Cherreads

THE ACCURSED CROWN: SIN OF JIU LAN

Indah_Serene_Moon
21
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 21 chs / week.
--
NOT RATINGS
191
Views
Synopsis
“Jika dunia menginginkan seorang penjahat untuk selamat, maka aku akan menjadi iblis yang paling keji.” Pangeran Jiu Lan adalah simbol kesempurnaan di Kerajaan Langit—tampan, sakti, dan dicintai. Namun, dalam satu malam berdarah, dia membantai ayahnya sendiri, Sang Kaisar, dan memimpin tentara iblis untuk menjajah tanah airnya. Dunia mengutuknya sebagai pengkhianat abadi. Namun, di balik jubah hitam dan pedang berdarahnya, Jiu Lan menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kewarasan siapapun yang mendengarnya. Dia tidak sedang menghancurkan dunia—dia sedang memeluk seluruh dosa dunia ke dalam jiwanya yang hancur. Saat takdir memaksanya mati di tangan orang-orang yang dia selamatkan, akankah kebenaran terungkap sebelum semuanya menjadi abu?
VIEW MORE

Chapter 1 - 1. MAHKOTA YANG TERLUKA

Langit di atas Kerajaan Langit tidak pernah semerah ini. Matahari terbenam biasanya membawa kedamaian, namun hari ini, semburat oranye yang terpantul di pilar-pilar giok istana terasa seperti firasat buruk yang merayap. Ribuan rakyat berkumpul di alun-alun utama, suara sorak-sorai mereka membumbung tinggi, memanggil satu nama yang menjadi tumpuan harapan seluruh negeri; Pangeran Jiu Lan.

Di balkon tertinggi, sang pangeran berdiri mematung. Jubah emasnya yang bersulamkan naga perak berkilauan setiap kali terkena sisa cahaya hari. Wajahnya adalah mahakarya dewa; garis rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan sepasang mata biru jernih yang biasanya meneduhkan. Namun, jika ada yang cukup dekat untuk menatap mata itu sekarang, mereka tidak akan menemukan ketenangan. Di sana, hanya ada badai yang membeku.

Jiu Lan menggenggam erat hulu pedangnya, Cahaya Langit. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, melainkan beratnya beban yang sebentar lagi akan ia panggul sendirian. Di bawah sana, orang-orang tertawa, anak-anak berlari dengan lampion, tidak menyadari bahwa di balik kemegahan tembok istana, seorang raja tengah menenun jaring kematian bagi mereka semua.

“Jiu Lan, mengapa kau masih di sini? Rakyat menantimu untuk memulai Upacara Keabadian.”

Suara itu berat dan berwibawa. Jiu Lan berbalik perlahan. Ayahnya, Kaisar Jiu Feng, berdiri di ambang pintu aula takhta. Jubah sang kaisar tidak lagi memancarkan cahaya suci, melainkan aura gelap yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah menyentuh batas ilmu terlarang.

“Ayah,” bisik Jiu Lan. “Hentikan ini. Kontrak itu... itu bukan keabadian. Itu adalah pembantaian massal yang dibalut kebohongan.”

Kaisar tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. Ia melangkah mendekati putranya, meletakkan tangan di bahu Jiu Lan. “Kau masih terlalu muda untuk mengerti. Pengorbanan adalah fondasi dari setiap kekaisaran yang besar. Jika seratus ribu nyawa bisa membuat satu orang menjadi dewa yang tak terkalahkan, bukankah itu harga yang murah?”

Jiu Lan menepis tangan ayahnya. Matanya menajam. “Rakyat adalah darahmu, bukan mata uang untuk ambisimu. Aku tidak akan membiarkan Gerhana Merah ini menjadi malam terakhir bagi mereka.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan, Putraku?” tantang sang Kaisar, matanya mendadak berubah menjadi hitam pekat. “Tanpa kontrak ini, kerajaan kita akan runtuh oleh serangan iblis dari perbatasan. Hanya kekuatan absolut yang bisa menyelamatkan kita.”

“Bukan,” jawab Jiu Lan dingin. “Hanya kebenaran yang bisa menyelamatkan kita. Dan kebenaran itu... harus mati bersamaku.”

Dalam satu gerakan yang hampir tidak tertangkap mata manusia, Jiu Lan menghunus pedangnya. Ruangan itu seketika dipenuhi cahaya putih yang menyilaukan. Namun, saat cahaya itu memudar, pemandangan di sana telah berubah menjadi mimpi buruk.

Tepat saat gerbang istana dibuka untuk rakyat agar mereka bisa melihat upacara sakral tersebut, ujung pedang Jiu Lan telah menembus dada sang Kaisar. Darah merah kental memercik ke wajah tampan Jiu Lan, menodai kulitnya yang seputih porselen.

Keheningan yang mencekam menyelimuti alun-alun. Ribuan rakyat membeku. Sahabat karibnya, Yan Zha, yang berdiri di barisan depan pengawal, menjatuhkan tombaknya.

“Pangeran... apa yang kau lakukan?” suara Yan Zha bergetar hebat.

Jiu Lan tidak menjawab. Ia menarik pedangnya, membiarkan tubuh ayahnya jatuh berdebam di atas singgasana emas. Ia melihat gulungan Kontrak Keabadian di atas meja ritual—gulungan yang berisi nama-nama setiap rakyat yang akan ditumbalkan. Dengan api sihir hitam yang mendadak muncul dari telapak tangannya, ia membakar gulungan itu hingga menjadi abu.

Dengan hilangnya gulungan itu, bukti kejahatan sang kaisar pun musnah. Di mata dunia, yang mereka lihat hanyalah seorang putra mahkota yang membunuh ayahnya demi merebut takhta.

Jiu Lan menatap rakyatnya dari balkon dengan pandangan yang paling kejam yang bisa ia buat. Ia tertawa, sebuah tawa kering yang menusuk hati siapa pun yang mendengarnya.

“Keabadian?” teriak Jiu Lan, suaranya menggelegar. “Kaisar tua ini terlalu lemah untuk memegang kekuatan itu! Mulai hari ini, Akulah yang akan memimpin kalian ke dalam kegelapan. Dunia bawah telah menjanjikan takhta yang lebih besar daripada sekadar kerajaan kecil ini!”

“PENGKHIANAT!” teriak seseorang dari kerumunan, diikuti oleh ribuan suara lainnya yang penuh kebencian.

Jiu Lan membiarkan ikat rambut emasnya jatuh dan pecah di lantai. Rambut hitam panjangnya terurai, menutupi sebagian wajahnya yang kini terlihat seperti iblis yang haus darah. Ia melihat ke arah Yan Zha, memberikan satu tatapan terakhir penuh arti—sebuah permohonan maaf yang tidak akan pernah terucap.

Dari balik bayang-bayang istana, kabut hitam mulai merayap. Tentara iblis yang selama ini ditahan oleh segel kaisar kini bangkit, namun bukan karena panggilan sang ayah, melainkan karena Jiu Lan sengaja membuka gerbangnya untuk menutupi pelariannya.

Hari itu, sejarah Kerajaan Langit mencatat dengan tinta darah. Pangeran Jiu Lan bukan lagi sang penyelamat, melainkan iblis paling tampan dan paling keji yang pernah terlahir di bawah langit.

Yan Zha melompati anak tangga istana dengan kecepatan yang tak masuk akal. Sebagai panglima garda depan dan sahabat masa kecil Jiu Lan, ia menolak mempercayai matanya sendiri. Baginya, Jiu Lan adalah pria yang bahkan enggan menginjak semut di jalanan setapak kuil. Namun, pemandangan di depannya adalah kenyataan yang menghancurkan jiwa. Jiu Lan berdiri di tengah genangan darah kaisar, dengan ekspresi sedingin es kutub.

“Jiu Lan! Katakan padaku ini semua hanya ilusi!” teriak Yan Zha, pedangnya terhunus namun tangannya gemetar hebat. “Katakan bahwa itu bukan kau! Katakan bahwa kau sedang di bawah pengaruh sihir!”

Jiu Lan tidak berbalik. Ia memunggungi sahabatnya, menatap lurus ke arah kabut hitam yang mulai menyelimuti aula takhta. Kabut itu bukan sekadar asap, melainkan napas dari ribuan iblis yang selama ini terkunci di dasar Bumi. Dengan membakar gulungan kontrak ayahnya, Jiu Lan secara otomatis memindahkan segel kutukan itu ke dalam nadinya sendiri. Rasa sakitnya seperti disiram timah panas di setiap inci pembuluh darah, namun wajahnya tetap tak goyah.

“Dunia ini terlalu membosankan, Yan Zha,” suara Jiu Lan terdengar begitu asing, berat oleh resonansi kekuatan gelap. “Menjadi pahlawan hanya memberiku sanjungan kosong. Tapi menjadi iblis? Itu memberiku keabadian yang sebenarnya.”

“Kau bohong!” Yan Zha menerjang, menebaskan pedangnya.

Clang!

Jiu Lan menangkis serangan itu tanpa menoleh, hanya dengan menggunakan satu jari yang dilapisi energi hitam pekat. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan pilar-pilar giok di sekeliling mereka. Yan Zha terlempar mundur, dadanya sesak oleh tekanan energi yang begitu masif.

“Pergilah, Yan Zha. Ambil orang-orangmu dan larilah ke benteng utara,” ucap Jiu Lan. Kalimat itu terdengar seperti perintah tirani, namun di dalamnya terselip koordinat satu-satunya tempat yang tidak akan diserang oleh tentara iblis nanti. Tentu saja, Yan Zha yang sedang dirundung kemarahan tidak akan menyadarinya.

Di luar istana, jeritan rakyat mulai pecah. Gerbang Dunia Bawah telah terbuka sepenuhnya. Makhluk-makhluk setinggi gunung dengan mata menyala mulai merangkak keluar dari bayang-bayang. Bukannya menyerang Jiu Lan, monster-monster mengerikan itu justru berlutut di hadapannya. Mereka mencium aroma dosa yang begitu pekat dari tubuh sang pangeran—dosa yang sebenarnya adalah pengorbanan, namun di mata iblis, itu adalah undangan.

Jiu Lan melangkah maju, melewati jasad ayahnya tanpa melirik sedikit pun. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki terbakar di atas karpet sutra istana. Ia berjalan menuju balkon, menatap langit yang kini benar-benar padam, tertutup oleh sayap-sayap legiun terbang yang ia panggil.

Rakyat yang tadinya memujanya kini melempari istana dengan batu dan kutukan. “Pembunuh!” “Pengkhianat bangsa!“ “Iblis berwajah manusia!”

Jiu Lan menerima semua teriakan itu sebagai musik pengiring kematian identitas lamanya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan seketika itu juga, aura gelap meledak dari tubuhnya, membentuk jubah hitam legam yang melambai ditiup angin badai. Ketampanannya kini menjadi senjata yang mematikan—ia tampak seperti dewa kematian yang turun untuk menjemput nyawa dunia.

“Mulai malam ini,” suara Jiu Lan bergema ke seluruh penjuru kerajaan, memutus semua harapan yang tersisa. “Kerajaan Langit telah runtuh. Dan aku adalah penguasa tunggal di atas reruntuhannya.”

Ia kemudian berbalik, berjalan masuk ke dalam pusaran kabut hitam bersama ribuan monster di belakangnya. Ia meninggalkan Yan Zha yang bersimpuh lemas, meninggalkan sejarah yang akan menuliskan namanya dengan tinta kebencian paling pekat.

Namun, saat bayang-bayang itu hampir menelannya sepenuhnya, Jiu Lan berhenti sejenak. Tanpa ada yang melihat, setetes air mata darah jatuh dari mata kirinya, menguap sebelum sempat menyentuh lantai. Ia merogoh saku dalamnya, memastikan sebuah jimat pelindung kecil—satu-satunya benda yang bisa mencegah wabah iblis menyerang warga sipil—masih aktif di bawah kendalinya.

Langkah kakinya membawanya menuju jurang tak berdasar di belakang istana, tempat pasukan terkuat iblis menunggunya. Di sana, seorang jenderal iblis setinggi tiga meter dengan tanduk melengkung menyambutnya dengan seringai mengerikan.

“Selamat datang, Tuan Muda Pendosa,” geram sang iblis. “Apakah kau siap untuk memulai pembantaian yang sesungguhnya?”

Jiu Lan menatap sang iblis dengan mata merah menyala yang haus akan kehancuran—atau begitulah kelihatannya.

“Tunjukkan jalannya,” jawab Jiu Lan datar.

Namun, tepat saat ia akan melompat ke dalam kegelapan abadi, sebuah suara ledakan dahsyat terdengar dari arah gerbang utama istana. Bukan suara monster, melainkan suara lonceng kuno yang seharusnya tidak bisa berbunyi kecuali jika ada seseorang yang melakukan Pertukaran Nyawa Terlarang.

Jiu Lan tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah aula belakang. Siapa? Siapa yang berani melakukan ritual itu di saat seperti ini?

Jika ritual itu berhasil, maka semua rencana Jiu Lan untuk menanggung dosa sendirian akan hancur berantakan. Dan yang lebih buruk, nyawa orang yang melakukan ritual itu akan terikat selamanya dengan jiwanya yang kini terkutuk.

Jiu Lan berlari kembali melewati kabut, mengabaikan teriakan jenderal iblisnya. Ia menerjang masuk ke ruang rahasia yang tersembunyi di balik singgasana, hanya untuk menemukan seseorang yang seharusnya sudah berada di zona aman.

Di sana, di tengah lingkaran sihir yang bersinar putih menyilaukan, berdiri seorang gadis dengan tangan teriris, darahnya mengalir ke atas altar kuno.

“Apa yang kau lakukan?!” raung Jiu Lan, suaranya pecah oleh ketakutan yang nyata untuk pertama kalinya.

Gadis itu menoleh, wajahnya pucat pasi namun tersenyum lembut. “Aku tahu kau berbohong, Jiu Lan. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi ke neraka sendirian.”

Cahaya putih itu meledak, menelan seluruh ruangan.