Cherreads

Chapter 4 - Menuju Kerajaan Arkapura

Perjalanan menuju Kerajaan Arkapura berlangsung dalam keheningan. Raka berjalan beberapa langkah di belakang Laras. Sementara keenam penjaga berjalan mengelilingi mereka, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada makhluk lain yang mengikuti dan raka sendiri masih memikirkan semua yang terjadi.

"Goblin, Naga,Sihir, Dunia lain"

Dan yang paling membuat kepalanya pusing...

-PEWARIS NUSANTARA-

Kemudian Ia menatap catatan tua yang masih berada di tangannya. Simbol aneh yang ada di halaman itu kini sudah tidak bercahaya lagi. Semuanya kembali seperti semula, seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi. Namun Raka tahu itu bukan mimpi. Ia masih bisa merasakan sisa panas dari cahaya keemasan yang tadi melindunginya.

“Laras.”

“Apa?”

“Aku mau tanya sesuatu.”

“Tanyakan saja.”

“Dunia ini sebenarnya namanya apa?”

Laras terdiam sebentar.

“Ardhana.”

“Ardhana?”

Dan Raka mengulang nama itu dalam hatinya

“Terus tempat yang mau kita tuju itu Kerajaan Arkapura?”

“Benar.”

“Kerajaan ini besar?”

“Cukup besar.”

“Dipimpin siapa?”

“Raja.”

Raka menghela napas.

“Jawabanmu pendek banget.”

“Karena pertanyaanmu terlalu banyak.”

“Ya... aku memang punya banyak pertanyaan.”

“Wajar.”

“Kau baru saja meninggalkan duniamu dan masuk ke dunia yang tidak kau kenal.”

Rakapun tersenyum tipis.

“Kalau dipikir-pikir, aku bahkan belum sempat pamit.”

Kemudian Langkah Laras berhenti dan raka ikut berhenti.

“Ada apa?”

Laras pun menatap raka

“Kau masih memikirkan keluargamu?”

“Iya.”

Raka menundukkan kepalanya

“Aku pasti dicari.”

“Aku juga masih punya banyak hal yang belum selesai di dunia sana.”

Raka kemudian mengangkat kepalanya.

“Tapi aku akan pulang.”

Laras Membalas..

“Kau yakin?”

“Kalau ada jalan untuk datang ke sini, berarti pasti ada jalan untuk kembali.”

“Belum tentu.”

“Setidaknya aku akan mencarinya.”

Laraspun tersenyum kecil.

“Kau keras kepala.”

“Mungkin.”

Kemudian mereka kembali berjalan.

“Tapi aku nggak punya pilihan lain.”

Laras hanya menggelengkan kepalanya Namun diam-diam, ia tersenyum. Beberapa saat kemudian, mereka mulai melihat tembok besar di kejauhan dan raka menghentikan langkahnya.

“Wow...”

Kerajaan Arkapura terlihat jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Tembok batu yang sangat tinggi mengelilingi seluruh kota. Beberapa menara berdiri di atasnya, dan para penjaga terlihat mengawasi daerah sekitar. Di bagian tengah tembok terdapat gerbang besar. Di atas gerbang itu terdapat sebuah lambang. Seekor burung dengan sayap terbentang, berdiri di atas sebuah gunung. Namun bukan itu yang membuat Raka terpaku. Di tengah lambang tersebut terdapat simbol yang sama persis dengan yang ada di catatan kakeknya. Raka pun langsung berjalan lebih cepat.

“Laras.”

“Apa?”

“Lihat lambang itu.”

“Kamu tahu simbol itu, kan?”

“Ya.”

“Kenapa simbol yang ada di catatan kakekku bisa ada di kerajaan ini?”

“Karena simbol itu berasal dari sini.”

“Dari sini?”

“Ya.”

Raka pun menatap kembali catatan di tangannya.

“Jadi kakekku...”

Laras langsung memotong perkataannya

“Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat.”

“Tapi—”

“Belum waktunya.”

Raka menghela napas.

“Kenapa semua orang selalu bilang begitu?”

Laras tidak menjawab. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai di depan gerbang. Dua orang penjaga langsung mengangkat tombak mereka.

“Berhenti!”

Salah satu penjaga melihat ke arah mereka.

“Siapa kalian?”

Laras pun maju satu langkah.

“Aku Laras, penjaga Gerbang Timur.”

Penjaga itu terlihat mengenal nama tersebut.

“Penjaga Gerbang Timur?”

Ia kemudian melihat keenam pengawal di belakang Laras.

“Kenapa kalian datang ke Arkapura?”

Laras tidak langsung menjawab. Ia justru melirik Raka. Penjaga tersebut mengikuti arah pandangannya. Begitu melihat Raka, wajahnya berubah.

“Apa...?”

Penjaga di sebelahnya ikut menatap Raka. Kemudian pandangan mereka tertuju pada catatan yang berada di tangan Raka. Salah satu penjaga langsung mundur.

“Panggil Kapten.”

“Sekarang!”

Raka mulai merasa tidak nyaman.

“Laras...”

“Tenang.”

“Kenapa mereka lihat aku seperti melihat hantu?”

“Karena mereka mungkin belum pernah melihat seseorang seperti dirimu.”

“Jawabanmu malah bikin aku tambah takut.”

Tidak lama kemudian, seorang pria dengan zirah hitam keluar dari dalam gerbang. Ia berjalan dengan tenang. Di pinggangnya terdapat sebuah pedang panjang. Begitu sampai di depan mereka, ia menatap Laras.

“Laras.”

“Kapten.”

Kemudian pria itu menatap Raka. Tatapannya langsung berubah serius.

“Siapa dia?”

Laras menjawab.

“Namanya Muhammad Raka.”

Pria itupun terdiam.Seolah nama tersebut memiliki arti yang sangat besar baginya.

“Ulangi.”

“Muhammad Raka.”

Pria itu langsung menatap Raka cukup lama. Kemudian ia berlutut. Para penjaga di belakangnya ikut terkejut.

“Kapten?”

Pria itu tidak memperhatikan mereka. Tatapannya tetap tertuju pada Raka.

“Pewaris...”

Raka pun membeku dan Laras langsung maju.

“Jangan.”

Pria itu mengangkat kepalanya.

“Kenapa?”

“Dia belum mengetahui apa pun.”

Pria itu terdiam. Kemudian ia berdiri.

“Kalau begitu, dia harus dibawa menghadap raja.”

Raka pun langsung mundur beberapa langkah

“Tunggu dulu.”

Semua mata tertuju kepadanya.

“Aku baru datang ke sini. Aku bahkan belum tahu apa-apa tentang kerajaan ini.”

“Justru karena itu.”

“Apa maksudnya?”

“Raja sudah menunggumu.”

“Menungguku?”

Pria itu mengangguk.

Raka merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Bagaimana mungkin?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya memberikan perintah kepada para penjaga.

“Buka gerbang.”

Gerbang besar Arkapura perlahan terbuka.

“GRAAAK...”

Raka melihat ke dalam. Kota yang berada di balik tembok itu terlihat sangat ramai. Pedagang memenuhi jalan. Orang-orang berjalan membawa barang. Anak-anak berlarian. Ada manusia, makhluk bertelinga panjang, dan beberapa ras lain yang belum pernah Raka lihat sebelumnya. Namun ada sesuatu yang membuat Raka kembali terdiam. Bangunan-bangunan di kota itu. Beberapa memiliki atap yang melengkung dan ornamen yang mengingatkannya pada rumah adat di Indonesia.

Di salah satu toko, kain bermotif batik tergantung di depan pintu. Tidak jauh dari sana, Raka melihat sebuah patung burung besar yang bentuknya mengingatkannya pada Garuda.

“Ini...”

Laraspun menoleh kearah raka

“Apa?”

“Kenapa budaya di sini mirip Nusantara?”

Laras tidak menjawab.

Raka menatap sekeliling. Semakin jauh ia melihat, semakin banyak hal yang terasa familiar.

Motif kain,Ukiran kayu,Bentuk bangunan. Bahkan beberapa alat musik yang dimainkan oleh para pengamen jalanan terdengar mirip dengan gamelan. Raka merasa seperti sedang berjalan di sebuah tempat yang pernah ia kenal.

Padahal ia yakin... ia belum pernah datang ke sini.

“Laras.”

“Ya?”

“Siapa sebenarnya leluhurku?, Kamu tahu jawabannya kan?”

“Aku tahu sedikit.”

“Kalau begitu jelaskan.”

“Tidak sekarang.”

“Kenapa?”

Laras kemudian menghentikan langkahnya. Kemudian ia menatap Raka dengan serius.

“Karena ada orang yang akan membunuhmu jika mereka tahu apa yang sebenarnya ada di dalam darahmu.”

“Apa?!”

Laras pun kembali melanjutkan langkahnya, dan

Raka langsung mengejarnya.

“Laras!”

Namun sebelum ia sempat mendapatkan jawaban, suara lonceng terdengar dari seluruh kota.

“DONG!”

Semua orangpun berhenti.

“DONG!”

Suara lonceng kembali terdengar. Para penjaga di jalan mulai berlari menuju beberapa titik. Orang-orang mulai berbisik.

“Apa yang terjadi?”

“Kenapa lonceng kerajaan berbunyi?”

“Apakah ada serangan?”

Raka melihat ke arah istana. Di kejauhan, dia melihat sebuah cahaya ungu muncul dari puncak menara kerajaan. Laras pun menatap cahaya itu juga dan wajahnya berubah menjadi serius.

“Ada apa?” tanya raka

Laras langsung menggenggam pedangnya.

“Gerbang kerajaan telah bereaksi.”

“Gerbang?”

“Ya.”

Raka menatapnya dengan kebingungan.

“Bukankah kita baru saja melewati gerbang kota?”

“Bukan gerbang itu.”

Laras kemudian langsungmenatap ke arah istana.

“Gerbang yang sebenarnya.”

Raka merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

“Dan apa hubungannya denganku?”

Laras tidak menjawab pertanyaannya raka. Namun catatan di tangan Raka tiba-tiba terasa hangat Dan Raka langsung menunduk. Simbol di halaman depan perlahan mulai bercahaya. Cahaya keemasan yang sama seperti sebelumnya. Rakapun terkejut.

“Laras...”

Laras pun langsung menoleh. Matanya melebar.

“Tidak mungkin.”

“Apa?”

“Catatan itu seharusnya tidak bisa bereaksi sejauh ini.”

“Apa maksudmu?”

Laras kemudian mendekati Raka. Namun sebelum ia sempat menyentuh catatan tersebut, terdengar suara lain. Sangat pelan. Hanya Raka yang bisa mendengarnya. Suara perempuan yang sama seperti sebelumnya.

“Raka...”

“Siapa kamu?”

“Jangan pergi ke istana.”

Raka kemudian menatap bangunan istana di kejauhan. Kemudian suara itu kembali terdengar.

“Karena mereka sedang menunggumu.”

Cahaya pada catatan tiba-tiba padam. Raka langsung berdiri. Dan Laras pun memperhatikannya.

“Apa yang terjadi?”

Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap istana Arkapura. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, Raka mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan rasa penasaran. Bukan rasa takut. Tapi firasat. Seolah-olah langkah berikutnya yang ia ambil akan menentukan sesuatu yang jauh lebih besar. Dan Raka langsung menggenggam catatan kakeknya lebih erat.

“Laras.”

“Apa?”

“Aku tetap akan pergi ke istana.”

Laraspun terkejut.

“Kalau mereka memang menungguku...”

“...aku ingin tahu kenapa.”

“Kalau begitu, bersiaplah.”

“Untuk apa?”

Laras kemudian menarik pedangnya.

“Karena setelah kau masuk ke istana itu...”

“Tidak ada yang bisa menjamin kau akan keluar sebagai orang yang sama.”

Di atas istana Arkapura, cahaya ungu semakin terang. Dan jauh di dalam sebuah ruangan yang tidak diketahui siapa pun, sebuah pintu batu kuno perlahan terbuka. Di balik pintu tersebut terdapat sebuah ruangan gelap. Di tengahnya berdiri sebuah altar. Dan di atas altar itu...

terletak sebuah keris tua yang telah tertidur selama ribuan tahun. Perlahan... sebuah cahaya keemasan muncul dari bilahnya. Kemudian terdengar suara perempuan yang sama.

“Dia akhirnya kembali.”

Keris itu pun bergetar.

“Setelah seribu tahun...”

More Chapters