Cherreads

Chapter 2 - BAB 2 - Retakan Pertama

Tower B-7 berdiri di bekas lahan parkir di distrik Mapo.

Tiga minggu sejak kemunculannya, area dalam radius lima ratus meter sudah berubah menjadi ekosistem tersendiri — tenda komando militer, kendaraan lapis baja yang parkir sembarangan, drone pengawas yang berputar tanpa henti di udara, dan di balik semua itu, kerumunan warga sipil yang tidak bisa disuruh pergi sepenuhnya karena beberapa dari mereka adalah pemilik bisnis yang menolak meninggalkan propertinya.

Hyun-woo berdiri di tepi batas perimeter, tangan di saku, memandang menara hitam yang menjulang di kejauhan.

Ia sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat.

Aliran energi dimensi dari Tower B-7 tidak normal hari ini. Tipis tapi tidak stabil — berdenyut dengan interval yang tidak konsisten, seperti jantung yang melewatkan satu detakan setiap beberapa menit. Bagi semua orang di sekitar perimeter ini, itu tidak terasa. Bagi Hyun-woo, itu seperti seseorang yang berbicara terlalu keras di ruangan yang seharusnya sunyi.

Lantai dua belas sudah dibersihkan kemarin, pikirnya. Tapi ada yang tidak beres di lantai tiga belas.

"Hei."

Ia tidak menoleh.

"Hei, kamu."

Kali ini ia menoleh.

Seorang perempuan, mungkin satu atau dua tahun lebih tua darinya, berdiri setengah meter di sebelah kanannya dengan ekspresi yang tidak bisa diputuskan apakah itu antara curiga atau sekadar lelah. Rambut hitamnya diikat asal, jaket guild berwarna abu-abu gelap dengan logo yang Hyun-woo kenali setelah setengah detik — Iron Vanguard. Guild tier menengah atas. Spesialisasi tank dan support.

Di bawah kerah jaketnya, samar terlihat tanda berkah yang mengalir seperti tinta bercahaya — penanda visual Awakened yang muncul di kulit mereka saat energi sistem aktif.

"Area ini sudah ditutup untuk sipil," katanya. Bukan kasar — lebih ke nada seseorang yang sudah mengucapkan kalimat yang sama terlalu banyak kali hari ini.

"Aku tahu," jawab Hyun-woo.

"Kalau tahu, kenapa masih di sini?"

"Menunggu."

Perempuan itu mengerutkan dahi. "Menunggu apa?"

Hyun-woo tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke arah menara. Denyutan energi itu muncul lagi. Lebih kuat dari sebelumnya.

"Tiga menit lagi," katanya akhirnya, "tower ini akan memancarkan gelombang energi dimensi. Tidak berbahaya untuk manusia biasa. Tapi cukup untuk mengganggu alat elektronik dalam radius dua ratus meter."

Keheningan.

"...Kamu Awakened?" tanya perempuan itu, nada berbeda dari sebelumnya.

"Tidak."

Keheningan yang lebih panjang.

"Lalu bagaimana kamu—"

Gelombang itu datang.

Tidak ada suara. Tidak ada cahaya. Hanya sesuatu yang terasa seperti tekanan udara yang tiba-tiba berubah — dan semua layar di sekitar perimeter mati serentak. Drone pengawas kehilangan sinyal dan jatuh ke mode hover darurat. Beberapa prajurit berteriak kaget.

Dua ratus delapan meter, koreksi Hyun-woo dalam pikirannya. Sedikit lebih jauh dari perkiraanku.

Perempuan di sebelahnya tidak berteriak. Ia berdiri sangat diam, menatap Hyun-woo dengan ekspresi yang sudah memutuskan untuk meninggalkan zona curiga dan memasuki zona sesuatu yang belum punya nama.

"Nama kamu siapa?" tanyanya.

"Baek Hyun-woo."

"Cha Yeon-ji." Ia menyebut namanya sendiri seperti refleks. "Iron Vanguard, rank B." Pause singkat. "Kamu benar-benar bukan Awakened?"

"Benar-benar."

"Tapi kamu bisa merasakan energi tower."

Bukan pertanyaan. Hyun-woo tidak merasa perlu mengkonfirmasi atau menyangkal. Ia hanya memasukkan tangan lebih dalam ke saku jaketnya dan sedikit memiringkan kepala ke arah menara.

"Ada tim di dalam sekarang?" tanyanya.

Yeon-ji tampak seperti seseorang yang sedang berdebat dengan dirinya sendiri tentang seberapa banyak informasi yang seharusnya ia berikan kepada orang asing yang baru ia temui.

"Tim eksplorasi dari Absolute Zero," katanya akhirnya. "Enam orang. Sudah masuk empat jam lalu."

"Rank mereka?"

"Rata-rata A. Pemimpinnya A-plus."

Hyun-woo mengangguk pelan. Kalkulasi berjalan di balik ekspresinya yang tidak berubah. Rank A dengan pemimpin A-plus untuk tower yang baru di lantai tiga belas — secara teori lebih dari cukup. Tapi energi yang berdenyut tidak normal itu mengindikasikan sesuatu di luar parameter standar eksplorasi tier satu.

"Kamu di sini sebagai penjaga perimeter?" tanyanya.

"Pengamat resmi guild," koreksi Yeon-ji. "Beda."

"Bedanya?"

"Pengamat tidak ikut masuk. Tapi kalau ada yang keluar dalam kondisi darurat—" Ia menepuk sabuk peralatannya. "Aku yang pertama masuk untuk evakuasi."

Hyun-woo menatap sabuk peralatan itu sebentar. Lalu kembali ke arah menara.

Denyutan energi muncul lagi — dan kali ini berbeda. Bukan dari tower. Dari dalam tower. Dari lantai yang jauh lebih tinggi dari tiga belas.

Itu tidak mungkin.

Ia menegakkan punggungnya sedikit. Gerakan kecil yang hampir tidak terlihat — tapi Yeon-ji yang sudah menatapnya dengan sangat seksama dalam tiga menit terakhir menangkap perubahan itu.

"Ada apa?" tanyanya langsung.

"Energi yang baru keluar bukan dari lantai yang sedang dieksplorasi."

"Maksudnya?"

"Lantai di atasnya aktif." Hyun-woo tidak mengubah nada suaranya. "Padahal belum dibuka."

Yeon-ji membutuhkan dua detik untuk memproses implikasi dari kalimat itu. Lalu tangannya bergerak ke komunikator di pergelangan tangannya.

"Absolute Zero, ini Iron Vanguard pengamat eksternal—" Suaranya terpotong. Statis. Ia mencoba lagi. Statis lagi.

Hyun-woo sudah menduga ini. Gelombang kedua dari tower — lebih terfokus, lebih dalam — selalu memutus komunikasi sebelum yang pertama bisa dilaporkan. Pola yang sama persis dengan insiden Tower Busan-2 enam bulan lalu yang ia baca dalam laporan internal aliansi.

"Komunikatormu tidak akan berfungsi dalam dua puluh menit ke depan," katanya tenang.

"Dua puluh menit." Yeon-ji mengulang angka itu dengan nada yang sudah sepenuhnya meninggalkan profesionalisme awalnya. "Tim di dalam—"

"Masih punya waktu." Hyun-woo akhirnya berpaling dari menara dan menatap langsung ke arah Yeon-ji. Mata hitamnya tenang — terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menjelaskan situasi yang berpotensi mematikan. "Kalau mereka cukup cepat, mereka bisa turun sebelum lantai di atas terbuka penuh."

"Dan kalau tidak cukup cepat?"

Hyun-woo tidak menjawab.

Ia tidak perlu menjawab. Yeon-ji sudah cukup berpengalaman untuk tahu bahwa diam kadang adalah jawaban yang paling jujur.

"Aku harus masuk," kata Yeon-ji. Bukan meminta izin — lebih seperti ia sedang memberitahu seseorang tentang keputusan yang sudah final.

"Rank-mu B," kata Hyun-woo. "Lantai tiga belas dengan anomali aktif bukan zona untuk rank B."

"Terima kasih atas masukannya." Nada datar. "Tapi ini tugasku."

Ia sudah berputar hendak bergerak ketika suara Hyun-woo menahannya — bukan dengan keras, tapi dengan cara yang entah bagaimana terasa seperti pernyataan yang tidak punya ruang untuk diabaikan.

"Aku ikut."

Yeon-ji berhenti. Berbalik perlahan.

"Kamu bukan Awakened."

"Kamu sudah bilang itu."

"Ini bukan lelucon. Monster di lantai tiga belas—"

"Akan lebih mudah ditangani kalau ada yang tahu dari mana mereka datang." Hyun-woo sudah mulai berjalan ke arah pintu masuk tower. Langkah yang sama tenang dan tidak terburu-buru seperti saat ia menuruni tangga stasiun tadi pagi. "Kamu datang atau tidak?"

Yeon-ji menatap punggungnya.

Lalu menatap tower.

Lalu menatap punggungnya lagi.

"Ini melanggar delapan protokol sekaligus," gumamnya.

"Sembilan," koreksi Hyun-woo tanpa menoleh. "Kamu lupa protokol komunikasi."

Bersambung.....

More Chapters