"Selamat siang ... Tuan Hans," sapa Pak Yono sopan sambil membungkuk ke arah bak mandi.
Wajah Sazha semakin mengkerut, ia bertanya-tanya bagaimana mereka bisa tahu bahwa ia adalah Hans, padahal tubuh fisiknya telah berubah.
Sazha segera melihat tubuhnya.
"Oh shit." Sazha semakin berkeringat.
Salah satu pria jas tersebut mengeluarkan rokoknya dan membakar rokok tersebut di depan wajah Sazha.
"Hari ini adalah saat yang tepat untuk membayar hutangmu, pastikan kamu punya uang karena kalau tidak—kamu tahu kan apa akibatnya—anak muda?" Pak Yono menghembuskan asap rokoknya ke mata Sazha.
"Uhuk, UHUK..." batuk dari seorang pria tua pengecut yang tidak pernah berani merokok (Sazha). Padahal semakin kau merokok, semakin sehat tubuhmu.
"Sebentar pak, mohon maaf, kalau boleh tahu saya punya utang apa ya pak??" Jantung Sazha berdegup kencang.
"Hei!? Kamu pelupa atau apa? Ohok ohok ... (batuk), sialan rokok ini membunuhku tapi aku tidak bisa berhenti."
Sazha dan dua pria jas hitam lainnya kebingungan.
"Zawa! Coba jelaskan pada si idiot ini. Kalau aku yang menjelaskannya, aku takut dia tidak akan mengerti bahasa sastraku yang tinggi itu." Pak Yono menepuk bahu Zawa—pria lain yang juga berjas hitam.
"Baik, Tuan."
"Ehem ... jadi seperti yang sudah dijelaskan tadi, Bapak Hans meminjam uang dari PT. Zwein sebesar Rp 30.000.000,00 dengan bunga tiga persen per hari. Karena Bapak meminjam dan belum membayar sejak satu bulan yang lalu, maka total harga pinjaman Bapak Hans sebesar...
Rp 46.100.000,00."
"Owh ... eh—" Sazha melongo.
~ Lima jam kemudian
Di bawah langit cerah penuh awan, kini Sazha berjalan menuju suatu tempat, ia masih memegang kertas di tangannya sambil melamun.
Orang tua itu teringat kata-kata salah satu pria berjas hitam tadi.
"Kamu bilang uang ini akan kamu gunakan untuk biaya pengobatan seseorang, gunakanlah dengan benar, kalau tidak, aku akan pukul mukamu, dasar sampah ... cuih!" kata Pak Yono sambil meludahi Hans.
Di tengah perjalanan, Sazha sekilas melihat seorang anak kumuh yang tiba-tiba melirik ke arah Sazha ... disertai senyumannya yang lebar.
Anak berambut acak-acakan itu tampak sedang memunguti kertas-kertas yang jatuh ke tanah. Namun, entah kenapa, ia terus menatap Sazha.
Sazha yang ketakutan pun memutuskan untuk berpura-pura tidak melihat anak itu, hingga akhirnya anak itu tertinggal jauh. Saat Sazha menoleh lagi, anak itu kini telah menghilang.
"Lagi-lagi aku halusinasi, pasti gara-gara kejadian tadi pagi ... hadeh ... sial, sial," ucap Sazha sambil menendang tong sampah di depannya.
Saat ini, Sazha hanya memiliki satu kaos putih dan satu celana motif bunga yang dikenakannya saat ini. Semua barang milik Hans telah disita oleh para pria berjas hitam.
"Sial ... ~ sial ... ~ sialan kau Pak tua kacamata berkumis ~" Sazha bernyanyi.
Kini, Sazha tidak punya uang sepeser pun lagi. Ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu setelah selesai memeriksa seseorang di rumah sakit.
~ Tiga puluh menit kemudian
Sazha baru saja memasuki rumah sakit terpencil, dia sekarang menuju ke sebuah kamar.
"Karena uang yang kamu miliki hanya empat belas juta, kami harus menyita semua barang di kamar ini, beserta kamarnya. Kalau minggu depan kamu masih tidak bisa membayar, kami terpaksa akan mengambil semua barang milikmu, termasuk hak untuk tinggal di apartemen murah ini," kata pria lain yang mengenakan jas hitam.
"Hans ... Aku tahu betul kau ingin memberi yang terbaik untuknya, tenang saja sahabatku, kau tidak salah, merekalah yang salah, bukan kau," ucap Sazha dalam hati sambil terlihat kesal.
Sazha membuka pintu kamar 430 perlahan.
"Selamat sore..." bisik Sazha.
Dari pintu kamar terlihat seorang perempuan tua, badannya tampak kurus kering.
Dari belakang, seorang perawat yang seharusnya membawa Hans baru saja datang, dia tertinggal karena Sazha berjalan cepat.
Dia hanya bisa terdiam, Sazha masih takut identitas aslinya akan terungkap.
Perawat mendekati wanita tua yang sedang terbaring, memberinya makanan dan minuman secara manual.
Sazha kemudian duduk di sebuah kursi kecil. Ia tampak kelelahan.
Sazha hanya bisa duduk diam. Ia masih memikirkan perilaku kasarnya terhadap kulkas Hans kemarin.
Ia tidak tahu harus memikirkan apa lagi, kali ini Sazha hanya ingin melupakan masalah utangnya yang mencapai empat puluh enam juta.
"Tuan ... maaf, Tuan!" panggil perawat itu kepada Hans yang masih linglung.
"Saya ingin pergi ke pasien lain, sebelum saya pergi, apakah ada yang anda tidak mengerti, Tuan?"
Sazha akhirnya menatap perawat itu, ada kantung mata besar dan gelap di bawah matanya.
"Nona perawat ... maaf saya masih punya satu pertanyaan."
"Baik, apa yang ingin Anda tanyakan, Tuan?."
"Anu, nona, apakah penyakit ibu saya ... masih bisa disembuhkan?" Tatapan mata Sazha tampak serius.
Perawat itu terkejut, lalu dia tersenyum.
"Ya, tentu saja, seperti yang saya katakan tadi. Intinya, jangan khawatir, kami akan segera mengobati penyakit ibunya! Sekarang tugas tuan hanya ngobrol santai saja dengan ibu tuan, supaya beliau tidak merasa bosan nantinya," jawab perawat itu sambil tersenyum ramah.
"Ibu Hans sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi—hanya bisa mendengar dan bernapas, bahkan membuka matanya pun tidak bisa," ucap Sazha dalam hatinya yang mulai terbuka.
Beberapa jam telah berlalu, tetapi Sazha masih belum tahu apa yang ingin dia bicarakan dengan ibunya.
Sazha ingin berbicara dengan Ibu Hans beberapa kali, tetapi dia selalu gagal, dia terlalu payah untuk menipu seorang wanita tua yang lemah.
Setelah puluhan kali gagal, Sazha akhirnya memutuskan untuk mengambil risiko.
Setelah beberapa menit hening, tiba-tiba terdengar suara
"Ehm, Bu ... maaf ... A—aku bukan H—Hans, A—aku hanya ... Sazha, ya aku Sazha. Senang bertemu denganmu, Bu.
Um ... mungkin tidak sopan mencampuri urusan keluarga orang lain, tapi—Hans anak yang baik, dan aku berjanji akan membawa Hans kembali padamu untuk meminta maaf."
Sazha menundukkan kepalanya.
"Aku tahu, aku tidak pantas mengatakan ini, tapi masa depan Hans masih terbuka lebar— tidak seperti aku."
"Aku ... masih anak-anak yang tidak akan..." pikir Sazha dalam hatinya.
-
-
Di sebuah rumah kota, terlihat seorang pria berambut panjang berwarna putih. Wajah pria itu sekilas tampak seperti wajah wanita, tetapi dia tetaplah seorang pria.
Lelaki itu duduk di kursi, ia tampak sedang menulis sesuatu. Kadang-kadang ia berhenti sejenak untuk berpikir keras.
Setelah selesai menulis, lelaki itu menutup bukunya. Ia pergi ke halaman belakang rumahnya untuk melihat pepohonan yang sejuk sambil memakan semangka yang diambilnya dari meja makan.
Di balik indahnya suara kicauan burung, tiba-tiba terdengar suara nada dering telepon pintar dari dalam saku celana pria itu. Ia pun mengangkat telepon dan mendengarkan suara dari benda tersebut.
"Ya."
"Ya."
"Oke."
"Baiklah, terima kasih."
Pria itu kembali bersantai di bawah pohon-pohon yang rindang dan menenangkan.
"Apa ini impian yang ingin kita capai? Kak Sazha?"
Lelaki itu berdiri lagi, kemudian duduk kembali di kursi yang tadi ia tinggalkan.
Di atas kertas ia dapat melihat cerita fiksi dengan judul *******.
Kembali ke Sazha—
Malam tiba, seorang lelaki tua dalam tubuh seorang pemuda tengah berusaha mencari sesuatu.
"Akhirnya, sudah terkumpul—huh, capeknya..." kata seorang pemuda yang kini menenteng karung berisi sampah plastik.
Sazha yang sedang duduk di pinggir trotoar selalu dipandangi oleh orang lain dengan pandangan jijik, iba, dan tertawa.
Sazha hanya bisa tertawa kesal saat dirinya terus menerus diperhatikan oleh orang lain. Sazha berdiri lalu tanpa sadar berteriak
"Ya, terus saja, teruslah menatapku seperti itu, teruslah menatapku seperti sampah yang tidak dibuang pada tempatnya!" Sazha semakin mendapat perhatian dari orang-orang kota yang lalu lalang.
"Hah?? Kenapa? Kalian iri dengan nasibku, kan?" Sazha mulai panik.
Tiba-tiba seorang lelaki tua bertopi hitam menghampiri Hans.
"Ikutlah aku, saudaraku," kata lelaki tua itu dengan nada serius.
Dari kejauhan Sazha melihat staf penjaga keamanan kota.
Saat melihat lelaki tua itu tiba-tiba berlari, Sazha pun ikutan berlari.
Di tengah gemerlap lampu kota, mereka berdua berlari, berlari, terus berlari menghindari kejaran Satpol PP.
Empat menit kemudian ~
Hingga akhirnya mereka berdua tiba di sebuah daerah kumuh.
"Anu ... Bapak berkumis, kira-kira kita ini mau kemana?" tanya Sazha lembut.
"Hah!? Oh, tunggu dulu." Pria berkumis itu mengeluarkan rokoknya.
"Uhuk! Ohok! Oke anak muda, apakah kau mengenalku sekarang?" Orang tua itu melepaskan topinya—lalu ia menggerakkan tangannya untuk mengambil sepasang kacamata hitam.
"Kau!? Sialan—kau bapak-bapak rentenir pagi tadi kan?" Sazha tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ya, itu tadi, sekarang aku sudah dipecat." Pak Yono mengembuskan asap rokoknya ke muka Hans.
Sazha menutup hidungnya dan berkata
"Hah!? Cih! Tadi pagi kau mengejek-ngejekku, ahhh sekarang nasib kita jadi sama deh ...
heh, nasib memang sulit ditebak ya ... Pak tua..." Sazha tertawa pura-pura sambil menepuk bahu Pak Yono berulang kali.
"TIDAK!" teriak Pak Yono.
"Nasib kita tidak sama..." Pak Yono tertawa geli.
"Heh—karena sebentar lagi aku akan menjadi—MILIARDER! HAHAHAH..." kata Pak Yono sambil menatap Sazha dengan serius.
Sazha mencoba menahan tawa, tapi dia melepaskannya
"HAH!?? AWKOWKKWOWK."
"Udah stres kayaknya nih orang, mending aku cabut sebelum nanti ketularan gila," pikir Sazha.
Saat Sazha ingin pergi, Pak Yono menggenggam erat bahu kurus Hans.
"Tunggu dulu, anak muda! Jangan terburu-buru—" kata Pak Yono sekali lagi dengan tatapan serius.
Wajah Sazha tampak berkeringat.
"—Kalau tidak—rejekimu ... akan dipatok ayam..." ucap Pak Yono dengan wajah serius disertai senyum di wajahnya.
Sazha terlihat menelan ludahnya sendiri.
~ Dua puluh menit kemudian
Sekarang Sazha dan Pak Yono ada di—
di tempat—perjudian—ilegal.
"Sudah kuduga." Mata Sazha mulai terasa berat.
