Raka yang masih berdiri di depan jendela. Tatapannya tidak lepas dari catatan milik kakeknya.
“Termasuk Laras...”
Raka mengulang kalimat itu pelan. Tangannya perlahan menutup catatan tersebut. Sejak pertama kali bertemu Laras, wanita itu memang menyembunyikan banyak hal darinya. Tapi selama perjalanan menuju Arkapura, Laras juga beberapa kali menyelamatkan nyawanya.
Kalau Laras memang ingin mencelakainya... Kenapa harus repot-repot menyelamatkannya dari naga?
Rakapun menghela napas.
“Ah... makin dipikir malah makin pusing.”
Ia kemudian duduk di tepi tempat tidur. Kamar tamu itu cukup luas. Ada sebuah meja kayu, lemari, dan beberapa hiasan aneh yang belum pernah Raka lihat sebelumnya. Namun satu hal yang membuatnya tidak nyaman adalah... Ia tidak tahu apakah dirinya sedang menjadi tamu.
Atau tahanan. Tiba-tiba...
TOK! TOK!
Raka langsung menoleh ke arah pintu.
“Siapa?”
“Ini aku.”
Suara Laras. Rakapun terdiam sebentar.
“Masuk.”
Pintu perlahan terbuka. Laras masuk sambil membawa beberapa pakaian yang dilipat.
“Kau masih memakai pakaian itu?”
Raka melihat bajunya sendiri yang sudah kotor sejak pertama kali tiba di Ardhana.
“Memangnya kenapa?”
“Sudah kotor.”
Raka langsung melihat bajunya.
“...Oh.”
Laras meletakkan pakaian tersebut di atas meja.
“Pakailah.”
Raka langsung mengambil salah satu pakaian itu. Bentuknya terlihat sederhana. Warnanya gelap dengan kain putih di bagian dalam.
“Ini apa?”
“Pakaian.”
“Aku tahu itu pakaian.”
“Kalau begitu kenapa bertanya?”
Raka kemudian menatap Laras dengan wajah datar.
“Kadang aku bingung sama kamu.”
Laras hanya menghela napas.
“Itu pakaian yang biasa digunakan manusia di Arkapura.”
“Manusia?”
“Ya.”
“Berarti ada banyak manusia di sini?”
“Cukup banyak.”
“Terus kenapa dari awal aku malah ketemu kalian?”
Laras tidak langsung menjawab dan Raka langsung menyipitkan matanya.
“Nah... diam lagi.”
“Aku tidak tahu harus menjawab apa.”
“Jawab saja jujur.”
Laras menatap Raka beberapa detik.
“Kebetulan.”
Raka pun tidak percaya.
“Bohong.”
“Kau sekarang mulai berani.”
“Bukannya tadi Raja bilang aku nggak boleh gampang percaya siapa pun?”
Raka kemudian memasukkan catatan kakeknya ke dalam sakunya.
“Termasuk kamu.”
“Aku tahu.”
Raka langsung menatapnya.
“Kamu tahu?”
“Sejak awal aku tahu kau tidak akan mudah percaya kepadaku.”
“Kenapa?”
“Karena kau terlalu banyak bertanya.”
“...Itu salah?”
“Tidak.”
Laras berjalan menuju pintu.
“Itu justru yang membuatmu masih hidup.”
Raka hanya terdiam.kemudian Laras membuka pintu.
“Ganti pakaianmu. Setelah itu aku akan membawamu ke tempat lain.”
“Ke mana?”
“Perpustakaan kerajaan.”
“Perpustakaan?”
“Ya.”
“Boleh cari informasi tentang dunia ini?”
“Kalau kau bisa menemukannya.”
Raka langsung tersenyum kecil.
“Akhirnya ada tempat yang berguna.”
Laras menatapnya sebentar.
“Jangan terlalu berharap.”
Kemudian ia keluar dari kamar. Pintu kembali tertutup. Raka melihat pakaian yang diberikan Laras.
“Hmm...”
Ia kemudian menatap pakaiannya sendiri.
“Setidaknya ada baju ganti.”
Beberapa menit kemudian, Raka keluar dari kamar. Pakaian barunya terasa sedikit aneh karena berbeda dari pakaian yang biasa ia gunakan. Namun masih cukup nyaman.
Laras pun sudah menunggunya di depan pintu.
Ia melihat Raka dari atas sampai bawah.
“Cocok.”
“Serius?”
“Ya.”
“Rasanya kayak cosplay.”
Laras langsung mengerutkan kening.
“Cos...play?”
“Lupakan.”
Mereka kemudian berjalan melewati lorong istana. Kali ini Raka lebih memperhatikan keadaan sekitar. Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak ukiran kuno yang ia temukan.
Beberapa menggambarkan sosok manusia yang memegang senjata. Ada juga gambar bangunan yang bentuknya sangat mirip candi. Namun ada satu ukiran yang membuat Raka berhenti. Sebuah simbol. Simbol yang sama dengan yang ada di catatan kakeknya dan Raka langsung mendekatinya.
“Laras.”
“Apa?”
“Simbol ini...”
Laras langsung berhenti. Dan Raka menunjuk ukiran tersebut.
“Ini sama dengan yang ada di catatan kakekku.”
Laras langsung melihatnya. Wajahnya berubah serius.
“Jangan menyentuhnya.”
“Aku cuma lihat.”
“Raka.”
Nada suara Laras kali ini berbeda.
Lebih tegas.
Raka pun langsung menarik tangannya.
“Oke.”
Kemudian Laras berjalan mendekati ukiran itu. Ia mengamati simbol tersebut beberapa saat.
“Kau tahu sesuatu?”
“Sedikit.”
“Sedikit lagi?”
“Tidak.”
Raka menghela napas.
“Pasti.”
Mereka pun kembali berjalan. Namun tanpa mereka sadari... Dari balik sebuah pilar, seseorang sedang memperhatikan mereka.
Seorang pria dengan pakaian penjaga kerajaan.
Tatapannya tertuju kepada Raka.
Terutama pada saku tempat Raka menyimpan catatan.
“Jadi itu benar-benar dia...”
Ia kemudian pergi tanpa suara.
Tak lama kemudian, Raka dan Laras sampai di depan sebuah pintu besar. Dua penjaga berdiri di depannya. Begitu melihat Laras, mereka langsung memberi jalan, Pintu dibuka dan Raka langsung terdiam. Ruangan di balik pintu itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Rak-rak buku memenuhi hampir seluruh ruangan. Ada ribuan buku. Bahkan beberapa rak terlihat sangat tua.
Raka kemudian berjalan masuk perlahan.
“Ini...”
Laras hanya tersenyum tipis.
“Perpustakaan kerajaan.”
Raka langsung melihat ke sekeliling.
“Kalau ada tempat yang bisa menjelaskan kenapa aku ada di sini...”
“Pasti di sini.”
Raka langsung berjalan menuju rak terdekat.
Ia mulai membaca judul-judul buku.
“Sejarah Ardhana...”
“Kerajaan Arkapura...”
“Perang Seribu Tahun...”
Raka langsung berhenti. Tangannya langsung mengambil buku tersebut.
“Perang Seribu Tahun?”
Laras langsung menoleh.
“Taruh kembali.”
“Kenapa?”
“Itu bukan sesuatu yang perlu kau baca sekarang.”
“Justru karena itu aku mau baca.”
Raka membuka buku tersebut. Namun sebelum sempat membaca halaman pertama...
BRAK!
Buku itu tiba-tiba tertutup sendiri.
Raka langsung terkejut.
“Apaan?!”
Laras langsung berdiri di depannya.
“Jangan.”
“Aku bahkan belum baca!”
“Karena buku itu tidak ingin kau membacanya.”
Raka kemudian menatap buku tersebut.
“Buku bisa punya kemauan?”
“Di Ardhana, jangan anggap semua benda tidak hidup.”
Raka pun perlahan mundur.
“Oke...”
Ia menatap buku itu lagi.
“Dunia ini makin aneh.”
Kemudian terdengar suara langkah kaki dari ujung perpustakaan. Seseorang berjalan mendekati mereka. Seorang wanita tua dengan pakaian sederhana muncul dari balik rak. Ia membawa beberapa buku di tangannya.
Namun begitu melihat Raka... Langkahnya langsung berhenti. Buku-buku di tangannya hampir terjatuh. Matanya membesar.
“Tidak mungkin...”
Rakapun menatapnya.
“Ada apa?”
Wanita itu tidak menjawab. Tatapannya berpindah kepada Laras.
“Penjaga Gerbang Timur...”
Laraspun mengangguk.
“Dia adalah Raka.”
Wanita itu kembali melihat Raka. Wajahnya perlahan berubah menjadi ketakutan.
“Pewaris...”
Raka pun mulai merasa kesal.
“Bisa nggak sih kalian berhenti manggil aku begitu?”
Wanita itu justru mundur selangkah.
“Dia benar-benar kembali...”
Raka langsung terdiam.
“Siapa yang kembali?”
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Raka dengan tangan gemetar. Kemudian sebuah buku di rak belakang mereka tiba-tiba jatuh.
BUK!
Raka langsung menoleh. Buku itu terbuka sendiri. Halaman-halamannya bergerak dengan cepat. Satu halaman berhenti. Di sana terdapat gambar yang sangat mirip dengan lukisan yang Raka lihat di aula. Seorang pemuda berdiri di depan sebuah candi. Di tangannya terdapat keris. Namun kali ini... Ada sesuatu yang berbeda. Di bawah gambar tersebut terdapat tulisan kuno dan Raka mendekatinya. Ia membaca perlahan.
“Pewaris pertama...”
Raka langsung menelan ludahnya.
Kemudian muncul satu kalimat lagi.
“...akan kembali ketika Gerbang Nusantara terbuka.”
Rakapun membeku.
“Gerbang Nusantara...”
Laras langsung menatap buku itu. Untuk pertama kalinya... Raka melihat wajah Laras benar-benar pucat.
“Laras?”
Laras tidak menjawab. Tiba-tiba seluruh perpustakaan bergetar.
BUUM!
Buku-buku di rak berjatuhan. Para penjaga di luar langsung berteriak.
“Apa yang terjadi?!”
Raka hampir kehilangan keseimbangan.
“Laras!”
Namun sebelum Laras sempat menjawab...
Catatan kakeknya di dalam saku Raka mulai terasa panas. Sangat panas. Raka langsung mengeluarkannya. Cahaya keemasan muncul dari sela-sela halaman. Dan suara perempuan yang selama ini hanya terdengar di kepala Raka... kembali terdengar. Kali ini lebih jelas.
“Raka...”
Raka langsung menatap catatan tersebut.
“Siapa kamu?”
Tidak ada jawaban. Hanya satu kalimat yang terdengar pelan.
“Jangan biarkan mereka membuka gerbang itu.”
Raka hanya terdiam. Kemudian... Dari kejauhan terdengar suara lonceng kerajaan.
DONG!
DONG!
DONG!
Laras langsung menatap ke arah jendela. Wajahnya berubah serius.
“Tidak...”
Raka ikut melihat ke luar. Di atas istana...
Langit mulai berubah menjadi ungu gelap.
Dan di tengah langit itu... sebuah simbol raksasa perlahan muncul. Simbol yang sama dengan yang ada di catatan kakeknya. Laras menggenggam pedangnya.
“Gerbangnya mulai terbuka.”
