Cherreads

Chapter 9 - BAB 9 - Dewan

Markas The Eternal Vein Alliance di Korea Selatan bukan gedung.

Bukan bunker, bukan fasilitas bawah tanah, bukan vila tersembunyi di pegunungan. Ia adalah sebuah kompleks kuil tua di lereng gunung Bukhansan — secara resmi terdaftar sebagai situs warisan budaya yang tutup untuk umum karena "proses restorasi berkelanjutan" yang sudah berlangsung selama empat puluh tahun dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai.

Hyun-woo tiba di sana tepat pukul dua siang.

Bukan karena ia diminta datang jam dua — tidak ada yang memberi instruksi spesifik tentang waktu. Tapi kakeknya bilang "besok lapor ke dewan" dan ayahnya bilang "forum terbuka dewan biasanya dimulai sore" dan Hyun-woo sendiri tahu bahwa datang terlalu pagi terlihat seperti kegugupan, datang terlalu siang terlihat seperti ketidakhormatan.

Jam dua adalah kalkulasi yang tepat.

Penjaga di gerbang luar — dua kultivator muda dari Clan Cheolgeom yang berdiri dengan cara yang dirancang untuk terlihat seperti tidak sedang berjaga — mengenalinya dan membuka jalan tanpa kata-kata. Hyun-woo melewati tiga lapisan halaman kuil yang masing-masing sedikit lebih sepi dan sedikit lebih terasa berbeda dari dunia luar, sampai ia tiba di aula utama.

Aula pertemuan dewan adalah ruangan dengan langit-langit tinggi dan kolom-kolom kayu tua yang sudah menyerap begitu banyak energi kultivasi selama berabad-abad sampai kayunya sendiri berubah warna menjadi hitam kecoklatan yang tidak alami. Dua belas kursi utama tersusun dalam setengah lingkaran — sepuluh untuk perwakilan klan besar, dua untuk posisi rotasi yang diisi bergantian oleh sekolah kultivator.

Tidak semua kursi terisi.

Dari sepuluh klan, tujuh mengirim perwakilan langsung. Tiga sisanya — Clan Mukyong, Clan Amyeong, dan Clan Seol — hadir melalui proyeksi energi, sosok-sosok yang terlihat solid tapi memancarkan resonansi yang membedakan mereka dari kehadiran fisik.

Ayah Hyun-woo sudah ada di sana, berdiri di sisi kanan aula sebagai perwakilan Clan Baek yang secara teknis harusnya duduk di kursi nomor satu tapi sudah lama memilih untuk tidak mengklaim posisi itu secara formal karena "kursi membutuhkan kehadiran yang konsisten dan aku tidak punya waktu untuk konsisten dalam hal yang tidak perlu."

Hyun-woo berdiri di tengah ruangan.

Ia tidak diminta duduk. Di hadapan dewan, mereka yang melapor berdiri. Konvensi lama yang tidak ada yang repot-repot mengubah karena tidak ada yang melapor cukup sering untuk merasa tidak nyaman.

"Baek Hyun-woo." Suara yang berbicara berasal dari kursi ketiga dari kiri — seorang perempuan dengan rambut putih yang dikepang rapi dan mata yang usianya jauh lebih tua dari wajahnya. Perwakilan Clan Seol, Seol Ha-eun, pemimpin klan yang ramalan tiga bulan lalunya sekarang mendapat konfirmasi pertama. "Kami sudah membaca laporan singkat yang dikirim ayahmu semalam. Tapi kami ingin mendengar langsung darimu."

"Baik," kata Hyun-woo.

Ia cerita.

Kali ini lebih lengkap dari yang ia ceritakan di meja makan pagi tadi — lebih terstruktur, lebih presisi, dengan detail energi yang ia rasakan di setiap lantai disusun dalam urutan kronologis yang bisa dianalisis. Ini bukan percakapan keluarga. Ini laporan.

Dewan mendengarkan dalam diam.

Ketika ia selesai, keheningan pertama yang mengisi aula bukan keheningan evaluasi — lebih seperti keheningan dua belas orang yang masing-masing sedang mencocokkan informasi baru dengan informasi yang sudah ada di kepala mereka dan tidak semuanya mendapat hasil yang sama.

"Soulform-mu bereaksi," kata Seol Ha-eun. "Dalam konteks defensif atau ofensif?"

"Defensif," jawab Hyun-woo. "Respons pasif. Bukan inisiasi."

"Artinya sesuatu di lantai empat belas itu cukup untuk memicu respons jiwa spiritualmu secara otomatis." Ha-eun berbicara lebih ke dirinya sendiri daripada ke Hyun-woo. "Menarik."

"Menarik bukan kata yang aku pilih," kata suara dari kursi paling ujung kanan — perwakilan Clan Cheon, seorang pria paruh baya bernama Cheon Dae-jung dengan bahu lebar dan cara berbicara yang terbiasa mengisi ruangan tanpa perlu meninggikan suara. "Kalau sesuatu di dalam tower bisa memicu respons jiwa spiritual seorang kultivator level Grounded, itu bukan anomali kecil. Itu masalah."

"Hyun-woo bukan kultivator Grounded biasa," kata ayahnya dari sisi ruangan, nada yang sama terukurnya seperti selalu.

"Itu justru yang lebih mengkhawatirkan," jawab Cheon Dae-jung. "Kalau bahkan dengan garis darah Clan Baek—"

"Kita tidak tahu apa yang ada di lantai empat belas," potong proyeksi Clan Mukyong — suara yang terdengar seperti datang dari balik air, resonansi yang sedikit tidak sinkron dengan gerakan bibirnya. "Spekulasi tanpa data tambahan hanya membuang waktu dewan."

"Maka kita butuh data tambahan," kata Ha-eun.

Semua mata — fisik maupun proyeksi — berpindah ke Hyun-woo.

Ia sudah mengantisipasi ini.

"Kamu bersedia kembali ke tower itu?" tanya Ha-eun.

"Dengan kondisi apa?" tanya Hyun-woo balik.

Beberapa perwakilan bertukar pandang. Pertanyaan balik — bukan penolakan, bukan persetujuan langsung — adalah cara merespons yang tidak lazim dari seseorang yang sedang dilaporkan kepada dewan. Tapi tidak ada yang mengomentarinya karena ini adalah Clan Baek dan cara Clan Baek berkomunikasi sudah dikenal cukup lama.

"Kondisi?" tanya Ha-eun.

"Aku masuk sebagai pengamat independen, bukan agen dewan resmi," kata Hyun-woo. "Informasi yang aku kumpulkan aku bagi dengan dewan — tapi keputusan tentang cara masuk dan kapan keluar ada di tanganku sendiri."

"Kamu mau masuk sendirian?" tanya Cheon Dae-jung.

"Belum diputuskan."

"Ada pertimbangan lain?" tanya Ha-eun.

"Ada Awakened yang sudah tahu aku kultivator," kata Hyun-woo. "Dua orang. Keduanya bisa jadi aset informasi tentang kondisi tower dari sisi sistem yang tidak bisa kita akses langsung."

Keheningan yang kualitasnya berbeda.

"Kamu mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan Awakened," kata proyeksi Clan Amyeong — suara tanpa gender yang terasa seperti berbicara dari sudut ruangan mana pun secara bersamaan. "Ini bukan preseden yang kecil."

"Ini bukan preseden sama sekali," koreksi Hyun-woo. "Karena belum pernah ada situasi yang sama sebelumnya. Tower tidak ada dalam protokol lama aliansi. Kita sedang membuat preseden apapun yang kita putuskan hari ini."

Dewan hening.

Jin-seo, dari sisi ruangan, tidak mengatakan apapun. Tapi Hyun-woo bisa merasakan dari sudut matanya — ayahnya sedikit mengangguk. Sangat kecil. Sangat singkat.

Versi Jin-seo dari tepuk tangan meriah.

"Kami akan deliberasi," kata Ha-eun akhirnya. "Kamu akan mendapat keputusan dalam dua puluh empat jam."

"Mengerti."

"Satu hal lagi, Hyun-woo." Ha-eun menatapnya dengan mata yang usianya jauh melebihi wajahnya. "Penglihatan tiga bulan lalu yang aku laporkan ke dewan — aku melihat lebih dari yang aku ceritakan di laporan resmi."

Hyun-woo menunggu.

"Aku melihat mata emas," kata Ha-eun. "Di dalam tower. Di lantai yang belum ada yang capai."

Ruangan hening sepenuhnya.

"Itu bisa jadi banyak hal," kata Hyun-woo akhirnya.

"Bisa," setuju Ha-eun. "Atau hanya satu."

Ia tidak menambahkan apapun setelah itu.

Dan Hyun-woo — untuk pertama kalinya sejak masuk ke aula ini — tidak punya kalkulasi yang siap untuk mengisi jeda tersebut.

Bersambung.....

More Chapters