Cherreads

Chapter 3 - Sweating

Sazha akhirnya kembali ke apartemennya setelah beberapa kali tersesat. Ia berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Beruntung sekali, Paman..." suara itu terdengar dari kamar Hans. Namun, itu bukanlah suara Sazha. Suaranya terdengar seperti suara anak laki-laki.

"Kepalaku berdetak kencang lagi," ucap Sazha datar seraya menatap langit-langit kamarnya.

~ Delapan jam sebelumnya

Sazha masih menatap langit sambil kembali merenungkan nasibnya yang masih penuh dengan kesialan.

Namun, semua pikirannya yang kacau berubah dalam sekejap setelah dia melihat banyak tangan terulur kepadanya, seperti tali yang dijatuhkan dari tebing curam untuk menyelamatkan seseorang yang terjebak di dasar.

Sazha menitikkan air mata, ia menyambut uluran tangan itu dengan gembira, ia bangkit, sekali lagi ia bangkit dari kesialannya. Sazha berdiri tegap menatap langit yang sangat gemerlap, kini ia telah bertekad untuk tidak menyinggung perasaan orang lain lagi.

Sazha sekali lagi menipu dirinya sendiri agar ia bisa mendapat tempat yang layak di mata orang lain.

~ Delapan jam kemudian

Tubuh Hans mulai lelah.

Sazha membuka lemari es—mengambil beberapa minuman kaleng. Ia melihat kulkas gemuk itu layaknya melihat bintang di siang hari.

"Tanganku bergerak sendiri..." Ia menghabiskan malamnya dengan berpesta, tidak ada lagi rasa peduli dengan Hans maupun kondisi keuangannya, Sazha memutuskan untuk melupakannya saat itu juga.

Malam itu terlihat sekumpulan lelaki berpakaian jas hitam tengah menunggu sesuatu, mereka menenteng koper dan sesuatu di dalam tasnya, tidak ada seorang pun yang tahu pasti apa yang sedang mereka tunggu.

Hingga keesokan paginya, Sazha terbangun—dia perlahan menuju kamar mandi.

Saat dia sudah menanggalkan pakaiannya, samar-samar dia melihat sesuatu yang merah di dadanya, tetapi dia tetap tidak peduli karena matanya masih sangat sulit untuk diangkat.

Pria itu saat ini sedang mandi, namun tiba-tiba ia mengalami kejadian yang mencurigakan, sabun batangannya jatuh ke lantai dan kini ia harus membungkuk. Sazha melihat ke sekeliling kamar mandi, lalu ia mengambil sabun tersebut, sayangnya belum terjadi apa-apa.

Ia terus menggosokkan sabun tipis itu ke sekujur tubuhnya, hingga tiba saatnya ia harus menggosok dada Hans yang berkilau.

Sazha yang saat itu masih setengah tertidur, mengusap-usap sabun ke bagian dada tempat ia melihat sesuatu yang merah sebelumnya.

"Hmmm ... mungkin itu darah karena tidurku yang lasak," kata Sazha dengan percaya diri.

Ketika ia menggosokkan sabun pada bagian dadanya yang merah, tiba-tiba sabun tipis itu terbelah. Lelaki tua ini tetap tidak peduli, ia terus berusaha menggosokkan sabun pada bagian itu hingga sabun itu pecah, hingga kulit jarinya menyentuh benda berbentuk kristal merah di dadanya.

Saat sadar, kristal merah di dadanya sudah menghilang, ia mengambil sampo untuk mengganti sabun yang pecah. Namun, saat mengambil sampo, samponya ikut terjatuh.

"Cih, ayolah sampo," kata Sazha sambil memejamkan mata.

Ia mencoba lagi untuk meraih sampo di dekat kaki kirinya. Namun, saat ia mencoba untuk melihat ke bawah, Sazha perlahan membuka matanya. Sekali lagi, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat (Sazha melihat ke cermin).

"Heh, ini pasti gara-gara semalem aku begadang, oke besok aku janji nggak akan begadang lagi," ucap Sazha sembari menahan gemetar di tangan dan kakinya.

Sazha akhirnya keluar dari kamar mandi sambil mencoba melupakan apa yang baru saja dilihatnya.

Ia membuka lemarinya dan memilih pakaian yang akan dikenakannya untuk bekerja. Ia telah mencoba memasukkan lengannya ke dalam pakaian itu berkali-kali, tetapi tetap saja tidak muat.

Sazha membuang pakaiannya dan sekarang dia tergeletak di lantai yang penuh dengan sampah keripik dan kaleng soda.

Sazha merenung sambil menatap langit-langit ruangan.

"Aku harus mengembalikan semua jajanan yang telah aku ambil dari anak ini, tetapi entah kenapa aku malas sekali."

Karena hari libur, Sazha berencana untuk kembali menjadi tukang ojek dengan akun lamanya, tetapi dia harus pergi ke kos tempat asal untuk mengambil motornya. Bisa-bisanya dia memikirkan hal ini.

Tiba-tiba ia mendengar suara aneh, seperti suara sirip ikan yang bergerak. Kepanikannya kembali muncul, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang meskipun ia tahu seluruh tubuhnya gemetar.

Ketika Sazha mencoba mengangkat tangannya di depan matanya, dia sekarang menyadari bahwa dia—

Tangannya menjadi aneh, ada kulit di antara jari-jarinya, kulitnya menjadi abu-abu pucat, dan Sazha dapat melihat mulutnya yang aneh dari sudut matanya.

Lelaki itu bangkit lagi, ia menuju jendela dan membuka rapat-rapat tirai di depannya.

"Pemandangan kota hari ini indah sekali, ya."

-

Wajah Sazha berkeringat, ia duduk sambil memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini. Ia mencoba menggaruk kulitnya sedikit dengan pisau agar ia bisa bangun dari mimpi yang ia anggap sebagai mimpi jernih.

Namun, semuanya tidak berhasil.

"Apa, apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika orang lain melihat penampilanku seperti ini? Kampret-kampret! Padahal aku baru saja hidup bahagia, mengapa nasib buruk selalu mengikuti ke mana pun aku berada?" ucap Sazha dalam hatinya yang busuk.

Ia mencoba kembali ke kamar mandi, ketika ia menghadap cermin, kini yang dilihatnya adalah sesosok makhluk aneh dengan mulut yang menghadap ke depan diikuti oleh gigi di ujung mulutnya, dua buah mata yang terpisah dan memanjang ke samping, serta tubuhnya yang kini lebih lembut dari kulit berkilau milik wanita jakun kemarin.

Mata Sazha berkaca-kaca, sambil ketakutan, dia diam-diam memperhatikan tubuhnya yang kini dianggapnya 'menjijikkan'. Sazha menunduk menatap meja di depan cermin sambil meratapi nasibnya lagi.

"A-aku ... aku ... masih— masih normal, kan?

AWKOWKwk..."

Sazha tertawa seperti orang yang hampir kehilangan akal sehatnya.

Sazha sekali lagi memikirkan sesuatu yang selalu dipikirkannya saat dia masih kecil dan sampai sekarang dia masih belum tahu jawabannya, atau lebih tepatnya dia tidak perlu tahu.

Sazha hanya bisa termenung, ia memandangi tumpukan sampah yang tergeletak di lantai cukup lama.

~ Keheningan ~

"Apakah aku kena kutukan karena ruangan ini kotor?" Sazha yang mulai kehilangan akal sehatnya mencoba membersihkan ruangan itu, masih berharap bahwa ini semua hanya mimpi.

Saat Sazha mencoba melangkah, tiba-tiba ia terpeleset karena kulitnya sangat licin.

Di bawah kasur Hans, Sazha melihat selembar kertas.

Sazha perlahan bangkit lagi, ia memutuskan untuk membersihkan kamar Hans yang masih dipenuhi sampah.

Sazha saat ini sedang mencoba meraih selembar kertas di bawah kasur.

"Sip!"

Sazha membuka kertas kusut itu, perlahan ia mengamati isinya.

"Surat macam apa ini, anak muda Hans? Aduh, apa kau tidak bosan menerima surat terus-terusan..." gerutu Sazha dalam hati kepada sosok 'Hans' yang dianggapnya 'ada'.

"Mari kita baca,

'~ Isi Surat ~

Dari: Ibu untuk Hans-ku tercinta ...

Halo nak, Hans, selamat ya kamu sudah diterima di perguruan tinggi negeri, ibu bangga sekali padamu.

Sebelumnya, ibu baru saja membeli laptop sebagai hadiah kelulusanmu.

Raihlah cita-citamu dengan tekun ya Hans, jangan sampai kau seperti orang tuamu.

Ibu menginginkanmu lebih dari yang ibu inginkan ... ibu tahu kamu bisa! Tetaplah bersemangat.

Terakhir, ibu minta maaf atas kejadian kemarin, ibu mengenalmu, dan ibu tidak bisa marah tentang itu.

Terima kasih juga telah memberikan hadiah kelulusan untuk ibu ... meskipun kamu tidak menganggapnya begitu ... tetapi usahamu adalah hadiah terbaik yang dapat diberikan seorang anak kepada orang tuanya...

Jangan lupa minum obat ya nak, semoga kita semua sehat selalu.

~ ibu.'

"

-

~ Beberapa menit kemudian

Saat Sazha sedang berbaring di lantai, tiba-tiba terdengar ketukan keras dari pintu kamar apartemennya. Sazha panik dan berusaha untuk tidak membuka pintu. Ia bersembunyi di kamar mandi sambil mengintip melalui celah pintu.

DOR DOR!!

"BUKA PINTUNYA!!!"

"Sial, gawat kalau ada yang melihatku seperti ini," gumam Sazha dalam hati sambil panik.

Sazha tetap bersembunyi sampai beberapa menit kemudian suara itu menghilang.

"Huffth, selamat..." pikir lelaki itu.

Namun beberapa detik kemudian pintunya terpental.

DUAR!!

"APAAA!?" Sazha berteriak dalam hatinya saat melihat pintu tiba-tiba melayang di depannya.

Di balik debu, beberapa pria berjas hitam terlihat memasuki kamar Hans.

"Selamat siang, Tuan Hans..." sapa seorang pria dengan senyum ramah.

"Sebentar-sebentar, apa yang barusan terjadi? Ini tidak lucu, jangan-jangan mereka—" kata Sazha dalam hatinya.

"Ya benar, sekarang saatnya kamu membayar semua hutangmu..." kata lelaki berkacamata itu sambil tersenyum.

Wajah Sazha makin dipenuhi air keringat.

"Apa!? kenapa bisa!? kenapa makhluk sesuci anak muda Hans ini bisa-bisanya kepikiran buat ngutang!?" pikir Sazha polos.

"Walaupun aku adalah seorang pengangguran tua gagal, aku tidak pernah sekalipun menghutang pada siapa pun, lebih baik memilih hidup yang sudah susah daripada akan tambah susah lagi." ~ Sazha.

Ketiga pria berjas hitam itu menjelajahi setiap sudut kamar apartemen Hans, hingga tiba saatnya mereka memeriksa kamar mandi apartemen.

Sazha yang panik hanya bisa pasrah pada nasib anehnya.

Ketika pintu terbuka, Sazha bersembunyi di bak mandi, dia punya rencana untuk berpura-pura menjadi seekor ikan.

Salah satu pria berpakaian hitam itu terkejut.

"Ada apa, Tuan Yono? Apakah Anda menemukan sesuatu?"

"Ya, tetapi aku hanya menemukan ikan berkulit putih di sini."

Dua pria berpakaian jas lainnya terkejut ketika mendapati Hans menggeliat seperti ikan meskipun tubuhnya telah kembali ke keadaan semula.

Sazha perlahan menatap ketiga pria berjas hitam itu.

"Aku ikan."

More Chapters