya, sedikit terlalu cepat hingga hampir kehilangan keseimbangan, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah kecil yang lebih ringan dari sebelumnya. Di ruang makan, sarapan sudah tersaji rapi di atas meja, dan Mahendra duduk di sana, masih dengan pakaian dinasnya, namun kali ini belum sepenuhnya siap berangkat. Tatapannya langsung terangkat saat melihat Kiara muncul di ambang pintu.
Dan untuk sesaat wajahnya melunak.
Kiara berjalan mendekat, lalu duduk di kursinya tanpa disuruh, meskipun tubuhnya masih sedikit condong ke arah ayahnya, seperti tidak ingin terlalu jauh. "Duduk yang benar," ujar babysitter itu pelan, lalu mulai menyuapi Kiara dengan sabar.
Kiara membuka mulutnya tanpa protes.
Jarang terjadi.
Namun pagi ini, ia menurut.
Mahendra memperhatikan dari seberang meja, diam, tangannya terlipat ringan di atas permukaan meja, matanya tidak lepas dari putrinya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara ia melihat pagi ini lebih lama, lebih dalam, seolah setiap detail kecil menjadi penting.
Sendok demi sendok masuk.
Pelan.
Teratur.
Sesekali Kiara melirik ke arah ayahnya, memastikan ia masih di sana, dan setiap kali itu pula Mahendra tetap menatapnya, tidak berpaling. Setelah selesai makan, babysitter itu berjongkok di depan Kiara, mengambil sepatu sekolahnya dan mulai memakaikannya dengan hati-hati, merapikan kaus kaki yang sedikit terlipat, lalu mengikat tali sepatunya dengan rapi.
"Sudah siap," ucapnya lembut.
Kiara berdiri.
Lalu menoleh ke satu arah.
"Ayah…"
Mahendra sudah lebih dulu berdiri menunggunya, "Ayo," ucapnya singkat, namun kali ini nadanya tidak sekaku biasanya. Kiara langsung berjalan cepat ke arahnya, hampir seperti berlari kecil, lalu berdiri tepat di sampingnya tanpa ragu.
Dekat.
Seperti semalam.
Mahendra menatapnya sebentar, lalu tanpa banyak kata, berjalan lebih dulu menuju pintu. Kiara mengikuti di sampingnya, langkahnya kecil namun cepat, berusaha menyamakan ritme dengan langkah panjang ayahnya.
Dan pagi itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama rumah itu terasa sedikit lebih hidup.
…
Perjalanan pagi itu awalnya berjalan seperti biasa, tenang, bahkan terasa sedikit lebih hangat dari hari-hari sebelumnya. Kiara duduk di kursi belakang, seragamnya rapi, tas kecilnya dipeluk di pangkuan, matanya sesekali melirik ke arah ayahnya di kursi depan. Ada rasa senang yang belum sepenuhnya hilang hari ini ia diantar sendiri. Hal sederhana, tapi cukup untuk membuat dunianya terasa lebih baik, cukup untuk membuatnya kembali merasa aman setelah perasaan tidak enak yang sempat tinggal sejak kemarin.
Tenang.
Hangat.
Seharusnya begitu.
Namun perubahan itu datang tanpa peringatan. Mahendra yang sejak tadi diam, perlahan menggeser posisinya di kursi, tangannya naik ke dada, menekan pelan seolah mencoba menahan sesuatu yang mulai muncul dari dalam. Napasnya berubah lebih berat, lebih pendek, tidak lagi teratur seperti sebelumnya. Rahangnya mengeras, namun ia masih berusaha diam, masih mencoba menahan, seperti kebiasaannya selama ini.
Sampai akhirnya ia tidak bisa lagi.
"Putar… ke rumah sakit," ucapnya pelan, suaranya tertahan.
Sopir langsung menoleh lewat kaca spion, dan dalam satu pandangan saja ia tahu situasinya tidak baik. Wajah Mahendra pucat, napasnya tersengal, tubuhnya sedikit membungkuk menahan nyeri yang tidak lagi bisa disembunyikan. Tanpa banyak tanya, mobil langsung berbelok, arah berubah drastis, kecepatannya meningkat, memotong jalan menuju tujuan yang berbeda. Sekolah terlupakan. Yang ada sekarang hanya satu tujuan.
Rumah sakit.
Kiara langsung menegakkan tubuhnya. "Ayah?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Mahendra menunduk, tangannya masih menekan dada, napasnya semakin berat, seolah setiap tarikan udara menjadi perjuangan yang terlalu besar. Kiara mulai gelisah, matanya membesar, dadanya ikut terasa sesak hanya karena melihat perubahan itu.
"Ayah…" ulangnya, kali ini lebih panik dan suaranya mulai bergetar.
Mobil berhenti mendadak di depan UGD, pintu langsung terbuka, dan beberapa tenaga medis berlari mendekat dengan gerakan cepat dan terlatih. Mahendra dibantu turun, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri sendiri, hingga dua orang harus menopangnya dari kedua sisi. Suara instruksi terdengar bersahutan, cepat, tegas, tanpa jeda.
"Pak, tarik napas—"
"Cepat, bawa ke dalam!"
Semua terjadi terlalu cepat.
Kiara ikut turun dari mobil sendiri dan Langkahnya goyah.
Matanya langsung tertuju pada ayahnya yang kini dibopong masuk, menjauh darinya dengan kecepatan yang tidak bisa ia kejar.
"Ayah!" Tangisnya pecah.
Ia berlari kecil, tanpa berpikir, tangannya terulur ke depan, mencoba menggapai sesuatu yang terus menjauh darinya. Ia tidak peduli siapa yang melihat, tidak peduli apa yang terjadi, yang ia tahu hanya satu, ia tidak mau ditinggal.
"Ayah, tunggu!"
Namun tubuh kecil itu terhenti sebelum sempat mendekat. Seorang perawat dengan sigap menahannya, lalu mengangkatnya ke dalam gendongan agar ia tidak berlari masuk ke area UGD yang sibuk. Kiara meronta, tangannya masih terulur ke arah pintu yang kini hampir tertutup.
"Sayang, tidak boleh masuk ya…" ucap perawat itu lembut, berusaha menenangkan. "Tapi itu Ayahku!" Kiara menangis keras, suaranya pecah, napasnya tidak teratur. "Aku mau ikut! Aku mau sama Ayah!"
Pintu itu tertutup.
Cepat.
Tanpa menunggu.
Mahendra sudah tidak terlihat lagi.
Kiara semakin menangis di gendongan perawat, wajahnya basah, tubuhnya gemetar kecil, tangannya masih mencoba meraih sesuatu yang sudah tidak ada di hadapannya. Dunia kecilnya terasa runtuh dalam hitungan detik, tanpa penjelasan, tanpa persiapan.
"Ayah… Ayah…"
Perawat itu mengusap punggungnya pelan, mencoba menenangkan dengan suara yang lembut, meskipun tahu tidak akan cukup untuk menghentikan tangis itu, "Tidak apa-apa… Ayah lagi ditolong dokter…"
Namun bagi Kiara itu tidak cukup dan untuk pertama kalinya, rasa takut itu datang tanpa sisa utuh, penuh, dan tidak bisa ia pahami.
…
Telepon itu datang tanpa jeda, memotong semua yang sedang Kenan lakukan siang itu. Suara di seberang terdengar tergesa, tertahan, namun cukup jelas untuk membuat sesuatu di dalam dirinya langsung menegang. Ajudan pribadi Mahendra. Kata-katanya singkat, terputus-putus, tapi cukup untuk membentuk satu gambaran yang tidak ingin ia dengar, Mahendra dilarikan ke rumah sakit secara mendadak saat sedang mengantar Kiara. Tidak ada ruang untuk berpikir panjang.
Tidak ada waktu untuk menimbang. Kenan sudah berdiri sebelum panggilan itu benar-benar berakhir, mengambil kunci, melangkah keluar dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya, lebih tajam, lebih tegas, seolah seluruh tubuhnya sudah tahu arah sebelum ia sempat menyadarinya.
Cepat.
Tanpa jeda.
Harus sampai.
Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Jalanan yang biasanya bisa ia kendalikan kini terasa menghambat, lampu merah terasa terlalu lama, dan setiap detik yang lewat terasa tidak pada tempatnya.
Tangannya tetap stabil di kemudi, namun rahangnya mengeras, matanya fokus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun selain satu tujuan. Untuk pertama kalinya, ia tidak menyukai keterlambatan sekecil apa pun.
Ia tiba di rumah sakit militer dan langsung masuk ke area UGD tanpa memperlambat langkah. Sepatu militernya menghantam lantai dengan ritme cepat, matanya menyapu ruangan dalam sekali pandang, mencari titik yang ia butuhkan. Seorang perawat yang melintas langsung ia hentikan, nadanya tetap terkontrol, namun jelas tidak memberi ruang untuk penundaan.
"Saya Kapten Kenan dari kesatuan Kolonel Mahendra," ucapnya singkat. "Bawahan langsung beliau. Di mana Kolonel Mahendra sekarang?"
Perawat itu sedikit terkejut namun langsung menjawab.
"Masih dalam penanganan, Pak," katanya cepat. "Kondisinya kritis, kemungkinan akan segera dibawa ke ruang operasi. Kalimat itu jatuh tanpa hiasan, datar, profesional, namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Kenan semakin menegang. Ia mengangguk sekali, pendek, tidak membuang waktu untuk bereaksi lebih jauh.
Di saat yang sama, seorang pria lain bergegas mendekat sopir sekaligus ajudan yang tadi bersama Mahendra, wajahnya masih tegang, napasnya belum sepenuhnya stabil.
"Kapten Kenan," ucapnya cepat. "Pak Mahendra langsung ditangani begitu sampai. Dokter bilang harus segera dioperasi."
Kenan kembali mengangguk.
Singkat.
Tegas.
Namun tepat di tengah semua itu, sesuatu lain muncul sesuatu yang tidak boleh ia lewatkan. Pikirannya langsung beralih, matanya bergerak lagi, mencari sesuatu yang belum ia lihat sejak pertama masuk.
Kiara.
"Anaknya?" tanyanya cepat. "Anak Pak Mahendra, Kiara, di mana dia?"
Perawat itu langsung menjawab, kali ini nadanya sedikit lebih lembut.
"Anaknya tadi menangis terus, Pak… tidak mau lepas dari ayahnya," ujarnya pelan. "Sekarang ada di taman depan, kami temani supaya lebih tenang."
Satu detik.
Cukup.
Kenan tidak menjawab lagi. Ia langsung berbalik, langkahnya kembali cepat, keluar dari area UGD tanpa ragu, mengikuti arah yang disebutkan. Udara luar terasa lebih terbuka, namun tidak membuat pikirannya lebih ringan.
Taman kecil di depan rumah sakit terlihat sepi, hanya ada bangku panjang dan beberapa pohon yang berdiri diam, suasananya terlalu tenang untuk sesuatu yang baru saja terjadi.
Dan di sana ia melihatnya.
Seorang gadis kecil duduk di bangku, ditemani seorang perawat, tubuhnya sedikit membungkuk, matanya masih basah, tangannya menggenggam ujung bajunya erat-erat. Tidak ada tawa. Tidak ada gerakan aktif seperti biasanya.
Hanya sisa tangis yang belum benar-benar reda, dan keheningan yang terasa terlalu besar untuk ukuran dirinya.
Diam.
Sepi.
Berbeda.
Langkah Kenan melambat sedikit saat mendekat, namun tidak berhenti. Tatapannya tertuju penuh pada anak itu, pada perubahan yang tidak seharusnya terjadi secepat ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia datang fokusnya benar-benar berpindah.
Kenan datang tanpa suara, langkahnya melambat saat memasuki area taman itu, seolah secara naluriah ia menahan dirinya agar tidak mengusik sesuatu yang sudah terlalu rapuh.
Dari kejauhan ia sudah melihat sosok kecil itu—duduk di bangku dengan tubuh sedikit membungkuk, bahunya turun, tidak lagi seperti anak yang berlari-lari beberapa hari lalu.
Ada sesuatu yang berbeda. Terlalu berbeda. Kenan berhenti beberapa langkah di depannya, lalu perlahan berjongkok, menyamakan tinggi tanpa tergesa, tanpa suara, hanya kehadirannya yang perlahan masuk ke ruang kecil yang kini dipenuhi oleh diam dan sisa tangis.
Perawat yang menemani menoleh.
Mengenali.
Lalu menghela napas kecil, "Saya pamit dulu ya," ucapnya pelan, hampir berbisik, seolah tidak ingin menambah beban suasana yang sudah cukup berat.
Kenan hanya mengangguk.
Singkat.
Tanpa mengalihkan pandangan dari Kiara.
Langkah perawat itu menjauh, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang lebih utuh. Tidak ada suara selain hembusan angin pelan dan napas kecil yang masih tersisa dari tangis yang belum benar-benar reda. Kiara tidak langsung menyadari kehadiran Kenan.
Ia masih menunduk, jemarinya menggenggam ujung bajunya sendiri erat-erat, seperti anak yang mencoba menahan sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
"Kiara…" panggil Kenan akhirnya, suaranya rendah, jauh lebih lembut dari biasanya.
Pelan.
Hati-hati.
Seolah takut suara itu terlalu berat untuknya.
Kiara perlahan mengangkat wajahnya.
Dan saat matanya bertemu dengan Kenan, semuanya runtuh lagi.
Tangisnya pecah seketika, lebih keras, lebih dalam, tidak lagi tertahan seperti sebelumnya. Air matanya jatuh tanpa jeda, napasnya tersengal, dan tubuh kecil itu langsung bergerak tanpa ragu, seolah menemukan sesuatu yang bisa ia pegang.
"Paman…" suaranya gemetar, pecah di tengah isak.
Pendek.
Namun menyayat.
Kenan terdiam sesaat. Dadanya terasa tertarik oleh sesuatu yang tidak biasa ia rasakan, sesuatu yang tidak bisa ia kategorikan sebagai sekadar empati atau tanggung jawab. Ia sudah melihat banyak hal dalam hidupnya seperti situasi kritis, kehilangan, bahkan kematian namun melihat seorang anak kecil menangis seperti ini, dengan ketakutan yang begitu nyata, begitu polos terasa berbeda.
Terlalu dalam.
Dan tanpa ia sadari, bayangan lain melintas cepat di benaknya.
Elang, anaknya.
Sekilas saja.
Namun cukup untuk membuat rahangnya mengeras dan napasnya tertahan sejenak. Ia tidak bisa membayangkan. Tidak ingin membayangkan. Jika suatu hari anaknya berada di posisi yang sama, menangis seperti ini, sendirian, kehilangan satu-satunya tempat ia merasa aman.
Tanpa berpikir lebih jauh, tanpa mempertimbangkan apa pun lagi, Kenan bergerak. Tangannya terulur, menarik tubuh kecil itu mendekat, lalu mengangkatnya ke dalam pelukan dengan gerakan yang tegas namun hati-hati.
Kiara langsung merespons, seolah itu adalah sesuatu yang ia tunggu sejak tadi. Tangannya melingkar di leher Kenan, erat, tanpa ragu, sementara wajahnya langsung tenggelam di sana, di lekukan leher yang kini menjadi tempatnya bersembunyi dari dunia yang terasa terlalu besar.
"Ayah… Ayah…" isaknya pecah lagi, lebih dalam, lebih putus.
Kenan menutup matanya sesaat, lalu menghembuskan napas pelan.
Tangannya naik, mengusap punggung kecil itu dengan ritme yang stabil, berulang, mencoba memberikan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin cukup.
"Shh… tidak apa-apa," ucapnya rendah. "Ayah lagi ditangani dokter… semuanya akan baik-baik saja." Kalimat itu sederhana namun kali ini ia tidak mengucapkannya kosong.
Kiara tetap menangis. Tubuh kecilnya bergetar di pelukan itu, tangannya mencengkeram lebih erat, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, semuanya akan hilang. Napasnya tidak teratur, wajahnya semakin dalam tersembunyi di leher Kenan, air matanya membasahi seragam pria itu tanpa ia sadari.
Kenan tidak bergerak.
Tidak menjauh.
Tidak melepaskan.
Ia justru menariknya sedikit lebih dekat, satu tangannya menahan punggung, satu lagi tetap mengusap pelan, menjaga ritme itu tetap ada ritme yang mencoba menggantikan sesuatu yang hilang untuk sementara waktu.
Dan di tengah semua itu ia tersentuh.
Bukan sekadar karena tangisan itu.
Bukan hanya karena situasi.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa kecilnya seorang anak ketika dunia yang ia kenal tiba-tiba runtuh di depan matanya.
Dan betapa besar rasa takut itu saat satu-satunya orang yang ia percaya tidak bisa ia jangkau.
…
Waktu berjalan tanpa terasa, namun juga terasa terlalu lama untuk dilewati. Langit perlahan berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga yang lembut, cahaya senja jatuh menyusup di sela-sela pepohonan taman rumah sakit, menciptakan bayangan panjang yang diam di tanah.
Udara menjadi lebih sejuk, lebih tenang, namun ketenangan itu tidak benar-benar sampai pada dua sosok yang masih bertahan di bangku yang sama sejak siang tadi. Kiara masih berada di pelukan Kenan, tubuh kecilnya kini lebih lemas, tidak lagi meronta seperti sebelumnya, hanya sesekali bergetar oleh sisa tangis yang belum benar-benar hilang, napasnya mulai lebih teratur meskipun kadang terselip isak kecil yang tertahan.
Kepalanya bersandar di bahu Kenan, matanya setengah terpejam, tangannya masih menggenggam seragam pria itu tidak seerat tadi, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia belum siap melepaskan satu-satunya pegangan yang tersisa di dunia kecilnya.
Pelan.
Lelah dan hampir terlelap.
Kenan tetap diam, tidak bergerak banyak, hanya sesekali mengusap punggung kecil itu dengan ritme yang stabil, menjaga kehangatan yang tersisa di antara mereka. Tatapannya kosong ke depan, namun pikirannya tidak benar-benar di sana. Ia tidak menghitung waktu.
Tidak juga mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia hanya bertahan, menjaga anak itu tetap di pelukannya, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan di tengah situasi yang mulai keluar dari batas yang biasa ia pahami.
Sampai getaran ponsel itu akhirnya memecah keheningan yang terlalu lama menggantung di antara mereka. Bukan suara yang keras, bukan juga sesuatu yang mencolok hanya getaran kecil di saku seragam Kenan, namun terasa begitu mengganggu di tengah suasana yang rapuh itu.
Kenan menunduk sedikit, menarik ponsel itu dengan gerakan perlahan, seolah bahkan suara sekecil itu tidak ingin ia biarkan mengusik anak yang hampir terlelap di pelukannya. Ia tidak langsung berbicara. Tidak juga menarik napas dalam. Ia hanya menempelkan ponsel itu ke telinganya, dan mendengarkan.
Diam.
Dan di seberang sana, suara ajudan itu terdengar berbeda. Tidak lagi tergesa. Tidak lagi panik.
Lebih pelan.
"Kapten… mohon segera ke ruang operasi," ucapnya, dengan jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya, seolah setiap kata harus dipilih dengan hati-hati sebelum diucapkan. Tidak ada lagi nada mendesak seperti sebelumnya.
Tidak ada kepanikan. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih jelas, sesuatu telah berubah.
Kenan tidak menjawab, ia menunggu.
Tanpa sadar menahan napas.
"…Kolonel Mahendra… sudah tidak tertolong, capt." Kalimat itu jatuh begitu saja, datar, tanpa penekanan, tanpa usaha untuk meringankan. Namun justru karena itu, dampaknya terasa lebih dalam. Lebih tajam.
Seolah seluruh udara di sekitarnya mendadak menghilang, meninggalkan ruang kosong yang terlalu luas di dalam dadanya.
Kenan terdiam sepenuhnya
Tidak ada kata yang keluar. Tidak ada respons yang langsung muncul. Tangannya yang memegang ponsel itu tidak bergerak, bahunya sedikit menegang, rahangnya mengeras tipis, sementara pandangannya tertahan di satu titik yang tidak benar-benar ia lihat.
Waktu seperti berhenti di detik itu, membeku, menahan semuanya di antara satu kenyataan dan satu perasaan yang belum sempat ia terima sepenuhnya.
Hening.
Panjang.
Dan berat.
Di seberang sana, ajudan itu masih menunggu, seolah memberi ruang, seolah mengerti bahwa tidak semua kabar bisa langsung dijawab. "Kami menunggu di ruang operasi, capt," lanjutnya pelan, lebih sebagai informasi daripada permintaan.
Kenan akhirnya mengedipkan matanya sekali."…saya ke sana," jawabnya singkat.
Pendek, namun terdengar berbeda.
Ia menurunkan ponselnya perlahan, tangannya tidak langsung kembali ke posisi semula. Untuk beberapa detik, ia hanya duduk di sana, masih memegang benda itu, seolah bagian dari dirinya belum sepenuhnya kembali ke tubuhnya sendiri. Napasnya terasa lebih berat, tidak teratur, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak tahu harus merespons bagaimana.
Bukan karena tidak mengerti.
Tapi karena terlalu mengerti.
Di pelukannya, Kiara bergerak pelan. Tubuh kecil itu bergeser sedikit, seolah merasakan perubahan yang tidak bisa ia jelaskan. Kelopak matanya terbuka perlahan, memperlihatkan mata yang masih sayu, masih berat oleh lelah, namun kini dipenuhi sesuatu yang lain rasa yang tidak ia pahami, tapi cukup untuk membuatnya diam dan memperhatikan.
Ia menatap Kenan lama dan tanpa suara, "Paman…" bisiknya pelan, suaranya hampir hilang di udara.
Kenan menunduk perlahan, menatap balik anak itu. Dan di detik itu, sesuatu di dalam pikirannya kembali bergerak, tentang ucapan Mahendra, tatapan seorang ayah yang mencoba kuat di balik kelelahan, kalimat tentang tidak ingin anaknya sendirian, tentang seseorang yang bisa menjaga ketika ia tidak lagi mampu.
Janji itu kembali ia ingat dengan jelas, tidak lagi sekadar kemungkinan melainkan sesuatu yang kini berdiri tepat di hadapannya dan harus ia amanahkan.
Nyata dan tidak bisa dihindari.
Dada Kenan terasa sesak, seperti diremas dari dalam, , bukan oleh beban yang tiba-tiba menjadi miliknya, tapi rasa kasihan dan ibah terhadap nasib gadis kecil yang sekarang masih menatapnya.
Ia menatap Kiara lebih lama, benar-benar melihatnya mata kecilnya yang masih polos, yang belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi cukup peka untuk menunggu sesuatu darinya. Sebuah jawaban. Sebuah kepastian. Sesuatu yang bisa membuat semuanya tidak terasa runtuh sepenuhnya.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Tidak ada yang cukup.
Tidak ada yang benar.
Kenan memejamkan matanya sejenak.
Satu detik.
Cukup untuk menahan sesuatu yang hampir runtuh.
Lalu ia membuka matanya kembali, lebih tenang, meskipun tidak benar-benar ringan. Tangannya bergerak, menahan tubuh Kiara sedikit lebih erat, memastikan anak itu tidak terlepas dari pelukannya.
Tanpa mengatakan apa pun ia berdiri perlahan.
Dan tanpa perlu penjelasan, tanpa perlu kalimat yang tidak akan pernah cukup, ia melangkah masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit, membawa Kiara menuju satu kenyataan yang tidak bisa lagi ditunda.
Untuk terakhir kalinya bertemu ayahnya
