Cherreads

Chapter 9 - 9. KEHANCURAN SANG CAHAYA

Kehancuran itu tidak terjadi dengan cepat. Aethelgard, Ibu Kota yang agung, tidak sekadar jatuh—ia terkoyak di udara, hancur menjadi jutaan serpihan batu dan api saat menghantam daratan bawah dengan kekuatan yang mampu mengguncang fondasi dunia. Debu abu-abu menutupi matahari, menciptakan kegelapan prematur yang menyesakkan. Di tengah kawah raksasa yang dulunya adalah pusat peradaban, Jiu Lan bangkit dari puing-puing.

Zirah hitamnya kini bersinar dengan urat-urat ungu dari Jantung Terlarang. Ia tampak lebih perkasa, lebih tampan, dan jauh lebih mengerikan. Jiu Lan menatap tangannya yang memancarkan aura kematian, lalu beralih menatap pemandangan di sekelilingnya, ribuan mayat rakyatnya tertimbun reruntuhan, jeritan kesakitan terdengar dari balik batu, dan tangisan anak-anak yang mencari orang tua mereka pecah di tengah kesunyian abu.

Jiu Lan tidak merasa sedih. Ia justru menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma belerang dan darah yang bercampur di udara. “Ah... akhirnya, suara yang jujur,” bisiknya dengan senyum tipis yang memuakkan.

Ia melihat Yan Zha tergeletak beberapa meter darinya, kaki pahlawan itu terjepit di bawah pilar marmer yang besar. Yan Zha masih sadar, namun matanya kehilangan binar kehidupan. Di sampingnya, Mei Lin pingsan dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

Jiu Lan melangkah mendekat, setiap injakan kakinya di atas puing terdengar seperti vonis mati. Ia tidak segera membebaskan Yan Zha atau membunuhnya. Ia justru duduk di atas sebuah batu besar di depan Yan Zha, menopang dagu dengan tangannya yang berlumuran darah, menonton sahabatnya itu menderita.

“Sakit, Yan Zha?” tanya Jiu Lan dengan nada santai. “Rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibandingkan rasa bersalahmu, bukan? Kaulah yang menghancurkan kristal itu. Kaulah yang membuat pulau ini jatuh. Jutaan nyawa ini... mereka mati karena kau memilih satu wanita daripada mereka.”

“Kau... kau yang menjebakku...” sahut Yan Zha serak, nyaris tak terdengar.

“Aku hanya memberimu pilihan. Kau yang menarik pelatuknya,” Jiu Lan tertawa rendah. Ia berdiri, lalu dengan gerakan lambat yang sengaja, ia menginjak pilar yang menjepit kaki Yan Zha, menekannya lebih dalam hingga suara retakan tulang terdengar jelas.

Yan Zha meraung kesakitan, namun Jiu Lan justru tertawa lebih keras. “Jangan berteriak padaku. Berteriaklah pada rakyatmu yang mati di bawah sana. Katakan pada mereka bahwa kau mencintai Mei Lin lebih dari nyawa mereka.”

Jiu Lan kemudian beralih ke Mei Lin. Ia menjambak rambut gadis itu agar terbangun. Saat Mei Lin membuka mata dan melihat pemandangan kiamat di sekelilingnya, ia langsung histeris. Jiu Lan membiarkan gadis itu menangis, menonton kehancuran mentalnya dengan minat seorang ilmuwan yang sedang membedah subjeknya.

“Lihat ini, Mei Lin,” Jiu Lan mengarahkan wajah Mei Lin ke arah mayat-mayat yang berserakan. “Ini adalah kado pernikahan yang tidak akan pernah kau lupakan. Bukankah suamimu ini sangat baik?”

Jiu Lan merogoh kantongnya dan mengeluarkan sepotong roti kering yang ia temukan di reruntuhan. Ia memakannya di depan mereka yang kelaparan dan terluka, menunjukkan betapa ia sama sekali tidak memiliki empati. Ia adalah predator yang sedang merayakan kemenangannya di atas bangkai dunianya sendiri.

Kegelapan di daratan bawah kini dihuni oleh makhluk-makhluk yang sebelumnya takut pada cahaya Aethelgard. Sekarang, mereka merayap keluar dari lubang-lubang bumi, tertarik oleh bau kematian yang masif. Namun, mereka semua berhenti dan berlutut saat melihat Jiu Lan.

Jiu Lan berdiri di puncak reruntuhan menara istana yang kini terkapar di tanah. Ia mengangkat pedangnya yang menyatu dengan energi ungu Jantung Terlarang. “Legiun kegelapan! Dunia lama telah runtuh! Tidak ada lagi cahaya yang akan menghalangi jalan kalian!”

Ia memerintahkan para monster itu untuk mulai membersihkan sisa-sisa penyintas Kerajaan Langit. Jiu Lan bukan hanya tidak menolong rakyatnya, ia aktif memburu mereka yang selamat untuk memastikan tidak ada harapan yang tersisa.

Yan Zha, dengan sisa kekuatannya, mencoba meraih tangan Mei Lin. “Kita... kita harus pergi...”

Namun, Jiu Lan menyadari gerakan itu. Dengan satu jentikan jari, ia mengaktifkan Soul Lock dengan frekuensi yang sangat menyakitkan. Mei Lin menjerit hingga pingsan kembali, sementara Yan Zha terlempar karena beban emosional yang dialirkan melalui ikatan tersebut.

“Kalian tidak akan pergi ke mana-mana,” ucap Jiu Lan dingin. “Aku butuh kalian untuk melihat bagaimana aku membangun kekaisaran baruku di atas kuburan ini. Yan Zha, kau akan menjadi saksi setiap kali aku menghancurkan satu harapan lagi. Dan Mei Lin... kau akan menjadi sumber energiku sampai tidak ada setetes pun darah suci yang tersisa di nadimu.”

Jiu Lan kemudian memanggil seekor monster terbang raksasa. Ia melempar Mei Lin ke punggung monster itu seperti barang dagangan, lalu menatap Yan Zha dengan tatapan yang sangat menghina.

“Aku akan membiarkanmu hidup, Yan Zha. Bukan karena aku kasihan, tapi karena kematian terlalu indah untukmu. Aku ingin kau hidup cukup lama untuk melihat dunia ini melupakan namamu sebagai pahlawan dan mengingatmu sebagai pria yang menghancurkan surga demi nafsunya sendiri.”

Jiu Lan terbang menjauh menuju cakrawala yang membara, meninggalkan Yan Zha di tengah kawah kematian sendirian. Namun, sebelum ia benar-benar menghilang, Jiu Lan melepaskan satu ledakan energi ungu yang meruntuhkan sisa-sisa dinding perlindungan terakhir di daerah itu, membiarkan para pengungsi dimangsa oleh kegelapan tanpa pembelaan.

Saat Jiu Lan mendarat di markas barunya—sebuah gunung berapi yang aktif—ia merasakan jantungnya berdenyut aneh. Energi ungu dari wanita di dalam peti tadi mulai berbicara di dalam kepalanya. Suaranya bukan suara manusia, melainkan bahasa kuno yang memberitahu Jiu Lan bahwa Jantung itu memiliki kehendak sendiri.

“Siapa kau?” geram Jiu Lan.

Suara itu menjawab, “Aku adalah akhir yang kau cari, dan awal dari penderitaanmu yang sesungguhnya.”

Tiba-tiba, tubuh Jiu Lan mulai retak. Kulit tampannya pecah menunjukkan cahaya ungu di bawahnya. Ternyata, menyerap Jantung Terlarang memiliki harga yang jauh lebih mengerikan—Jiu Lan mulai kehilangan bentuk manusianya setiap kali ia melakukan kekejaman.

Debu abu-abu yang turun dari langit Aethelgard yang runtuh menyerupai salju pemakaman. Setiap butirannya membawa sisa-sisa memori dari peradaban yang baru saja binasa—serpihan kain sutra dari pasar yang ramai, abu dari buku-buku perpustakaan kuno, dan partikel tulang dari mereka yang tak sempat menjerit. Di tengah hamparan kehampaan ini, Jiu Lan berdiri tegak, membiarkan debu itu mengotori bahunya yang tegap. Ia tidak sedikit pun terlihat seperti pengungsi—ia tampak seperti pemilik baru dari reruntuhan ini.

“Kau lihat ini, Yan Zha?” suara Jiu Lan memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti bilah es. “Dunia yang kau bela dengan nyawamu ternyata hanya butuh satu tarikan napas untuk menjadi debu. Begitu rapuh. Begitu tidak berarti.”

Yan Zha, yang masih tertindih pilar, mencoba meludah ke arah Jiu Lan, namun yang keluar hanyalah gumpalan darah kental. Matanya yang merah menatap Jiu Lan dengan kebencian yang bisa membakar gunung. “Kau... kau adalah noda pada sejarah manusia, Jiu Lan. Meskipun kau menang hari ini, kau akan selamanya menjadi anjing yang menggonggong di tengah kuburan yang kau gali sendiri.”

Jiu Lan tertawa pelan. Ia melangkah mendekati Yan Zha, lalu berjongkok. Dengan gerakan yang sangat lambat dan disengaja, ia mengambil sebuah fragmen kristal tajam dari tanah. “Anjing yang menggonggong? Tidak, Yan Zha. Aku adalah serigala yang akhirnya memakan tuannya yang munafik.”

Jiu Lan menggunakan fragmen kristal itu untuk menggores pipi Yan Zha, perlahan-lahan menciptakan luka panjang yang mengeluarkan darah segar. Ia melakukannya tanpa emosi, seperti seorang seniman yang sedang mengoreksi kanvasnya. “Kau tahu apa yang paling menyenangkan dari kehancuran ini? Melihat pria suci sepertimu kehilangan segala hal—statusmu, senjatamu, dan yang paling penting... harga dirimu.”

Ia berpaling pada Mei Lin yang merintih dalam ketidaksadarannya. Jiu Lan meraih tangan Mei Lin, menyeret tubuh gadis itu di atas tanah yang dipenuhi pecahan kaca dan batu tajam tanpa mempedulikan luka baru yang muncul di kulit Mei Lin. Ia ingin Yan Zha melihat betapa sampah-nya wanita yang ia cintai di tangan Jiu Lan.

“Berhenti... k-kumohon... sakiti aku saja...” rintih Yan Zha, air matanya pecah melihat Mei Lin diperlakukan seperti barang jarahan yang tak berharga.

“Memohon?” Jiu Lan berdiri kembali, menginjak tangan Yan Zha yang berusaha menggapai jubahnya. “Pahlawan agung Kerajaan Langit memohon pada seorang monster? Ini adalah momen paling manis dalam hidupku. Tapi sayangnya, Yan Zha, aku tidak menerima permohonan dari mayat yang masih bernapas.”

Jiu Lan kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah cakrawala. Ribuan iblis rendahan mulai bermunculan dari balik gundukan tanah, tertarik oleh aroma kematian yang begitu pekat. Mereka merayap seperti kecoak, menjilati darah yang membasahi puing-api.

“Makanlah,” perintah Jiu Lan pada monster-monster itu, sambil menunjuk ke arah tumpukan puing di mana masih ada warga yang terjepit dan merintih minta tolong. “Bersihkan tempat ini. Aku tidak ingin ada sisa-sisa kebaikan yang tertinggal di tanah kekuasaanku.”

Pesta pora mengerikan pun dimulai. Suara kunyahan dan jeritan pilu rakyat Aethelgard menjadi latar belakang saat Jiu Lan menyeret Mei Lin menuju seekor naga hitam yang baru saja mendarat. Ia tidak memberikan Mei Lin perawatan—ia justru melempar gadis itu ke dalam sangkar besi berduri yang tergantung di sisi punggung naga tersebut.

“Kita pergi,” ucap Jiu Lan pada naga itu.

Sebelum terbang, Jiu Lan menoleh sekali lagi pada Yan Zha. “Selamat tinggal, Yan Zha. Hiduplah dalam kegelapan ini. Hiduplah sampai kau menyadari bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mati lebih dulu, dan kau... kau hanyalah sisa pembuangan dari sebuah kegagalan.”

Naga itu mengepakkan sayapnya, menerbangkan debu abu-abu ke wajah Yan Zha yang hancur. Jiu Lan terbang menuju Pegunungan Obsidian, tempat ia akan mendirikan istana barunya yang jauh lebih gelap. Di atas sana, di tengah badai ungu yang mengamuk, Jiu Lan merasakan Jantung Terlarang di dadanya berdenyut liar.

Rasa sakit mulai menjalar ke tulang selangkangannya. Kulit di dadanya mulai memancarkan cahaya ungu yang menembus baju sutranya. Jiu Lan menyeringai, meskipun rasa sakit itu tak tertahankan. Ia tahu bahwa setiap inci kemanusiaan yang hilang dari dirinya akan digantikan oleh kekuatan yang mampu menundukkan dewa.

“Jika aku harus menjadi monster untuk menguasai dunia ini,” bisik Jiu Lan pada angin badai, “Maka aku akan menjadi monster yang membuat neraka pun merasa ketakutan.”

Saat naga itu melesat menjauh, Mei Lin yang berada di dalam sangkar perlahan membuka matanya. Ia melihat tanda Soul Lock di lengannya kini tidak lagi merah atau abu-abu, melainkan bening seperti kaca. Ia menyadari sesuatu yang tidak diketahui Jiu Lan—kutukan itu telah berubah fungsi. Bukan lagi Jiu Lan yang menyedot nyawanya, melainkan Mei Lin yang kini secara tidak sadar mulai mencuri emosi dan sisi manusiawi Jiu Lan yang masih tersisa.

Jiu Lan akan menjadi semakin kuat secara fisik, namun ia akan menjadi semakin kosong secara batiniah, sampai ia benar-benar menjadi cangkang tanpa kehendak yang dikendalikan oleh Mei Lin dari dalam sangkar.

More Chapters