dihutan bawah kaki gunung dengan kehijauan dedaunan pepohonan ada padepokan Ki rawas septo serta ki rawas septo sedang menjelaskan tentang unsur-unsur beladiri kepada murid-muridnya dan memberitahukan kepada mereka kalau tidak boleh ada yang melakukan penyerangan kepada lawan yang tidak berdaya,apa lagi menyerang lawan dari belakang secara diam-diam.
Le… ndok… kalian tidak boleh melakukan penyerangan kepada lawan yang sudah tidak berdaya untuk melakukan penyerangan apa lagi menyerang dari belakang, apa kalian mengerti.?"ujar kirawas septo kepada murid-muridnya
"Baik,mbah kami mengerti.?" jawab para murid kirawas septo,kemudian ki rawas septo menjelaskan apa yang akan dilakukan.
"Sekarang,kita melakukan latihan beladiri dasar,dengan menguatkan fisik kalian terlebih dahulu.?apa kalian sudah siap.?" ungkap ki rawas septo, hingga para muridnya sangat antusias.
"Siap mbah kami akan melakukan,semua yang mbah arahkan.?" ujar para murid kirawas septo. hingga ki rawas septo dengan bangga menanggapi para muridnya.
"Bagus, sekarang mari kita memulai dengan pertahanan terlebih dahulu.?jawab kirawas septo.
Lalu para murid ki rawas septo melakukan latihan fisik terlebih dahulu dengan menggunakan pasir dimasukan kedalam wajan besar dan mereka mencoba menumbuk-numbuk pasir dengan memakai lima jari dengan menusuk pasir,lalu mereka melakukan kuda-kuda menahan selama 30 menit kemudian melakukan tangan didepankan dua-duanya lalu dipukul dengan kain tebal,serta melakukan memukul dan menendang kayu hingga mengeluarkan keringat dingin dan tangan para murid kirawas septo hingga merah-merah dan biru,kemudian mereka melakukan mengangkat air hingga memenuhi gentong kosong sampai terisi penuh dan Semua yang dilakukan para murid ki rawas sudah selesai melakukan pelatihan kekuatan fisik dan sekarang mereka akan melakukan pelatihan secara bertahap dari melakukan kuda-kuda dan diikuti dengan nafas yang dikendalikan,lalu melakukan dengan menggunakan pusatkan pikiran supaya tenaga yang ada disetiap gerakan bisa dikendalikan dengan baik.
"Sekarang latihan penguatan fisik kalian sudah melakukannya dengan benar dan sangat cepat kalian kuasai.?" ucap kirawas septo dengan mata dingin menjelaskan apa yang telah dicapai para murid-muridnya
"Matur nuwun,mbah."!! jawab para murid kirawas septo dengan penuh antusias. lalu ki rawas menjelaskan apa yang selanjutnya dilakukan.
"Sekarang yang harus kalian pelajari adalah kuda-kuda kalian,ini adalah pertahanan dari dasar beladiri kalian disaat lawan tidak mudah muda untuk merobohkan dengan adanya kuda-kuda.?" ucap kirawas septo menjelaskan kesemua murid-muridnya hingga salah satu muridnya bertanya.
"kalau saya boleh tahu mbah,berapa lama kami mempelajari kuda-kuda mbah.?" tanya angkara durja geni dengan rasa ingin tahu.
"Itu tergantung dari diri kalian sendiri sampai kapan kalian mempelajari kuda-kuda,ituh juga harus dilakukan dengan konsentrasi penuh,supaya pertahan kakimu bisa kokoh.?" jawab kirawas septo sembari menjelaskan. lalu muridnya dengan paham manggut-manggut setelah mendengar apa yang dijelaskan kirawas septo.
"Baiklah ki,matur nuwun.?" jawab angkara durja geni. lalu kirawas menanyakan kepada murid yang lain.
"Apa kalian tidak ada yang ingin bertanya lagi.?" tanya kirawas septo dengan melihat kearah murid-muridnya. dan salah satu muridnya bertanya.
"Ki saya ingin bertanya, supaya kita bisa cepat menguasai kuda-kuda itu caranya bagaimana,ki.?" tanya panji kencana. kepada kirawas septo.
"Ketika kalian ingin menguasai kuda-kuda itu,harus kalian tanamkan dihati kalian kemauan untuk memahami setiap gerakan,kemudian kalian cintai apa yang akan kalian lakukan,maka itu akan menjadi kalian menjadi cepat menguasai kuda-kuda itu.? Apa kamu paham,sekarang.?" jawab kirawas septo menjelaskan dengan sabar dan mudah dipahami oleh muridnya.
"Matur nuwun,ki.? Saya akan melakukan dengan segenap kemampuan saya,ki.?" jawab panji kencana yang sudah memahami apa yang dijelaskan kirawas septo.
"Apa kamu ingin bertanya juga,ndok.?" tanya kirawas septo kepada murid wanita satu-satunya yang punya keinginan dan ambisi tinggi.
"ndak ada,ki.?" jawab nini gethuk kepada sang guru kirawas septo.
"Baik,karena sudah tidak lagi yang ingin bertanya, kita mulai saja melakukan latihannya.?" jawab kirawas septo dan kemudian mengajak muridnya untuk memulai latihan yang akan dilakukan selanjutnya.
"Baik ki." ucap para murid kirawas septo
Lalu para ketiga murid ki rawas langsung memulai untuk pelatihan kekuatan kuda-kuda dasar terlebih dahulu angkara durja geni melakukan pelatihan dengan berdiri diatas kayu yang tinggi untuk pertahanan serta panji kencana dan nini gethuk juga. kemudian Angkara durja geni ,panji kencana, serta nini gethuk masih melakukan berdiri ditiang dan melakukan kuda-kuda untuk pertahan kuda-kuda mereka kemudian ki rawas septo sedang membaca kitab suci namun angkara durja geni sambil melirik kitab yang sedang di pegang oleh ki rawas septo.
"Pasti semua jurus-jurus ada dikitab itu.?" gumam angkara durja geni didalam hati sembari memperhatikan kitab yang sedang pegang oleh kirawas septo.
Kemudian angkara durja geni melihat ki rawas septo dengan hati-hati meletakkan kitab suci itu dan langsung menghampiri para muridnya yang sedang latihan kemudian ki rawas septo langsung segera berkata kepada mereka untuk berhenti dan melakukan gerakan dasar.
"Sekarang kalian bisa berhenti melakukan yang, mari kita memulai dengan gerakan dasar.?" ucap kirawas septo sembari menghampiri murid-muridnya.
"Baik mbah."!! jawab para murid kirawas septo dengan seksama kemudian para ketiga murid seperguruan ki rawas septo selesai melakukan kuda-kuda diatas tiang dan langsung melakukan gerakan yang akan dikeluarkan oleh ki rawas septo. Lalu tidak terlalu lama ki rawas septo mengajari mereka dan mereka semua langsung sudah mahir melakukan apa yang telah diajarkan kirawas septo,setelah beberapa bulan kemudian kirawas septo melakukan pertandingan dengan lawan hingga membuat uji tanding dan Perkelahian sengit antara Panji kencana dengan Angkara Durja Geni terjadi dengan begitu dahsyat hingga membuat sekeliling lingkungan yang ada di sekitar mereka berantakan. Dan Ki Rawas Septo hanya memperhatikan kedua muridnya sedang melakukan latihan berkelahi hingga membuatnya puas dengan apa yang telah diajarkan oleh Ki Rawas Septo, hingga terjadilah sebuah perlawanan Angkara Durja Geni dengan liciknya menghantam Panji Kecana hingga terluka dan Ki Rawas Septo menghentikan Perkelahian tersebut.
"Nang… hentikan ketika lawan sudah tidak berdaya, jangan sekali-kali kamu menghajar orang yang sudah tidak berdaya. Karena itu termasuk perbuatan yang tidak berjiwa ksatria."!! sembari menghentikan perkelahian dan menjelaskan apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh seorang pendekar terhadap musuhnya kemudian Panji Kencana bergegas berdiri dan memberikan hormat Ki Rawas Septo dan Angkara Durja Geni hanya tersenyum tidak menghiraukan atas ucapan Ki Rawas Septo.
"Baik mbah kakung. Saya akan mengingat pesan dari mbah kakung ketika kita menghadapi lawan yang sudah tidak berdaya."!! ujar panji kencana menanggapi apa yang dijelaskan kirawas septo tetapi tidak untuk angkara durja geni kemudian Ki Rawas Septo mengangguk senang ketika mendengarkan apa yang telah diucapkan Panji Kencana dan Angkara Durja Geni hanya tersenyum sinis melihat Ki Rawas Septo dan Panji Kencana.
"Kalau begitu Panji Kencana dan Angkara Durja Geni kita sudahi saja latihan hari ini dan kalian berdua harus ingat apa yang saya sampaikan tadi."!! ujar kirawas septo sembari melihat kearah para muridnya yang sudah lelah karena latihan uji tanding hingga para murid ki rawas septo memberikan hormat kepada ki rawas septo dan segera meninggalkan tempat itu lalu ki rawas septo dengan hati-hati membawa kitab suci lalu beranjak pergi, tetapi tanpa panji kencana dan nini gethuk ketahui angkara durja geni berhenti melangkah dan melihat ke belakang atas apa yang dilihatnya itu adalah ki rawas septo sedang dengan hati-hati menutup buku kemudian membawanya memasuki gubug tempat ki rawas septo istirahat sementara angkara durja geni dengan sinis madih berdiri ditempat latihan dan menyeringai dengan wajah licik.
"Ternyata semua ilmu kanuragan serta dasar beladiri ada didalam kitab itu, aku harus memiliki kitab itu tetapi bagaimana ya.?" gumam angkara durja geni didalam hati sembari menyeringai mengarah kearah kirawas septo Tetapi tanpa diketahui angkara durja geni yang sedang bingung dengan apa yang sedang dipikirkannya,tiba-tiba muncul panji kencana serta nini gethuk yang kembali menghampiri angkara durja geni yang sedang ingin mengatur rencana.
"Bagimana ya, caranya aku memiliki kitab suci itu.?,Apa aku…" ucap angkara durja geni sembari berpikir.
Angkara durja geni sedang berpikir ingin menyusun rencana tiba-tiba datang panji kencana dan nini gethuk hingga membuat angkara durja geni jadi terkejut dan panji kencana menghampiri angkara durja geni.
"Kakang angkara, kamu kenapa hanya diam saja disini, bukannya mbah sudah menyuruh kita untuk selesai latihan dan beristirahat.?" tanya panji kencana sembari mendekati angkara durja geni yang sedang berdiri diam ditempat latihan.
"Aaahh tidak aku hanya sedang berpikir tentang, mempelajari kuda-kuda serta jurus-jurus yang diajarkan guru tadi saja.?" ungkap angkara durja geni sembari gugup dan terkejut atas kedatangan panji kencana.
"Bukankah tadi mbah guru,menanyakan kalau ada yang belum paham,boleh bertanya.?" kata nini gethuk sembari melihat kearah angkara durja geni dengan mengerutkan alis.
"Ooh ndak diajeng bukan aku tidak paham, maksudku itu jurus-jurus yang diajarkan mbah singkat tetapi mudah untuk kita pelajari, begitu maksudku.? Hehehe" jawab angkara durja geni sembari salah tingkah dan langsung nyengir.
"Oh begitu, ya sudah kakang kami istirahat dulu ya.?" jawab panji kencana kemudian meminta izin untuk lebih dulu istirahat.
"Ooh ya diajeng,dimas… monggo.? Aku juga ingin istirahat.?" kata angkara durja geni sembari manggut-manggut.
"Nyuwun sewu, kang.?" jawab panji kencana dan nini gethuk sembari berjalan kearah gubug untuk beristirahat.
"Monggo diajeng,dimas.?" kata angkara durja geni sembari mempersilahkan mereka berdua untuk istirahat duluan. Setelah mempersilahkan panji kencana dan nini gethuk dengan tersenyum, dan panji kencana serta nini gethuk sudah pergi. Angkara durja geni berhenti dari tersenyumnya dan memasang wajah yang kesal kepada panji kencana karena nini gethuk sangat dekat dengan panji kencana hingga membuatnya cemburu.
