Mereka berjalan.
Berjarak.
Selalu berjarak.
Gadis itu tidak menoleh saat bicara.
"Namaku Aria."
Tidak ada emosi di suaranya.
Seperti memperkenalkan diri… sudah tidak penting lagi.
Frank menunduk.
"Frank… Franklin…"
Aria berhenti.
Menoleh.
Menatapnya lama.
"Kamu masih ingat namamu?"
Frank mengangguk pelan.
"Beberapa hal… masih ada…"
Aria menggigit bibirnya.
"Beruntung…"
Suaranya lirih.
"Orang yang aku kenal… tidak ingat apa pun."
Frank merasakan sesuatu di dadanya.
Kosong… tapi sakit.
"Dia… siapa?"
Aria tidak menjawab.
Ia hanya berjalan lagi.
Lebih cepat.
Seolah mencoba meninggalkan pertanyaan itu di belakang.
