Cherreads

Chapter 4 - Jalan menuju hutan

Cahaya merah dari menara menembus kabut malam.

Seluruh desa Loras tampak seperti diselimuti bayangan aneh. Tidak ada satu pun warga yang keluar rumah. Pintu dan jendela tertutup rapat.

Seolah semua orang di desa itu sudah tahu satu hal:

Menara telah bangun.

Raka masih berdiri di dekat jendela kamar penginapan. Tangannya mengepal kuat.

Tanda hitam di telapak tangannya masih bersinar samar.

Semakin terang setiap kali ia melihat ke arah menara.

"Kenapa aku…?" gumamnya pelan.

Ia mencoba menutup telapak tangannya, tapi cahaya itu tetap terlihat di sela-sela jarinya.

Tiba-tiba—

BRAK!

Pintu kamarnya terbuka keras.

Pemilik penginapan, wanita tua itu, berdiri di sana dengan wajah pucat.

"Cepat tutup jendelanya!" katanya panik.

Raka segera menutup jendela.

Wanita tua itu mengunci pintu kamar dari dalam, lalu menarik napas panjang.

"Sudah muncul lagi…" katanya lirih.

Raka menatapnya.

"Menara itu apa sebenarnya?"

Wanita tua itu terdiam beberapa saat.

Seolah sedang memutuskan sesuatu.

Akhirnya ia berkata pelan.

"Menara itu bukan bangunan biasa."

"Seratus tahun lalu… menara itu jatuh dari langit."

Raka mengernyit.

"Jatuh dari langit?"

Wanita tua itu mengangguk pelan.

"Sejak saat itu, setiap beberapa tahun… menara itu akan muncul dari hutan."

"Dan setiap kali muncul… seseorang akan dipanggil."

Raka perlahan membuka telapak tangannya.

Tanda hitam itu masih bersinar.

Wajah wanita tua itu langsung pucat.

"Kau… mendapat tanda itu?"

Raka tidak menjawab.

Namun itu sudah cukup.

Wanita tua itu mundur satu langkah.

"Kalau kau sudah ditandai… berarti menara itu memilihmu."

"Memilihku untuk apa?"

Wanita tua itu menatapnya dengan mata penuh ketakutan.

"Untuk masuk ke dalamnya."

Raka merasakan udara di kamar menjadi lebih dingin.

"Dan kalau aku tidak pergi?"

Wanita tua itu menggeleng pelan.

"Tidak ada yang bisa menolak panggilan menara."

Angin malam tiba-tiba berhembus kencang.

Di luar, kabut hutan bergerak semakin tebal.

Tanda di tangan Raka mulai bersinar lebih terang.

Dan untuk pertama kalinya…

Raka merasakan sesuatu menariknya.

Bukan secara fisik.

Tapi dari dalam kepalanya.

Seperti suara yang terus memanggil.

Datanglah…

Datanglah…

Datanglah…

Tanpa sadar, Raka melangkah menuju pintu.

Wanita tua itu mencoba menahannya.

"Jangan pergi ke sana!" teriaknya.

Namun langkah Raka tidak berhenti.

Seolah tubuhnya sudah bukan miliknya lagi.

Di luar penginapan, jalan desa kosong.

Kabut dari hutan perlahan merayap masuk ke desa.

Dan jauh di tengah kabut itu…

Menara hitam berdiri menunggu.

Seolah sudah lama menanti kedatangan Raka.

More Chapters