Cherreads

Chapter 8 - 8. JANTUNG TERLARANG AETHELGARD

Dunia mendadak membeku dalam keheningan yang menyakitkan. Ledakan energi ungu dari bawah singgasana kaisar menciptakan zona stagnasi waktu yang melumpuhkan segalanya. Api yang melalap tirai istana berhenti menjilat, debu reruntuhan menggantung diam di udara, dan jeritan perang di luar sana berubah menjadi kesunyian abadi. Hanya ada tiga nyawa yang tersisa dalam gelembung waktu ini. Sang Penakluk, Sang Pahlawan, dan Sang Tawanan.

Jiu Lan berdiri tegak di tepi kawah yang baru saja tercipta. Cahaya ungu temaram terpantul di wajahnya yang tampan, memberikan kesan iblis yang turun dari langit untuk mengadili dosa manusia. Ia mengabaikan Yan Zha yang baru saja masuk dengan napas terengah-engah. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada peti mati kristal yang melayang di hadapannya.

“Lihatlah kemegahan ini, Yan Zha,” ucap Jiu Lan. Suaranya terdengar sangat jernih di tengah kesunyian, tanpa setitik pun rasa sesal. “Inilah fondasi dari setiap doa yang kau panjatkan. Inilah akar dari setiap keajaiban yang kau agung-agungkan sebagai cahaya suci.”

Yan Zha mematung di ambang pintu aula. Pedangnya, Aethelgard, bergetar hebat—bukan karena haus darah, melainkan karena rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Matanya menatap wanita di dalam peti mati itu, lalu beralih pada Mei Lin yang masih terikat di sudut ruangan.

“Siapa... siapa dia?” bisik Yan Zha. Suaranya pecah. Kemiripan wajah wanita itu dengan Mei Lin terlalu identik untuk dianggap sebagai kebetulan.

Jiu Lan tertawa pelan, sebuah tawa yang menghina segalanya. Ia melangkah mendekati peti mati, membelai permukaannya yang sedingin es dengan ujung pedang hitamnya.

“Kau mengenalnya dalam buku sejarah sebagai Permaisuri Elena, sang martir yang mengorbankan nyawanya untuk menyegel wabah kegelapan seribu tahun lalu,” Jiu Lan menoleh ke arah Yan Zha dengan seringai yang sangat tajam. “Tapi sejarah adalah kebohongan yang ditulis oleh pemenang. Dia tidak pernah mati, Yan Zha. Ayahku—Kaisar Suci yang kau puja—menjadikannya sebagai baterai hidup. Dia adalah Jantung yang memompa energi suci ke seluruh kerajaan ini. Setiap sihir pelindung yang kau gunakan, setiap kesembuhan yang kau terima, semuanya berasal dari penderitaan wanita ini yang jiwanya diperas tanpa henti.”

“Kau bohong!” raung Yan Zha. Ia menerjang maju, namun langkahnya terasa berat seolah-olah atmosfer di ruangan itu menolak keberadaannya.

“Bohong?” Jiu Lan mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. “Lalu kenapa wajahnya sama dengan Mei Lin? Kau pikir kenapa Mei Lin memiliki bakat sihir suci yang begitu murni? Dia bukan sekadar putri bangsawan, Yan Zha. Dia adalah wadah cadangan yang diciptakan untuk menggantikan wanita ini jika Jantung ini akhirnya berhenti berdetak.”

Jiu Lan berjalan perlahan mengelilingi peti mati, mendekati Mei Lin yang kini gemetar hebat. Ia menjambak rambut Mei Lin dengan kasar, memaksa gadis itu menatap wanita di dalam kristal.

“Lihatlah ibumu, Mei Lin. Atau mungkin aku harus menyebutnya... asalku?” Jiu Lan berbisik di telinga Mei Lin, namun suaranya cukup keras untuk didengar Yan Zha. “Kau hanyalah kloning yang dipersiapkan untuk disembelih saat waktunya tiba. Dan pahlawanmu ini... dia telah mengonsumsi darah wanita ini melalui sihir sucinya selama bertahun-tahun.”

Mei Lin menangis tanpa suara, kehancuran mentalnya tampak jelas dari tatapannya yang mulai kehilangan cahaya. Sementara itu, Yan Zha jatuh berlutut. Seluruh keyakinannya tentang keadilan dan cahaya suci runtuh seketika. Jika apa yang dikatakan Jiu Lan benar, maka ia adalah kaki tangan dari sebuah kekejaman yang jauh lebih besar daripada pembunuhan raja.

Jiu Lan menikmati pemandangan itu. Ia menghirup dalam-dalam udara yang penuh dengan keputusasaan. Inilah yang ia cari, bukan sekadar takhta, tapi penghancuran total atas moralitas semu yang menyiksa masa kecilnya.

“Sekarang, Pahlawan,” Jiu Lan mengangkat pedangnya, ujungnya yang tajam kini menyentuh permukaan kristal tepat di atas jantung wanita itu. “Aku akan memberimu pilihan yang adil. Sesuatu yang sangat kau sukai.”

Jiu Lan menyeringai, matanya merah menyala penuh kegilaan. “Peti mati ini adalah jangkar dimensi. Jika aku menghancurkannya, wanita ini akan bebas dari penderitaannya, tapi Kerajaan Langit akan runtuh secara permanen. Semua rakyat yang tersisa akan mati tanpa sihir pelindung. Namun... ikatan Soul Lock pada Mei Lin juga akan putus. Dia akan selamat, tapi dia akan menjadi saksi kematian seluruh bangsanya.”

“Pilih, Yan Zha,” tantang Jiu Lan, suaranya kini terdengar seperti bisikan iblis dari neraka terdalam. “Selamatkan kehormatan kerajaanmu yang busuk dengan membiarkan wanita ini tetap menderita, atau selamatkan wanita yang kau cintai dengan menjadi pembantai jutaan rakyatmu sendiri?”

Jiu Lan tidak menunggu jawaban. Ia menekan pedangnya lebih dalam, menciptakan retakan kecil pada kristal tersebut. Uap ungu mulai menyembur keluar, dan secara tiba-tiba, tangan wanita di dalam peti itu bergerak. Ia mencengkeram kristal dari dalam, dan matanya terbuka lebar—menunjukkan kekosongan ungu yang mengerikan.

Suara kristal yang retak terdengar seperti ledakan guntur di dalam aula yang sunyi. Uap ungu yang merembes keluar bukan lagi sekadar gas, melainkan untaian energi murni yang mulai melahap realitas di sekitarnya. Wanita di dalam peti—sang Permaisuri Elena yang legendaris—bangkit dengan gerakan kaku, seolah-olah sendi-sendinya telah membeku selama ribuan tahun. Matanya yang tanpa pupil memancarkan cahaya ungu yang menyakitkan, menatap dunia yang telah mengkhianatinya dengan kekosongan yang mengerikan.

Jiu Lan tidak mundur. Sebaliknya, ia melangkah maju dengan seringai yang meremehkan. “Bangunlah, Sang Martir. Lihatlah pahlawanmu yang gemetar ketakutan di depanmu.”

“Hentikan... Jiu Lan... kumohon...” Mei Lin merintih dari sudut ruangan. Tato Soul Lock di tangannya berdenyut hitam, bereaksi terhadap kehadiran energi ungu tersebut. Tubuhnya gemetar hebat—ia bisa merasakan jiwanya sedang ditarik oleh ibunya sendiri yang kini telah menjadi entitas tanpa nurani.

Yan Zha berdiri dengan kaki goyah. Pedang sucinya, Aethelgard, kini mengeluarkan suara mendenging yang memilukan—pedang itu menolak untuk diayunkan. Kekuatan suci di dalamnya mengenali sang Permaisuri sebagai sumber asalnya, membuat Yan Zha benar-benar tidak berdaya.

“Pahlawan, kenapa kau diam saja?” Jiu Lan menoleh, wajahnya yang tampan tampak sangat jahat dalam pencahayaan ungu tersebut. “Wanita ini mulai menyedot nyawa Mei Lin untuk memulihkan kekuatannya sendiri. Setiap detik kau ragu, jantung Mei Lin akan semakin lemah. Tidakkah kau ingin menyelamatkan wanita yang kau cintai?”

“Dia... dia sumber kehidupan kerajaan ini...” suara Yan Zha serak oleh keputusasaan. “Jika aku menyerangnya, aku menghancurkan harapan jutaan orang...”

“Dan jika kau tidak menyerangnya, kau membiarkan Mei Lin mati secara perlahan,” Jiu Lan tertawa gila. Ia berjalan mendekati Permaisuri Elena yang kini melayang di udara. Tanpa rasa takut, Jiu Lan justru menusukkan tangan kirinya ke dalam uap ungu yang membakar kulitnya. Ia membiarkan energi itu menyerap darahnya sendiri, menciptakan ikatan paksa antara dirinya dan entitas tersebut.

“Lihat!” Jiu Lan berteriak, matanya merah menyala penuh kegilaan. “Bahkan Dewa kalian bisa dikendalikan jika kau cukup kejam untuk melakukannya!”

Dengan satu sentakan, Jiu Lan menggunakan benang energi hitamnya untuk mengarahkan tangan Permaisuri Elena. Secara mengerikan, entitas itu—sang simbol kesucian—mulai mencekik leher Mei Lin dari jarak jauh menggunakan sihir telekinesis.

“Jiu Lan, hentikan! Kau membunuhnya!” Yan Zha berteriak, mencoba menerjang, namun Jiu Lan mengibaskan tangannya, melempar Yan Zha hingga menghantam dinding istana yang runtuh.

“Aku tidak membunuhnya, Yan Zha. Kau yang membunuhnya dengan keraguanmu,” Jiu Lan berdiri di samping Mei Lin yang kini tercekik, wajahnya membiru. “Pilih sekarang! Tebas wanita di dalam peti itu dan akhiri kebohongan Kerajaan Langit, atau biarkan Mei Lin menjadi abu di depan matamu!”

Jiu Lan menikmati setiap detik dari siksaan mental ini. Ia tidak butuh takhta—ia butuh melihat dunia yang suci itu mengakui bahwa mereka sama kotornya dengan dirinya. Baginya, melihat Yan Zha—sang pahlawan tanpa cacat—terpaksa melakukan dosa besar adalah kemenangan tertinggi.

Yan Zha menggertakkan gigi hingga berdarah. Air mata kemarahan dan kesedihan mengalir di wajahnya. Dengan teriakan yang membelah keheningan waktu, ia memaksa pedang sucinya untuk menyala kembali. Namun, cahaya itu bukan lagi putih murni, melainkan abu-abu—warna dari pahlawan yang telah jatuh ke dalam kegelapan.

“AKU AKAN MEMBUNUHMU, JIU LAN!”

Yan Zha menerjang, namun tujuannya bukan Jiu Lan. Dengan mata terpejam, ia mengayunkan pedangnya ke arah peti mati kristal yang merupakan jangkar kehidupan Permaisuri Elena.

PRAKKK!

Kristal itu hancur berkeping-keping. Permaisuri Elena mengeluarkan teriakan yang tidak berasal dari suara manusia—sebuah gelombang energi yang merobek seluruh Ibu Kota. Seketika, waktu yang membeku kembali berjalan. Namun, bukan kedamaian yang datang, melainkan kehancuran total.

Sihir pelindung di seluruh Kerajaan Langit padam secara serentak. Rakyat di luar sana yang sedang bertempur tiba-tiba kehilangan kekuatan mereka. Langit di atas Aethelgard mulai runtuh, menjatuhkan pulau-pulau melayang ke daratan bawah.

Jiu Lan tertawa terbahak-bahak di tengah kekacauan itu, “Akhirnya! Kebohongan itu berakhir!”

Ia melepaskan Mei Lin yang jatuh lemas ke lantai. Namun, bukannya menolong, Jiu Lan justru menginjak tangan Mei Lin untuk memastikan gadis itu tetap di tempatnya saat ia mengambil Jantung Ungu yang jatuh dari tubuh Permaisuri Elena yang kini berubah menjadi debu.

“Terima kasih, Pahlawan,” Jiu Lan menatap Yan Zha dengan tatapan yang sangat menghina. “Kau baru saja melakukan apa yang tidak bisa kulakukan sendiri. Kau telah menghancurkan bangsamu demi seorang wanita. Siapa sekarang yang sebenarnya pengkhianat?”

Saat Jiu Lan menggenggam Jantung Ungu tersebut, seluruh tubuhnya mulai bertransformasi. Zirah hitamnya menyatu dengan energi ungu, menciptakan sosok yang jauh lebih kuat dan mengerikan dari sebelumnya. Namun, di saat yang sama, tanah di bawah mereka benar-benar runtuh.

Yan Zha, Mei Lin, dan Jiu Lan jatuh ke dalam Jurang Kehampaan saat Ibu Kota Aethelgard musnah dari peta dunia. Di tengah jatuh bebas itu, Yan Zha menyadari bahwa pedang sucinya telah hancur, dan ia kini tidak memiliki apa-apa lagi selain kebencian murni terhadap Jiu Lan.

Namun, di tengah kegelapan, suara wanita yang tadi di dalam peti terdengar berbisik di telinga mereka bertiga, “Permainan sebenarnya baru saja dimulai...”

More Chapters