Cherreads

Chapter 10 - BAB 10 - Dua Puluh Empat Jam

Keputusan dewan datang dalam delapan jam, bukan dua puluh empat.

Pesan singkat dari ayahnya, dikirim malam itu: "Disetujui dengan modifikasi. Besok pagi."

Hyun-woo membaca pesan itu sambil berbaring di lantai kamarnya — kebiasaan yang dimulai sejak masa kecil ketika kakeknya memutuskan bahwa tidur di kasur terlalu nyaman untuk kultivator yang sedang berkembang dan ia belum pernah sepenuhnya meninggalkan kebiasaan itu meski alasannya sudah tidak relevan.

Modifikasi.

Yang artinya ada bagian dari kondisi yang ia ajukan yang tidak diterima sepenuhnya. Yang artinya ada negosiasi yang perlu terjadi besok pagi.

Ia tidak tidur dengan segera.

Bukan karena gelisah — ia tidak mengenali perasaan itu dalam konteks seperti ini. Lebih karena ada variabel baru yang perlu dimasukkan ke dalam kalkulasinya: penglihatan Ha-eun. Mata emas di dalam tower, di lantai yang belum ada yang capai.

Ada tiga kemungkinan interpretasi.

Pertama: itu Hyun-woo sendiri di masa depan, yang artinya ia akan sampai di lantai itu. Kedua: itu kultivator Clan Baek lain — tapi tidak ada kultivator Clan Baek lain yang aktif selain ayah dan kakeknya, dan keduanya tidak punya alasan untuk masuk tower secara diam-diam. Ketiga: itu bukan kultivator Clan Baek sama sekali — tapi sesuatu yang memiliki mata emas karena alasan yang berbeda.

Kemungkinan ketiga adalah yang paling mengkhawatirkan.

Karena mata emas bukan eksklusif milik Clan Baek. Ia adalah penanda aktifnya jiwa spiritual dalam level tertentu — dan jika sesuatu di dalam tower memiliki mata emas, itu artinya ada entitas di dalam tower yang punya jiwa spiritual yang cukup berkembang untuk termanifestasi.

Entitas yang bukan manusia.

Entitas yang bukan kultivator.

Hyun-woo menutup matanya.

Besok, pikirnya. Satu variabel dalam satu waktu.

Pagi berikutnya, latihan dimulai jam empat seperti yang dijanjikan kakeknya.

Atau lebih tepatnya, jam empat kurang sepuluh Hyun-woo sudah dilempar dari kasurnya — secara harfiah, karena Baek Cheon-oh membuka pintu kamarnya, mengangkatnya dari posisi berbaring, dan melemparnya ke halaman belakang dalam satu gerakan yang tidak memberi waktu untuk protes atau orientasi.

Hyun-woo mendarat dengan sempurna.

Bukan karena ia siap — karena dua puluh tahun latihan membuat tubuhnya merespons sebelum pikirannya sempat terlibat.

"Bagus," kata Cheon-oh dari ambang pintu. "Tapi kalau kamu tidak bisa mendarat dari posisi tidur, kamu belum cukup terlatih."

"Aku baru mendarat dengan sempurna."

"Dari jarak dua meter. Dari jendela lantai tiga besok."

"Kakek."

"Empat jam. Mulai sekarang."

Empat jam latihan fisik dengan Baek Cheon-oh adalah sesuatu yang tidak ada padanannya dalam sistem pelatihan manapun — Awakened, militer, atau lainnya. Bukan karena intensitasnya saja, tapi karena cara Cheon-oh mengajar adalah dengan melakukan dan membiarkan muridnya bertahan atau tidak, tanpa penjelasan panjang, tanpa demonstrasi berulang.

"Lagi."

"Salah."

"Lagi."

"Masih salah."

"Lagi."

Pukul delapan pagi, Hyun-woo duduk di halaman dengan napas yang sudah kembali normal — salah satu hal yang Cheon-oh latih pertama kali adalah pemulihan, karena "kultivator yang tidak bisa pulih cepat adalah kultivator yang kalah di pertempuran kedua" — dan minum air yang ibunya bawa keluar tanpa diminta.

"Makan dulu," kata Soo-yeon. "Pertemuan dengan dewan jam sebelas."

"Sudah tahu dari Ayah?"

"Dari Kakek," koreksi Soo-yeon. "Kakekmu tahu segalanya sebelum semua orang."

Dari dalam rumah, terdengar suara Cheon-oh berteriak meminta sarapan lebih banyak dan suara Jin-seo yang tidak menjawab dengan kata-kata tapi dengan keheningan yang cukup berat untuk terdengar.

Hyun-woo minum airnya.

Pertemuan pukul sebelas bukan di aula dewan.

Di taman belakang kompleks kuil, di bawah pohon ginkgo yang sudah berdiri sejak dinasti Joseon, Ha-eun menunggu sendiri dengan dua cangkir teh di meja batu kecil. Tidak ada perwakilan klan lain. Tidak ada proyeksi energi. Hanya seorang perempuan tua yang matanya jauh lebih tua dari wajahnya dan seorang pemuda dengan mata hitam yang belum memutuskan apakah ia harus curiga.

"Duduk," kata Ha-eun.

Hyun-woo duduk.

"Teh?"

"Terima kasih."

Ia mengambil cangkirnya. Teh putih — pilihan yang tidak lazim untuk pertemuan dewan, lebih cocok untuk percakapan yang tidak ingin meninggalkan catatan.

"Modifikasi dari dewan," kata Ha-eun tanpa pembukaan, "adalah ini: kamu boleh masuk sebagai pengamat independen dengan keputusan lapangan di tanganmu sendiri. Tapi dewan mengirim satu pengamat resmi yang menemanimu — bukan sebagai atasanmu, tapi sebagai saksi yang memastikan informasi yang dikumpulkan tercatat dengan benar."

"Siapa?"

"Belum diputuskan. Kamu punya preferensi?"

Hyun-woo mempertimbangkan. "Tidak ada dari Clan Cheon."

Ha-eun sedikit menaikkan alisnya. "Alasan?"

"Clan Cheon punya kepentingan langsung di ekspansi informasi tower — mereka punya investasi di tiga guild Awakened terbesar di Korea. Pengamat dari Clan Cheon punya insentif untuk membawa informasi yang kumpulkan ke arah yang menguntungkan posisi mereka."

Ha-eun diam sebentar. "Kamu riset ini?"

"Pengetahuan umum dalam aliansi."

"Yang kebanyakan orang seusiamu tidak peduli untuk tahu."

Hyun-woo tidak menjawab ini karena tidak ada jawaban yang perlu diberikan.

"Baik," kata Ha-eun. "Tidak dari Clan Cheon. Ada preferensi lain?"

"Dari Clan Seol, kalau bisa."

Ini membuat Ha-eun benar-benar berhenti dan menatapnya.

"Clan Seol," ulangnya.

"Kemampuan peramalan Clan Seol bisa berguna di dalam tower untuk membaca kondisi lantai sebelum memasuki zona berbahaya. Lebih praktis dari pengamat yang hanya mencatat."

"Dan," kata Ha-eun dengan nada yang sudah melewati evaluasi dan mendarat di sesuatu yang lebih dekat ke apresiasi, "karena kamu ingin tahu lebih banyak tentang penglihatan yang aku ceritakan kemarin."

Hyun-woo tidak menyangkal.

Ha-eun minum tehnya. "Aku yang akan menemanimu."

"Kamu pemimpin klan."

"Dan kamu anak Baek Jin-seo yang baru pertama kali masuk tower kemarin malam dan sudah membuat dewan melakukan deliberasi darurat." Nada Ha-eun tidak berubah — datar, dingin, tapi bukan tanpa kehangatan di bawah lapisannya. "Kalau penglihatan itu akurat dan mata emas itu adalah milikmu, maka aku perlu melihat sendiri konteksnya. Bukan dari laporan. Langsung."

"Ini resiko yang tidak kecil untuk pemimpin Clan Seol."

"Aku sudah hidup tiga ratus tahun lebih, Hyun-woo." Ha-eun meletakkan cangkirnya. "Satu-satunya resiko yang benar-benar aku khawatirkan adalah mati tanpa tahu jawaban dari pertanyaan yang sudah aku bawa selama itu."

Hyun-woo menatap perempuan yang terlihat berusia enam puluh tapi sudah hidup lebih dari tiga ratus tahun itu.

"Ada satu hal yang perlu aku sampaikan sebelum kita setuju," katanya.

"Bicara."

"Dua Awakened yang mengetahui aku kultivator — yang aku sebut kemarin di dewan — aku berencana memberi mereka informasi tentang kondisi tower sebelum eksplorasi berikutnya. Itu berarti ada informasi yang keluar dari lingkup aliansi."

Ha-eun tidak bereaksi secara visual.

"Kamu sudah memutuskan ini."

"Ya."

"Bukan meminta izin dewan."

"Bukan."

Ha-eun diam cukup lama. Angin bergerak melalui daun-daun pohon ginkgo, membawa beberapa daun kuning ke atas meja batu dan ke permukaan teh mereka.

"Kenapa kamu merasa perlu memberitahuku?" tanya Ha-eun akhirnya.

"Karena kamu yang akan menemaniku masuk," jawab Hyun-woo. "Dan kamu berhak tahu semua variabel yang relevan sebelum membuat keputusan itu."

Ha-eun menatapnya cukup lama dengan mata yang sudah melihat tiga abad lebih banyak dari matanya.

"Baek Jin-seo membesarkan anak yang aneh," katanya akhirnya.

"Ibu saya juga ikut membesarkan."

"Hwa Soo-yeon membesarkan anak yang sangat aneh." Tapi ada sesuatu di sudut matanya yang bukan kritik. "Baik. Aku setuju dengan kondisimu. Informasi ke dua Awakened itu — dalam batas yang tidak mengungkap keberadaan aliansi secara spesifik — aku tidak akan mempermasalahkan ini."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu." Ha-eun mengambil cangkirnya lagi. "Kita masuk tower dua hari lagi. Lantai empat belas. Dan aku ingin tahu apa yang kamu rasakan saat sesuatu itu merasakanmu — bukan dari laporan, tapi langsung, saat itu terjadi."

"Kamu ingin aku mendeskripsikan pengalaman real-time."

"Aku ingin aku bisa melihat matamu saat itu terjadi," koreksi Ha-eun. "Peramal tidak membaca dari kata-kata. Kami membaca dari momen."

Hyun-woo memproses ini.

"Satu kondisi dariku," katanya.

"Bicara."

"Kalau situasi di dalam memburuk melampaui parameter yang bisa kita tangani berdua — kita keluar. Tanpa negosiasi, tanpa menyelesaikan misi terlebih dahulu."

Ha-eun menatapnya.

"Kamu khawatir tentang keselamatanku."

"Aku khawatir tentang keselamatan pemimpin Clan Seol yang tidak ternilai kontribusinya ke aliansi masuk ke dalam tower karena penglihatan tentang mata emas seorang pemuda yang bahkan belum mencapai setengah potensinya," kata Hyun-woo. "Ada perbedaan."

Ha-eun diam sebentar.

Lalu tertawa — kecil, pendek, tapi genuine dengan cara yang membuat wajahnya sejenak terlihat jauh lebih muda dari enam puluh tahun yang sudah lebih dari cukup tua.

"Baik," katanya. "Kondisimu diterima."

Mereka minum teh dalam diam yang nyaman untuk dua orang yang baru saja menyetujui sesuatu yang kemungkinan besar akan mengubah beberapa hal dalam aliansi yang sudah berdiri selama seribu delapan ratus tahun.

Di luar tembok kompleks kuil, Seoul terus berjalan.

Dan di suatu tempat di distrik Mapo, Tower B-7 masih berdiri — lebih diam dari sebelumnya, tapi Hyun-woo bisa merasakannya bahkan dari jarak ini.

Sesuatu di lantai empat belas sudah tidak ragu lagi.

Ia sedang menunggu.

Bersambung.....

More Chapters