Kereta pertama dari distrik Mapo ke utara Seoul berangkat pukul lima pagi.
Hyun-woo naik dengan jaket yang masih menyimpan bau tower — sesuatu antara batu basah dan ozon, campuran yang tidak ada di dunia luar tapi langsung dikenali oleh siapapun yang pernah menghabiskan waktu cukup lama di dalam. Di gerbong yang hampir kosong, ia duduk di dekat jendela dan menatap Seoul yang perlahan berubah warna dari hitam ke abu-abu ke oranye tipis di cakrawala.
Ia tidak tidur di dalam tenda komando tadi malam.
Bukan karena tidak mengantuk — tapi karena ada sesuatu yang ia perlu pikirkan dengan tenang sebelum pulang, sebelum menghadapi reaksi apapun yang menunggunya di hanok, sebelum harus menyusun narasi tentang malam ini menjadi sesuatu yang bisa ia ceritakan dengan jujur tanpa menceritakan terlalu banyak.
Yang pertama: sesuatu di lantai empat belas Tower B-7 merasakannya.
Bukan hanya ragu seperti makhluk-makhluk di lantai bawah. Ini berbeda — lebih disengaja, lebih terarah. Seperti sesuatu yang sudah tahu apa yang dicarinya dan menemukan petunjuknya di tempat yang tidak ia ekspektasikan.
Yang kedua: Soulform-nya bereaksi.
Hanya sedikit. Hanya sedetik. Tapi bereaksi — yang artinya sesuatu di lantai empat belas itu cukup signifikan untuk memicu respons dari bagian dirinya yang seharusnya hanya aktif dalam situasi yang benar-benar mengharuskan.
Ini yang ia belum putuskan harus dilaporkan kepada siapa.
Kereta berhenti. Dua penumpang naik. Hyun-woo menatap refleksinya di kaca jendela — wajah yang oleh kakeknya sering disebut "terlalu tenang untuk seseorang seusiamu" dan oleh ibunya disebut "punya ekspresi ayahmu tapi matanya mataku."
Mata hitam yang tidak menceritakan apapun kecuali kepada orang yang sudah tahu harus melihat ke mana.
Ayah akan bilang ini terlalu ceroboh, pikirnya. Kakek akan bilang ini tidak cukup ceroboh. Ibu akan menyiapkan sarapan dan menunggu sampai aku sendiri yang memutuskan mau cerita apa.
Kereta tiba di stasiun terakhir.
Jalan setapak menuju hanok terasa lebih panjang dari biasanya di pagi buta.
Mungkin karena langkahnya sedikit lebih berat. Mungkin karena pikirannya masih di lantai delapan Tower B-7, masih menghitung variabel yang belum selesai. Pohon-pohon zelkova di kanan kiri jalan setapak berdiri dalam kegelapan yang mulai menipis — siluet yang sudah sangat Hyun-woo kenal sampai ia bisa menggambarnya dari memori bahkan tanpa cahaya.
Ia melewati gerbang.
Tidak ada kepalan tangan yang menyambutnya.
Justru itu yang membuat Hyun-woo berhenti.
Baek Cheon-oh duduk di beranda hanok dengan secangkir teh yang sudah pasti dingin — karena sudah ada di sana sejak entah jam berapa — dan menatap Hyun-woo dengan ekspresi yang tidak punya tawa di dalamnya. Bukan marah. Bukan khawatir dalam cara yang orang lain khawatir.
Sesuatu yang lebih diam dari itu.
"Sudah makan?" tanya kakeknya.
"Belum."
"Masuk. Ibumu sudah masak."
Hyun-woo naik ke beranda, melepas sepatunya, dan masuk ke dalam hanok. Dari dapur, aroma nasi hangat dan sup yang sudah ada sejak subuh mengisi udara. Ibunya — Hwa Soo-yeon — muncul dari balik pintu dapur dengan celemek yang masih terpasang dan senyum yang tidak berubah meski sudah hampir jam enam pagi.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
"Kakek baru saja tanya hal yang sama."
"Dan jawabannya?"
"Belum."
Soo-yeon mengangguk seperti ini adalah informasi yang sangat berguna. "Duduk. Lima menit."
Hyun-woo duduk di meja makan. Kakeknya masuk dari beranda, meletakkan cangkir tehnya, dan duduk di posisi yang sama seperti setiap pagi. Dari ujung lorong, suara pintu kamar terbuka — langkah yang Hyun-woo kenali bahkan dalam tidur.
Baek Jin-seo masuk ke ruang makan dengan kimono pagi berwarna abu-abu, rambut yang sudah tersisir rapi meskipun matahari belum sepenuhnya terbit, dan ekspresi yang — bagi orang yang tidak mengenalnya — tidak menunjukkan apapun.
Bagi Hyun-woo yang mengenalnya, ekspresi itu menunjukkan bahwa ayahnya sudah tahu. Sudah tahu sejak malam tadi. Dan sudah memutuskan bagaimana ia akan merespons.
Jin-seo duduk. Mengambil sumpit. Menunggu makanan datang.
Soo-yeon meletakkan piring-piring di meja dengan efisiensi yang terasa seperti koreografi — sup hangat, nasi, lauk yang jumlahnya terlalu banyak untuk sarapan biasa. Cara ibunya menunjukkan sesuatu tanpa mengatakannya: kamu pulang terlambat dan aku sudah khawatir tapi aku tidak akan mengatakannya dengan kata-kata, jadi terima saja makanan ini.
"Cerita," kata Cheon-oh. Bukan perintah — tapi bukan permintaan biasa juga.
Hyun-woo menyendok supnya. Panas. Tepat seperti yang ia butuhkan.
Lalu ia cerita.
Tidak semua — ada bagian-bagian yang masih ia simpan untuk dirinya sendiri, kalkulasi yang belum selesai, kesimpulan yang belum cukup solid untuk diucapkan. Tapi ia cerita tentang Tower B-7, tentang Yeon-ji dan anomali energi yang ia rasakan dari luar perimeter, tentang masuk tanpa otorisasi, tentang tim Absolute Zero dan pertempuran di lantai tiga belas, tentang sesuatu yang turun dari lantai empat belas.
Dan tentang bagaimana sesuatu itu berhenti.
Ketika ia selesai, meja makan hening selama beberapa detik.
Cheon-oh adalah yang pertama bersuara. "Sesuatu di lantai empat belas merasakanmu."
"Ya."
"Dan Soulform-mu bereaksi."
"Sedikit."
Cheon-oh mengangguk pelan — gerakan yang tidak punya kebiasaannya yang ramai, tidak punya tawa yang biasanya mengisi setiap jeda. Ini versi kakeknya yang jarang keluar. Versi yang ada sebelum tawa menjadi kebiasaannya.
"Tingkat berapa menurutmu?" tanya Cheon-oh.
"Dari energinya—" Hyun-woo mempertimbangkan. "Di atas Champion. Tapi belum Sovereign. Sesuatu di antaranya yang tidak ada dalam klasifikasi kita."
Cheon-oh bertukar pandang dengan Jin-seo.
Bagi Hyun-woo yang sudah mengenal kedua orang ini seumur hidupnya, pertukaran pandang itu berbicara lebih banyak dari percakapan panjang manapun. Ada sesuatu yang mereka berdua sudah ketahui — atau sudah duga — yang malam ini mendapat konfirmasi pertamanya.
"Ada yang perlu aku tahu?" tanya Hyun-woo.
Jin-seo meletakkan sumpit.
"Tiga bulan lalu," kata ayahnya, dengan nada yang sama datar dan terukurnya seperti selalu, "Clan Seol melaporkan penglihatan baru ke dewan. Berbeda dari yang sebelumnya."
"Berbeda bagaimana?"
"Sebelumnya mereka melihat bayangan penjajah. Menara. Manusia yang bersinar." Jin-seo berhenti sebentar. "Yang tiga bulan lalu — mereka melihat sesuatu yang turun dari atas menara, bukan naik dari bawah. Sesuatu yang sudah ada di atas sebelum menara itu muncul di bumi."
Ruang makan hening lagi.
Hyun-woo memproses ini.
Sesuatu yang sudah ada di atas sebelum menara muncul. Yang artinya bukan penjajah yang naik dari dalam bumi bersama tower. Yang artinya sesuatu yang datang dari luar — dari atas, dari dimensi lain — dan menggunakan tower sebagai titik masuk dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas.
"Dewan sudah tahu ini," kata Hyun-woo. Bukan pertanyaan.
"Dewan sedang berdebat tentang ini," koreksi Jin-seo. "Ada yang percaya laporan Clan Seol. Ada yang menganggapnya interpretasi berlebihan."
"Dan Ayah?"
Jin-seo mengambil cangkir tehnya. Minum. Meletakkan kembali.
"Sekarang kita punya konfirmasi lapangan pertama," katanya. "Yang berarti debat itu akan segera selesai."
Soo-yeon yang sudah duduk diam sejak tadi berbicara untuk pertama kalinya — dengan nada yang sama lembutnya seperti selalu, tapi dengan bobot yang membuat semua orang di meja merasakannya.
"Hyun-woo."
"Ya, Ibu."
"Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang paling sederhana di meja makan yang penuh dengan informasi kompleks. Dan entah kenapa, justru pertanyaan itu yang membuat Hyun-woo butuh satu detik lebih lama dari biasanya untuk menjawab.
"Baik-baik saja," jawabnya.
Soo-yeon menatapnya — dengan cara yang berbeda dari tatapan kakeknya yang mengevaluasi kekuatan, berbeda dari tatapan ayahnya yang mengevaluasi keputusan. Tatapan ibunya mengevaluasi sesuatu yang tidak punya nama tapi selalu tepat.
Lalu ia mengangguk. "Habiskan makanannya."
Cheon-oh mengambil lauk untuk keempat kalinya. "Besok kamu lapor ke dewan."
"Aku tahu."
"Dan lusa, latihan pagi dimulai jam empat. Bukan jam tujuh."
Hyun-woo menatap kakeknya.
"Karena semalam kamu masuk tower tanpa bilang," lanjut Cheon-oh dengan nada yang kembali ke versi santainya, "dan refleksmu di lantai sembilan tadi lambat setengah detik dari yang seharusnya. Aku sudah bilang — kamu masih bisa lebih keras dari ini."
"Kakek tahu detailnya dari mana?"
Cheon-oh mengangkat bahu. "Aku selalu tahu."
Jin-seo meletakkan sumpit untuk kedua kalinya pagi ini. "Ayah. Tidak perlu—"
"Perlu," potong Cheon-oh. "Anak ini masuk tower sendirian. Kalau refleksnya setengah detik lebih lambat di situasi yang berbeda—"
"Aku tahu resikonya," kata Hyun-woo.
"Tahu dan siap itu berbeda," jawab kakeknya — dan kali ini tidak ada tawa di ujung kalimat itu.
Meja makan hening untuk ketiga kalinya.
Tapi ini keheningan yang berbeda lagi kualitasnya dari dua sebelumnya. Bukan keheningan informasi yang berat. Bukan keheningan evaluasi.
Keheningan empat orang yang duduk di meja yang sama dan masing-masing dengan caranya sendiri sedang mengatakan sesuatu yang tidak diucapkan:
Kamu pulang. Itu yang penting.
Soo-yeon mengambil mangkuk Hyun-woo yang hampir kosong dan mengisinya lagi tanpa bertanya.
Hyun-woo menatap mangkuk yang kembali penuh itu.
Di luar jendela hanok, matahari Seoul akhirnya memutuskan untuk benar-benar terbit — cahaya oranye tipis yang merayap di atas atap genteng hitam dan pohon zelkova dan tembok tua yang sudah berdiri lebih lama dari kebanyakan hal di kota ini.
Hari baru.
Dan di suatu tempat di distrik Mapo, Tower B-7 masih berdiri.
Menunggu.
Bersambung.....
