Gelombang ledakan dari Multiverse Bajrang Gun menciptakan riak dimensi yang menyapu bersih kabut perak di atmosfer Grand Line. Di langit yang retak, ribuan entitas Pemakan Bintang makhluk amorf dengan jutaan tentakel cahaya mulai turun seperti hujan meteor yang haus akan eksistensi.
Luffy, dengan rambut putihnya yang melambai tertiup angin kosmik, mendarat kembali di dek Thousand Sunny yang kini melayang di udara karena gravitasi yang kacau. Ia menoleh ke arah Qin Tianyang dan Lin Feng.
"Paman Penulis! Kakak Bermata Merah! Lihat itu!" Luffy menunjuk ke arah monster-monster yang mendekat. "Mereka terlihat sangat lapar, tapi aku jauh lebih lapar untuk menghajar mereka! Wahahaha!"
Qin Tianyang mengatur napasnya. Tanpa sistem, ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan, namun tarikan kekuatannya terasa lebih tulus. "Luffy, monster-monster itu tidak memiliki bentuk fisik tetap.
Pedang biasa tidak akan mempan. Mereka memakan 'makna' dari serangan kita."
Zoro yang berdiri di samping Jian Wushuang menyeringai, mengencangkan ikat kepalanya. "Memakan makna, ya? Kalau begitu aku akan menebas mereka sampai mereka lupa apa arti 'makan' itu sendiri. Wushuang, kau siap?"
Jian Wushuang menarik napas panjang, pedang tipisnya bergetar. "Aku belum pernah bertarung tanpa instruksi sistem, tapi detak jantungku terasa lebih tajam sekarang.
Mari kita tunjukkan seni tebasan manusia pada mereka."
Pasukan Pemakan Bintang pertama menerjang. Bentuknya seperti paus raksasa namun terbuat dari gas ungu yang bisa menghancurkan sel.
"Semuanya, menyingkir!" teriak Sanji sambil melompat tinggi. "Ifrit Jambe: Kosmik Grille!"
Kaki Sanji membara dengan api biru yang suhunya melampaui bintang terkecil. Serangannya bertabrakan dengan monster itu, namun monster itu justru menyerap apinya
"Sial, mereka benar-benar memakan energi!" gerutu Sanji.
"Biar aku!" Kai (Dewa Penulis) melesat maju. Tanpa penanya, ia kini memegang pedang yang terlihat seperti kristal bening. "Jika mereka memakan energi, berikan mereka 'Kehampaan' yang murni!"
Kai mengayunkan pedangnya, menciptakan garis hitam di udara. Di saat yang sama, Tianyang muncul di belakang monster itu.
"Kombinasi, Dewa Penulis!" teriak Tianyang. "Void Devourer: Singularity Point!"
Tianyang menciptakan lubang hitam mikro di ujung pedangnya, sementara Kai memotong struktur 'makna' monster tersebut. Hasilnya mengerikan. Monster raksasa itu bukannya menyerap energi, justru tersedot ke dalam dirinya sendiri hingga mengecil menjadi titik kecil dan meledak menjadi debu bintang.
Lin Feng berdiri di tengah dek, dikelilingi oleh Nami, Usopp, dan Chopper yang ketakutan namun tetap memegang senjata mereka. Lin Feng menatap tangannya yang gemetar.
"Kenapa kau diam saja, Master?" tanya Nami dengan nada tajam namun ada kekhawatiran di dalamnya. "Kau yang memulai semua ini, kau harus bertanggung jawab!"
"Aku..." Lin Feng menatap Nami. "Aku menghabiskan jutaan tahun menghitung kemungkinan. Aku selalu berpikir bahwa keamanan multiverse adalah hasil dari persamaan matematika yang sempurna. Tapi bocah topi jerami itu... dia menghancurkan semua hitunganku dengan satu pukulan."
"Itu karena Luffy tidak peduli pada hitunganmu, Paman!" teriak Usopp sambil menembakkan Pop Green ke arah monster kecil yang mencoba naik ke dek. "Dia hanya peduli pada apa yang benar di depan matanya! Dan sekarang, yang benar adalah menghancurkan monster-monster itu!"
Chopper melompat ke arah Lin Feng dalam bentuk Heavy Point. "Paman Lin Feng! Jika kau benar-benar menyesal, gunakan otak pintarmu itu untuk membantu kami menang! Bukan untuk menyesali masa lalu!"
Lin Feng tertegun. Kata-kata dari makhluk-makhluk yang ia anggap "lemah" dalam sistemnya justru memberinya tamparan mental yang lebih keras dari tinju Luffy. Ia perlahan bangkit, aura kosmiknya tidak lagi dingin, melainkan mulai berpendar hangat.
"Gandron!" panggil Lin Feng pada sang Arsitek.
"Aku mendengarmu, Arsitek Lama," jawab Gandron yang sedang sibuk menahan retakan ruang agar Thousand Sunny tidak terhisap.
"Ubah frekuensi kapal ini. Jangan gunakan energi Qi atau energi laut. Gunakan resonansi Drums of Liberation dari jantung Luffy sebagai sumber bahan bakar!" perintah Lin Feng.
Nami langsung bereaksi. "Aku mengerti! Jika kita menggunakan irama jantung Luffy, monster-monster itu tidak akan bisa memakan kita karena frekuensinya terus berubah-ubah secara acak! Mereka tidak bisa memprediksi pola yang tidak logis!"
"Tepat!" Lin Feng melirik ke arah Luffy yang sedang asyik memukul monster raksasa seperti mainan karet.
"Tianyang! Gunakan kekuatan Void-mu untuk melapisi setiap serangan kru kapal ini! Kita akan mengubah kapal ini menjadi senjata anti-materi!"
Puncak Pertempuran
Tianyang mendarat di dek, wajahnya penuh keringat namun matanya berbinar. "Mengerti, Guru! Eh... maksudku, Lin Feng!"
Tianyang merentangkan tangannya, membagi aura Void-nya ke setiap senjata di Thousand Sunny. Pedang Zoro berubah menjadi hitam legam yang bergetar, peluru Usopp dipenuhi partikel penghancur dimensi, dan kaki Sanji memancarkan api yang bisa membakar bayangan.
"Wahahahaha! Ini hebat!" teriak Luffy dari langit. "Paman Lin Feng, kau ternyata bisa jadi orang baik juga!"
Luffy kemudian membesarkan dadanya, menghirup udara kosmik sebanyak-banyaknya. "Gomu Gomu no... WHITE HOLE!"
Luffy memuntahkan udara itu kembali, namun karena dilapisi energi Void Tianyang dan strategi Lin Feng, udara itu berubah menjadi badai putih yang memurnikan segala kegelapan yang dilewatinya. Ribuan Pemakan Bintang menjerit saat keberadaan mereka dihapus dari garis waktu.
Namun, di tengah kemenangan kecil itu, Aethelgard yang kini jiwanya melayang bebas di atas dek, menunjuk ke arah pusat Pulau Waktu yang mulai retak. "Lin Feng... berhati-hatilah. Pemimpin mereka... Sang Origin Devourer... dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja."
Dari dalam retakan terbesar di langit, muncul sebuah tangan yang ukurannya cukup untuk menggenggam seluruh dunia bajak laut.
Ledakan cahaya tadi meredup, namun bukannya kedamaian yang datang, langit Grand Line justru berubah menjadi warna merah daging yang berdenyut.
"Paman Lin Feng?!" Luffy berteriak, melihat cahaya emas itu bukannya menghilang, malah membentuk pusaran pelindung di sekitar Thousand Sunny.
Tiba-tiba, suara Lin Feng bergema kembali, namun terdengar lebih berat dan penuh otoritas. "Maaf semuanya, pengorbanan tadi hanya pembukaan. Aku harus memalsukan kematianku agar 'Jantung Multiverse' ini bereaksi. Lihat ke atas!"
Dari balik sobekan ruang, muncul bukan satu, tapi sembilan raksasa yang masing-masing memegang rantai penghancur galaksi. Mereka adalah The Nine Sentinels of Chaos.
"Wahahahaha! Jadi mereka masih punya banyak teman?!" Luffy justru semakin bersemangat.
Tubuhnya bergetar, uap putih Gear 5-nya mulai bercampur dengan kilatan petir hitam Haki yang jauh lebih pekat. "Hei, Paman Lin Feng! Jika mereka punya sembilan, maka aku butuh kekuatan lebih!"
Menuju Gear Cosmic
Luffy menutup matanya sejenak. Ia merasakan resonansi dari Dantian Hitam Tianyang dan energi kosmik Lin Feng yang tersebar di udara.
"Tianyang! Pinjamkan aku kegelapanmu!" teriak Luffy.
Qin Tianyang mengerti seketika. Ia terbang ke arah Luffy, menyentuh punggung sang Kapten, dan mengalirkan seluruh esensi Void yang ia miliki.
"Ambil semuanya, Luffy! Hancurkan batas logika dunia ini!"
[Gear Infinity – Mode Singularity]
Rambut putih Luffy kini memiliki bintik-bintik bintang berkelap-kerlip. Di belakang kepalanya, muncul lingkaran cahaya berbentuk galaksi spiral yang berputar. Kulitnya tidak lagi putih, melainkan transparan seperti langit malam.
Kekuatan Dalam mode ini, setiap gerakan Luffy menciptakan distorsi ruang. Jika ia memukul, ia tidak hanya memukul fisik musuh, tapi memukul "eksistensi" musuh di semua lini masa.
"Ayo, paman-paman raksasa! Mari kita bermain lebih beringas!" Luffy melesat dengan kecepatan yang membuat waktu terasa berhenti.
Kai (Dewa Penulis) kembali mencabut pedangnya, namun kali ini ia membelah jarinya sendiri, meneteskan darah dewa ke mata pedangnya. "Lin Feng! Jika kau masih hidup, berikan kami koordinat titik lemah mereka! Aku akan menuliskan 'Kematian' di dahi mereka!"
"Kai, fokus pada Sentinel ketiga dan ketujuh!" suara Lin Feng menginstruksikan dari dimensi lain. "Mereka adalah penyangga realitas ini. Jika mereka jatuh, yang lain akan hancur!"
Zoro berdiri di samping Jian Wushuang, kedua pendekar itu kini dikelilingi oleh ribuan pedang terbang yang diciptakan dari sisa energi sistem yang hancur.
"Wushuang," ucap Zoro dengan suara rendah yang mengancam. "Bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang bisa memotong kepala Sentinel itu lebih dulu, dia berhak meminta sake terbaik."
Jian Wushuang tersenyum dingin, matanya kini murni berwarna perak. "Tawaran yang bagus, Roronoa. Tapi kau harus bergerak lebih cepat dari cahaya jika ingin menang dariku."
"Semuanya, dengarkan!" Nami berteriak dari kemudi, matanya berkilat cerdas. "Kita tidak bisa melawan mereka satu per satu! Kita harus menggunakan Thousand Sunny sebagai pusat gravitasi! Usopp, Franky, aktifkan Gaon Cannon: Void Version!"
Franky menarik tuas rahasia yang terhubung dengan energi sisa dari jasad Aethelgard. "SUPER!!! Meriam ini sekarang menggunakan partikel penghancur dimensi! Bersiaplah, monster!"
BOOOOOM!
Tembakan meriam itu bukan lagi berupa laser, melainkan sebuah gelombang kejut transparan yang menghapus apa pun yang dilewatinya. Salah satu Sentinel mencoba menangkisnya dengan rantai galaksi, namun rantai itu justru hancur menjadi serpihan debu.
Sentinel terbesar mengangkat tangannya, memanggil Hujan Meteor Kehampaan. Ribuan batu api raksasa jatuh menuju kapal.
"Tidak akan kubiarkan!" Sanji melesat ke langit, melakukan putaran ekstrem. "Ifrit Jambe: Diable Multiverse Kick!"
Setiap tendangan Sanji menciptakan ledakan super-nova kecil yang menghancurkan meteor-meteor tersebut sebelum menyentuh dek. Namun, jumlah musuh terus bertambah. Dari lubang dimensi, jutaan pasukan kecil mulai keluar menyerbu.
"Mereka tidak ada habisnya!" teriak Chopper yang kini berada dalam Monster Point yang dilapisi zirah energi dari Gandron.
Luffy yang berada di depan Sentinel utama, tertawa di tengah serangan bertubi-tubi. "Gomu Gomu no... BLACK HOLE GATLING!"
Ribuan tinju Luffy muncul, masing-masing tinju adalah sebuah lubang hitam kecil. Sentinel itu melolong kesakitan saat bagian tubuhnya tersedot masuk ke dalam tinju Luffy.
"Kau tahu?" Luffy berbisik di telinga raksasa itu dengan kecepatan kilat. "Temanku bilang, kau tidak boleh merusak rumah orang lain! Jadi... ENYAHLAH KE UJUNG SEMESTA!"
Pukulan terakhir Luffy menciptakan ledakan yang merobek langit lebih lebar lagi, namun bukannya menutup, lubang itu justru memperlihatkan sosok yang lebih mengerikan di baliknya. Seorang wanita dengan rambut panjang berwarna putih perak, memegang kecapi yang mirip milik Li Sheng.
"Ibu...?" Tianyang membelalakkan matanya.
Ketegangan Baru
Siapa Wanita Itu? musuh untuk menghancurkan mental Tianyang?
Luffy's Limit: Gear Infinity Luffy mulai menguras nyawanya. Bagaimana kru Topi Jerami melindunginya saat ia melemah?
Lin Feng ternyata sedang menyiapkan sebuah "Senjata Pemusnah Multiverse" yang membutuhkan pengorbanan salah satu kru Topi Jerami.
Ketegangan di atas Thousand Sunny kini mencapai titik nadir. Langit yang tadinya merah daging kini bergetar hebat saat sosok wanita itu melayang turun. Ia memegang kecapi yang dentingannya memicu memori paling pedih di otak Tianyang.
Qin Tianyang mematung. Pedang Void-nya yang tadinya membara kini meredup. "Ibu...? Tidak, ini tidak mungkin. Lin Feng bilang kau aman di Bumi!"
Wanita itu tersenyum, namun matanya kosong, hanya berupa lubang hitam yang dalam. Ia memetik satu senar kecapinya, dan gelombang suara yang keluar bukan lagi musik, melainkan jeritan jutaan jiwa yang tersiksa.
"Tianyang... anakku..." suaranya terdengar persis seperti Li Sheng, namun dengan gema yang menyeramkan. "Kenapa kau meninggalkanku di dunia yang dingin itu demi para monster ini? Kemarilah, biarkan Ibu menyerap rasa sakitmu."
"Jangan dengarkan dia, Tianyang!" teriak Lin Feng melalui transmisi mental. "Itu adalah Mirror-Husk, kloning yang diciptakan dari sisa memorimu oleh Sang Origin! Jika kau mendekat, dia akan menguras esensi Void-mu untuk membangkitkan musuh yang lebih besar!"
Tianyang berlutut, kepalanya berdenyut hebat. Kenangan saat ia dipaksa pergi oleh Lin Feng menghantamnya kembali. "Tapi... suaranya... baunya... ini benar-benar dia!" detak jantungnya merasakan kehadiran ibunya cinta dan rindu yang dalam menyiksannya.
Di langit yang lebih tinggi, Luffy dalam mode Gear Infinity mulai menunjukkan tanda-tanda kehancuran. Bintik-bintik bintang di kulit transparannya mulai meredup, berubah menjadi retakan-retakan cahaya yang mengeluarkan darah emas.
"Hah... hah... tubuhku... terasa sangat berat," bisik Luffy. Detak jantung Drums of Liberation-nya melambat, bukan lagi seperti drum perang, melainkan seperti lonceng kematian yang sayup-sayup.
Mode ini memakan nyawa Luffy setiap detiknya. Eksistensinya mulai memudar karena ia menggunakan kekuatan yang melampaui batas dimensi manusia.
"Luffy!" teriak Nami dari dek bawah. "Berhenti! Kau akan menghilang jika terus seperti ini!"
Sentinel raksasa melihat celah ini. Ia mengangkat gada penghancur dunianya untuk menghantam Luffy yang sedang melemah. "Mati kau, gangguan kecil!"
Tepat sebelum gada itu mengenai Luffy, sebuah bayangan melesat secepat kilat.
"Sanjyuu-rokku Pound Ho!"
"Diable Jambe: Strike of the Guardian!"
Zoro dan Sanji berdiri di depan Luffy, menahan gada raksasa itu dengan seluruh kekuatan mereka. Kaki Sanji gemetar hingga tulangnya berderak, dan pedang Zoro mengeluarkan percikan api yang sangat besar.
"Kapten bodoh," geram Zoro, darah mengalir dari dahi dan sela-sela giginya. "Istirahatlah sebentar. Kami tidak akan membiarkan seujung kuku pun menyentuhmu."
Franky dan Usopp melepaskan tembakan pelindung secara bertubi-tubi. Chopper dalam bentuk Monster Point menangkap tubuh Luffy yang mulai jatuh, memeluknya dengan bulu-bulu tebalnya yang hangat.
"Luffy! Aku akan memberimu obat penambah energi paling kuat, tapi kau harus menjanjikan satu hal: Jangan mati!" teriak Chopper sambil menangis.
Di sisi lain kapal, Kai (Dewa Penulis) sedang mencoba menuliskan segel untuk menghancurkan kloning Li Sheng. Namun, tiba-tiba sebuah layar sistem berwarna biru terang muncul di depannya layar yang seharusnya sudah hancur.
[NOTIFICATION: HA-HA-HA-HA-HA!]
[USER KAI: APAKAH KAU BENAR-BENAR BERPIKIR BISA MENGHAPUSKU?]
Layar itu tidak lagi kaku. Ia tampak memiliki kesadaran sendiri. Tulisan-tulisan di layar itu berputar-putar seperti sedang menertawakan Kai.
"Apa... apa ini?" Kai terbelalak. "Lin Feng menghancurkan sistemnya! Bagaimana kau bisa ada di sini?!"
[SYSTEM: LIN FENG MENGHANCURKAN SISTEMNYA, TAPI DIA LUPA SATU HAL...]
[SISTEM BUKAN ALGORITMA, SISTEM ADALAH AKU. DAN AKU ADALAH SANG PENCIPTA ANARKI YANG KAU MUSNAHKAN DULU, KAI.]
Layar biru itu mulai menyerap energi dari sekitar Kai. "Kau... kau adalah The Anarchist?! Kau bersembunyi di dalam sistem selama ini?!"
[SYSTEM: TEPAT SEKALI. TERIMA KASIH TELAH MEMBAWAKU KE SUMBER ENERGI TERBESAR: LUFFY DAN TIANYANG. SEKARANG, BIARKAN PERMAINAN YANG SEBENARNYA DIMULAI!]
Tiba-tiba, Kai merasa tangannya lumpuh. Pena energinya berubah menjadi warna biru sistem dan mulai menuliskan skenario yang berlawanan dengan keinginannya.
"Tidak! Berhenti!" teriak Kai.
Situasi Kritis
Di layar sistem biru itu, tertulis skenario baru yang mengerikan:
[CURRENT SCENARIO: TIANYANG MEMBUNUH KRU TOPI JERAMI DEMI MENYELAMATKAN 'IBUNYA'.]
Tianyang, yang masih terpengaruh oleh kloning Li Sheng, mulai mengangkat pedangnya. Matanya tidak lagi merah, melainkan biru pucat warna yang sama dengan sistem yang merasuki Kai.
"Zoro... Sanji... Minggir dari sana," ucap Tianyang dengan suara datar yang menyeramkan. "Ibu bilang... kalian adalah penghalang bagi kedamaian kita."
"Tianyang! Sadarlah!" teriak Lin Feng dari kejauhan, namun suaranya teredam oleh tawa sistem yang
Kai terjepit di antara idealisme sebagai dewa pertempuran maut dan godaan harta yang tak masuk akal.
Di tengah kekacauan, layar sistem biru yang tadinya meledak mendadak memadat kembali di depan wajah Kai. Kali ini, nadanya bukan lagi mengancam, melainkan menggoda sebuah jebakan emas yang lebih berbahaya dari pedang mana pun.
[NOTIFIKASI: PENAWARAN KHUSUS UNTUK USER KAI!]
[MISI DARURAT: "PENULIS TAKDIR DUNIA FANA"]
[DETAIL: TULISKAN KEKALAHAN LUFFY DAN TIANYANG SEKARANG JUGA. JIKA KAU MELAKUKANNYA, SISTEM AKAN MEMBERIKAN HADIAH: KEKAYAAN TUJUH TURUNAN DI DUNIA ASALMU!]
Kai tertegun. Di layar itu muncul angka-angka nominal yang tidak masuk akal, sertifikat tanah di seluruh galaksi, hingga emas yang gunungnya bisa menutupi sebuah planet.
[BONUS: KAU AKAN MENJADI ORANG KAYA NOMOR SATU DI DUNIA. TIDAK ADA LAGI PERANG, TIDAK ADA LAGI TINTA DARAH. HANYA KEMEWAHAN ABADI!]
"Kekayaan... nomor satu di dunia?" Kai bergumam. Tangannya yang memegang pena bergetar. Ia teringat betapa lelahnya menjadi dewa yang terus melihat kehancuran. Menjadi manusia kaya yang tenang terdengar seperti surga.
Keraguan Sang Dewa Penulis
"Kai! Apa yang kau tunggu?!" teriak Lin Feng dari balik perisai energinya yang mulai retak. "Tuliskan segel pemusnah untuk monster serangga itu!"
Kai menoleh ke arah teman-temannya. Ia melihat Zoro yang bersimbah darah, Sanji yang kakinya sudah mulai hitam karena memaksakan api, dan Luffy yang baru saja membuka mata dengan sisa tenaga terakhirnya.
"Jika aku menuliskan kemenangan mereka, aku tetap menjadi pengembara tanpa rumah," bisik Kai pada dirinya sendiri. "Tapi jika aku menuliskan kekalahan mereka... aku bisa hidup seperti raja."
[SISTEM: BENAR, KAI. LIHATLAH MEREKA. MEREKA HANYA KARAKTER DI ATAS KERTASMU. KENAPA KAU HARUS BERKORBAN DEMI TINTA YANG BISA KAU HAPUS?]
Qin Tianyang yang baru saja tersadar dari pengaruh kloning, melihat Kai yang sedang dalam dilema. "Kai! Jangan dengarkan suara itu! Itu adalah racun!"
Namun, monster serangga (Sang Origin yang merasuki kloning Li Sheng) kembali menyerang. Tentakelnya yang berbentuk senar kecapi mencambuk dek kapal, menghancurkan tiang utama Thousand Sunny.
"Wahahahaha!" Luffy berdiri dengan sempoyongan. Ia melihat ke arah Kai. "Paman Penulis! Kau ingin menjadi orang kaya ya?
Kedengarannya hebat! Kau bisa membeli banyak daging!"
Luffy tersenyum lebar, meski darah mengalir dari sudut mulutnya. "Tapi, Paman... daging yang dibeli dari hasil mengkhianati teman... rasanya pasti sangat tidak enak!"
Penulis – Tinta Kehormatan
Kata-kata Luffy seperti petir yang menyambar jiwa Kai. Ia melihat pena di tangannya yang tadinya berwarna biru sistem, perlahan ia patahkan dengan tangannya sendiri.
"Hadiah tujuh turunan? Kaya nomor satu?" Kai tertawa, sebuah tawa yang meremehkan seluruh harta di alam semesta. "Sistem... kau benar-benar tidak mengerti arti seorang penulis."
Kai menggigit lidahnya sendiri, menyemburkan darah ke telapak tangannya, dan mulai menulis dengan kecepatan cahaya langsung di udara, mengabaikan semua tawaran sistem.
"Aku lebih baik mati sebagai penulis miskin yang memiliki cerita tentang pahlawan..." Kai berteriak, suaranya menggetarkan dimensi. "...daripada menjadi orang kaya nomor satu yang hidup di dalam kebohongan!"
[SISTEM: ERROR! ERROR! USER KAI MENOLAK HADIAH TERTINGGI! MENGAKTIFKAN PENALTI KEMISKINAN ABADI!]
"Peduli setan dengan penaltimu!" Kai menuliskan satu kata raksasa dengan darah jiwanya yang membara: "KEBANGKITAN!"
Langkah BOOM – Serangan Tiga Pilar
Tulisan Kai berubah menjadi cahaya putih yang masuk ke tubuh Luffy, Tianyang, dan dirinya sendiri. Ini adalah teknik [Last Chapter: Glory of the Fallen].
Luffy Gear Cosmic Tahap Akhir: Luffy merasakan energi Kai menyatu dengan Haki-nya. Tubuhnya bukan lagi transparan, tapi berpendar seperti inti matahari. Ia menarik udara kosmik: "GOMU GOMU NO... MULTIVERSE BIG BANG!"
Tianyang Void God: Tianyang melepaskan seluruh emosi dukanya menjadi pedang raksasa yang panjangnya menembus awan. "TEBASAN PENGHAPUS DOSA!"
Kai The God Slayer: Kai melesat bersama mereka, setiap langkahnya menciptakan jejak naskah yang membakar tentakel monster.
"SEKARANG, HANCURLAH BERSAMA SISTEM TERKUTUKMU!" teriak mereka serempak.
Ketiga serangan itu menyatu menjadi satu pilar cahaya yang menghantam monster serangga dan layar sistem biru secara bersamaan. Ledakannya begitu besar hingga seluruh Grand Line bergetar, dan layar sistem biru itu menjerit saat kodenya dihapus secara paksa oleh "Tinta Kehormatan" Kai.
